Kamis, 31 Januari 2013

untuk hitam dalam cangkir

Selamat sore, hitam..

Aku menulis surat ini untukmu. Entah apa kau bisa tahu atau tidak. Atau mungkin nantinya kau akan tahu dari suaraku saja, saat kembali bersamamu aku menceritakan tentang semua yang ada padaku, apa saja.

Sejak pagi, siang, senja, sampai malam dan kembali lagi kepada pagi, bibirku tak pernah bosan menyentuh bibir dingin cangkir keramik penampungmu. Dari mulanya panas dengan uap yang kepul mengepul, sampai ampasmu endap dalam dingin yang berkumpul. Aku masih saja candu pada pahit hitammu.

Sering pula saat hujan, aku menyeduhmu, kau menyediakan lapang ruang kenangan. Aku melemparimu kata-kata, kau diam menadah dariku yang sempat tersimpan. Adapun pagi, sering kita mempersilakan matahari turut dalam perbincangan mengenai rindu. Waktu terik siang, beberapa kotak kecil es membaluri pekatmu. Meredam panas sambil mengambil jeda nafas kesibukan. Seringnya senja, aku mencatatkan detak dadaku di  tiap sesapanmu. Sesesap demi sesesap, dan aku dekap olehmu yang hangat. Dalam malam, kau tak pernah lupa jadi setia. Bahkan jika kubiarkan dingin, nikmatmu kau jaga demi aku untuk tak lelap.

Dalam cangkir keramik kesayanganku, kau selalu kuseduh dengan hati-hati. Menjaga supaya tak setetespun tumpah. Seperti menjaga hati kekasihku, supaya tak sedikitpun ada kehilangan.

Untuk setiap pekat yang masuk dalam tubuhku, aku mengucapkan terima kasih.

Rabu, 30 Januari 2013

terima kasih

Selamat senja, kekasihku..

 Ada banyak tawa hari ini. Terima kasih sudah memberi warna baru dalam bahagiaku. Juga hujan yang kau biarkan mampir di dahimu, dan memberikan kesempatan bagi tanganku untuk menyekanya. Menangkap hangat dan tanpa sengaja menyentuh matamu yang gemerlap tenang.

Hari ini, kita bermain dengan hujan dan pelukan. Bergantian bercerita, tanpa melepas tatapan. Jika ini kebahagiaan, akan kujaga untuk kita. Andai saja nanti ada jeda, tidak kuamini satupun luka. Aku berterimakasih kepadamu dan bersyukur pada Tuhanku.

Tadi aku bercerita mengenai seseorang, terima kasih untuk tidak cemburu. Sebab kamu tahu siapa yang ada dalam ceritaku. Seseorang bukan siapa-siapa, seseorang yang lewat begitu saja. Kuputuskan bercerita kepadamu, karena aku yakin kamu bisa menenangkan resah dalam dadaku. Seseorang itu datang dan menampar-nampar pikiranku dengan semaunya. Sudah lupakan, katamu. Aku iyakan.

Sore ini, dalam pelukanmu, aku menulis surat yang juga langsung kau baca. Menulis dengan hangat tubuhmu mengalir ke jari-jari tanganku. Menulis dengan senyuman yang kau hantarkan dengan ketulusan. Terima kasih, sayangku.

Sudah kau baca suratku, maka mengakhiri dengan kecupan di dekat bibirmu adalah ucapan salam pamit yang begitu menenangkan gemuruh kebahagiaanku.

Terima kasih, kesayanganku.


Selasa, 29 Januari 2013

sebuah sudut

Selamat sore, kota kecil..

Tak terasa, sudah hampir separuh dasawarsa aku menginjakkan kakiku di tanah merahmu. Sudah begitu banyak sudut-sudut, dari tengah kota sampai pelosok desa kujelajahi untuk menikmati indahmu. Ada begitu banyak kenangan tinggal dan menetap, yang kulupa dan masih tetap kuingat.

Satu sudut di tanahmu yang terus kukunjungi, dan di sanalah harapanku tentang tangga masa depan dijejakkan. Sebuah gedung tua bercat abu-abu dan merah muda, aku akan menamatkan gelar kesarjanaanku di sana. Pun di gedung itu pula semua kenanganku mengenaimu kumulakan.

Dari asing, hingga mengenal bermacam sapa. Pun sekarang, segala sapa itu sudah menjadi catatan berupa sedih-luka dan senang-bahagia. Satu sudut ruang tanpa pernah mengenal lelah untuk mengajarkan ilmu. Tak pernah luput pula tentang rindu.

Di sudut ruangmu masih kukunjungi di waktu-waktuku. Sekadar berbagi cerita dan tawa. Sekadar menaruh kabar bahwa aku masih ada. Pun satu minggu yang lalu, saat kabar kesedihan tertumpah begitu dalam. Sebuah hal yang tak pernah diharapkan. Guru, ayah, sahabat, kakek bahkan, telah lebih dulu berpulang. Di sudut ruangmu ini rapuh seketika. Dari mata-mata jatuh airmata. Di sudut ruangmu pula, tangan yang bergenggaman memberikan kekuatannya.

Kaulah sudut tua, lusuh itu. Sebuah sudut di kota kecil dengan segala adanya, namun aku mampu hidup dan jatuh cinta untuk bahagianya.

Salatiga, separuh jiwaku ada untukmu yang bersahaja.

Minggu, 27 Januari 2013

kepada senin

Selamat senin, waktu..

Sudah dimulakan kembali, hiruk pikuk sibuk. Libur diletakkan lagi, disimpan sampai nanti akhir minggu. Senin, bagaimana hatimu? Melihat begitu banyak ungkapan yang tak mengharapkan hadirmu. Ada yang membencimu, ada yang berpura-pura tak mengingatmu meski tetap berpijak pada kamu. Senin, adalah awal yang sudah berjalan dengan penuh kesesakan.

Bagiku, kamu tak lebih dari hari biasanya. Bahkan kadang terasa minggu. Maaf jika aku menyamakanmu dengan hari lain. Aku hanya ingin menganggapmu sama menyenangkannya dengan hari liburku.

Hari ini pun, aku masih menikmatimu sebagai libur sambil menghitung hujan. Ya, hujan sebelum siang menghalangiku menuju kampus dan menghabiskan waktu di sana dengan kewajibanku menyelesaikan revisi. Tapi apa mau dikata, bukan pula alasan yang kuada-adakan, hujan sudah datang lebih dulu. Bukan juga takut basah, tapi jas hujanku sudah robek dan aku harus melindungi file-file skripsiku. Percuma juga sampai kampus.

Senin, andaikan semua orang menganggapmu semenyenangkan akhir pekan, betapa hatimu akan senang. Lalu memintakan senyuman dari matahari untuk menaungkan cerah di bumi. Andaikan. Tapi kupikir, tak ada hubungan juga antara kamu, ketidaksenangan orang mengenaimu, dan hujan. Hujan ya hujan saja. Ketidaksenangan terhadapmu, ya itu masalah orang yang tidak suka kamu. Aku mengada-ada.

Semoga senin, aku tidak membencimu. mencatat dan mengingatmu sebagai hari paling menyenangkan. Semoga. Selalu.

Tuhan, aku jatuh cinta

Senja tak berhujan, di sini relungku jatuh kepadamu dengan kebahagiaan..

Selamat senja, kekasihku.

Sudah kuungkapkan semuanya kepadamu, secara langsung tadi, dengan saksi kedua mata dan jutaan kali degup jantungmu. Tapi di sini, aku akan menambahkan sebuah catatan. Barangkali di waktu senggangmu nanti, saat tak bersamaku, kau bisa membacanya dan mengingatku dengan senyum, pun ingatan mengenaiku.

Aku mencintaimu dengan segala yang ada dan yang belum ada daripadaku. Bahagiaku terkumpul di dalam lingkar hitam matamu. Aku bisa melihat diriku sendiri tersenyum tenang di sana. Seperti berkaca dan jelas bahwa gores luka di tubuhku terhapus, meski tak sempurna.

Kekasihku, kepadamu aku percayakan hatiku. Bila ada bahagia, milikilah semuanya. Bila nanti ada luka, akan kupunguti sendiri dan kunikmati dengan ingatan bahagia yang darimu. Mungkin aku sedang bahagia dan tak peduli luka-luka. Tapi kupahami, roda berjalan memutar. Akan ada luka (nantinya yang tak kuamini), entah kapan. Kusiapkan saja ingatanku supaya lapang menenun bahagia sejak sekarang.

Senja di mata kita tak pernah muram rupanya. Sulaman-sulaman jingga menyelimuti kita, menjadikan hangat untuk kita habiskan bersama dua cangkir kopi milik kita. Senja kita, senja jatuh cinta.

Tuhan, aku jatuh cinta. Sedalam-dalamnya di dada ciptaan-Mu lainnya.

Selamat senja, kekasihku.

Jumat, 25 Januari 2013

nyaliku entah di mana

Kepada pemilik tas merah..

Siang ini aku melihatmu lagi, kira-kira dari jarak sepuluh meter lebih dekat daripada beberapa waktu lalu. Selain hujan, debarku sepertinya juga jatuh ke atas bumi. Ke atas tempatmu berpijak menyentuh hati.

Hujan, dingin karena angin tak lupa datang. Tapi aneh, dari dahiku mengalir keringat, bahkan bisa kurasakan di seluruh kulit tubuhku basah. Bukan, ini bukan kehujanan atau terkena tempias. kamu jadi terik matahari dan aku peluh yang lahir dengan menatapmu.

Aku ini pemalu, selalu saja nyali kusimpan dalam-dalam, sampai sering lupa kuletakkan di mana. Lemas kakiku, gemetar dadaku, dingin tanganku dan migrain di kepalaku. Alasannya, melihatmu.

Lain kali, aku harus menyelesaikan dulu kekisruhan dalam dadaku sebelum menemuimu. Selalu diam dalam pergok tatapmu. Degup-degup jantungku seperti api yang membungkam nyala api nyali. Bahkan lengkung senyumpun jadi patahan-patahan tunduk yang terbangun di gerak kepalaku.

Aku menulis surat ini, sebab kata-kataku yang diam berani mengumpulkan nyalinya di sini. Jika nanti kau baca, semoga lupa tidak lebih dulu singgah kepadamu.

Salam, aku yang membalas senyummu dengan tatap yang cepat tunduk kepalanya.

Kamis, 24 Januari 2013

kepadamu, cinta masih

Aku menulis bersama hujan, secangkir kopi panas yang tak sampai lima menit sudah menjadi dingin. Juga bersama catatan-catatan yang tintanya tak kunjung kering, mengenai kita. Sedang kucoba melawan lupa, karena bahagia tertulis begitu jelasnya. Terpapar di bilur-bilur hujan tanpa jeda. Aku menulis lagi, mengenai kamu dan aku.

Sudah selesai, katamu. Iya, aku menyetujui. 

Cerita mengenai kita tertutup dengan ucap amin untuk kebahagiaan yang dilangkahkan oleh kaki masing-masing kita, sendiri. Persimpangan kita pilih untuk berpisah. Jalannya menuju kemana entah. 

Aku menatap punggungmu yang kian menjauh, mungkin kau juga demikian, menengok punggungku dengan jarak tanpa kepastian. Berjalan, dan terus berjalan. Langkahku semakin usang. Kurasa aku bimbang untuk melanjutkan perjalanan. Akankah kembali? Kutelusuri lagi jalan, melalui lorong-lorong sepi dan dingin siraman hujan. Ah, setapak jalan ini menuju jejakmu.

Aku masih mengenali jejak sepatumu, juga wangi tubuhmu yang tertinggal bersama angin di sini. Aku tidak kembali, tapi menemui yang sudah pernah. Kalau memang jalanku adalah kamu, maka tidak akan kuingkari untuk mengatakan lagi.

Cinta sudah memilih, kepada hati yang belum pulih.
Kepadamu, cinta masih.

Selasa, 22 Januari 2013

catatan hujan

Selamat malam, di masaku..

Sedang kulihat hujan di sini, gerimis tepatnya. Wajar saja jika masih sering hujan, ini musimnya. Berbeda dengan dadaku, ia tak mengenal musim untuk terus mengingatmu. Setiap waktu, ya kamu yang jadi musim dengan segala pergantian cuacanya. Bagaimana kamu menjadi angin di pancaroba. Bagaimana kamu menjadi  terik di kemarau. Dan bagaimana kamu menjadi deras dalam penghujan. Aku, menangkapmu dengan tubuh yang mengandung kerinduan.

Lalu, bagaimana dengan langitmu? Kamu masih suka hujan? Masih makan eskrim waktu berteduh, entah di mana saja? Aku masih mengingat semuanya. Masih, dengan sangat jelas. Hujan sudah merekam kamu. Ia seperti kamera yang menyimpan seluruh gambar lalu menggerakkannya dengan perlahan. Memutar ulang semua yang pernah kita catatkan. Ah, sepertinya waktu itu hujan sedang tak sibuk. Sampai tekun menyimpan kita dalam bilik kenangan.

Ada tempias jatuh di punggung tanganku. Aku memang menulis dekat dengan jendela, supaya lebih jelas gerimis yang sedang merayakan malam. Supaya lebih dekat kamu di ingatan. Bunyinya ramai. Kupikir semesta sedang menciptakan nada untuk penghuninya, mungkin aku, mungkin juga kamu. 

Sudahlah. terlalu banyak kenangan menari sekarang. Migrainku belum hilang sejak kehujanan kemarin siang. Memikirkanmu, cukup menambah satu beban tentang kehilangan. Sudah terlalu banyak kamu, sedari tadi hujan membasuh tanah-tanah rumahku. Sudah cukup. Kututup surat ini dengan menutup pula jendela. Tempiasnya akan membuatku meriang, jika lima menit saja jendela masih terbuka. Terima kasih untuk catatan hujan. 

Semoga hujan tak membuatmu sakit kepala sepertiku.

Senin, 21 Januari 2013

ajari move on dong

Selamat sore, Aurel / @aurelhermansyah

Entah kenapa aku harus nulis surat ke kamu. Dibaca boleh, ga dibaca juga ga apa.

Aku cuma penasaran, apa arti cinta buat kamu?
Beberapa kali putus, ga lama langsung dapat gantinya lagi. Semudah itu ya move on? Ajari aku dong kalau gitu.

Ga ada. Surat ini ga bakal ada kata-kata romantis buat kamu.
Kan aku cuma mau minta diajari gimana caranya move on yang cepet biar kalau abis putus ga kelamaan dapat gantinya.

Ajari move on ya, Loli...

Minggu, 20 Januari 2013

untuk kekasih pagi

Selamat hujan, kekasih pagi..

Ini hari-hari yang menyenangkan, sejak kata-katamu bersandar lagi di mataku. Aku rindu, sajak-sajak pagi yang dari tanganmu. Jemari menangkap embun, dan menuliskannya di kertas matamu. Seperti itu pagi kugambarkan dengan angan-angan. Dulu.

Sekarang kamu datang lagi, seperti meletakkan jejak kaki untuk kuikuti lagi. Bagaimana aku tidak menjatuhkan cinta dengan sengaja? Iya, aku jatuh cinta lagi. Senyummu masih sama dengan waktu itu. Aku masih boleh jatuh cinta, kan?

Aku menyebutmu kekasih pagi, sebab di dalam pagi, bersamamu, aku selalu jatuh cinta seperti kekasih-kekasih lain yang menyandang asmara. Ah, kata-kataku berantakan. Sama dengan debar jantungku yang tak lagi beraturan tiap mengingat namamu, tiap otakku juga menggambar rupamu dalam anganku. Aku jatuh cinta lagi. Sekali lagi dengan berkali-kali. 

Semoga, pagi tetap jadi kekasihku memulakan hari. Tidak luput juga dari senyummu yang matahari.

Salam

maaf jika bukan inginmu

Sugeng sonten, Mbah Kung..

Aku kangen mbah kung..
Sudah sejak sebelum aku lulus SD sampai aku hampir lulus kuliah, mbah kung tidak lagi di sini. Rumah kulon sepi sekarang, tapi masih berdiri kokoh sama seperti mbah kung yang gagah dengan seragam cokelat di foto. Catnya masih sama, garasinya juga masih ada. Masih bisa kutemui mbah kung yang duduk di teras rumah, sama mbah putri seperti dulu waktu aku pertama kali belajar naik sepeda.

Aku kangen mbah kung..
Dulu waktu mbah kung masih 'sugeng', aku mau jadi seperti mbah kung. Dengan seragam cokelat gagah, jadi penegak hukum, jadi polisi. Aku mau jadi polisi. Dulu. Sampai akhirnya mbah kung nyusul mbah putri, kondur ing daleme Gusti.

Bukannya ingkar janji, tapi aku menemukan kenyamananku. Mbah kung pasti tahu kenapa sekarang aku ga mau lagi jadi polisi. Aku suka kebebasan, mbah. Jadi polisi harus berseragam, patuh dengan peraturan-peraturan di akademi. Sekarang aku memang tambah bandel, susah nurut kalau dibilangin. Tapi ya aku sudah nemu apa kemauanku. Mbah kung boleh bangga, nilaiku selalu di atas rata-rata, katanya aku harus jadi anak pinter. Sudah aku turuti. Tapi aku tetap ga mau jadi polisi. hehehe..

Doakan saja dari surga, mbah, biar semua yang aku jalani sekarang bisa jadi kebanggaan anak ragilmu. Doakan saja, mbah. Terima kasih untuk disiplin dan tegas yang pernah mbah kung ajarkan. Mbah kung itu salah satu polisi kebanggaanku. Salam hormat, Kapten. Salam juga untuk mbah putri, aku kangen jadah gorengnya..

Berkah Dalem

Sabtu, 19 Januari 2013

menderaslah saja

Salam deras, hujan..

Aku senang dengan keberadaanmu. Berulangkali aku jatuh cinta, dan selalu jatuh cinta untuk datangmu. Menjadi tenang dan kelegaan bagi kerontang. Rerumput tak lagi kering, dan daun rimbun subur karena pohon cukup minum. 

Beberapa hari ini, kau datang bertubi-tubi menyebar deras. Dari pelosok desa sampai tanah ibukota. Dari desaku, aku menyambutmu dengan tawa. Mengaminkan berkah yang turun sebanyak-banyaknya. Aku bersyukur tanahku masih sanggup menyimpan berjuta tetes kamu. Masih mampu menampung jejatuhanmu. Aku bersyukur hujan masih menjadi deras saja, mungkin karena masih banyak merah tanah yang bertelanjang dada, menerimamu tanpa sulit resapnya.

Hujan, kau lihat di ibukota sana? Jatuhmu yang cukup lama menimpakan sukar bagi penghuninya. Sebentar, apa kau marah karena tanah, kekasihmu, tak lagi diberi ruang? Tak lagi dibiarkan bernafas bersama rumput dengan bebasnya? Lapang dadanya ditutup beton-beton kuat, merah rupanya jadi hitam aspal. Kau marah? Sampai-sampai hujan kau jadikan bah? Cukuplah kali ini saja, hujan. Cukup. Sudah ada banyak tangis tumpah, sudah pula kehilangan demi kehilangan jadi ramah. Cukup.

Hujanlah saja untuk berkah. Maaf jika kekasihmu, yang tanah itu, tak lagi kami biarkan bebas. Dan terima kasih untuk peringatanmu. Semoga kami, yang pelupa dan tak juga puas ini menaruh sadar untuk kekasihmu, tanah, tempat kami hidup dan melanjutkan degup.

Selamat menderas. Selamat menyiram dengan puas. 

Salam, penjejak tanah, kekasihmu.

Rabu, 16 Januari 2013

dari bumi kepada langit

Selamat seluruh masa, Wid..

Entah sedang pagi, siang, sore, atau malam di surga sekarang. Sebab kukira, di sana adanya seluruh masa. Apa kabarmu? Yang dibilang banyak orang, surga itu indah, maka kukira lagi kabarmu akan sangat baik. Sudah dekat dengan Tuhan, kan. Bahagia itu pasti. 

Lelah dan sakitmu purna. Bumi menidurkanmu selamanya dengan memberimu tempat paling sendiri untuk raga dan langit menerimamu yang jiwa. Tidak ada lagi tangis karena sakitmu. Tidak ada lagi obat yang harus kupaksakan minum padamu. Tidak pula larangan untuk menikmati senja yang dingin. Nikmati semuanya, semaumu dari tempatmu sekarang. Dari surga yang sudah kau angan-angankan dulu. Pun juga lelah yang kau bisikkan di telingaku. Bermainlah sepuasnya sekarang. Berlari sampai habis inginmu sendiri.

Kupikir, kau pun sekarang mampu terbang. Cita-cita dulu, waktu kita iseng menyobek kertas dan membuat pesawat kertas. "Aku mau terbang setinggi awan" katamu sambil menerbangkan lipatan kertasmu. Sudah kau jalani kini. Mimpimu terbang berhasil kau gapai, meski tak lagi kudampingi. Kau cukup dewasa untuk melakukannya.

Mengingatmu, sungguh, aku harus membangun pilar demi pilar mampu. Lima tahun lalu, Wid. Aku masih ingat pesan di ponselku yang tak kubalas. Lewat pelukan terakhir, aku mengatakan iya untuk tetap mencintaimu. Lima tahun lalu kehilangan melibas tawaku.

Tidak perlu sedih, sekarang. Aku sudah bisa tersenyum. Bumi tempatku berpijak, mengenalkanku kepada bahagia yang tak pernah kuduga darimana datangnya. Pun langit yang senantiasa iba, menjatuhkan hujan untuk menenangkan resahku hingga tiada. Tenanglah, Wid, doamu sampai ke aku dengan sungguh selamat. Hingga menyelamatkan aku dari luka-luka.  (Pernah) mencintaimu adalah sebaik-baiknya waktuku saat itu, sampai sekarang. Terima kasih pula untuk waktu yang berharga dulu. Kepingan kenangannya lelap dalam dadaku. Ia tidak akan pernah pergi.

Semoga kau bisa membaca surat ini. Jikapun tidak, nanti akan kubacakan pada doaku. Semoga kamu, bahagia di jalan surgamu. Pun aku, bahagia di jalanku yang masih di bumi. Sampaikan pada langit tempat jiwamu tinggal, terima kasih untuk hujan yang teramat meneduhkan. Selamat berbahagia di langit surgamu.

Sampai bertemu nanti, Wid..

Aku, pengingatmu di bumi.

Selasa, 15 Januari 2013

untuk pernah

Selamat senja..

Tidak perlu lagi berbasa-basi. Memang sesungguhnya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Bukan untuk menggnggumu. Sekadar bertegur sapa saja. Aku melihatmu, tadi dengan tas hijau kesayanganmu itu. Senyum yang masih sama saat aku-kamu masih bertaut pada kita.

Langkahmu ringan seperti daun terbang terbawa angin, lalu jatuh dengan jejak-jejak yang utuh. Tubuhmu yang wanginya masih menyimpan seribu kenang dalam ingatanku, masuk dan mengetuk kehilangan yang sudah lama tidur pulas. Apa kabarnya dadamu? Hangat yang ramah dengan pelukan. 

Tidak ada lagi kita, bukan berarti aku lupa yang pernah tercatat di buku rindu. Dulu. Sekali tatap, mataku dapat menangkap ribuan kenang dengan teramat dekat, teramat dekap. 

Selamat menempuh bahagiamu yang bukan lagi aku. Sudah kutempuh pula milikku, meski masih sekali waktu harus terhenti dan berpisah persimpangan. Tenang saja, ini sama dengan kehilangan demi kehilangan milik kita, dulu. 

Terima kasih untuk pernah yang megah.
Untuk pernah paling singgah.
Untuk pernah yang sudah.

dengan hati, d milikmu.

catatan bersampul merah jambu

Kadang tanda tanya dari seberang situ membuat titik dua tutup kurung buat sini - sadgenic

Selamat sore, Rahne Putri..

Aku masih suka terperangah jika membaca catatanmu di buku bersampul merah jambu itu. Salah satunya yang tertulis di atas. Tak pernah mampu kuduga. Berulang kali aku membaca tulisanmu dan jenuhku seperti terperangkap di mana aku tidak tahu, bahkan jadi tidak ada.

Rahne, apa yang sedang kau lihat saat menulis? Sehingga jantungku bisa berdebar-debar saat membaca tulisanmu. Akupun jadi suka menulis, puisi salah satunya. Sesekali, sering bahkan, puisimu kubaca berulang untuk aku mendapatkan satu puisi untuk diriku sendiri.

Kau memaparkan dengan indah perasaanmu. Aku jadi seperti daun; jatuh ikut mengalir di arus aksara-aksaramu.

Sekali waktu, bukumu jadi peredam bosan hari-hariku yang sibuk memikirkan rindu. Menemui kata-katamu, aku seperti menyentuh tanganmu. Diajari menuliskan indah atas waktu yang berjalan untukku.

Terima kasih juga untuk catatan bersampul merah jambumu itu. Aku tak pernah bosan menyelesaikan huruf demi hurufnya. Teruslah menulis, Rahne.


Senin, 14 Januari 2013

catatan sebelas hari

nampak tubuh-tubuh hujan masih menggigil
kuhabiskan secangkir kopi hitam
menyela kantuk
menyisihkan mimpi yang kutuk
lalu berjalan sampai lelah

apa guna kelelahan jika asa terus juang?
kau lahir dari harapan ke harapan
kehilangan demi kehilangan
tetap bertahan

matamu yang cahaya
menyimpan detik-detik luka
derit suara tak pernah sampai
diam paling kata

di luar malam sudah mendahului perjalanan
kita tak pernah sampai

mungkin catatannya
kita harus berjabat tangan lagi
dengan kesendirian
masing-masing

Minggu, 13 Januari 2013

yang tersisa dari pagi

Selamat bertemu sapa denganku, kediaman..

Apa kabarmu? Setelah lama nampakmu hanya angan yang hidup di ingatan-ingatan. Pernah berpikir mengenaiku? Tidak perlu sungkan untuk menjawab tidak, sayang. Aku menghitung, ketiadaanmu sudah lebih dari 365 hari. Tidak ada lagi pagimu mencatat embun dari jemariku. Aku rindu pagi yang kau jaga dengan senyum paling cahaya. 

Untuk mengingatmu, baju merah sering kukenakan. Pun malam ini saat kata-kata meminta dituliskan. Kepadamu. Aku masih baik-baik saja, dan akan selalu baik untukmu. Tak peduli telah berapa panjang jalan kulewati tanpa jejak kakimu di samping jejak kakiku. Seberapa lelah? Entahlah, selalu kubantah.  Sudah berlalu sejak ketiadaanmu.

Aku masih ingat tentang malam yang kita lewati dengan berbalas rindu. Kamu untukku dan aku untukmu. Semalaman sampai habis karena matahari menunjukkan diri. Dan kamu harus bertugas untuk pagimu.

Rindu..
Rindu..
Masih ada sisa pagimu yang ingin kau habiskan denganku? Menyantap setangkup roti dan sebait saja puisi, misalnya. Itu cukup. 

Apa kabarmu? Sekali lagi pada angin aku bertanya. Juga pada tinta yang tak juga sanggup menulis nama cantikmu. Di mana? Tersenyumlah, dan semoga bintang menunjukkan arah untuk aku menemuimu. Kehilangan begitu menyesakkan. Apalagi pergimu.

Kamu sanggup tanpa aku? Bantu aku jika begitu. Mungkin dengan mencoret namamu dari embun pagi yang tak lagi pernah bening seperti tatapmu. Kukira kita memang akan baik. Lalu perjalanan panjang ini tak lagi melelahkan tanpa kita. Hanya saja cinta masih mencari gara-gara. Datang pergi sesukanya, seolah dadaku ini  ruang kosong tak berpintu.

365 hari lebih aku masih tetap menghitung. Dan aku masih mencintaimu sama seperti saat kutemukan pagi di indah senyummu. Kini aku berpesan, supaya malamku menjaga kamu.
Juga untuk diriku yang harusnya lelah mencari ketiadaanmu.

Selamat menghampiri kediamanku bila sampai.

Jumat, 11 Januari 2013

di dalam kamu

ijinkan aku mencium keningmu
menitipkan yang ingin rengkuh di kepalaku
sekalian meletakkan takdir yang ingin kuucap namun kelu di suaraku

tiba-tiba ada gelisah luntur dari baju rindu
menjadi warna bertumpuk-tumpuk di ujung yakin

di matamu kini, aku ingin menari-nari seirama kedip
menuai sembunyi kerling seperti debu yang tak lagi berani memerah-pedihkan matamu

di kepalamu, aku mau jadi sesuatu yang berputar tak memusingkanmu
tetapi kau perangkap sebagai jejatuhan ingat paling menenangkanmu
kau takkan butuh obat, hanya menatapku, lalu mendekat untuk dekap

di bibirmu kini, aku menjadi pagut yang kau setarakan dengan nikmat teh hangat pagimu
mempertemukan ucapan-ucapan diam, membiarkan nyaman saling mengecup
pada sebelumnya, di sinilah aku melafalmu hanya lewat doa-doa

di telingamu, biarkan aku menjadi suara paling sering singgah
sejak pagi hingga malam menjelang pagi lagi
dan mungkin bising dengkur saat tak sadar aku memelukmu lewat mimpi

di dadamu, sebelum anak-anak kelak menyambung hidupnya, ijinkan aku menjelajah tiap detak
mengenali debar di mana aku kau biarkan larut sampai cintaku tak mau surut

di tanganmu, di sela jemarimu, biar aku mengisi tanpa kau mintai
menggenggam hangat serupa selimut yang kau tutupkan di atas tubuhku saat aku kelelahan selepas bekerja

di kakimu, biar nanti anak-anakku menemukan letak surganya
dan mengingatkan aku supaya tak meninggalkanmu selangkah saja

semoga, kita adalah takdir yang hidup sepasang
penghuni semesta di naungan tangan-Nya
semoga..

Kamis, 10 Januari 2013

sebab kita menjadi pernah

bila pada saatnya ada jalan berpisah, di persimpangan ini aku memilih pergi
tawa akan selalu tetap ada, kuusahakan ada
aku masih ingat, tak sekalipun kau mengajariku luka

kita melangkah pada jalan yang telah berbeda
untuk kesekian-kalinya setelah pergi kusetujui, dadaku lebih debar
menggamit-gamit hujan supaya lebih deras
jatuh dan jatuhlah tanpa peduli pada kesepian

yang melangkah kini, sepasang kaki yang sudah-pernah mengenal kamu
pernah beradu tatap dengan seluruh rindu
pernah menyeka peluh setelah menempuh jauh
pernah sesadarnya membiarkan cinta jatuh
dan acapkali menimang-nimang senyum

tidak menjadi perkara siapa-siapa
hanya kita yang coba memaknai lagi kita
sebab kita menjadi pernah