Selasa, 31 Desember 2013

Ada yang harus bercahaya saat bahagia

Hujan masih terlalu gigih.
Jemari-jemari ringkih merunut hari, mencari-curi waktu pagi.

Lengan-lengan hujan itu tak lagi mengusap lembut, tetapi memelukiku rapat dalam kebekuan.
Aku yang menggigil hanya berselimut kain lampin.
Sedang matamu cerlang berjaga di diang api meredup -- tak hendak keluh diucapkan.

"Kak, hujan kapan henti? Aku lelah ditimbuni basah di sini."

-- Korek api kayu kita tinggal sebatang.

Apa perlu kita meminta bantuan kepada bintang? Seperti Balthasar, Melkior, dan Kaspar yang akhirnya bisa sampai di tempat sang raja kudus dilahirkan.
Kau dan aku bisa mengandalkan itu.
Menjadikannya pegangan, selayak gembala yang tinggal di kandang menggiring dombanya ke padang dan mampu kembali membawanya pulang.

"Hujan ini, dik, biarkan terus deras. Sebatang korek apimu simpanlah di bawah palungan tempatmu bersandar. Kita pakai nanti saat lonceng-lonceng bahagia itu menggema di telinga. Ada yang harus bercahaya saat bahagia."

Kau, tidurlah saja.
kaki-kaki mimpimu akan disambut pecah-pecah hujan, dan berjalanlah di sana.
Sekumpulan angin takkan bawaku pergi, takkan membuatku berlari.

Dan doa-doa yang telah kita panjatkan, tadi, akan membawa kita pada tempat yang tak lagi sepi. Pada sebuah hati yang tinggal lebih tinggi dari gunung Sinai



( Kolaborasi dengan @_bianglala )

Kamis, 21 November 2013

ulang tahun

mengapa ulang tahun begitu dinanti-nanti?
mungkin karena ia begitu dekat dengan doa-doa
mungkin karena ia begitu lekat dengan bahagia

lalu, ketika kelak aku merayakannya sendiri, aku akan ingat betapa pernah doa-doa itu berjatuhan seperti hujan di musim ini
akan muncul kata-kata dari hatiku yang mengirim ingatan kepada rupa-rupa wajah yang amat mencintaiku

seperti hujan yang kembali ke langit setelah tetesnya tiba di tanah dan mengalir ke laut lalu menguap
seperti itu juga doa sekeliling yang membahagiakan aku, yang akan kembali lagi kepada bahagia sekelilingku

akulah bahagia,
sebab aku telah mengenal doa yang cinta
pun cinta yang penuh doa



( wwr/09 - tertulis sejak 8 november 2013. catatan untuk diri sendiri)

Sabtu, 16 November 2013

bertemu sepi

Hujan baru saja reda. Aku melepas topi dan jaket tipis berwarna hitam dari tubuhku. Mengibas sisa hujan yang sejak setengah jam lalu turut di perjalananku.

Kedai ini nampak begitu sepi, padahal ini sudah pukul 19.03. Hanya ada seorang perempuan, sendirian di meja sebelah meja di mana aku duduk. Persis.

Sengaja kugeser sedikit kursiku ke kanan, supaya jelas kulihat dia. Biar aku merasa berteman, biar aku tak nampak kesepian.

Tapi, apa aku kesepian?

Di depan perempuan itu, di mejanya, hanya ada secangkir teh yang kupikir sudah dingin -- ia meneguk tanpa meniupnya -- dan juga telepon genggam yang beberapa-kali diperiksanya. Lalu raut mukanya berubah kecewa disertai decak kesal di bibir tipisnya.

Oh, mungkin dia menunggu kabar dari kekasihnya. Aku tidak.

"Aku tidak menunggu siapa-siapa," hatiku berujar pelan kepada diriku sendiri.

Kupesan secangkir kopi panas kepada pelayan yang kebetulan lewat di depan mejaku.

"Mas, pesan satu kopi panas dan satu coklat panas, ya. Tolong nanti antar coklat panasnya ke meja perempuan di sebelah saya ini," suaraku pelan untuk dapat didengar dari jarak satu meter.

Kedai masih saja sepi, pesananku datang dua kali lebih cepat dari biasanya. Coklat panas tiba di meja sebelah, setelah kopiku tiba lebih dulu. Sembari menyeruput kopi, kuperhatikan wajah perempuan itu.  Raut muka kecewa berubah menjadi raut muka bingung.

Tiga detik kemudian mata kami sudah bertemu. Ia tersenyum. Aku menyelesaikan tegukanku lalu membalasnya. Aku tersenyum.

"Kau menunggu siapa?" pertanyaanku terlalu polos untuk tiba di telinganya.

"Aku menunggu sepi, dan kau malah datang."

Perempuan itu menyambar telepon genggam di mejanya, lalu pergi. Meninggalkan cangkir teh yang sudah dingin dan cangkir coklatnya yang masih mengepul ke dalam sepi. Meninggalkan aku dan kembali mendatangkan sepi.



(#terasatas dan mendung yang tak juga berakhir hujan - 16:47)

Minggu, 27 Oktober 2013

lipstick merah di kamar ayah

"Sedang apa kamu di depan kamar ayah, Ru?"

Pertanyaan sederhana yang tentu saja menganggetkan aku, yang sedang mengambil diam mengintip dari celah sempit antara pintu dan kusen yang menempel di dinding. Tubuh kecilku berjingkat, tetapi tetap menjaga hening.

"Ssssttt.. Jangan berisik. Aku sedang mengintip ayah. Aku heran, mengapa kita tidak diperkenankan masuk ke kamarnya."

Damo, saudara kembarku menutup mulutnya lalu buru-buru mengatur tubuhnya yang tak kalah kecil di sampingku. Memicingkan mata, berharap ada sesuatu yang dapat kami tangkap dari dalam kamar ayah yang sungguh rahasia.

Dari sekitar tiga sentimeter celah di pintu ini, aku hanya melihat punggung ayah. Tubuhnya bersimpuh di depan meja rias ibu. Itu saja.

***

"Damo, Neru, ayah hari akan sampai malam kerjanya. Kalian jaga rumah dengan baik, ya. Dan ingat, jangan pernah masuk ke kamar ayah."

Tegas suara lelaki setengah tua di depanku ini, tetapi ada yang membuatku bergidik ketika melihat matanya menyorot tajam saat ia menyebut larangan tentang kamarnya. Aku dan Damo hanya diam sambil menggerak-gerakkan kaki coba meraih satu sama lain meyentuhkan tanda. Kami masih penasaran dan sangat ingin tahu apa yang ada di dalam kamar ayah.

***

"Aku takut, Ru. Aku takut." Suara saudara kembarku bergetar.

"Kan ada aku. Kamu cuma mengikuti di belakangku saja. Kita masuk berdua." Aku sedikit mengeyel dengan wajah melas. Biasanya kembaranku akan luluh jika melihatku demikian.

"Tapi kamu dengar kan kata ayah tadi." Suaranya semakin bergetar, menegaskan ketakutannya.

"Ayolah.. Ya sudah, kita intip saja. Ehm... Kita buka pintunya lebar-lebar, tak usah masuk." Eyelku yang masih penasaran, tapi kasihan melihat saudaraku ketakutan seperti itu.

Damo merunduk di belakangku, memegang erat kaos biru bergambar Ksatria Baja Hitam pahlawan kesukaanku. Badanku condong saat tangan kecilku mulai membuka daun pintu kamar ayah.

Kreeeekkkkk..

Dasar pintu kayu tua, mengagetkan aku saja. Untung ada Ksatria Baja Hitam di dadaku, jantungku dijaga tak lepas dari tempatnya. Huh.

Pintu kamar sudah terbuka lebar, sekarang terpampang ruangan yang cukup gelap meski gorden terbuka dan jendela masih utuh dengan bening kacanya. Seprai di ranjangnya rapi, dan tidak ada debu menempel di lantainya. Meja rias dekat pintu kamar mandi milik ibuku dulu rapi. Cerminnya bersih, memantulkan bayang-bayang lantai dan ranjang berseprai hijau tua kesukaan ibu.

"Eh, itu apa?" Dalam ketakutannya, Damo menunjuk satu benda di atas meja rias. Satu-satunya benda yang terlihat menonjol, meski ukurannya hanya sebesar jempol tanganku.

"Aku tidak tahu, tapi aku mau tahu." Kakiku tiba-tiba saja sudah mengantar tubuhku tepat di depan meja rias. Bahkan sebelum selesai Damo meneriakkan larangannya. "Ini lipstick!"

"Sudah ayo keluar, nanti ayah marah!" Saudaraku ini terlalu penakut, bahkan untuk sesuatu yang bisa dilakukan dengan bebas. Tidak ada ayah, apa yang harus ditakuti.

"Damo, untuk apa ayah menyimpan lipstick ini?"

"Mana aku tahu? Sudah ayo keluar, aku takut ayah marah. Kita sudah melanggar larangan ayah. Aku takut, Neru!" Akhirnya Damo masuk ke kamar larangan ayah dengan langkah terburu dan menyeret tanganku.

"Sebentar, lagi pula ayah masih lama pulangnya. Setahuku, ini adalah lipstick milik ibu dulu. Tapi ibu sudah lama meninggal. Lalu untuk apa?"

"Taruh lipsticknya dan kita keluar. Aku tidak peduli itu lipstick siapa dan untuk apa ayah menaruhnya di meja rias ini. Aku takut ayah marah, Neru."

Kreeeeeekkkk.. Bruuuukkkk..

Pintu lemari ayah tiba-tiba terbuka dan sesuatu jatuh dari sana. Berdebam.

"Apa ituuuuuu?" Damo berteriak dalam kagetnya. Kedua tangannya sudah di tubuhku, erat dipeluknya aku. Dia benar-benar ketakutan.

"Sssstttttt.. Apa itu?" Kagetku tak kalah hebatnya, dalam gemetar aku masih bisa menahan tubuhku yang sekarang jadi tumpuan kami berdua. Dadaku berdetak cepat, melebihi kecepatan laju YZR M1 yang dikendarai Valentino Rossi."Itukan badut."

"Aku tidak mau tahu. Aku hanya mau keluar dari kamar ayah." Damo merengek hampir menangis. Suaranya sudah hampir habis ditelan ketakutannya sendiri.

Badut yang jatuh dari lemari ayah itu berbeda dari badut-badut biasanya. Tidak ada rambut kribo warna-warni. Tidak juga hidung merah bundar seperti yang pernah kulihat di pesta ulang tahun teman sekelasku seminggu lalu. Hanya saja seluruh wajahnya berpulas putih, matanya tertutup seperti tidur, bajunya merah dengan bulatan-bulatan kecil berwarna putih, rambutnya hitam lurus seperti milik ibuku, dan bibirnya merah merona.

Tunggu. Warna merah bibirnya sama dengan warna merah yang pernah kulihat. Sama persis, tapi warna apa? Ah iya, warna lipstick di meja rias tadi. Lalu...

"Neru, bukankah itu tubuh ibu?"

Jantungku seperti berhenti berdetak..


PestaNulis1 MEL ~

Kamis, 24 Oktober 2013

kelak--kita

Kelak
Aku akan jadi tubuh yang melulu rindu kau setubuhi
Menggarap cinta sampai ke puncak-puncaknya
Oleh sebabnya aku hidup sebenar degub

Pelukanku-pelukanmu adalah rumah di jelang pagi kita terengah-engah
dan kalau kau hendak tidur, setelahnya
Aku tak perlu membuka lipatan selimut
Tinggal meringkuk
Saja

Ini bukan sekadar peran
Ini takdir yang akan dikenang kita
Cinta


~ 16.26; Antasena 3 ~

Senin, 21 Oktober 2013

benteng, aku dan kau yang kuadakan di sana

Ada yang terlupa selama aku mencoba melupakanmu
Selama waktu di tubuhku serasa membatu

Selama itu kamu begitu dirawat ingatan
Oleh bebatuan; gerbang di depan rumah kepalaku
Yang pada akhirnya jadi benteng

Benteng
Tempatmu akhirnya diam
Seperti penjajah tertangkap tentara pribumi
Tanpa perlawanan

Di benteng itu, ingatanku duduk menemani kamu
Melamun dan menjaga keberadaanmu yang tak ada. Sebenarnya
Beberapa anganku tertinggal di sana
Melumut bersama batu-batu dan renta waktu
Apa ada yang memelesetkan kaki kembalimu?



~ teras atas, di mana rindu tak berbatas ~

Selasa, 15 Oktober 2013

anggap saja tulisan rindu

dan, begitulah waktu berlalu secepat kedipanmu
Hujan menjatuhi bumi sisa-sisa hari
Meninggalkan lelaki asmara menghitung sendiri tunggu cintanya yang semakin purba

Lelaki asmara. Lelaki penunggu tiba yang menjadi warisannya
Desir di seluruh tubuhnya berlayar menuju laut
Apakah ada, sebuah kembali? dan pantai tubuhnya disandari perahu-perahu kecil bertajuk pulang?
Apakah ada?

Akan tetapi, detik-detik yang berulang di tubuh jam masih teguh tak membawa kembali
Pasir di antara laut dan pantai kosong, tak mampu menukar yang pergi
Dan karang di ujung dermaga memutih, selaras dengan uban di rambutku. Renta oleh waktu, menua sebab tunggu

Tidak ada yang mati, bahkan pancang dermaga. Sebab esok masih akan disampaikan harapan
Karena telinga-telinga alam maha mendengar
Jejak kaki sepanjang pantai, ialah sisa kencan sunyi tak terhapuskan

dan, oranye senja kujadikan benih atas gigih tak terpahami, "Sayang, ucapanku tentang seribu bulan adalah kesetiaan yang patut diaminkan."


~ malam hari di Indrayanti ~

Jumat, 04 Oktober 2013

cahaya dan suara

Samar cahaya senja mulai menangkapi debu-debu yang garing di penghujung musim kering. Anginpun meniup ringkih, membawa puisi rahasia tentangmu, yang bermata malam.

Sudah lama aku mimpikanmu, ingin menemui dalam matamu. Lalu kutempuhi terowongan waktu -- satu masa tanpa penghuni cahaya, hingga setitik sinar dari dasar puisiku, menjemput kembali pada dadaku yang pagi.

Mimpiku luput lagi memelukimu.

Sejak itu kita yang terbagi, oleh cahaya yang tak sama lagi.

Maka, ketika petang mulai menyala, aku memohon kepada dentang lonceng di ujung menara, supaya suara yang secepat cahaya menjatuhkanmu lagi ke dalam mimpi. Lalu di tiap tidurku yang begitu sunyi lelap, aku menjadi dinding-dinding pendengar paling hebat. Memungutimu yang pecah sebagai bisik-bisik.

Barangkali, mimpi cuma dongeng-dongeng yang penulisnya tak pernah kuketahui, yang ceritanya adalah perjalanan meniti harapan. Atas aku sendiri menuju kamu dalam ketidaktahuanku, hngga suara-suara yang pada akhirnya tiba melewatkan aku ke dalam mimpi atas nama pelukku sendiri.

Sampai akhirnya, cahaya dan suara itu pecah bersamaan di dalam kepalaku yang malam, dan mimpi berhamburan menuju kamu. Mendekat, lelap demi senyap.


(@dzdiazz dan @_bianglala)

Kamis, 26 September 2013

terkadang, mencintaimu itu rumit

Terkadang, mencintaimu itu rumit
Aku harus menyandingkan egoku dengan egomu
Harus bisa membuat diriku sendiri bahagia, tanpa mengesampingkan bahagiamu
Menjalankan mauku dengan tetap paham apa maumu
Bisa bersenang-senang, seturut dengan kesenanganmu

Terkadang, mencintaimu itu rumit
Kebiasaanmu, harus juga menjadi kebiasaanku. Hal biasa yang pada satu titik bisa jadi luarbiasa karena ketidakbiasaan
Luka masa lalumu, harus bisa kusembuhkan tanpa mencampur dengan luka masa laluku
Harus paham benar dengan sifatmu, supaya tak berperang dengan sifat-sifatku

Terkadang, mencintaimu itu rumit
Tawa untukmu, harus juga jadi tawa seluruh keluargamu
Bagaimana aku harus mampu dan mau merentangkan tangan, menyambung lingkaran teman dan sahabat yang sudah lebih dulu bertemu genggam denganmu. Juga memberitahu keberadaanmu  kepada mereka yang lebih dulu hidup dalam lingkaran keberadaanku

Terkadang, mencintaimu itu rumit
dan aku tetap mencintaimu
dengan semampu-baiknya aku

Selasa, 27 Agustus 2013

tak ada

Pagi terlalu langut
Angin-angin mengetuk pintu
Diam menggeretak
Kesepian menampakkan diri

Kesiut menyala dari mata matahari
Nyalang mencari-cari siapa yang bisa disetubuhi
Cahaya pendar jatuh di semak sepi

Kau tak ada
Aku ada sebagai ketiadaan
Dan kita, menjadi waktu yang tak diramu

Jumat, 23 Agustus 2013

kepulangan

"Sudah siap semuanya, Dan?" Ibu mengagetkanku dari lamunan. Mengembalikan angan-anganku ke dalam kamar bercat putih ini.

"Apa, bu? Oh, iya tinggal sedikit lagi." Aku melihat di sekelilingku penuh baju yang akan kubawa pergi.

"Jam berapa keretamu?" Ibuku berbicara sambil tetap mengemas.

"Jam enam sore, bu. Mas Dani nanti pulang jam berapa dari pabrik?" Kupandangi ibuku sambil mengurai keheningan yang sebelumnya tinggal dan mendiami kepalaku.

"Ya sudah, nanti biar kamu diantar bapak saja naik bis. Masmu pulang malam, tadi bilang sama ibu mau lembur." Tangan lentik yang mulai keriput itu tetap sibuk memasukkan baju-bajuku ke koper.

Sore ini adalah kepulanganku, setelah libur semester sebulan belakangan ini. Ini rumahku, keluargaku, tapi aku harus keluar dari rumah ini dan pulang. Pulang? Bagaimana kepergian ini kusebut pula dengan kepulangan?

"Sudah jangan ngelamun terus. Baju mana lagi yang mau kamu bawa, Dan?" Ibu tak juga berpaling dari koper dan tumpukan baju.

"Itu saja, bu. Kurasa cukup, di sana masih ada kok." Sahutku yang belum juga keluar dari lamunan.

Aku harus pulang. Ke tempat yang tak sanggup kusebut rumah, ke tempat di mana hidup kulanjutkan sendiri, ke tempat aku mengenal kehidupan lebih nyata lagi, ke tempat masa depan sedang kujalani.

Aku harus pulang. Aku sendiri yang memilih, aku sendiri yang memutuskan, aku sendiri yang menjalani, dan aku sendiri di sana.

"Kenapa kamu nangis, Dan? Masa sudah gede, sudah kuliah, sudah punya pacar juga mau pulang ke kost nangis. Ga malu sama gambar lidah melet di kaosmu itu?" Ibu menggodaku yang tiba-tiba saja menangis tanpa sebab. Lalu meletakkan baju-baju dan menghampiriku di tepi kasur, dan memeluk.

"Maaf, bu. Aku cengeng ya. Tapi emang sedih mau ninggalin rumah ini. Ninggalin ibu, ninggalin bapak, ninggalin mas Dani, ninggalin kasur ini, ninggalin masakan ibu, ninggalin semuanya." Jawabanku tersendat-sendat. Ibu masih memeluk. Rasanya aku mau jadi bayi saja, biar ibu tak rela melepasku, dan aku tetap di pelukannya sepanjang waktu.

"Kamu ini sudah besar sekarang. Lagian kemarin juga sudah kost, to. Kan nanti bisa pulang sebulan sekali, atau kalau libur. Tiap hari bisa telpon juga, nanti biar mas Dani atau ibu yang ngirimi pulsa. Jaman sudah canggih, le." Suaranya tenang, seperti gemericik air di antara tenang malam.

"Iya, bu. Aku cuma sedih aja kok. Bakalan ga ketemu ibu, ga dimasakin lagi. Kalau anakmu kurus gimana?" Selorohku di pelukannya.

Tubuh ibuku hangat. Selimut setebal apapun, api sekobar apapun juga tidak akan bisa menandinginya.

 "Bu, aku mau dipeluk ibu kayak gini terus."

"Tapi kamu harus pulang ke kostmu. Kalau dipeluk terus gini, kuliahmu gimana? Ga malu sama temen-temenmu?"

"Kenapa malu, bu? Ibu tahu ga, selain rumah yang kita tinggali ini, rumah paling nyaman untuk aku benar-benar pulang ya di pelukan ibu."

"Sudah, sudah. Kalau dipeluk terus kayak gini gimana kamu berkemas. Nanti ketinggalan kereta. Sini, biar ibu yang beresi semua." Ibu bernjak dari tubuhku. Meninggalkan kujur yang berubah dingin lepas dari pelukan. Ia mengemas kembali sisa beberapa baju yang masih bertumpuk di samping koper.

***

"Aku berangkat dulu, bu." Kupeluk tubuhnya, kucium keningnya. Tangannya yang lembut kugenggam erat, lalu kucium. Pamit.

Aku hanya melihat matanya menahan sesuatu. Entah apa yang berkecamuk di sana, ibu hanya diam. Aku menemukan langkahku. Pergi. Aku menemukan kehilanganku. Pulang.


Kepulangan barangkali, adalah menuju tempat yang harus sanggup kau sebut rumah. Jika pun tak menyanggupi sebagai rumah, setidaknya ia adalah tempat yang mampu menampungmu tinggal--menampung tubuh dan jiwamu dengan teramat bebal.

Kamis, 22 Agustus 2013

permintaan terakhir

"Ini sudah cukup, sayang?" Aku menunjukkan secarik kertas berisi daftar seserahan kepada calon istriku.

"Coba aku lihat dulu." Ia menarik kertas dari tanganku. Dahinya mengerut seraya membaca daftar berbagai macam barang yang kutulis untuk seserahan sebulan lagi.

"Cukup?" Kutahan napas saat pertanyaanku tak juga dijawab.

Ini daftar ketiga yang kuberikan sejak seminggu lalu calon istriku mengubah semua daftar seserahan yang sebelumnya. Dia bilang masih ada yang kurang. Apalagi?

"Cukup, sayang?" Pertanyaan kuulangi, dan masih saja tak ada jawaban.

Aku mengecup kening calon istriku, beranjak dari keheningan. Mengambil secangkir kopi di meja, lalu menuju teras samping yang berada di depan kami berdua duduk sebelumnya.

"Pastikan. Waktunya tidak lama lagi." Calon istriku masih saja diam.

Mataku terus mengamatinya. Dia seperti mengulang-ulang membaca dari atas ke bawah, lebih dari tiga kali. Aneh. Biasanya dia langsung nyeletuk; kenapa ada ini? Kenapa ga ada itu? Harusnya ini ada dua, harusnya yang warna putih saja, atau kotaknya dihias supaya cantik.

Masih saja dia diam. Matanya terus menari-nari di atas kertas, menyetubuhi huruf-huruf yang keluar dari tanganku tadi. Kuseruput lagi kopi di tanganku.

"Masih ada yang kurang, sayang?" Kuulangi pertanyaan, entah untuk yang ke berapa kali.

Lalu kulihat dia menggelengkan kepala. Kepalanya menunduk dan rambut hitam panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Meski tak kulihat wajahnya, aku tahu dia menangis. Isaknya kudengar, walaupun suaranya sengaja ditahan olehnya.

"Kamu kenapa, sayang? Ada yang kurang? Apa perlu aku tambah lagi macamnya?  Hei, kenapa nangis?" Pertanyaan bertubi-tubi kulempar kepadanya. Penasaran, takut, heran, dan entah macam apalagi pikiranku berkecamuk.

Calon istriku masih menangis. Suaranya katup oleh isak. Tiba-tiba ruangan ini menjadi sesak. Tidak ada yang kudengar selain isakannya dan detak jantungku sendiri. Perempuan di depanku menangis tanpa sebab, atau bersebab namun tak kuketahui. Perempuan yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupku. Perempuan yang akan menyerahkan takdirnya tertulis dalam satu kertas dengan takdirku.

Lalu kenapa dia menangis menjelang hari bahagianya? Di mana saat ini yang kami bicarakan adalah daftar seserahan. Kami pun tidak ertengkar sama sekali. Isakannya melemah, bahkan sudah tidak kudengar lagi. Hanya ada detak jantungku yang masih bergemuruh, disusul detik jarum jam dinding di atas kami.

"Sayang, ada yang salah? Ceritakan, akukan calon suamimu, apa kamu masih ga percaya sama aku?" Keningnya kukecup, dua kali, supaya tenangnya juga jadi dua kali lipat jatuh di kepala sampai ke hatinya.

"Tidak, mas, aku rasa ini sudah cukup bahkan lebih. Aku sudah terlalu merepotkanmu dengan mengganti-ganti daftarnya. Aku tidak menyangka kamu mau serepot ini untuk aku.." Dia mengusap airmatanya dan menatapku dalam-dalam.

"Bukan untuk kamu, tapi kita." Kutimpali perkataannya yang belum selesai.

"Iya, untuk kita. Terima kasih, mas." Dia memelukku, erat. Kubalas, lebih erat dan hangat.

"Lalu, kenapa nangis? Mau cerita?"

"Ini sudah cukup, mas. Daftar ini sudah cukup. Tapi, apa boleh aku minta satu hal lagi sebelum kita benar-benar menjadi suami istri?" Raut mukanya serius. Tangannya melepas pelukan dan menggenggam tanganku dengan hangat yang sama.

"Apa? Kalau bisa kulakukan, pasti kulakukan. Kalau pun tidak, aku bisa berusaha untuk melakukannya. Apa permintaanmu, sayang?" Kutatap matanya lekat-lekat.

"Satu saja, mas, terakhir. Aku minta supaya kamu mau mengakui janin di rahimku ini sebagai anakmu."

Tidak ada suara lagi setelah permintaannya selesai dia utarakan. Yang aku ingat, di tanganku ada pecahan cangkir yang sudah bersimbah darah. Juga calon istriku yang diam terpejam tak lagi bergerak.

Rabu, 21 Agustus 2013

di angka dua belas

Kopi di meja kerjaku masih penuh. Uapnya lenyap, sudah dingin tanpa tersentuh. Aku menyambar botol air mineral yang isinya tinggal separuh, entah kopi tak lagi menarik perhatianku. Padahal tadi, aku menyeduhkan dengan berapi-api sambil merangkai kata-kata yang akan kutulis di blogku. Harumnya menguar begitu saja, menyeruak ke dadaku sebagai hambar.

Aku tak pernah seperti ini. Kopi tak pernah tak berarti. Entah apa yang terjadi.

Aku masih saja menulis dan terus menulis. Kata-kata meluncur begitu saja seperti anak-anak yang bermain seluncuran di taman , tidak berhenti. Kubiarkan saja. Biar sampai penuh kertas-kertas di hadapanku, biar sampai penuh kertas-kertas ini dengan pikiranku, biar sampai jenuh tanganku membelai huruf-huruf, biar sampai peluh tinta-tinta menetes.

Di kertas ke dua belas, berbarengan juga denting jam berbunyi dua belas kali.

Tanganku tiba-tiba berhenti, kini. Saat tak sengaja di kertas ke dua belas aku menuliskan stasiun sebagai judul. Dadaku berdebar, kepalaku brdenyut-denyut, telingaku berdengung, dan seluruh tubuhku terasa kaku. Apalagi ini? Tadi tak bisa berhenti, sekarang tak menemukan satu kata pun selain penat.

***

Pukul 12.01 setelah bunyi klik jam tanganku selesai. Kereta tak juga tiba, tak seperti biasanya kereta datang terlambat. Jika kereta terlambat, sudah kupastikan jadwalku berantakan semua. Jika kereta tak segera tiba, tulisan yang sudah kuselesaikan semalaman takkan  lagi berguna.

Masih kutunggu laju kereta itu tiba. Bosan memandangi rel, aku melempar pandanganku, menyisir luas stasiun yang penuh sesak dengan oang-orang asing. Mataku yang lelah, setelah semalaman bergadang sampai kulewatkan pula sarapanku untuk mengejar kereta. Apa hrus jga kulewatkan makan siangku jika harus tetap menunggu? Pandangan mataku berhenti di salah satu peron. Perempuan bermata sayu, menjinjing tas cokelat besar. Wajahnya kuyu, seolah masalah yang dihadapinya lebih besar berkali-kali lipat dari tas cokelat di tangannya. Aku hanya menebak. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengorek-orek orang lain dengan pikiranku sendiri saat ini.

Perempuan itu mungkin sama denganku, menunggu kereta yang tak juga tiba. Atau menanti kekasihnya pulang. Atau hanya ingin menikmati kepenuhsesakan saja. Entahlah, aku hanya bisa menebak.

Stasiun ini, sesak orang-orang asing, kereta yang tak juga tiba, dan perempuan bermata sayu, memenuhi kepalaku. Ini rasanya sudah berabad-abad sejak tibaku. Aku melirik jam tanganku lagi. Pukul 12. 22. Ujung kereta masih juga tak kutemukan di ujung pandanganku, empat puluh lima menit perjalanan sampai di stasiun berikutnya, dan sepuluh menit perjalanan menuju tempatku bekerja. Kuhitung terus detik ke detik. Tak akan sampai. Laju kereta sepertinya usai, dan pekerjaanku selesai.

***

Aku berhenti menulis, mengangkat cangkir kopi dan dengan sengaja menumpahkan isinya di kertas ke dua belasku.





Selasa, 20 Agustus 2013

potret ibunda

"Ayah, ibu di mana? Boleh aku tahu bagaimana wajahnya?"

Ayah tetap saja menggeleng, ia diam dalam lamunan. Matanya jauh memandang angan-angan. Tidak bisa kugapai, sekalipun kugunakan tongkat paling panjang yang ada di dunia ini.

"Ayah, ibu di mana? Apa dia pergi seperti ibunya Salma? Ibu pergi ke Hongkong?"

Lelaki berkulit gelap di sampingku bergeming. Tubuhnya tak lagi tegap, tapi masih kutemukan keperkasaan yang paling dari urat-urat yang menonjol dari tangannya. Terus saja ia geming, dan di ruang kecil ini tinggallah hening.

Aku mulai menangis, dan tanganku masih terus menggenggam tangan lelaki berkulit gelap di sebelahku. Aku dalam isakku, dan lelaki yang kusebut ayah ini dalam gemuruh di dadanya.

***

Gadis kecil di sebelahku masih saja merengek-rengek. Menggenggam erat tanganku, seolah-olah dari sana dapat kutemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini diajukan kepadaku. Geming setia di dalam aku. Tak ada yang bisa kujawab. Aku memilih membenamkan diri dalam lamunan, seperti matahari yang pasrah terus luruh ke dalam cakrawala. Terus diam, terus tenggelam. Bungkam.

Gadis kecil yang malang. Terlalu malang untuk seorang gadis tak berdosa seperti dia. Wajahnya ayu dengan binar mata yang menyejukkan. Rambutnya hitam bergelombang, seperti ombak yang menggulung-gulung di laut, yang tak pernah sekalipun kuseberangi. Jemari tangannya lentik, kulitnya halus meski sabun murah setiap hari menyapu seluruh kulitnya. Ia malaikat kecil yang dikirim Tuhan kepadaku, sepertinya.

Tuhan, bisakah aku mengubur semua ingatan yang kupunya, dan membiarkan gadis kecil ini hidup dalam bahagianya tanpa secuil pun luka atas hadirnya? Gadis kecil ini hanya tak perlu tahu sakit yang pernah aku rasakan. Tapi dia punya hak untuk tahu dari mana asal usulnya.

"Dila, jangan menangis lagi. Ayah akan beritahu siapa dan bagaimana wajah ibumu."

Aku menelan ludah, dan memberanikan diri menatap matanya yang sejuk. Menampung segala yakin yang sedari dulu hanya berkeliaran di sekitar. Bisakah kukatakan semuanya? Dan kukeluarkan selembar foto hitam putih yang hampir koyak, gambarnya sudah hampir pudar. Foto yang sudah kusimpan lebih dari tujuh tahun itu, foto yang menyimpan lebih dari sejuta ingatan, foto yang seharusnya tak pernah ada.

"Ini foto ibumu, La. Maaf ayah baru bisa memberikan padamu sekarang."

Dila mengusap airmatanya, matanya tak lagi sayu, masih merah bekas tangisannya, tapi menyorotkan cahaya yang belum pernah sekalipun kulihat sebelum ini. Ia seperti anak kecil yang menemukan ribuan permen dan cokelat di atas tempat tidurnya. Bahagia nampak sekali di raut mukanya.

Dadaku berdegup kencang, melebihi suara gemuruh pesawat terbang. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain kembali diam, diam, dan diam. Aku meliriknya, dan masih saja kebahagiaan gadis kecil itu singgah di sorot matanya.

Semoga, ia bahagia oleh karena foto perempuan itu.
Semoga, bahagianya menutupi ketakutanku.
Semoga, ia tak mengenalinya sebagai aku.

Senin, 19 Agustus 2013

pengantar pesan

Sore yang tenang. Rintik hujan masih bertandang, jendela kamar penuh tempias, satu dua tetes ada yang mengalir. Aku masih mencari-cari kertas lipat yang tadi siang kubeli di toko depan sekolah. Kalau tidak salah, tadi kuletakkan di atas meja belajar sambil membereskan buku pelajaran yang kubawa tadi ke sekolah.

"Kak Rio, kakak lihat kertas lipatku ga?"

"Kamu taruh di mana?"

"Di meja belajar, tapi ga ada."

"Cari dulu, mungkin terselip di buku-bukumu. Biasanya kamu teledor."

"Ga ada, kak. Sudah kucari sampai kubolak-balik."

"Ya sudah, beli lagi saja di warung Pak Ali. Kakak kasih uangnya."

"Ga mau. Kertas lipat di warung Pak Ali terlalu tipis. Kalau kujadikan pesawat-pesawatan ga bisa terbang tinggi dan lama. Nanti ibu ga bisa baca surat, kak."

"Cari lagi dulu, pasti ada."

Aku membongkar lagi buku-buku di meja belajarku. Kubuka satu persatu tumpukan buku itu. Satu demi satu, tetap saja tak kutemukan kertas warna-warni yang masih utuh dalam plastik itu. Ah, sore hampir habis. Matahari sudah hampir menyentuh cakrawala. Kalau aku terlambat dan petang tiba lebih dulu, apa ibu mau menunggu suratku? Ibu pernah bilang, bahwa senja adalah kebahagiaannya selain keluarga.

Setahun lalu, sejak ibu memilih bertemu Tuhan, aku tak pernah sekali pun  lupa untuk mengirim suratku kepada ibu. Aku menulis apa saja, tentang kangenku, tentang perubahan suasana rumah yng menjadi sangat sepi, tentang Kak Rio yang lebih sering diam, tentang ayah yang sibuk melebihi apa pun, tentang sekolahku, dan tentang aku sendiri yang tidak lagi dapat memeluk siapa-siapa.

"Ibu, aku masih mencari kertas lpatku. Tadi aku sudah membeli, tapi aku lupa menaruhnya. Ibu mau menunggu pesawat kertasku, juga isi pesannya? Seperti biasa, bu, pesannya bertulis aku kangen ibu."

Ah, sudah gelap di luar sana. Belum juga kutemukan. Lalu kusobek kertas dari buku tulisku, dan menulis pesan..

Ibu, pesawatku terlambat, tapi kangenku untukmu tidak akan pernah terlewat.
Kak Rio sudah mau berbaik hati mau membelikan kertas lipat di warung Pak Ali, tapi aku tidak mau.
Sekolahku hari ini biasa saja, bu, aku mengerjakan tugasku dengan baik, seperti nasehat ibu.
Ayah belum pulang sampai sekarang, masih sibuk dengan pekerjaannya, mungkin ayah juga kangen sama ibu.
Sudah, bu, aku mau mencari kertas lipatku lagi. Biar besok aku mengirim pesanku dengan pesawat kertas warna warni, seperti pelangi, eperti wajah ibu yang berseri-seri.

Salam kangen, Arin.


Pesawat kuterbangkan dari jendela kamar. Ditiup-tiup angin sampai jauh membawa kabar. Pesanku, ibu, supaya sampai kepada kekal bahagiamu. Biar aku di sini, menjaga kebahagiaan yang dulu pernah kau tinggali.

Aku kembali mencari kertas lipat, dan menunggu ayah pulang dari kesibukan yang ditinggalinya setelah kepergian separuh jiwanya.







Minggu, 18 Agustus 2013

menulis takdir; catatan keinginan.

Aku bersyukur, masih ada tempat yang kusebut rumah. Di tempat ini, di ruang aku duduk menghempas lelah. Di sini pula aku menghabiskan waktu-waktu yang kumiliki. Tiada henti. Dinding berwarna cokelat tanpa perlu dicat. Lantai beralas koran-koran lampau yang kugelar rapi menutupi tanah merah. Tak ada jendela, pintu hanya sekadarnya asal bisa untuk keluar dan kututup rapat saat aku tidur, atau kutinggal pergi.

"Dharma, sudah kau ambil jatah koranmu pagi ini?" Andang mengagetkanku.

"Kau dulu saja ambil punyamu. Aku mau ke tempat Dita mengembalikan sepeda." Aku menjawab sembari menata tumpukan koran sisa jualan kemarin sore.

"Ya sudah, nanti kusampaikan ke bang Tohir kalau kau akan terlambat." Suaranya kudengar semakin juh.

Dita. Nama yang tak pernah mampu aku elak. Bukan hanya karena parasnya yang begitu anggun, tapi juga ketulusannya yang selalu tiba tanpa perlu diminta seperti embun. Dita, gadis bermata bintang yang setiap hari menunggu koran pagi di teras rumahnya. Ia menunggu aku, menunggu hantaranku tepatnya.

Kukayuh sepeda berwarna biru muda. Sepeda pinjaman dari Dita karena semalam aku harus mengambil pesanan milik Pak Anton, di toko pusat kota. Siapa lagi kalau bukan Dita yang akan dengan baik hatinya meminjamiku sepeda. Untuk berjalan ke pusat kota, aku harus menempuh jarak 10km. Bisa saja aku berjalan kaki, tapi waktuku terlalu sia-sia jika hanya kugunakan untuk mengayun langkah. Bagaimana dengan pekerjaanku yang lain?

Pagi ini pukul 05.30, aku sudah sampai di depan rumah berpagar tinggi bercat putih, senada dengan cat dinding rumahnya. Kutekan bel, karena jika aku hanya mengetuk pagar, rasanya percuma. Pernah aku mengetuk-ngetuk pagar hampir setengah jam tanpa ada yang membuka. Tak ada yang mendengar, kata yang empunya rumah.

"Hei, kamu Dharma. Tumben jam segini sudah tiba, mana koranku hari ini?"

Suaranya mengalun bak lagu, mendayu-dayu di telingaku. Bagaimana mungkin aku tidak terpesona, pun senyumnya yang tak pernah alpa di bibirnya. Sungguh, aku tak pernah mau melewatkan salah satu surga kecil titipan Tuhan.

"Maaf, Dit. Koranmu akan kuantar nanti. Ini aku mengantar sepedamu lebih dulu."

"Kenapa tak kau pakai untuk mengantar koran. Kau bisa mengembalikannya kalau pekerjaanmu sudah selesai."

"Tidak. Kakiku sudah biasa berjalan. Lagipula sekalian aku olahraga pagi. Nanti kalau pakai sepedamu malah keenakan."

***

Hidupku berjalan seperti biasanya. Pagi hingga siang dengan koran-koran. Sore hari biasa kuhabiskan di terminal. Malam, biasanya aku sudah merebah di rumahku yang nyaman untukku sendiri, jika tidak ada orang yang membutuhkan tenagaku untuk apa saja.

Di malam seperti inilah, aku selalu menghabiskan waktuku di antara angan dan harapan. Aku punya sebatang pensil yang kudapat dari bang Tohir untuk mencatat koran-koran yang berhasil kujual atau tidak. Di antara koran-koran yang berserakan di petak ruangku, di sela-sela halaman yang tak berisi tulisan, aku menggoreskan pensil dengan tulisanku. Mencatat apa saja yang berkelebat di kepalaku. Mengenai hidup, dari pagi-siang-sore-malam. Juga mencatat keinginan-keinginan yang hanya mampu kuterbangkan di awang-awangku sendiri. Pun mengenai Dita, debarku tak sanggup untuk menyatakan dan memintanya menjadi kekasihku.

Di catatan-catatanku, di sisa-sisa koran yang tak laku kujual, aku menuliskan segala keinginan. Menuliskan mimpiku, menuliskan takdirku.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Tiga Senjata

"MERDEKAAAA..!! MERDEKAAAAA..!!"

Anto berlari mengacung-acungkan bambu kecil di tangannya. Di tengah lapangan ia berguling-guling kegirangan, disusul anak-anak lain, teman bermainnya yang juga menggenggam senjatanya. Wajah dan seluruh tubuh anak-anak itu berlumur lumpur dan noda merah; pewarna yang sengaja mereka balurkan di tubuh mereka.

Besok, hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 68 akan dirayakan seluruh negeri ini. Anak-anak Bumiasih, termasuk Anto sudah merayakan sejak hari ini. Setelah mempersiapkan alat perang-perangan dan menentukan grup mana yang menjadi pejuang dan grup mana yang menjadi penjajah, mereka berpencar untuk memulai perang. Sejak siang hingga sore, lapangan Bumiasih riuh rendah oleh teriakan anak-anak memperjuangkan kemerdekaan.

"Anto, ayo pulang. Sudah jam lima, kamu harus mandi."

"Iya, bu.. Anto bereskan dulu mainanku."

***

Anto memandangi bendera merah putih yang berkibar-kibar di depan rumahnya. Hebat benar bendera itu, tak lelah berkibar sejak seminggu lalu dipasang di bambu yang dia dan kakeknya cari di kebun belakang rumahnya. Pikirannya melayang-layang membayangkan betapa hebatnya pula dulu para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Apa jika aku dulu ikut berperang, apa aku juga bisa berjuang sampai menang?

"Ah, pasti keren kalau dulu aku jadi pejuang."

"Kau tetap bisa jadi pejuang sekarang."

"Eh ada kakek. Jadi pejuang, kek? Pakai bambu runcing? Apa pakai bom?"

"Bukan pakai senjata macam itu."

"Lalu? Kalau tangan kosong, mati duluan dong, kek.."

"Kakek punya tiga senjata ampuh yang bisa kamu gunakan untuk berjuang. Bisa kamu pakai sampai kapan pun mau, tidak akan pernah habis pelurunya."

Mata Anto berbinar-binar mendengar cerita tentang tiga senjata ampuh milik kakeknya.

Senjata itu pasti bisa membunuh semua musuh yang menyerang. Sekali pakai langsung menang. Pasti hebat. Pikirannya melayang-layang.

"Apa kek senjatanya?"

"Kalau kakek kasih tahu, kamu harus menggunakannya, ya?"

Anto hanya mengangguk sambil menyamankan letak duduknya. Dia sungguh tidak sabar untuk mengetahui tiga senjata ampuh kakeknya.

"Apa kek, apa???"

"Yang pertama, TOLONG."

Anto mengeryitkan dahinya. Dia tidak paham sama sekali dengan apa yang disebutkan kakeknya itu.

"Itu senjata awal untuk kamu mendapatkan hati orang lain. Dengan mengucapkan tolong sebelum kamu meminta orang lain untuk membantumu, itu akan membuatmu menghargai orang lain dan kamu akan dihargai pula."

"Katanya senjata ampuh, kok malah minta tolong? Di mana ampuhnya, kek?

"Kakek lanjutkan dulu, ya, pertanyaanmu akan kakek jawab nanti."

Kernyitan di dahi Anto kian menebal. Sementara itu, kakek hanya menimpalinya dengan senyuman yang masih juga tidak dimengerti Anto.

"Senjata yang kedua, MAAF."

"Maaf?"

"Lho, iya. Maaf itu penting. Dengan maaf kamu akan menjadi rendah hati, dan tidak akan direndahkan orang lain."

"Lalu yang ketiga apa?"

"Ini juga ga kalah penting dari senjata yang dua tadi."

"Apa kek?"

"TERIMA KASIH. Semua yang telah dilakukan orang lain kepadamu, baik sengaja atau tidak, wajib bagi kamu untuk mengucapkan terima kasih."

"Jadi tiga senjata ampuh tuh itu aja? Anto kira kayak bambu runcing atau pistol. Kan pejuang dulu pakai itu, kek."

"Itu jaman dulu, To. Sekarang senjata yang ampuh yang tiga itu. Kamu akan dihargai, kamu menjadi rendah hati, dan kamu menjadi orang yang tahu diri."

Anto benar-benar mencermati tiap kata yang keluar dari mulut kakeknya.

"Kepada pahlawannya Anto, hormaaaaattt graaaaakkkk!!!"

Jumat, 16 Agustus 2013

Lima Menit Kemudian

11:20

Kerikil-kerikil menyentuh telapak kakiku, teramat menyengat. Sedari pagi matahari sudah berbagi terik. Semoga hari ini ada sepasang sandal butut kutemukan. Kasihan kakiku, setiap hari kujadikan penompang dan hanya kebagian lelah dan lepuhan.

Entah sudah berapa jauh aku berjalan. Sudah berapa lelah kubiarkan. Aku hanya menyusuri rel kereta, menuju entah ke mana.
Apa di depan sana ada tujuan? Apakah aku akan menemui kebahagiaan jika langkah kuteruskan? Pertanyaan demi pertanyaan menusuk-nusuk kepalaku minta jawaban. Apa aku terlihat punya jawaban? Apa aku nampak memegang keteguhan?

11:22

Matahari hampir sampai di atas ubun-ubun. Kalau tidak salah mengira, kurang dari tiga menit lagi kereta jurusan Semarang-Jakarta akan melewati rel di sebelahku. Kereta ketiga yang menuju ibukota. Ada apa di sana? Berbondong-bondong orang mendatanginya. Apa aku harus juga?

Lagi-lagi kepalaku sudah dihunjami pertanyaan yang jawabannya masih menggantung di angan awan.

11:24

Langkah masih kuteruskan, meski tujuan masih harus kucari-cari di dasar endapan. Apa yang bisa kutemukan selain ketiadaan?

Kudengar, suara gemuruh di rel. Kereta sudah dekat dari tempatku berjalan. Aku berhenti. Menanti.

11:25

Kereta lewat, tepat seperti perkiraanku. Aku melihat lokomotif begitu besar, begitu kokoh dan teramat kuat. Gerbong-gerbong penuh berisi ratusan orang menuju ibukota. Mereka memiliki tujuan.

Ah, kini aku juga punya tujuan. Kereta itu meyakinkanku untuk memilih tempuhan. Kakiku lelah, hidup juga jengah. Biar kereta itu menuju ibukota, dan aku sekarang menuju ibuku, di surga..

Rabu, 14 Agustus 2013

Tombol Pengingat

Keriput semakin menutupi wajahnya, tapi masih saja kutemukan ketampanan di sana. Usia tak menelan habis rona-rona mudanya.

"Pak, minum obatnya dulu. Sudah Rima siapkan di meja, teh hangatnya juga. Rima berangkat kerja, ya."

Setiap pagi, setiap hari, semenjak kepergian ibu tiga tahun lalu, dan ketidakpulangan mas Rama sepuluh tahun lalu, bapak lebih sering melamun di ambang pintu ruang tamu. Ia menunggu, menunggu dan menunggu.

Ibu, belahan jiwanya pergi, berkali-kali ia coba merelakannya, mengunci diri dengan senyumnya yang mati.

Mas Rama, darah dagingnya yang begitu ia banggakan sebagai seorang polisi, menerima tugas di jauh pulau tanpa pernah kembali.

Sering aku melihat bapak duduk di kursi kesayangannya sambil berbincang sendiri. Sambil tersenyum, bahkan sesekali tertawa. Yang kuingat betul, itu gaya dan kebiasaan bapak jika sedang bercakap dengan ibu. Dulu.

Cinta tak bisa mati, rindu menghidupkannya berkali-kali.

Pun mengenai mas Rama. Jika bapak lelah menunggu di ambang pintu, ia akan memakai sepatu milik mas Rama yang ditinggalnya dulu karena sudah kekecilan, lalu pergi ke terminal. Untuk lagi-lagi menunggu.

Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan bapak yang satu itu. Percakapannya di ruang tamu, tawanya, juga tunggunya di terminal kotaku. Bapak terlalu setia kepada cintanya. Aku tidak berani membayangkan jika aku juga pergi.

Tuhan, aku ingin tetap di sini.

Petang ini, setelah menjemput bapak dari terminal, aku mengajak bapak duduk di depan televisi. Membuatkannya teh hangat dan menyelimuti tubuh rentanya.

"Pak, kita nonton ini saja ya."

"Gambar inikan waktu masmu lulus di akademi. Ibumu ayu, masmu gagah tenan. Kowe yo ra kalah ayu seko ibumu, nanging ijih polos."

Aku membiarkan bapak menonton rekaman itu.

"Iki piye neg meh mbaleni meneh?"

Kuajari bapak menggunakan remote dvd player. Dan membiarkannya memutar ulang ingatan kebahagiaan paling membanggakan dalam seumur hidupnya. Berulang-ulang. Berulang-ulang. Berulang-ulang, sampai lelah menaruh kantuk di matanya tanpa sadar.

Tombol Pengingat

Keriput semakin menutupi wajahnya, tapi masih saja kutemukan ketampanan di sana. Usia tak menelan habis rona-rona mudanya.

"Pak, minum obatnya dulu. Sudah Rima siapkan di meja, teh hangatnya juga. Rima berangkat kerja, ya."

Setiap pagi, setiap hari, semenjak kepergian ibu tiga tahun lalu, dan ketidakpulangan mas Rama sepuluh tahun lalu, bapak lebih sering melamun di ambang pintu ruang tamu. Ia menunggu, menunggu dan menunggu.

Ibu, belahan jiwanya pergi, berkali-kali ia coba merelakannya, mengunci diri dengan senyumnya yang mati.

Mas Rama, darah dagingnya yang begitu ia banggakan sebagai seorang polisi, menerima tugas di jauh pulau tanpa pernah kembali.

Sering aku melihat bapak duduk di kursi kesayangannya sambil berbincang sendiri. Sambil tersenyum, bahkan sesekali tertawa. Yang kuingat betul, itu gaya dan kebiasaan bapak jika sedang bercakap dengan ibu. Dulu.

Cinta tak bisa mati, rindu menghidupkannya berkali-kali.

Pun mengenai mas Rama. Jika bapak lelah menunggu di ambang pintu, ia akan memakai sepatu milik mas Rama yang ditinggalnya dulu karena sudah kekecilan, lalu pergi ke terminal. Untuk lagi-lagi menunggu.

Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan bapak yang satu itu. Percakapannya di ruang tamu, tawanya, juga tunggunya di terminal kotaku. Bapak terlalu setia kepada cintanya. Aku tidak berani membayangkan jika aku juga pergi.

Tuhan, aku ingin tetap di sini.

Petang ini, setelah menjemput bapak dari terminal, aku mengajak bapak duduk di depan televisi. Membuatkannya teh hangat dan menyelimuti tubuh rentanya.

"Pak, kita nonton ini saja ya."

"Gambar inikan waktu masmu lulus di akademi. Ibumu ayu, masmu gagah tenan. Kowe yo ra kalah ayu seko ibumu, nanging ijih polos."

Aku membiarkan bapak menonton rekaman itu.

"Iki piye neg meh mbaleni meneh?"

Kuajari bapak menggunakan remote dvd player. Dan membiarkannya memutar ulang ingatan kebahagiaan paling membanggakan dalam seumur hidupnya. Berulang-ulang. Berulang-ulang. Berulang-ulang, sampai lelah menaruh kantuk di matanya tanpa sadar.

sepasang sepatu tua

"Pak sepatunya saya semir, Pak.."

Tidak ada yang menjawab. Terminal ini penuh orang-orang yang tak peduli, atau mungkin mereka tuli hingga tak mendengar aku. Atau bahkan mungkin mereka buta, sampai-sampai tak melihat adaku. Penampilanku memang kumuh. Baju yang kupakai bekas ayahku dulu, celana warna merah, seragam sekolahku tadi siang. Tidak ada ganti, bahkan sekadar untuk satu hari.

Aku sudah berjalan dari satu ruang tunggu agen-agen bus, ke ruang tunggu agen-agen lainnya. Tak ada yang tertarik melihat keahlianku menyemir sepatu. Padahal ada lebih dari lima pasang kaki yang sepatunya berdebu. Kemarau mengirim angin, menerbangkan udara berisi debu. Tidak ada yang tertarik.

"Pak, boleh saya semir sepatunya?"

"Ini sepatu mahal, kena semirmu nanti rusak. Tidak usah."

Aku kembali melangkah, menjauhi keramaian.

Di sudut terminal, ada pos polisi yang tidak lagi digunakan. Aku biasa duduk di sana melepas lelah sembari menunggu pelanggan yang alas kakinya butuh dibersihkan. Biasanya aku sendirian, tapi kali ini kulihat sudah ada seorang lelaki tua bersandar di salah satu dinding bercat putih biru pudar itu. Pelan-pelan kudekati. Aku mengangguk tersenyum untuk menyapanya. Lelaki itu tersenyum dengan gurat-gurat keriput di wajahnya.

"Kamu nyemir sepatu, ya?"

"Iya. Bapak mau saya semir sepatunya? Murah kok, Pak."

Ia melepas, lalu memberikan sepasang sepatunya. Menaruh dengan sangat hati-hati di samping kotak kerjaku. Ia memandangi sepatunya. Mengamatinya dengan segala sisa kemampuan penglihatannya yang kian renta, sama dengan usianya kurasa.

"Itu sepatu anak saya. Anak saya polisi, sedang tugas di Sulawesi."

"Wah hebat anak bapak. Ini sudah tidak dipakai lagi sama anak bapak?"

"Dia punya sepatu baru. Ini ditinggal di rumah. Tapi daripada rusak tidak dipakai, ya saya buat jalan-jalan saja. Rasanya seperti berjalan dengan anak saya."

Ia terus bercerita mengenai anaknya. Matanya berbinar tiap menyebut nama anaknya, terlihat seperti manik-manik yang disorot sinar.

Adakah yang lebih membahagiakan? Ketika seorang ayah begitu semangat dan bangganya menceritakan tentang keberhasilan darah dagingnya sendiri. Seandainya ayah masih ada, apa ia akan menceritakan aku sedemikian lelaki tua ini bercerita?

Sepasang sepatunya hampir selesai kusemir. Sudah terlihat lebih mengkilap, bahkan aku dapat melihat lelaki gagah dan tampan dengan paras yang sama dengan lelaki ini, namun dengan usia jauh lebih muda.

"Ini pak sepatunya, sudah selesai."

"Oh ya, terima kasih. Bapak terlalu banyak bercerita rupanya."

"Tidak apa-apa, pak. Saya senang mendengarnya."

Dari kejauhan, seorang perempuan berjalan mendekat. Parasnya mirip dengan lelaki tua di hadapanku.

"Pak, ayo pulang. Sudah mau magrib. Mas Rama sudah di rumah."

"Lho, bapak kan mau jemput dia. Kok malah pulang duluan. Piye to masmu kui?"

"Maaf, mas. Bapak saya memang masih terus menunggu kakak saya, setelah dikirim tugas ke pedalaman Papua sepuluh tahun lalu. Sampai sekarang belum ada kabarnya."

Senin, 12 Agustus 2013

jejak kehilangan

Satu sore tiba di pesisir paling tepi -- menyisa basah kecipak ombak, sibuk menghapus jejak-jejak.
Seperti kenangan yang tak lagi dipahami.

Lalu kau dan aku di sini, serta muram langit ditiupi angin.
Ini musim langut, kita dan sepasang puisi enggan lagi bertaut.

Para camar hanya berputar-putar di bawah langit tanpa hujan.
Suara pengisi ruang kehampaan kian berjeda, menghempaskan kesunyian.
Menghempakan hela napas-napas jiwa senja kelelahan.

dan membiarkan buih-buih asin menyentuhkan rasa asing di sela jemari kaki kita.
dan tak ada yang mengisi jejak-jejak pasir dengan desir sampai pantai utara.

Lalu, tahukah kau, siapakah yang masih riuh bercengkerama?
Selain siluet foto ciuman kita, dan sisa-sisa teduh ketabahan di bawah karang.

Mungkinkah laut, memisahkan aku yang pantai dan kau kedalaman palung?
Sdang angin-angin mengirim ombak, mengasingkan alamat di kaki-kaki berjejak.
Sampai kecemasan, mengapung di antara kehilangan dan kehilangan, dan kehilangan..


( kolaborasi dengan @_bianglala)

Rabu, 31 Juli 2013

hobi sembunyi

"Kau di mana?" sentakku kesal.

Lagi-lagi tak kutemukan kau. Lagi-lagi kau membuat emosiku naik turun. Hebat sekali. Apa kau tak pernah tahu lelah mencarimu? Apa kau pikir waktuku hanya untuk menemukanmu? Dan dengan bodohnya aku tetap mengharapkanmu. Sesekali aku pikir, kau harus diikat, dijerat supaya tak lagi menghilang. Biar kautahu rasanya diam dan tak bisa ke mana-mana.

"Di mana kamu, manis?" aku melemah.

Bisakah kita saling bertemu muka dan membicarakan dengan baik saja? Barangkali kau marah karena aku sering mengabaikanmu. Barangkali kau punya sesuatu yang tak mampu ditangkap perasaku. Barangkali..

"Kembalilah." Aku memohon untuk kesekian kali.

Aku lelah, bahkan untuk menemukanmu yang diam saja aku kalah.

Dan kubiarkan kamarku sepi tanpa nyala televisi. Biar juga remoteku menyepi di tempatnya bersembunyi..

hai, puan

Hai, puan,
Tidak kusebut namamu di sini
Biar rahasia menyimpannya
Biar tak ada yang mengenalmu
Tak ada

Hai, puan,
Kurelakan jarak, jauh-jauh
Tidak akan kubenci yang kutempuh
Di sanalah aku semakin jatuh dan jatuh

Hai, puan,
Jika malam semakin kelam, aku menghadang pejam
Melafal doa dengan diam-diam
Menjatuhkan kamu, dalam-dalam

Kamis, 25 Juli 2013

cahaya yang tanggal

Hanya ada gelap di atas langit, malam belum purna, meski pagi sudah bersiap membuka mata
Sebentar lagi ada yang ingin dinyalakan di altar pagi
Seberkas cahaya sedikit menguntit warna senja
Sedikit saja jingga di antara lenggang fajar atas ungu pantulannya
Gerimis cahaya dan mula-mula segala asa
Satu di antaranya kuntum bunga yang bermandi embun, kutemukan senyum dari apa yang baru kukenal sebagai anggun
Tenangnya begitu tabah, dan menyusup hingga dalam dada yang tak bercelah

Aku bahkan tak mengenal engkau dengan sempurna, seperti kata-kata kepada mantera yang dijadikannya doa
Kepada matahari di ufuk timur, di sinilah kau memulakan aku
Harap meletup-letup dan ceracap cinta yang menyala-nyala
Barangkali tidak berkeberatan, maha surya membawa salam dari timur terbitnya hingga barat tenggelamnya dan mencipta jingga. Siapa tahu?

Yang aku harap dapat menampung sebuah kejatuhan atas jatah cahaya baik antara kehilangan dan pertemuan
Yang sabar menunggang siang dengan matahari sebagai tali kekang
Adakah jingga ditemuinya? Adakah ia mengenalnya seperti yang ditempelkan warnanya di tiap fajar langit?
Dan bilakah hujan mengganti kidung kehilangan, dengan gema-gema romansa? Sebab batu-batu cahaya akan membantumu menemukan nada-nada

Ini pagi yang mengambil perjalanan menuju sore di mana keberadaanmu teramat berkumandang
Kau hidup sebagai cahaya dan aku ruang yang menghirupmu ada

Kita sedang berkelana di satuan hari
Aku ingin tinggal bersamamu, tapi tanggal oleh angan yang waktu


(#DuetPuisi Balasan untuk @angghieandria)





Selasa, 23 Juli 2013

di atas kasur

Aku melipat selimut di atas kasur
Menumpuknya di atas bantal yang menyimpan mimpi-mimpi
Dan sekali lagi menumpuk bantal yang seringkali kujadikan guling--pemilik hangat sederhana yang tidak dimiliki dinding-dinding telanjang

Kasur ini nampak begitu luas bagi diriku sendiri
Namun teramat sempit jika kubagi bersama harapan dan keinginan untuk menempatkanmu di sini
Kemudian aku menyingkirkan angan-angan asing
Terlalu penuh, kupikir
Mengganggu aku dan (bayang) kamu

Seprainya kuganti seminggu sekali
Kuharap, walau pun sekadar mimpi, kau dapat mampir tanpa risih duduk

Di atas kasur ini, hanya mesra lampu dan langit-langit yang dapat kunikmati
Apakah di cahayanya aku ikut ditautkan?
Atau aku hanya jadi yang mereka bicarakan karena sendirian?

Sabtu, 20 Juli 2013

sisa-sisa yang terjaga

Kau mungkin saja tidak menemukan jejak di antara pasir pantai. Kau hanya akan menemukan kerontang-kerontang panci dengan sisa kerak coklat santan dan piring-piring kotor terserak bekas para nelayan melayani rengekan cacing-cacing dalam perutnya, di sudut dermaga. Sebab, ikan-ikan tangkapan melarikan diri, jauh dari jala yang ditebar. Apa kau tahu, deru ombak seringnya menggulung-gulung harapan, saja.

Dan langit menggelap. Nelayan yang setengah kenyang memasukkan sisa pisang, selain jala dan umpan ke buritan. Barangkali, di tengah gundah tengah laut, ada satu yang bisa dipegang harapannya. Seperti menggenggam satu dari senyum jejak tinggalanmu di pasir pantaiku. 

Pada saat pagi sudah kembali, dan saat panci-piring sisa santapan tak juga tercuci, aku tidak menjadi buta dan melihat seluruh kerak masih terjaga. Di antaranya teronggok tawa yang purba--saksi bahagia yang luput dari gendongan malam, juga sinar mercusuar; keberadaanmu, begitu jauh dari dermaga tempatku bersauh.

(Untuk @WE_Dewie - tema 'kolak')

Rabu, 17 Juli 2013

pada akhirnya di sebuah pantai

Pada akhir senja sekitar pukul enam lewat, saat kebanyakan nelayan mempersiapkan jala di buritan kapal, dan membiarkan keriuhan bergembira di sepanjang bibir dermaga, tak memperhitungkan nyala-nyala kesepian ikut terjaga.

Sekumpulan angan terbang dan mematuk-matuk gelombang, pun mengundang debur ombak, merekam keberadaan.
Tidakkah kekosongan itu terjawab?
Sebab pantai hanya memiliki dermaga dengan nelayan tua yang lebih setia kepada jala.

Maka pada akhirnya, kedatangan perahumu di antara bunyi jam yang jarumnya menunjuk pukul sembilan. Malam. Ini adalah waktu di mana pasir-pasir boleh lagi menembaki jejak-jejak baru dan menandai segala hal yang terpercik oleh tibanya penantian.

Ini pantai ketika aku bisa lagi tertawa.
Ini dermaga ketika tibamu menjadi selamanya.


*balasan untuk @WE_Dewie dalam #DuetPuisi*

Selasa, 16 Juli 2013

Pantai yang menunggu

Ini pantaiku
Setiap petang, angin menyala-nyala. Aku adalah penghuni yang setia menjatuhkan diri dan hati dari angan. Menunggu pelancong singgah menyandarkan kapal, mengisi hampar pasir dengan wangi jejak baru, yang akan kembali memulangkan angan ke dalam diri dan hati.

Aku berharap kamu datang dan hari menjadi lebih panjang, seperti bentangan pantai yang hanya sanggup aku pandang. Sendirian. Bahkan kata-kata yang ditulis pujangga tak mampu menjangkau ujung ke ujungnya. Dan takdir puisi hanya melingkar-lingkar di jantung debar.

Pantai ini masih penuh kekosongan. Tak ada yang menyetubuhi pasirnya selain angin yang terburu-buru.

Perjalananmu yang jauh nan lelah, semoga tiba di dermaga kecil usang. Tapi tenanglah, ujung dermaga terbuat dari kayu-kayu yang setiap waktu kuajari ketabahan menunggu. Ia tidak lapuk.

Ini pantai di mana kau bisa mengubah pasir menjadi desir.
Ini dermaga di mana kau bisa menjatuhkan jangkar dan melabuhkan debar.

Rabu, 26 Juni 2013

jejak yang mengatupkan mata

Aku tiba-tiba saja mengantuk, padahal malam baru saja membuka pintu
Jika pun lelah, ini tidak begitu
Bahkan di atas kepalaku nyala lampu masih berbinar-binar
Kau campurkan apa di kopiku?

Kusesap lagi kopi buatanmu, rasanya tak berubah, sama seperti hujan yang tak mau reda sejak pagi mebuka mata
Apalagi yang salah? Mataku menuntut pejam, pun di sesapan-sesapan berikutnya, sampai habis

Kuingat lagi tentang jejak di depan pintu
Hanya sepersekian-detik saja aku tahu, pemiliknya asing, bukan aku atau kamu
Milik entah siapa, dan mampu membuat isi kepalaku berputar-putar
Aku tidak cemburu, itu bukan milik kekasihmu dulu
Sampai di sesap terakhir, aku mengatupkan mata dan menata debar
Jejak itu, adalah cinta sebelum kamu, milikku

Jumat, 07 Juni 2013

cinta itu

Cinta itu,
rindu
repetisi tanpa berganti tujuan

Cinta itu,
air
terus mengalir

Cinta itu,
udara
irup hela tanpa sadar dan terus ada
sebagai hidup

Cinta itu,
langit
hamparan tanpa batas

Cinta itu,
apa saja asal menjadi kita
dan bahagia
akhirnya

Minggu, 02 Juni 2013

kangen siang hari hujan

suara hujan di luar, dengung musik di dalam ruangan, dan hingar suaramu dalam telingaku
kepalaku penuh, satu persatu merangsek masuk
lalu tumpah sebagai kata-kata

mungkin sedang kucari jawaban atas tumpukan pertanyaan
mungkin hanya sebatas keinginan secangkir kopi yang tak ingin sendirian dihabiskan
maka ia tumpah di atas secarik kertas, di atas keheningan yang ruah
dan kunikmati sendiri

ponsel berdering, kamu lagi
kubiarkan musik tetap menyala, dan kau kusapa
suaramu saja sanggup mengambil keseluruhanku
ambillah semua supaya tegap kita

hening libas
sepi amblas
hujan bablas

rindu
sampai puncak paling atas

suaramu
dengung musik
mengambil semuanya

Rabu, 15 Mei 2013

beberapa pertanyaan

haruskah terus berjalan?
perjalanan kita tidak berujung

apakah boleh lelah?
tidak ada yang melarang
aku sering, tapi berjalan lagi

ke manakah tujuannya?
kita
seutuhnya

ada persimpangan, pilih yang mana?
mana saja, asal tetap bersama

mau menuntun?
kita melakukannya
saling

boleh jatuh cinta lagi?
kepada kita
harusnya lagi dan lagi

Jumat, 10 Mei 2013

seperti bintang

Aku melihat bintang di matamu. Sesekali meredup, seperti remang di sudut jalan dekat rumahmu. Tempat aku biasa meletakkan harapan, bahwa aku tak salah jalan.

Kira-kira, adakah keindahan yang mampu kusangsikan?

Aku tak pernah tahu, sampai kau benar datang dan mengamini doa-doaku. Kau selalu tahu di mana namamu terlafal, harapan kurapal. Aku bahkan membiarkan bintang melintas sampai jatuh di ujung cakrawala, asal tak alpa menatap bintang kepunyaanmu.

Aku jadi punya tongkat untuk berjalan, meski aku sesungguhnya tak pincang, dan aku tak mau. Kau kokoh, aku menjadi sangat.

Aku mencintaimu.

Selasa, 07 Mei 2013

menunggumu

Masih ada kisah yang kutuntun, perlahan demi perlahan
Lekuk berliku-liku menanti rindu
Terkadang mendaki, undak berundak tunggu

Aku berpikir telah siap menetapkan kamu
Bahwa medan perang yang kuhadapi adalah desingan kangen, untukmu
Dan ini kesiapan untuk setia

Adakah kau punya waktu?
Adakah kau tahu seseorang menunggu?
Adakah harus kuberitahu?


(dari lagu Noah - Menunggumu)

Jumat, 03 Mei 2013

cara lain

andaikan
angin mampu menyamarkan parau suaraku
yang menyibak kangen
ke muara-muara
ditangkap jala telingamu

atau
hanya diam saja
dan kaupunguti senyap

akhirnya
tubuhmu bersuara
di tengah sibuk bingung berkecamuk

peluk
satu-satunya cara
kita menelaah rasa

Minggu, 28 April 2013

kota masa lalu

Kita dulu tinggal di sini dan saling mencintai. Membiarkan debar riuh tumbuh disemai temu tanpa pernah jauh.
Kita dilahirkan di atas tanah gembur milik ibu, kepunyaan petani-petani rindu.

Suatu kali kau kembali, dan mengulang kisah sore tentang hujan di penuh kepalaku.
Aku tertunduk di ramai jalan dan sinar lampu kota, juga gerimis yang mengetuk-ngetuk.
Ada tawa kukorek dari tatapanmu. Sesenang itu, hening danau tengah kota kepalaku kau sibak dengan dingin keberadaanmu yang lagi.

Aku berlutut. Menatap jalan pulang yang bukan lagi kita, melainkan cahaya. Saja.
Kesedihan jadi benih, penerus baru di hunian kota paling masa lalu.

Semalam, kucatat di gapura kota ini. Bahwa aku terbangun dan menemukan hatimu tercabik senyumku dulu, dan aku dikunjungi lagi musim teratai layu.

Jumat, 26 April 2013

dari sebuah cangkang



Bagian-bagian tubuhmu memaksa keluar. Menumpang kekuatan di alir sekujurmu.
Di bawah payung - entah apa itu - mula kehidupanmu di lindungi, selain keras selubung cangkang.
Siapa menunggumu di luar? Dua tubuh telanjang, entah apa pula yang ditunggu.

Lihatlah, betapa cangkang mencengkerammu erat.
Ia memaksamu tinggal, hingga retak berdarah.
Adakah yang kembali bergetar, selain kepalamu, selain tangan kirimu yang lebih dulu keluar?
dan kau tetap tenggelam tak sampai permukaan.

Apakah dua tubuh telanjang itu mampu menunggu?
Apakah tidak kelahiran dari cangkang menyesatkan dan mampu menuntaskan kesedihan-kesedihan yang lebih dulu tetas?

Sesudahnya,
tinggal kehidupan yang harus kau reka, tanpa kepedihan.



( dari lukisan Salvador Dali - Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man)

Selasa, 23 April 2013

telanjang kerapuhan



Tahukah kamu rasa sang kesepian yang berulang kali membaca seraut puisimu -- membuat kegaduhan dalam sangkar ingatan tak hendak penyangkalan. Pun pendar mesin-mesin waktu berlompatan pernah mencuri; mencari-cari tepat masa temu yang denyar.

Tiba-tiba menguak pernah disebut rindu. Berlompatan dentum dari dada berdinding batu ke dinding batu -- terhenti pada aksara terakhir, menakik pilu yang tak terlalaikan, meluntahkan ngilu dimampatkan kebas rasa.

Kini di mana kausembunyikan remah-remah cangkang penyesalan?

Semoga tidak di kepalamu, biar beda yang tumbuh. Seumpama sangkar-sangkar burung rapuh, mengapit tali jahitan yang menali-pitakan  ingatan dengan deguban.

Aku menandai pilu dalam diam tubuhku, dengan telanjang kerapuhan. Memangku doa-doa. Sesekali memecahkan cangkang waktu, menengok adakah lalaimu mampat di situ.

Sungguh, tiada kepuraan tersaji dari rapuh meja dan kursi tempatku duduk dalam kesendirian tanpamu.


( @_bianglala dan @dzdiazz )
-memuisikan foto karya Jamie Baldridge-

Senin, 22 April 2013

menanggung asa

Waktu melaju, kau menua, aku kian renta
Masa lalu tinggal, tetap pada umur terjadinya
Pada cinta pertamanya, pada mula luka-lukanya

Tidak berubah dan terus menetap
Siapa menyangka, ia tetap hidup sehat untuk ingatannya?
Tidak sakit, apalagi mati

Oleh karenanya, benteng senyum kubangun tinggi-tinggi.
Kokoh
Di masa depanku, supaya tabah kamu
Tidak mengenal sedihku

Kubiarkan mabuk anganku dengan keberadaanmu
Dan masa depan jadi kitab bacaan
Untuk doa sebelum lagi dihadiahi luka

Kita, yang dinikahkan cinta.

Sabtu, 20 April 2013

hujan sedari siang

Dengarlah,
Nyaring tetes hujan di atapmu
Gelisah
Sejak tetesan ke satu
Sampai ke sekian puluh ribu

Tak berhenti
Memandu luka
Mengabdikan diri

Rindu

Perlahan-lahan
Pasti
Sampai
Lebih dulu
Sebelum henti hujan
Sedari siang

Jumat, 19 April 2013

aku sendiri

Malam hujan, gigil sampai ngilu sendi-sendi
Di teras atas, ramai aku sendiri
Juga denting gelas aduan sendok
Wedang jahe masih mengepul, tegas

Hangat menyeruak, dari kesedihan ke kesepian
Ingat caranya merajuk, apel yang kukupas sudah berubah warna
Dari putih pucat ke lemas coklat
Masih ramai sendiri, kenangan pasi
Tak berkabar dari serbuk bintang

Aku barangkali,
Hening dan pergi yang kau amini
Sampai kopi enggan menyajikan diri
Dan malam selesai tanpa mampu kuakhiri

menanti lupa

Anak lelaki berpeluh penuh itu,
termangu memeluk harapannya.
Paksaan hidup membuatnya terbiasa menahan gemuruh perutnya.

Kedua lengannya mendekap lututnya.
Kedua matanya tertuju pada tong besi berkarat di sudut luar kedai.
Di dalam kepalanya berkecamuk angan,
mengenai sisa-sisa butiran nasi,
atau satu - dua potong saja sisa kue bolu.
Apa saja, ia mengiyakan.

Lalu hujan.
Di sana, jatuhlah pula satu amin.
Tak perlu lagi menunggu sisa teh manis.
Tangannya tengadah, mengumpulkan tetes demi tetes,
menghabisi kering kerongkongannya.

Ia menanggung hidupnya sendiri.
Keberadaan yang baginya tak perlu ditangisi.

Ibu, angannya; adalah pelukan di kala tidur llapnya.
Ayah, di pikirannya; siapa saja asal membuatnya kenyang.

Lalu lelaplah ia di teduh pohon seberang kedai,
sampai laparnya lalai.

Senin, 15 April 2013

Kupikir ini rindu

Semalam aku memimpikan kamu. Lagi.
Dan pagi aku terbangun, cericit burung ramai sampai angin lembut-lembut menyapa kepalaku.
Ada yang diam mematung; cahaya matahari dan aku yang masih memangku bunga pejam semalaman, sampai lupa mandi pagi.

Satu deguban, menampar lamunku.
Terperanjat pada waktu yang menyadarkan, bahwa sudah lebih dari enam puluh delapan hari aku tak menemu tatap matamu.
Aku menghitung dengan benar sejak pergimu. Sejak harus kutata sendiri rindu-rindu yang terus merengek setiap hari.

Aku menatap tiap detik jarum jam yang terus berputar.
Membiarkan sel tubuhku menahan sesuatu untuk berseru.
Kamu hanya mengirim kata-kata dari kumpulan huruf rindu penenangmu--penghiburku.
Jawabanku; "pun juga aku kepadamu", begitu selalu.

Jumat, 12 April 2013

bertumpuk

Ada kalang kabut di sana
Entah di bagian mana, di antara ketiadaan dan harapan
Saling penuh memenuhi, dan aku sesak

Aku hanyalah keberadaan yang tak berada
Sedang kau, ingatanku dalam segala rupa

Apa hendak kuhapus, jika lemparan-lemparan ada telah begitu nyata
Seperti kanvas yang telah yang telah dikawini tinta
Siapa rela menceraikan indah lukisan?

Kau adalah bagian, di mana tanganku dengan teguh merebahkan warna-warna, hingga rupa.
Kaulah warna, tumpukan yang kujadikan rupa dari cahaya ke asa.

Senin, 08 April 2013

menulis itu menumbuhkan

menulis itu menumbuhkan,
Tepat, seperti menanam biji ide-ide yang berjatuhan dari buah pikiran. Ke dalam tanah kata-kata semuanya disuburkan. Ada banyak hal yang pada akhirnya bisa tumbuh menjadi sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya. Bisa saja, apa yang ide yang kau tanam dengan sederhana, menumbuhkan ide lain yang berjalan dengan sangat luar biasa.

Menulis itu menumbuhkan,
Terkadang, buah pikiran yang didiamkan akan menjadi basi dan jadi onggokan-onggokan lupa tak berguna. Lalu, ada tangan lain yang menjadikannya karya dengan gagasan yang hampir sama, pada akhirnya kita hanya jatuh pada penyesalan. Menulislah, apa pun yang mampu kautulis. Dari kata-kata bisa kautumbuhkan ingatan-ingatan dan menjaga kepunyaan dari bidikan kehilangan.

Menulis itu menumbuhkan,
Jika tidak menumbuhkan apa pun di mata orang lain, setidaknya dengan menulis catatanmu sendiri, dapat menumbuhkan keberadaanmu. Seperti sebelumnya, menulis mampu menumbuhkan ingatan-ingatan mengenai apa yang pernah kau lakukan. bahkan tentang harapan-harapan yang kau inginkan, yang sama sekali belum terjamah laku. Lewat tulisan, apa yang sudah terlewati bisa jadi catatan yang sangat berharga. Masa lalu yang pernah hidup, tumbuh di sana meski tak terjaga. Pun mengeai masa depan yang ingin digapai. Tulis, dan beri catatan kemauan. Langkah menggapainya akan lebih mudah dan teratur.

Kamis, 21 Maret 2013

Andai awan tak lagi menyaji hujan

Jika anak-anak awan tak mengantar hujan
Aku mau bermain dengan segala ingatan
Andai saja di sana ada kehilangan
Mungkin deras sedang tak ingin berbagi

Kita berlarian
Menangguhkan kecewa penantian demi penantian

Sekali saja untuk bercanda
dan menunda resah jadi bulir-bulir basah

Andai awan tak lagi menyaji hujan
Di mejaku kosong kenangan
Kau tak pernah datang
Lenganku rapuh kesiaan

Senin, 18 Maret 2013

Kangen

Teruntuk kekasihku..

Ada kangen di sini, aku memikirkanmu..

Seharian tadi kita tak bertemu. Aku memikirkanmu. Sesekali aku memejam, dan menemukanmu tersenyum begitu dekat denganku. Hanya ada kamu di sana, lalu aku mengambil sebuah kotak bernama kangen, kuserahkan kepadamu.

Jika ini terdengar berlebihan, ya memang begitu kenyataannya. Sulit untuk tidak melalukannya. Kangenku selalu ada dan berlebih untukmu.

Di tempatku berada tadi hujan, seharian. Kau tahu aku menyukai hujan, pun tentang kopi dan cangkir kesayanganku. Biasanya, kau menghadiahi pelukan, dan aku membalasnya dengan kecupan. Terkadang kucuri satu kecup dari bibirmu. Aku gemas tiap melihatmu tersenyum.

Aku mau kita sampai tua. Sampai kita jadi pelupa dan saling lupa menyebut nama, tapi kita malah tertawa.

Semoga, dan amin.

Sabtu, 16 Maret 2013

Sebut saja luka

Sungguh,

Detik-detik memudarkan luka, dan pada harapannya, melingkarlah waktu di suara tiktok jarum jam.

Barangkali aku tak mampu menangkap harapan, sebab keinginan acap kali memungkirinya.

Menghitung debar, untuk menyibukkan diriku sendiri, mengalihkan segala macam tunggu yang memabukkan. Menggelar tawa untuk suguhan sepi, jangan sampai bosan! Biar tidak menyesal.

Nyeri semacam candu, keberadaan tanpa bisa lepas dari napasku. Meski tersengal, meski harus terus sabar.

Barang kali, tidak lagi harus kupunguti serpihan pergi, karena janji kepastian menentramkan dada.

Aku menikmati setiap tetes hujan. Tidak peduli sebasah apa tempias menyudutkanku dalam kebasahan. Kemudian aku bertutur lewat cerita yang tak kupahami. Terkadang aku jadi teramat bodoh.

Sepertinya kau harus segera sampai. Lilin yang kubakar hampir habis sumbunya. Tidak ada lagi yang mampu kunyalakan, selain keberanian, selain harapan, selain waktu meski tanpa sumbu dan tetes minyak keringat rindu.

Aku, tinggalan luka, yang tak pernah mengerti; rindu bisa saja mati.

Kamis, 14 Maret 2013

di sisa ampas kopi

Ampas kopi tertinggal dingin. Kesedihan begitu lekat, teramat pekat hingga malam menjadi jauh lebih lama. Ada yang lelap setelah lelah menunggu tanpa kepastian.

Di sisa ampas kopi, baumu menguar berperang antara khas yang memperebutkan udara bagi kemenangan nafasku. Yang pada akhirnya hanya menimbulkan memar di jantung sepiku.

Di sisa ampas kopi, perhatianku luput akan tawa. Tak pula sisa-sisa suara. Bahkan sayup di telingaku hanya dengung.

Di sisa ampas kopi, waktu hanya milikku sendiri.

Selasa, 12 Maret 2013

Suatu senja

Aku sedang bersama hujan sambil mengharap senja tak mengambil ingatanku mengenaimu. Saat tiba-tiba jingga singgah di dadaku, kuharap kau melihatnya dengan seksama, dengan cinta yang kuharap masih ada. Aku, adalah kekasihmu yang terus menunggu. Membiarkan sepi jadi warna langit selain rindu. Kuanggap saja begitu.

Aku diam. Ketakutanku akan kehilanganmu, membuat cekat suaraku. Kuingat-ingat lagi pelukanmu, hangatnya memberi harapan.

Beginilah senjaku saat ini. Hanya penuh kamu sebagai ingatan. Seperti dermaga tua, di mana hening airnya memantulkan hilir mudik kapal yang bersandar atau kembali berlayar. Lalu setetes hujan jatuh membuyarkan semuanya. Selesailah.

Anak-anak hujan itu kini banjir sebagai tempias di lenganku. Lengan yang pernah membelamu dari segala dingin. Lengan yang kini tak lagi nampak tangguh karena tak berumah dekapan. Senja ini milikku sendiri. Kali lain, mampirlah kembali jika perahumu oleng. Ada secangkir teh panas akan kusiapkan.

Minggu, 03 Maret 2013

Sudah

Yang tiba-tiba hanyut dan tak mampu kembali menoreh cerita ke tanah ingatan. Tetes-tetes harapan yang mati tertimpa kesudahan.

Detik demi detik mengasuh keinginan, merawat cinta yang dambaan. Menunggu sampai bayi-bayi debar tumbuh besar. Sampai nanti mampu dinikahi kepercayaan.

Lalu waktu menggeleparkan langkah, melempar sudah.

Hingga tiba pada masa yang sebelum akhir dituju -- sebutlah ini perjalanan yang akhirnya lelah. Menatap punggungmu bahkan sebelum senja jatuh, sebelum hujan menghunjam.

Kini terakhir kali menuliskan pada lembar  kenangan yang menjadikanmu angin, agar ringan langkah menjauhmu begitu saja.

Pergilah. Kuhantar mantra-mantra bukan mendoakanmu. Sebab luka-luka ini lebih membutuhkan keabadian doa bagiku.

( @_bianglala - @dzdiazz )

Sabtu, 02 Maret 2013

Kekasih

jalan-jalan yang kian gelap, tidak lagi dilewati
berlumut, senyap, dan bau anyir kesepian digagahi hari, waktu ke waktu
menghabisi diri, rindu demi rindu

tak ada kenangan lantas usai
jejak-jejak tegak pada bayang dari jauh cahaya
berjalan pada teguh tunggunya

lalu tuju berakhir di ranum debarmu
sebagai kekasihku, tidakkah kebahagiaan kau letakkan pada aku, saja?

pada dermaga

sedari pagi aku belum beranjak dari dermaga penantian.
apa rasanya bila aku menjadi puisimu, di saat-saat seperti ini?
mungkin aku kan sibuk menerka-nerka: apakah aku menjadi lukamu pada aksara-aksara yang kautulis bahkan berkisah pada rinai hujan yang jatuh seperti sedang kaulihat dari balik jendela cerita.
ataukah aku menjadi bait-bait bahagiamu, yang kaupuja bahkan rayuan-rayuan yang memelukimu. pun kau kisahkan pada tiap larik-larik pelangi selepas hujan ketabahan pengharapan.
di sinilah kisah tunggu beradu-adu dengan waktu. pada dermaga di mana kakiku sibuk mengakrabi riak-riak ombak; mencatut-catut satu demi satu apa yang tak juga sampai kepada detak.
bolehkah aku rebah kepada pasir? kepada darah ketiadaanmu yang terus berdesir?
apa yang telah kupercayakan kepadamu, ialah waktu tanpa jemu memohon amin temu.
akulah kini, penghuni luas sepi-sepi. penanti sulut api di sekam debar tanpa henti.
bila nanti dermaga runtuh oleh lelah, jangan persalahkan waktu. sebut saja aku kalah. sebut saja rindu jengah.
sampai malam aku tak juga berani menjejak, kepada apa yang kusebut kepergian.
(@_bianglala - @dzdiazz)

Rabu, 13 Februari 2013

kepada tukang pos

Selamat sore, Lio..

Sudah 30 hari lebih satu hari rupanya. Senang rasanya bisa ikut proyek @PosCinta lagi. Ini keikutsertaanku yang ke-empat dalam tiap proyek yang diadakan bosse. Tukang posku selalu berganti, dan kali ini aku menitipkan suratku kepadamu.

Terima kasih sudah lelah mengayuh fixie demi mengantar surat-surat(ku) meski tujuannya entah. Ah ya, aku mau lapor, suratku tidak penuh. Satu kali di surat yang ke 29, aku absen menulis. Di proyek kali ini, bukan sekadar tulisan-tulisan baru yang kudapat, tapi juga banyak sahabat peramu kata lainnya. Sampaikan salam untuk bosse dan teman-teman tukang pos lainnya. Terima kasih. Semoga akan ada proyek selanjutnya. Aku menunggu.

Tidak banyak yang aku tulis, Lio, selain ucapan terima kasih, pun maaf telah membuatmu lelah dengan banyak sekali kata-kata.

Terima kasih, tukang posku (yang ngaku-ngaku) pacarnya Persie :p


Senin, 11 Februari 2013

dari mendung

Selamat sore, @ikavuje

Akhirnya aku memberanikan diri menulis surat untukmu. Surat dengan tema siapa yang mau dijumpai di gathering nanti. Iya, aku ingin sekali bertemu dengan pemilik suara merdu itu.

Dulu, dari linikala ada yang memberitahuku mengenai the vuje. Kata dia, suara vokalisnya bagus. Aku iyakan saja tanpa mencari tahu bagaimana sebenarnya. Sampai pada akhirnya, dia menunjukkan souncloud the vuje dan memaksaku mendengar 'mendung'. Jatuh cinta pada keindahan itu sangat mudah, maka jatuh cinta kepada suaramu bukanlah hal yang harus berkali-kali aku pikirkan.

Tanggal 17 Februari nanti, seharusnya bisa jadi hari paling membahagiakan untukku. Di sana, bisa dengan mudah kutemui kamu dan mendengar kamu bernyanyi langsung di depanku. Tapi maaf, sepucuk undangan dari sahabat kecilku tentang hari bahagianya menunda kesempatan untuk menemuimu. Sebuah janji harus ditepati, bukan? Kepada sahabatku itu aku sudah berjanji hadir dalam bahagianya, dan sebagai sahabat yang baik, menepatinya adalah kebahagiaan.

Ika, semoga nanti akan ada kesempatan untuk mendengar 'mendung' langsung, bukan dari soundcloud lagi. Terima kasih untuk mendung yang kau jadikan indah dalam senandung.

Salam untuk the vuje, albumnya segera ya :)

Kamis, 07 Februari 2013

semoga sampai nanti

Selamat senja, kesayanganku.

Lagi-lagi aku menulis untukmu. Akan kuceritakan tentang perjalanan kita baru saja. Mungkin ada yang kau lupa. Juga rindu-rindu yang bertalu kepadamu.

Kira-kira dua pekan sudah perjalanan kita tapaki, berdua. Setiap senja, sering kita habiskan tanpa jeda. Pun yang baru saja.

Kita. Ya, kita apa adanya. Percaya sebagai jalan. Tawa yang selalu berdampingan. Cinta jadi bekal dalam dada.

Bagaimana aku tidak bahagia, sayang? Semesta sungguh membuatku melayang, meski aku tak pernah mampu terbang. Apa kau pernah tahu, Tuhan menyinggahkanmu kepadaku? Semoga sampai nanti, sampai kau tinggal dalam hati, sampai waktu selesai kita jelajahi.

maaf pertama

Mungkin aku belum paham kebiasaanmu. Belum mengerti juga apa yang tak kau kehendaki dalam hatimu. Maaf, jika aku masih meraba-raba sifatmu. Dua pekan, belum cukup waktu untuk mengenalmu. Oleh sebabnya, aku mau mengenalmu selama berwaktu-waktu.

Aku mencintaimu.

Jika ini kesalahanku yang pertama kali, maaf. Biar jadi bagianku untuk memahami. Pun jadi bagianku untuk mengerti. Bagianmu, ijinkan aku mencintaimu berkali-kali. Menghapal hatimu, sampai tahu benar hitungan detakmu.

Senin, 04 Februari 2013

untuk Shizuka

Selamat siang, Shizuka..

Masihkah Nobita menggodamu dengan bantuan Doraemon? Boleh sekarang aku menggodamu dengan selembar surat? Aku rindu menatapmu di layar kaca setiap pagi di hari minggu. Minggu pagiku sering kuhabiskan di gereja. Setiap kali sampai rumah, jam tayangmu sudah digantikan dengan acara musik yang tak begitu aku suka celoteh pembawa acaranya.

Selembar surat ini, Shizuka, hanya ingin mengungkap kekagumanku kepadamu. Kau gadis yang ayu, penurut, dan tak pernah lelah untuk belajar. Kau favoritku karena ktetekunanmu. Salam untuk Dekisugi, temanmu yang rajin pula itu.

Kau masih suka berlatih biola? Jika iya, mari kita sama-sama belajar untuk merangkai nada menjadi sebuah lagu. Mungkin saja bisa kita nyanyikan bersama, supaya Nobita iri dan Giant tak lagi bernyanyi sesuka hati dengan gaduh suaranya.

Shizuka, tetaplah jadi gadis cantik yang pintar. Jangan ikut-ikutan Nobita yang malas. Jangan pula jadi sombong seperti Suneo. Berbaik hatilah kepada semua orang, dan tetaplah lembut dengan hatimu.

akan ada waktunya

Sore ini  kita kembali bercakap-cakap sambil menatap hujan. Ada beberapa angan yang kau nyatakan dengan jujur dan penuh pengharapan. Maaf jika tadi aku harus sejenak diam. Bukan tak sama berkeinginan, tapi masih ada banyak hal yang harus kita tempuh terlebih dahulu.

Perjalanan baru saja kita mulai. Baru saja. Ada baiknya kita saling memperkenalkan diri masing-masing. Bukan tak yakin terhadapmu. Sungguh baik, jika kita mulai semuanya dengan apa adanya kita. Kamu dengan dirimu yang sesungguhnya, dan aku dengan diriku yang tak menutupi celaku yang ada. Begitu seharusnya, bukan?

Aku tidak mau nanti kamu kecewa. Aku juga tidak mau mengecewakanmu. Masih akan ada banyak hujan jatuh di dalam kita. Tanah pijakan kita takkan gersang. Semakin kita mengenal, semakin perjalanan begitu menyenangkan, dan tujuan kita tak luput dari kebahagiaan.

Akan ada waktunya, senja kita nikmati tanpa takut kita renta.

Sabtu, 02 Februari 2013

sebenarnya untuk diriku sendiri

Apa kabar, el?

Mengenai catatan sebelas hari yang penuh mendung, kini langitmu sering cerah. Pun jika hujan, ada deras namun tetap bercahaya tegas. Sudah mampu melangkah lagi, rupanya. Selamat, el.

Ternyata luka sudah mampu kau lewati, sudah kau obati dengan caramu sendiri. Meski bekasnya masih ada, kau sudah tak lagi meringis kesakitan jika mengingatnya. Atau karena sudah ada yang merawat lagi? Keberuntungan tak pernah menjauh, ya? Bersyukurlah, el.

Sekarang, jalani saja dengan apa adanya. Tidak usah terlalu muluk-muluk bermimpi. Rangkai satu persatu yang sudah ada di anganmu. Kau tahu, Tuhan ada dalam tiap nafasmu. Ia setia meski sering cemburu jika kau lupa berdoa. Sering ditegur dengan beberapa kejadian, Ia hanya ingin menjadikanmu ciptaan yang lebih baik. Ia menyayangimu dengan cara-Nya yang luarbiasa.  Bersyukurlah, el.

Jika masih ingin diam, lakukan supaya hatimu tenang. Abaikan yang tak pernah mau paham tentang kediamanmu. Carilah rumah yang membuatmu benar-benar merasa pulang. 

Salam, dirimu sendiri.

Jumat, 01 Februari 2013

d109, masih ada?

Masih ingat, bagaimana kita memulainya di sana. Dengan rencana kecil mengenai tugas. Di sebuah ruang yang cukup luas untuk kita bercengkerama, tertawa, berkeluh-kesah, bahkan sempat sekali kita beradu kata dan hampir pecah dengan pukulan--meski tak terjadi.

Ruang itu masih ada. Masih diam di balik gerbang besi berkarat di pinggir jalan raya. Ruang itu diam di antara riuh laju kendaraan. Sekarang ruang itu benar-benar diam. Tapi masih bisa kurasakan geletar yang dulu pernah terjadi di sana. Masih bisa kudengar di telingaku sendiri tentang tawa kita.

Kita sepakat menyebut D109 untuk kita. Kita, siapa saja yang mau merebahkan tubuhnya di dingin lantai. Mau membiarkan telinganya mendengar cerita-cerita bahagia, atau sekadar celoteh untuk mencipta tawa. Pun juga luka jika ada yang menaruh cerita. Begitulah kita, seolah membiarkan semuanya hidup di sana. Saling merentang tangan untuk menguatkan.

Beberapa waktu yang lalu. Sampai pada akhirnya ada masa yang (memaksa) kita menjatuhkan langkah pada kesibukan diri sendiri. Terkadang aku bertanya, masih adakah kita? Yang meskipun tak pernah mengucap janji, tapi ingin untuk tetap berjalan pada kebersamaan? Masih adakah?

Jika nanti satu atau bahkan kalian semua membacanya, sesekali, pulanglah kalian kepada kita. Ruang yang membuat kita tertawa sampai lupa luka-luka. Ruang di atas bahu kita, penyedia sandar tanpa perlu diminta. Ruang di mana kita bisa merebah tanpa takut jengah dan lelah.

Aku masih di sini. Mencari ruang yang kita sebut kita. Kalian, pulanglah dalam nama kita dengan langkah paling bahagia milik kita. Semoga, kita masih ada.

.....ayo kucingan lagi :D

Kamis, 31 Januari 2013

untuk hitam dalam cangkir

Selamat sore, hitam..

Aku menulis surat ini untukmu. Entah apa kau bisa tahu atau tidak. Atau mungkin nantinya kau akan tahu dari suaraku saja, saat kembali bersamamu aku menceritakan tentang semua yang ada padaku, apa saja.

Sejak pagi, siang, senja, sampai malam dan kembali lagi kepada pagi, bibirku tak pernah bosan menyentuh bibir dingin cangkir keramik penampungmu. Dari mulanya panas dengan uap yang kepul mengepul, sampai ampasmu endap dalam dingin yang berkumpul. Aku masih saja candu pada pahit hitammu.

Sering pula saat hujan, aku menyeduhmu, kau menyediakan lapang ruang kenangan. Aku melemparimu kata-kata, kau diam menadah dariku yang sempat tersimpan. Adapun pagi, sering kita mempersilakan matahari turut dalam perbincangan mengenai rindu. Waktu terik siang, beberapa kotak kecil es membaluri pekatmu. Meredam panas sambil mengambil jeda nafas kesibukan. Seringnya senja, aku mencatatkan detak dadaku di  tiap sesapanmu. Sesesap demi sesesap, dan aku dekap olehmu yang hangat. Dalam malam, kau tak pernah lupa jadi setia. Bahkan jika kubiarkan dingin, nikmatmu kau jaga demi aku untuk tak lelap.

Dalam cangkir keramik kesayanganku, kau selalu kuseduh dengan hati-hati. Menjaga supaya tak setetespun tumpah. Seperti menjaga hati kekasihku, supaya tak sedikitpun ada kehilangan.

Untuk setiap pekat yang masuk dalam tubuhku, aku mengucapkan terima kasih.

Rabu, 30 Januari 2013

terima kasih

Selamat senja, kekasihku..

 Ada banyak tawa hari ini. Terima kasih sudah memberi warna baru dalam bahagiaku. Juga hujan yang kau biarkan mampir di dahimu, dan memberikan kesempatan bagi tanganku untuk menyekanya. Menangkap hangat dan tanpa sengaja menyentuh matamu yang gemerlap tenang.

Hari ini, kita bermain dengan hujan dan pelukan. Bergantian bercerita, tanpa melepas tatapan. Jika ini kebahagiaan, akan kujaga untuk kita. Andai saja nanti ada jeda, tidak kuamini satupun luka. Aku berterimakasih kepadamu dan bersyukur pada Tuhanku.

Tadi aku bercerita mengenai seseorang, terima kasih untuk tidak cemburu. Sebab kamu tahu siapa yang ada dalam ceritaku. Seseorang bukan siapa-siapa, seseorang yang lewat begitu saja. Kuputuskan bercerita kepadamu, karena aku yakin kamu bisa menenangkan resah dalam dadaku. Seseorang itu datang dan menampar-nampar pikiranku dengan semaunya. Sudah lupakan, katamu. Aku iyakan.

Sore ini, dalam pelukanmu, aku menulis surat yang juga langsung kau baca. Menulis dengan hangat tubuhmu mengalir ke jari-jari tanganku. Menulis dengan senyuman yang kau hantarkan dengan ketulusan. Terima kasih, sayangku.

Sudah kau baca suratku, maka mengakhiri dengan kecupan di dekat bibirmu adalah ucapan salam pamit yang begitu menenangkan gemuruh kebahagiaanku.

Terima kasih, kesayanganku.


Selasa, 29 Januari 2013

sebuah sudut

Selamat sore, kota kecil..

Tak terasa, sudah hampir separuh dasawarsa aku menginjakkan kakiku di tanah merahmu. Sudah begitu banyak sudut-sudut, dari tengah kota sampai pelosok desa kujelajahi untuk menikmati indahmu. Ada begitu banyak kenangan tinggal dan menetap, yang kulupa dan masih tetap kuingat.

Satu sudut di tanahmu yang terus kukunjungi, dan di sanalah harapanku tentang tangga masa depan dijejakkan. Sebuah gedung tua bercat abu-abu dan merah muda, aku akan menamatkan gelar kesarjanaanku di sana. Pun di gedung itu pula semua kenanganku mengenaimu kumulakan.

Dari asing, hingga mengenal bermacam sapa. Pun sekarang, segala sapa itu sudah menjadi catatan berupa sedih-luka dan senang-bahagia. Satu sudut ruang tanpa pernah mengenal lelah untuk mengajarkan ilmu. Tak pernah luput pula tentang rindu.

Di sudut ruangmu masih kukunjungi di waktu-waktuku. Sekadar berbagi cerita dan tawa. Sekadar menaruh kabar bahwa aku masih ada. Pun satu minggu yang lalu, saat kabar kesedihan tertumpah begitu dalam. Sebuah hal yang tak pernah diharapkan. Guru, ayah, sahabat, kakek bahkan, telah lebih dulu berpulang. Di sudut ruangmu ini rapuh seketika. Dari mata-mata jatuh airmata. Di sudut ruangmu pula, tangan yang bergenggaman memberikan kekuatannya.

Kaulah sudut tua, lusuh itu. Sebuah sudut di kota kecil dengan segala adanya, namun aku mampu hidup dan jatuh cinta untuk bahagianya.

Salatiga, separuh jiwaku ada untukmu yang bersahaja.

Minggu, 27 Januari 2013

kepada senin

Selamat senin, waktu..

Sudah dimulakan kembali, hiruk pikuk sibuk. Libur diletakkan lagi, disimpan sampai nanti akhir minggu. Senin, bagaimana hatimu? Melihat begitu banyak ungkapan yang tak mengharapkan hadirmu. Ada yang membencimu, ada yang berpura-pura tak mengingatmu meski tetap berpijak pada kamu. Senin, adalah awal yang sudah berjalan dengan penuh kesesakan.

Bagiku, kamu tak lebih dari hari biasanya. Bahkan kadang terasa minggu. Maaf jika aku menyamakanmu dengan hari lain. Aku hanya ingin menganggapmu sama menyenangkannya dengan hari liburku.

Hari ini pun, aku masih menikmatimu sebagai libur sambil menghitung hujan. Ya, hujan sebelum siang menghalangiku menuju kampus dan menghabiskan waktu di sana dengan kewajibanku menyelesaikan revisi. Tapi apa mau dikata, bukan pula alasan yang kuada-adakan, hujan sudah datang lebih dulu. Bukan juga takut basah, tapi jas hujanku sudah robek dan aku harus melindungi file-file skripsiku. Percuma juga sampai kampus.

Senin, andaikan semua orang menganggapmu semenyenangkan akhir pekan, betapa hatimu akan senang. Lalu memintakan senyuman dari matahari untuk menaungkan cerah di bumi. Andaikan. Tapi kupikir, tak ada hubungan juga antara kamu, ketidaksenangan orang mengenaimu, dan hujan. Hujan ya hujan saja. Ketidaksenangan terhadapmu, ya itu masalah orang yang tidak suka kamu. Aku mengada-ada.

Semoga senin, aku tidak membencimu. mencatat dan mengingatmu sebagai hari paling menyenangkan. Semoga. Selalu.

Tuhan, aku jatuh cinta

Senja tak berhujan, di sini relungku jatuh kepadamu dengan kebahagiaan..

Selamat senja, kekasihku.

Sudah kuungkapkan semuanya kepadamu, secara langsung tadi, dengan saksi kedua mata dan jutaan kali degup jantungmu. Tapi di sini, aku akan menambahkan sebuah catatan. Barangkali di waktu senggangmu nanti, saat tak bersamaku, kau bisa membacanya dan mengingatku dengan senyum, pun ingatan mengenaiku.

Aku mencintaimu dengan segala yang ada dan yang belum ada daripadaku. Bahagiaku terkumpul di dalam lingkar hitam matamu. Aku bisa melihat diriku sendiri tersenyum tenang di sana. Seperti berkaca dan jelas bahwa gores luka di tubuhku terhapus, meski tak sempurna.

Kekasihku, kepadamu aku percayakan hatiku. Bila ada bahagia, milikilah semuanya. Bila nanti ada luka, akan kupunguti sendiri dan kunikmati dengan ingatan bahagia yang darimu. Mungkin aku sedang bahagia dan tak peduli luka-luka. Tapi kupahami, roda berjalan memutar. Akan ada luka (nantinya yang tak kuamini), entah kapan. Kusiapkan saja ingatanku supaya lapang menenun bahagia sejak sekarang.

Senja di mata kita tak pernah muram rupanya. Sulaman-sulaman jingga menyelimuti kita, menjadikan hangat untuk kita habiskan bersama dua cangkir kopi milik kita. Senja kita, senja jatuh cinta.

Tuhan, aku jatuh cinta. Sedalam-dalamnya di dada ciptaan-Mu lainnya.

Selamat senja, kekasihku.

Jumat, 25 Januari 2013

nyaliku entah di mana

Kepada pemilik tas merah..

Siang ini aku melihatmu lagi, kira-kira dari jarak sepuluh meter lebih dekat daripada beberapa waktu lalu. Selain hujan, debarku sepertinya juga jatuh ke atas bumi. Ke atas tempatmu berpijak menyentuh hati.

Hujan, dingin karena angin tak lupa datang. Tapi aneh, dari dahiku mengalir keringat, bahkan bisa kurasakan di seluruh kulit tubuhku basah. Bukan, ini bukan kehujanan atau terkena tempias. kamu jadi terik matahari dan aku peluh yang lahir dengan menatapmu.

Aku ini pemalu, selalu saja nyali kusimpan dalam-dalam, sampai sering lupa kuletakkan di mana. Lemas kakiku, gemetar dadaku, dingin tanganku dan migrain di kepalaku. Alasannya, melihatmu.

Lain kali, aku harus menyelesaikan dulu kekisruhan dalam dadaku sebelum menemuimu. Selalu diam dalam pergok tatapmu. Degup-degup jantungku seperti api yang membungkam nyala api nyali. Bahkan lengkung senyumpun jadi patahan-patahan tunduk yang terbangun di gerak kepalaku.

Aku menulis surat ini, sebab kata-kataku yang diam berani mengumpulkan nyalinya di sini. Jika nanti kau baca, semoga lupa tidak lebih dulu singgah kepadamu.

Salam, aku yang membalas senyummu dengan tatap yang cepat tunduk kepalanya.

Kamis, 24 Januari 2013

kepadamu, cinta masih

Aku menulis bersama hujan, secangkir kopi panas yang tak sampai lima menit sudah menjadi dingin. Juga bersama catatan-catatan yang tintanya tak kunjung kering, mengenai kita. Sedang kucoba melawan lupa, karena bahagia tertulis begitu jelasnya. Terpapar di bilur-bilur hujan tanpa jeda. Aku menulis lagi, mengenai kamu dan aku.

Sudah selesai, katamu. Iya, aku menyetujui. 

Cerita mengenai kita tertutup dengan ucap amin untuk kebahagiaan yang dilangkahkan oleh kaki masing-masing kita, sendiri. Persimpangan kita pilih untuk berpisah. Jalannya menuju kemana entah. 

Aku menatap punggungmu yang kian menjauh, mungkin kau juga demikian, menengok punggungku dengan jarak tanpa kepastian. Berjalan, dan terus berjalan. Langkahku semakin usang. Kurasa aku bimbang untuk melanjutkan perjalanan. Akankah kembali? Kutelusuri lagi jalan, melalui lorong-lorong sepi dan dingin siraman hujan. Ah, setapak jalan ini menuju jejakmu.

Aku masih mengenali jejak sepatumu, juga wangi tubuhmu yang tertinggal bersama angin di sini. Aku tidak kembali, tapi menemui yang sudah pernah. Kalau memang jalanku adalah kamu, maka tidak akan kuingkari untuk mengatakan lagi.

Cinta sudah memilih, kepada hati yang belum pulih.
Kepadamu, cinta masih.

Selasa, 22 Januari 2013

catatan hujan

Selamat malam, di masaku..

Sedang kulihat hujan di sini, gerimis tepatnya. Wajar saja jika masih sering hujan, ini musimnya. Berbeda dengan dadaku, ia tak mengenal musim untuk terus mengingatmu. Setiap waktu, ya kamu yang jadi musim dengan segala pergantian cuacanya. Bagaimana kamu menjadi angin di pancaroba. Bagaimana kamu menjadi  terik di kemarau. Dan bagaimana kamu menjadi deras dalam penghujan. Aku, menangkapmu dengan tubuh yang mengandung kerinduan.

Lalu, bagaimana dengan langitmu? Kamu masih suka hujan? Masih makan eskrim waktu berteduh, entah di mana saja? Aku masih mengingat semuanya. Masih, dengan sangat jelas. Hujan sudah merekam kamu. Ia seperti kamera yang menyimpan seluruh gambar lalu menggerakkannya dengan perlahan. Memutar ulang semua yang pernah kita catatkan. Ah, sepertinya waktu itu hujan sedang tak sibuk. Sampai tekun menyimpan kita dalam bilik kenangan.

Ada tempias jatuh di punggung tanganku. Aku memang menulis dekat dengan jendela, supaya lebih jelas gerimis yang sedang merayakan malam. Supaya lebih dekat kamu di ingatan. Bunyinya ramai. Kupikir semesta sedang menciptakan nada untuk penghuninya, mungkin aku, mungkin juga kamu. 

Sudahlah. terlalu banyak kenangan menari sekarang. Migrainku belum hilang sejak kehujanan kemarin siang. Memikirkanmu, cukup menambah satu beban tentang kehilangan. Sudah terlalu banyak kamu, sedari tadi hujan membasuh tanah-tanah rumahku. Sudah cukup. Kututup surat ini dengan menutup pula jendela. Tempiasnya akan membuatku meriang, jika lima menit saja jendela masih terbuka. Terima kasih untuk catatan hujan. 

Semoga hujan tak membuatmu sakit kepala sepertiku.

Senin, 21 Januari 2013

ajari move on dong

Selamat sore, Aurel / @aurelhermansyah

Entah kenapa aku harus nulis surat ke kamu. Dibaca boleh, ga dibaca juga ga apa.

Aku cuma penasaran, apa arti cinta buat kamu?
Beberapa kali putus, ga lama langsung dapat gantinya lagi. Semudah itu ya move on? Ajari aku dong kalau gitu.

Ga ada. Surat ini ga bakal ada kata-kata romantis buat kamu.
Kan aku cuma mau minta diajari gimana caranya move on yang cepet biar kalau abis putus ga kelamaan dapat gantinya.

Ajari move on ya, Loli...