Sabtu, 28 Februari 2015

Ulat Luka

Aku menyeduh secangkir lagi kopi. Di luar jendela, hujan masih saja deras sedari pagi. Kenangan menyiangi kepala dan setiap detiknya ada saja kau di sana. Masih. Sebab itu aku kemudian menulis surat ini. Tanganku tak sabar menuliskan kata-kata yang kepada diriku dan dirimu ingin ditujukan untuk dibaca.

Aku ingat, betapa luka masih menjadi ulat dan bersembunyi di antara dedaunan yang tertawa digelitik angin. Betapa luka pernah sekecil itu dan aku tak sedikit pun merasa atau melihat. Sampai pada suatu hari, luka yang ulat itu mulai lapar dan menemui daun tempatnya hidup unyuk dimakan. Aku tahu, sayang, daun itu tumbuh di pohon dadaku yang pernah begitu rajin kau sirami selagi waktu belum mengenalkan perpisahan kepada kita.

Waktu itu aku juga ingat, pohon yang kering kau tinggalkan dengan sisa daun yang hampir habis, tertinggal ranting. Betapa lagi-lagi luka yang ulat itu menghabisi aku. Sampai pada akhirnya kau melilit tubuhmu sendiri di dalam kepompong dan waktu menjadikanmu indah kupu-kupu. Kau memerlihatkan kecantikanmu pada semesta, sementara aku kering dan mulai mati di antara musim. Kau terbang mengitari aku. Menunjukkan bahwa kepak sayap indahmu sanggup meninggalkan aku. Bahkan kau lebih cantik dari bunga yang mekar di taman.

Aku, pohon kering itu berusaha tetap tumbuh dengan melihat kepergianmu. Aku memang tak sanggup terbang, tetapi aku tetap mampu tumbuh meski harus menunggu hujan di musim selanjutnya. Atau barangkali ada tangan yang tak tega dan menyiramiku sebelum aku benar-benar kering seperti gurun pasir.

Aku masih percaya akan ada matahari mengirim cahaya dan takkan pernah habis  untuk menyeka luka. Aku juga paham akan ada lagi ulat yang menyentuh tubuhku, tetapi takkan kubiarkan lagi ia menggerogoti aku seperti ulat sebelumnya. Kau, tetaplah jadi kupu-kupu yang pergi meninggalkan aku dan aku akan jadi pohon yang rela untuk disinggahi lagi ulat juga luka-luka. Selagi masih ada waktu untukku mencintaimu.

Jumat, 27 Februari 2015

Menulis Satu Lagi Kecemasan

Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul berapa akan terus begini.

Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri. Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai. Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.

Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau cepat sembuh dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya kau cepat sembuh, juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang menunggumu sembuh selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum manja.

Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja kalau kau sudah sembuh. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama. Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.

Kamis, 26 Februari 2015

(Masih) Tentang Pantai

Hai,

Dari banyak surat di #30HariMenulisSuratCinta, aku memilih suratmu. Surat yang kau tulis tanggal 21 Februari 2015 sebagai surat ke-23 yang lalu. Selain karena surat itu memang untukku, tetapi juga di dalamnya kau menulis tentang pantai. Sesuatu hal yang kau tahu benar bahwa aku tak bisa lepas dari sana.

Kata-katamu begitu hidup. Membaca suratmu saja aku sudah seperti di sana, di Pantai Glagah meski pun sekali saja aku belum pernah ke sana. Aku bahkan bisa mendengar ombak dari huruf-hurufmu. Semacam senyap yang berbisik merdu seperti lagu yang kudengar dari jauh.

Suratmu adalah surat sederhana yang di dalamnya sedang membangun pesawat. Di akhir aku selesai membacanya, aku diajak terbang, pergi merelakan semua kesedihan. Menuju ke senja di mana kamu pernah berada, di tepi pantai itu.

Lala, terima kasih sudah menulis surat dan menceritakan sebuah pantai untukku. Sementara aku sibuk dengan perihal-perihal mauku sendiri. Kali lain akan kuceritakan tentang entah apa saja yang bisa kuceritakan.

Semoga kau segera benar pulih dan terus menulis. Barangkali ada pantai yang bisa kau kunjungi, lalu menceritakannya kepadaku. Akan kucatat dan jika waktu berjodoh dengan detikku, akan kukunjungi nanti. Paru-paruku butuh angin laut, telingaku butuh debur ombak, mataku butuh senja tanpa batas, juga kakiku butuh pasir. Sungguh, seluruhku ingin di pantai sampai subuh dan penuh.

Untuk @_bianglala

Rabu, 25 Februari 2015

Pahamilah Aku

Setiap malam, waktu bintang mulai membuka cahaya, aku merasa ada bunga sengaja membuka kelopaknya di tengah taman. Lalu aku membeli vas dari penjual kaki lima yang tangannya terluka karena pecahan vas lainnya yang tak jadi aku beli. Kau bunga itu dan aku takkan menyengajakan untuk melukaimu.

Aku mengumpulkan bunga yang mekar kelopaknya setiap malam. Dan mencatat beberapa duri yang turut serta di tangkainya sebagai ingatan tentang luka sambil tersenyum. Kau mungkin bingung aku menulis apa di sini. Tetapi begitulah yang terjadi kalau aku menceritakan tentangmu kepadamu.

Kata-kataku barangkali petualang yang menemui labirin dan akhirnya hanya tersesat dan tersesat. Sementara hidup dan waktu sedang membangun pintu dan memasang kuncinya supaya nanti aku bisa keluar. Tetapi aku takkan ke mana-mana karena meninggalkanmu adalah melemahkan diriku sendiri. Mana rela aku melepas peluk paling menenangkan milik hidup?

Kepadamu, aku mohon untuk terus memahami aku. Karena tanganku akan terus menulis dengan lengan yang juga terus memelukimu. Andaikan kau tak paham, semoga waktu yang menitnya akan pecah jadi detik dapat mencerna semua perasaanku dan menjelaskannya perlahan kepadamu.

Selasa, 24 Februari 2015

Kepada Mama

Mungkin aku mencintai diriku sama seperti kau mencintai aku. Atau seperti laut yang mencintai pantai, hingga ujung-ujung pasir tak pernah dilepas asin. Mungkin seperti itu, aku tak tahu pastinya bagaimana kau sebenarnya mencintaiku.

Kepada mama, seringnya aku hanya peduli mengenaiku. Bagaimana kau harus menyediakanku sarapan dan bekal setiap pagi, memasak untuk makan siang kalau aku tiba-tiba pulang, menyajikan makan malam karena takut aku kelaparan di tengah malam. Bahkan aku seringkali hanyut pada marahku, di mana kau hanya lupa tak mengecupku ketika berangkat atau tak memelukku lebih dulu sebelum aku lelap tertidur. Aku hanya peduli aku.

Melulu aku tak memerhatikan senyummu. Terkadang kau juga pasti lelah, tetapi aku sedikit saja tak melihat bahwa keriput di pipimu mulai bertambah. Aku bisa saja membelikanmu bedak paling mahal, tetapi sekalipun aku takkan sanggup mengembalikan sedetik saja waktu. Kesibukanku berganti dari bermain, sekolah, bekerja, menjalin cinta dengan kekasihku, namun kesibukanmu hanya satu; membahagiakan suami dan anak-anakmu.

Mama, musim telah mengajariku banyak hal. Termasuk hujan yang seringkali jatuh di tubir waktu dan jadi penyesalan karena basah tak lebih tabah dari hatimu. Juga mengenai hari-hari di mana aku menjauhkan diri dan menjadi lebih peduli pada dunia yang tak pernah aku kenali.

Aku tahu, kau tak pernah jauh dariku. Doa-doamu selalu jadi embun pagi yang jatuh di kaca jendela dan membangunkan aku. Mengantar hidupku untuk tak jatuh ke dalam luka. Terkadang, waktu aku mengingatmu, aku jadi takut untuk memejam. Bagaimana nanti kalau aku tak lagi bisa membuka mata dan mendapatimu begitu jauh dari aku? Bagaimana?

Sungguh, aku perca kain yang dijahit begitu rapi oleh tanganmu. Diciptanya aku jadi baju dan menghangatkan tubuhku sendiri. Benang yang kau pakai untuk menjahit bahkan tak sedikit pun berani koyak. Tidak ada yang boleh menyakiti aku, bahkan diriku sendiri, katamu.

Senin, 23 Februari 2015

Di Akhir Jarak

Pada langit yang mulai memerah dan ombak yang semakin giat berkejaran seperti kaki-kaki kecil anak nelayan mengejar layang-layang, aku mencari kata-kata untuk menuliskanmu sebuah surat. Di sini, di tempat aku kembali mengantarmu pergi atau pulang ini, aku menyadari beberapa hal; aku tetap membiarkanmu pergi tanpa menyiapkan bekal, keramaian yang kudapati di sini sebenarnya adalah kumpulan sepi yang menyimpan gelisah dan meminjam bibir rindu untuk menyembunyikan risau, juga tentang jarak yang harus kita tempuhi lagi. Betapa akrab kita dengan ratusan kilometer peluk harus menahan diri.

Pintu pesawat telah tertutup dan aku bahkan tak bisa melihat punggungmu lagi. Langit mendung menyambutmu di atas sana. Di bawah sini, angin dingin menyergap tubuhku dan menyapu beberapa helai rambutku membuka kening  tetapi tidak lagi ada kecupan mendarat di sana.

Sebelum akhirnya aku pulang, aku menyelesaikan suratku ini supaya nanti tepat ketika kau sampai di kotamu, sudah ada sesuatu hal yang mengingatkanmu kepadaku. Surat sederhana yang isinya rindu melulu.

Aku membayangkan diriku adalah burung yang terbang dan mengetuk jendelamu di pesawat. Mendampingimu sampai tiba dengan selamat. Di bibir angin aku menyeimbangkan kepak sayap, terbang dengan susah payah dan menjadikan langit sebagai rumah. Sungguh, aku burung yang sengaja mengantarmu pulang dan membiarkan segala musim menjaga rindu untukmu.

Di akhir jarak, di mana di sanalah kamu tinggal, aku tahu senja sudah jadi petang dan bayangan membuka gulungannya menjadi lebih gelap. Waktu yang tak lagi merah juga telah memulangkan anak-anak nelayan, pun burung yang mengantarmu pulang. Semuanya kembali pada sepi dan rindu yang telah menyentuhnya sebelum malam pada akhirnya iba.

Minggu, 22 Februari 2015

Di Bawah Payung

Sungguh, pada saat akhirnya kita bertemu aku ingin memberimu detik jam. Supaya kau tahu di sana masih ada waktu yang berdetak untukmu. Setelah itu baru pelukan untuk kembali menghangatkan masing-masing dada yang sebelumnya saling menggigil oleh jarak.

Kini aku tak lagi sendiri merangkum kangen di antara deras hujan. Sayang, aku mau membuat hujan cemburu. Karena sebelum-sebelum ini hujanlah yang sering kucemburui, hujan lebih sering menyentuhmu daripada aku. Atau kau mau bermain hujan dan membuat basah paling bahagia? Aku akan menaruh payung, lalu menari di antara derasan.

Sayang, katamu, dulu kau sering bermain hujan dan tak pernah takut kedinginan. Oleh sebabnya, aku, seseorang yang akrab dengan gigil, dengan senang hati menemanimu di sini. Bahkan rela jika harus menanggung gigil yang milikmu.

Sayang, aku sering berdoa supaya payung yang kutaruh saat kita bermain hujan tidak hilang. Karena aku cuma punya satu. Aku mau payung itu jadi pelindung di saat kamu atau aku malas bermain hujan. Juga supaya dengan payung itu kita berjalan saling berengkuhan. Kita diatapi satu payung dan saling tersenyum. Bahkan jika mau menangis, masing-masing kita tak perlu malu atau menyembunyikannya dengan berhujan-hujan.

Nanti, pada saat akhirnya kita tiba di akhir usia, aku mau payung itu ikut dalam perjalanan terakhir kita. Entah lebih dulu aku atau kamu. Supaya masing-masing kita ingat bahwa di bawah payung ini kita pernah sama-sama bahagia. Lalu kita menutup payungnya, mengatup kesedihan, menyimpannya sampai kesedihan berikutnya kita atapi dengan apa yang sungguh pernah mengatapi kebahagiaan kita.

Sabtu, 21 Februari 2015

Aku Takkan Pernah Membenci Pantai

Sayang, mungkin aku tidak tahu cara membenci pantai. Menganggapnya tak ada dan debur-debur ombak hanyalah suara-suara pengganggu yang mampir di telinga. Pasir yang lembut mengotori kaki dan bau amis membuatmu ingin muntah. Juga tentang air laut yang lengket di tubuhmu. Tetapi aku tak pernah bisa membenci pantai.

Tahukah kamu? Sehari sebelum aku mencinta kamu, aku telah lebih dulu jatuh hati pada pantai.

Debur ombak itu seperti jantung, bagaimana ia terus menerus dan berulangkali kembali kepada pantai. Tanpa ombak, pantai akan mati. Pasir di sana adalah tempat di mana jejak-jejak berumah, mengisi kekosongan dan pulang. Bau amis yang kau kira itu adalah bau laut, bau khas di mana kebebasan batasnya adalah cakrawala. Dan tentang air laut yang lengket di tubuh, adalah keinginan yang begitu lekat. Keinginan yang pada akhirnya mengental menjadi mimpi-mimpi.

Kepadamu sayang,
Entah apa yang terjadi jika aku tak mengenal pantai. Mungkin juga aku tak bersamamu sekarang. Angin kencangnya telah menguatkan dan mengingatkan aku untuk berani mengucap apa yang telah badai di dadaku. Mungkin kau tak mengerti, bahwa apa yang sekarang ini kita nikmati adalah apa yang telah pantai lahirkan di kepala dan dadaku.

Aku takkan pernah membenci pantai, karena aku mencintaimu.

Jumat, 20 Februari 2015

Aku Baik-Baik Saja

Sebelum pesawat membawaku sampai di kotamu, kau telah lebih dulu dengan sabar mengirim pesan supaya aku berhati-hati di tiap langkah-langkahku. Meninggalkan kotaku meski sebenarnya lelap masih mau memeluki dan dan lengan-lengan mimpi menjadi lebih hangat.

Aku pikir kaulah tabah. Bangun lebih dulu dari keberangkatanku. Pagi sebelum matahari mengetuk pintu dan sebelum embun jatuh dari pucuk daun ke halaman dadamu.

Maka aku membalas pesanmu di sini, menuliskan beberapa hal yang mungkin bisa membawamu tidur pulas lagi sampai aku tiba dan memelukmu. Sayang, tidak ada lagi yang perlu kau tanggalkan kecuali gelisahmu. Ketahuilah, bahwa yang membuatmu terjaga seringkali adalah kekhawatiranmu sendiri. Bahkan sering kukatakan, aku baik-baik saja dan tak ada yang lebih menyesakkan kecuali resahmu belum mampu kuobati dengan pelukanku.

Ketahuilah juga, perihal-perihal lain yang acap kali membangunkanmu hanyalah bayangan yang jatuh dari lampu-lampu yang tak tertidur. Alangkah baiknya kalau kau meninabobokan ia dan menjadikannya mimpi untuk menenangkan dadamu. Sungguh, aku baik-baik saja.

Sayang, kau perlu meyakini kalau doa-doamu sudah menjaga aku dengan sangat baik. Di pergi dan pulangku, berkali-kali, doamu yang diam itu menuntun aku. Selalu.

Kamis, 19 Februari 2015

Untuk Bosse

Hai, Bosse..

Membalas suratmu tentang undangan gathering Pos Cinta. Maaf, Bosse, bukannya tidak menghargai kebaikanmu, tetapi awal maret ini saya sudah terlanjur ada acara keluarga. Acara yang bagi saya cukup besar. Acara di mana saya akan memulai satu babak baru dalam hidup saya. Padahal sebenarnya saya juga kangen Bandung dan pengen ketemu sama tukang pos - tukang pos kece, termasuk Bosse.

Bosse, Bandung memang tempat yang tepat untuk merayakan cinta. Dari yang mencari cinta, menemukan cinta, sampai yanh ditinggalkan cinta juga ada di sana. Termasuk saya juga pernah kehilangan cinta gara-gara (orang) Bandung. Curhat dikit, Bosse..

Sudah, Bosse, itu saja. Surat ini cuma mau menyampaikan maaf untuk ketidakhadiran saya di gathering nanti. Sampaikan salam saya untuk seluruh tukang pos. Mereka keren, termasuk bung Mike, tukang pos saya yang semangatnya membara seperti korek api kayu yanh dipantik.

Terima kasih, Bosse. Lancar ya gatheringnya..

Rabu, 18 Februari 2015

Kepada Kekasih Mantan Kekasihku

Aku memang tidak menyesal, tetapi masih ada pertanyaan yang muncul di kepalaku. Aku mau menanyakannya padamu tentang apa yang telah membuatmu jatuh cinta. Kau bisa saja jatuh cinta kepada orang lain, lalu mengapa pada mantan kekasihku kau memilih jatuh cinta?

Aku sudah tak lagi cemburu, meskipun kau mencium bibir yang dulu juga pernah kucium, menatap mata yang dulu tak pernah lelah kutelusuri rahasianya, memeluk tubuh yang dulu begitu hangat di dadaku, juga jika kau menggenggam erat jemarinya yang lentik. Apa kau merasakan apa yang aku rasakan dulu?

Aku tak mengambil apa-apa daripadanya. Mungkin hanya waktu yang pernah dia habiskan denganku. Hatinya masih utuh meski aku pernah menyakitinya sekali. Sekali, waktu aku memutuskan untuk meninggalkan dia. Aku tidak membawa hatinya saat aku pergi, supaya saat ada yang mencintainya, sepertimu saat ini, dia bisa membalasnya dengan hati juga.

Tenang saja, aku takkan merebut dia dari tanganmu. Aku sudah pernah memilikinya, bahkan sebelum kamu. Cintailah dia, meski aku masih terus akan bertanya-tanya mengapa kau bisa jatuh cinta kepada mantan kekasihku itu.

Senin, 16 Februari 2015

Kepada Kau Yang Tak Pernah Tahu

Kepada kau yang tak pernah tahu,

Aku pernah begitu terluka. Sampai saat ini aku masih menyimpan nganga dengan teramat rahasia. Tidak ada lalu lalang teriakan, bahkan berbisik pun enggan.

Mungkin kau harus mengakrabkan diri dengan detak jantungku. Selama aku masih hidup, luka itu takkan beranjak dari sana.

Sama seperti waktu, aku akan terus berjalan. Bahkan di pelbagai pertanyaan tidak akan ada jawaban selain "aku baik-baik saja".

Urung cemasmu sebab aku tidak akan mengenalkan sakit ini. Kau hanya perlu percaya bahwa aku telah sungguh di jalan sembuh.

Kepada kau yang tak pernah tahu, terimalah karena aku mencintaimu.

Tenangku

Waktuku kembali berjalan maju, ketika detik-detik mulai mencair dari hangat pelukmu yang jatuh ke dadaku. Sungguh, tidak ada lagi yang menenangkan selain kita yang bersatu.

Aku harap kamu juga merasa, bahwa napasmu dan napasku sudah terangkai jadi melodi yang kita dengar setiap waktu. Semoga telingamu dan telingaku bukanlah pembosan.

Aku lupa mencatat sudah berapa lama dan sudah berapa jauh kita berjalan. Kamu juga tak pernah menanyakan karena kurasa kamu bukanlah penghitung handal. Tetapi kita percaya, bahwa di buku  Tuhan kita ada.

Sayang, aku tak pernah merasa setenang ini berada di sisi seseorang. Tenangku benar-benar dimanja seperti bayi dalam gendongan. Gelisah yang lahir dihapus dengan halus oleh senyummu. Kamu membawa langit untukku terbang dan menyediakan bandara untukku kembali pulang.

Di hari esok dan jutaan hari lagi yang akan datang, aku mohon kepadamu, mohon dengan sangat, untuk tak selangkah pun meninggalkan aku. Maka ijinkan aku untuk memberimu tenang dengan segala mampuku. Sebab di setiap tabah yang aku pijak, di sanalah aku dengan sesungguhnya bersama waktu yang aku punya untuk terus mencintaimu.

Minggu, 15 Februari 2015

Kepada Yang Jauh

Aku masih ingat namamu. Aku hanya tak lagi sanggup memanggilmu. Menyebut nama yang tak lagi didengar siapa-siapa, bahkan kau sendiri lebih akrab dengan sayup-sayup.

Sering kali aku membayangkan, dari tempatmu yang jauh itu kau bisa mendengar aku. Parau suara yang dielak angin dan menjadi bisu karena mimpi-mimpi telah dingin. Suaraku kerap kali tak lebih keras dari bisik daun untuk memanggilmu.

Suatu hari aku mendatangimu. Menjenguk rumahmu yang harum rumput itu, dan duduk di sisi sambil merasakan basah sebab hujan seharian. Yang menyapa cuma angin dan kau tetap diam.

Aku tak pernah sanggup berbicara banyak. Satu hal karena kau tetap membisu, satu hal lain karena kau sungguh terlalu jauh. Cuma ada sebaris doa dan setabur bunga. Demikianlah karena nisan di pusaramu juga tak mengucapkan apa-apa.

Kelak, entah kapan, saat kita pada akhirnya dipertemukan lagi, semoga kamu masih mengingat aku. Selamat menjadi kekal dan berolehlah bahagia di surga sana.

Salam untuk Tuhan, Wid.. :)

Sabtu, 14 Februari 2015

Aku Memintamu

Aku menulis surat untukmu (lagi). Surat yang kutulis tepat di tanggal 14 Februari. Kata orang ini hari kasih sayang, dirayakan dengan bunga dan coklat. Tetapi karena kita berjarak, maka kurayakan saja di sini, di kelopak kata-kata. Rasanya kupikir akan tetap manis seperti coklat.

Sayang, bacalah surat ini pelan-pelan supaya kau paham benar apa mauku. :)

Pulang itu bernama kamu. Rumah di atas bumi, beratus kilometer jauhnya dari langit. Betapa aku sebenarnya tak pernah jauh meskipun dirundung jarak, sebab kakiku juga masih menapak di bumi. Kau bukan istana, kau bukan kastil, tetapi kau hanyalah rumah yang selalu membuatku ingin pulang.

Di dalam kamu, aku bisa menghabiskan waktu. Berjam-jam sampai dipukul-pukul kenyataan kalau tidak cuma kamu untukku hidup. Kamu adalah makna-makna yang tak ditemui para filsuf, hanya diketahui olehku saja.

Aku memang bukanlah tameng baja yang digunakan Achilles dalam pertarungannya melawan Hector, tetapi aku sanggup melindungimu dari semua panah yang coba menusuk dan melukai kulitmu. Aku cuma seseorang yang mempunyai keterbatasan, bahkan mimpiku saja tidak bisa menjangkau langit. Tetapi tidak sekali pun aku gentar untuk melawan udara dingin yang coba membekukanmu. Tidak pernah terpikir olehku untuk meletakkan segores luka di tubuhmu, apalagi di dalam hatimu.

Sayang, sekarang aku memberanikan diri untuk meminta satu hal darimu. Aku tak mengacuhkan ribuan lonceng yang berdentang dalam dadaku. Pun dari segala napas yang memburu selama aku menulis surat ini. Aku bersaksi, bahwa cinta yang berdiam di dalam aku tidak akan lagi terbang ke angkasa jika bukan karena maumu. Sebab ia telah jatuh ke dalam hatimu.

Tutuplah matamu sekali lagi dan yakinkan dirimu, bahwa aku yang tampak di pejammu. Kau harus tahu, akulah seseorang yang akan kau dapati selepas ini di tiap pejam dan terbukanya matamu. Segala yang tertulis di sini adalah apa yang ada dalam dadaku.

Sayangku, relakah jika sisa hidupmu kau habiskan denganku?

Jumat, 13 Februari 2015

Teruntuk Sudah

Aku sedang menyetir ketika tiba-tiba aku mengingatmu. Di sebuah perempatan jalan di mana lampu merah menyala. Aku berhenti, seperti kita yang sudah tak lagi berjalan. Aku ingin pura-pura lupa kalau aku pernah begitu mencintaimu. Sialnya, kau malah makin jelas di kepalaku. Berputar tanpa henti dan berpacu dengan detikan di rambu-rambu. Sayangnya lagi, kepalaku tak punya bom yang bisa menghancurkanmu dengan sekali ledak.

Aku pernah begitu sedih karena kehilanganmu dan kuharap kau juga menangis saat bukan aku lagi yang memanggilmu sayang. Awalnya memang terasa berat, beberapa kali langkahku terhenti hanya untuk menengok masih adakah kau di belakangku, mengejar dan memohon kembali. Tetapi tidak. Maka aku terus berjalan dan belajar untuk tidak menengok lagi ke belakang.

Manis, bolehkan aku tetap memanggilmu seperti itu?

Ada banyak hal yang mengingatkan aku padamu. Seperti lagu yang sering kita nyanyikan yang tak sengaja kudengar dari radio, atau beberapa persimpangan yang seringnya membuat kita berdebat mau ke mana kita selanjutnya. Hal-hal kecil yang mungkin dulu tak pernah kusangka kalau sekarang bisa sedalam ini tinggal di kepalaku.

Sekarang semua kusudahi. Meskipun aku masih mengingatmu, tetapi di dalam kepalaku sekarang kau hanyalah waktu yang detiknya tak ingin lagi aku putar. Kau adalah lagu yang nadanya menjadi sumbang tiap kunyanyikan, pigura yang tak lagi menyimpan apa-apa, jembatan di mana aku tak mau lagi menyeberang, juga sepatu yang tak lagi muat aku kenakan.

Suatu hari kalau kau mengingatku dan kau menjadi sedih, bercerminlah lalu tersenyum. Sudah tidak ada lagi yang perlu kau sesali. Kehilangan sudah berlalu dan waktu akan membawamu menuju masa depan. Aku sudah sanggup berjalan, dengan begitu kau juga harus demikian.

Kamis, 12 Februari 2015

Dalam Waktu Yang Terus Berjalan

Langit di atasku sudah hujan sedari pagi, tetapi kamu bukan payung yang kubuka, tak menawariku teduh dan aku basah jadinya. Sayang, kamu memang terkadang tak menjadi apa-apa untukku. Bukan tak ada artinya, tetapi memang sengaja aku tak mengadakanmu di sana. Sayang, betapa aku mencintaimu dan tak mau menjadikanmu payung supaya aku saja yang basah.

Terkadang aku tidak mengerti cinta bisa senekat ini dan kata teman-temanku aku cukup bodoh karena mengorbankan diriku sendiri. Sekarang aku lebih banyak mengutamakan kebahagiaanmu, tetapi begitulah adanya karena aku juga melakukannya tanpa mengada-ada. Sering aku berpikir bahwa kau hebat, sebab dengan hanya dirimu saja yang seperti itu bisa membuatku jatuh hati dan bahagia setengah mati.

Beberapa kali egoku takluk oleh pelukanmu. Betapa cinta adalah hal yang tak kupahami bisa menjadi sedemikian dalam. Aku memang tak ingat sudah berapa lama kita berjalan, namun sungguh denganmu waktu menjadi hal yang tak kuperhitungkan. Tiba-tiba saja aku sudah menyebutnya lama. Siang dan malam sudah saling bergantian berkali-kali, sedang kau dan aku tetap di sini.

Sayang, kelak kalau aku tak lagi menjadi pujaanmu, biarlah kenangan menjadi kalender yang tak pernah libur untuk aku mengingatmu. Kau boleh menaklukkan seseorang yang lain dan aku akan menaklukkan waktu supaya tak lagi diperdaya cinta sedalam ini.

Rabu, 11 Februari 2015

Untuk Pulihmu

Teruntuk @_bianglala

Tidak semua keberuntungan bisa kau miliki. Tidak semua kebahagiaan bisa kau panen. Juga tidak semua kuat bisa kau dapati. Bukan karena kau lemah, tetapi ada waktunya tubuh bahkan hatimu harus beristirahat.

Tersenyumlah, karena rasa sakit bukan melulu hal yang harus ditangisi. Lagi pula untuk apa memelihara sakit dan memanjakannya kalau kau masih bisa bahagia? Di lain hal, rasa sakit yang kau rasakan sekarang bukanlah apa-apa karena di waktu mendatang kau bisa mengenangnya sebagai perihal kecil yang telah sanggup kau menangkan.

Percayalah, sekalipun aku tak ada di dekatmu, ada doa jatuh dari bibirku yang telah kusampaikan pada Tuhan untuk pulihmu. Kamu tidak perlu meminta karena Tuhan pasti memberimu sembuh. Kau tahu Tuhan ada di mana-mana, maka percayalah Tuhan juga ada di rasa sakitmu.

Begitulah, terkadang ada masa sulit dalam hidup. Masa di mana hening lebih berhasil mencubit tanganmu supaya saling menangkup dan menggenggam. Di sanalah, dalam heningmu Tuhan tak pernah alpa.

Lekas sembuh, setelahnya jangan pernah berhenti menulis lagi.

(i stand by you)

Selasa, 10 Februari 2015

Amin

Aku paling tidak suka berjanji, karena kalau janji itu kuingkari, aku bukan hanya menyakiti orang lain, tapi juga diriku sendiri.

Tetapi untukmu aku memberanikan diriku untuk berjanji, bahwa aku akan selalu ada untukmu. Tidak hanya sekadar tubuhku, melainkan juga semua yang ada di dalam diriku. Maka demikian, kau tak perlu meminta untuk aku berdiam di sisimu, sebab aku dengan mauku sendiri telah rela untuk hidup di sampingmu.

Masa lalu tidak akan aku ungkit-ungkit lagi, kecuali aku akan mengambil pelajaran supaya dari sana aku belajar untuk tidak menyakiti atau membuatmu sedih. Tidak lagi aku mengidamkan masa lalu karena kau tak di sana.

Maka percayalah, sayang, aku telah mengisi kehidupanku dengan hidupmu dan aku menemukan banyak sekali keajaiban. Sungguh, aku jadi seperti anak kecil yang takjub karena permainan sulap. Tetapi ini nyata dan aku memiliki semuanya.

Waktu-waktu yang kita lewati bersama, telah jadi kopi yang kuteguk tiap pagi, juga jadi sajian di mana aku tak akan meminta apa-apa lagi yang lebih. Aku hanya berharap, Tuhan tak pergi dari kita dan selalu memangku kita dengan restu-Nya.

Bacalah surat ini, kalau sudah selesai kumohon kamu untuk mengucap amin.

Senin, 09 Februari 2015

Mencatat Kebiasaanmu

Bukan baru kemarin aku mengenalmu. Kamu adalah dua sendok kopi dan sesendok gula yang kuseduh di cangkir kopi setiap pagi. Kamu adalah lagu yang kuputar di kepala setiap waktu. Kamu juga adalah huruf-huruf yang tertulis di semua bukuku.

Aku tak pernah menghitung berapa jumlah rambutmu, tapi aku tahu yang jatuh di bantalku adalah milikmu, karena kau akan  terus memainkan rambutmu saat kita berbincang sambil sesekali meletakkan kepalamu yang lelah dan rebah. Telingaku juga telah paham bagaimana saat kamu mulai marah, lelah atau manja kepadaku. Getar suaramu akan berubah-ubah dan menyentil tanganku untuk langsung memelukmu. Bau tubuhmu tak berubah meskipun kau menggunakan parfum yang berbeda-beda, atau sekalipun kau mengganti sabun mandimu.

Aku tahu kau selalu menyeduh teh tanpa gula setiap pagi, selalu menyimpan tiket film sehabis kita nonton, selalu marah kalau aku telat makan, selalu memesan air putih di mana pun kita makan, selalu panik dan menangis kalau tahu aku sakit walaupun cuma pusing biasa.

Sayang, kebiasaan-kebiasaanmu sudah tercatat rapi di dalam kepalaku. Kebiasaan-kebiasaanmu pula yang melatih ingatanku untuk tak mudah lupa. Sebegitu banyaknya hal yang kuingat tentangmu, aku masih mau untuk terus mengenal dan menambah catatan mengenai kebiasaanmu yang lain. Maka hiduplah terus denganku dan penuhi kepalaku dengan semua kebiasaanmu itu.

Minggu, 08 Februari 2015

Semoga

Semoga kamu masih punya pintu, karena aku tak tahu ke mana lagi akan mengetuk ketika aku ingin pulang. Kamu adalah rumah setelah aku memberanikan diri melepas pelukan ibuku.

Semoga kamu masih punya perahu, karena pantai tempatku berpijak menikmati senja tak punya kamu. Aku mau meminjam perahumu supaya cepat aku menemukanmu tanpa tersesat. Dengan perahumu juga aku akan  mengarungi laut, menempuh gelombang sampai cakrawala menuntaskan usia.

Semoga kamu masih punya kanvas, karena aku mau melukis semua yang hidup di kepalaku dan mengenalkannya padamu. Meski sesungguhnya di dalam kepalaku adalah kamu. Dan kanvas itu akan menjadi lembar yang mencatat semua hidupku dan hidupmu, supaya kita mudah mengingatnya.

Semoga kamu masih punya tali, karena aku mau menyimpul hidupku dan hidupmu, menyatukan tujuan dan masa depan kita yang bahagia supaya bisa ditalipitakan oleh Tuhan.

Semoga kamu masih punya waktu untuk membaca surat ini dan semoga kamu tak membacanya sembari menangis.

Semoga, aku menjadi semoga yang kamu aminkan.

Sabtu, 07 Februari 2015

Kepada Lelaki Kecil

Ada banyak buku yang harus kau baca. Beberapa sudah ada di rak buku di kamarku dan kamarmu, lainnya akan kubelikan untukmu nanti. Kau harus membacanya. Kau harus banyak membaca. Tentang apa saja, supaya kau paham mengenai banyak hal. Kau bisa menelusuri dunia dari tiap halamannya.

Aku tahu sekarang kau masih belajar mengenal dan menghapal satu persatu huruf. Masih harus mengejanya dengan terbata-bata. Aku senang kalau kau mulai merengek memintaku untuk membacakan cerita, karena dari sana aku juga bisa sambil mengajarimu membaca.

Alel, kalau nanti kamu membaca surat ini, kau akan paham mengapa aku lebih senang membelikanmu sebuah buku cerita dibanding membelikanmu mainan lainnya. Aku mau di kepalamu terisi banyak hal dari semua buku yang aku bacakan dan kau baca sendiri nanti. Entah mau jadi apa nantinya kamu, tapi setidaknya kau sudah punya bekal untuk masa depanmu.

Aku takkan memaksamu membaca setiap waktu, kau juga boleh bermain. Bersenang-senanglah selagi hidupmu masih didekap kebahagiaan murni tanpa beban. Puas-puaslah untuk tertawa, sebab menjadi dewasa kadang harus banyak berpura-pura. Aku bahkan sering bergidik kalau kau mulai bertanya, mengapa kau harus menjadi anak kecil lebih dulu, mengapa kau tidak sepertiku menjadi orang dewasa. Jawabanku selalu sama, semuanya butuh proses dan kau bersenang-senanglah lebih dulu.

Kutarik tubuhmu ke pelukanku dan kembali mengenalkanmu pada halaman baru di buku cerita yang sore kemarin kubelikan untukmu. Kita kembali lagi belajar membaca. Mengeja satu persatu lagi huruf di mana waktu takkan pernah bisa kembali untuk kita nikmati.

Alel, di halaman-halaman setelahnya semoga bahagia menjadi cerita dan tak begitu saja berakhir sebagai penutupnya.

Untuk Gavrel Marshall, lelaki kecil yang bahagianya kujaga supaya tak pernah pergi. Apa loves you, boy..

Jumat, 06 Februari 2015

Jawaban Pertanyaanmu

Kau pernah bertanya, ke mana air mata akan jatuh. Aku tak menjawab apa-apa selain pelukan. Atau aku memang tak tahu akan ke mana air mata yang jatuh itu.

Kau juga pernah bertanya, di mana aku menyimpan hari kemarin. Aku menjawab, di satu bagian di dalam kepalaku. Kau mempertegas pertanyaanmu, di mana? Lagi-lagi aku tak tahu pasti di mana aku menyimpan hari kemarin, tapi aku yakin ada di satu bagian di dalam kepalaku.

Aku suka kalau kau jadi cemberut waktu aku tak memberimu jawaban pasti. Wajahmu lucu. Tapi, sayang, aku takkan sering-sering membuatmu cemberut. Akan kucari jawaban-jawaban dari tiap pertanyaanmu. Supaya nanti kalau anak-anak kita (amin kita akan menikah) bertanya tentang hal yang sama, aku atau kau bisa menjawabnya tanpa membuat mereka harus cemberut terlebih dahulu.

Sayang, aku tahu kau masih punya banyak pertanyaan. Masih menyimpan hal-hal yang mungkin kau atau aku sendiri tak pernah menemukan jawabannya. Tenang, aku akan selalu ada untuk mendapatkan jawaban-jawaban dari semua pertanyaanmu. Atau sekalipun aku tak langsung bisa memberimu jawaban, doakan saja aku tak lelah untuk terus mencari jawaban, dan tak pernah lelah untuk mencintaimu.

Kamis, 05 Februari 2015

Masih Tentang Rindu

Mungkin kau tahu kalau aku juga pernah cemburu, pada sesuatu yang selalu mendahuluiku untuk memelukmu. Entah hujan, angin, atau sekadar tempias.

Aku tak menyalahkan atau menyesali jarak, tapi sungguh kadang rindu jadi lebih posesif. Cemburu begitu akrab dengan lamun di waktu-waktuku.

Sayang, maaf kalau terkadang aku uring-uringan. Tidak, aku tak bermaksud memarahimu atau membuatmu sedih, tapi rindu kadang memang sulit diatur dan aku sendiri kewalahan untuk mengaturnya. Rindu cuma mau mendengar suaramu dan akan takluk di pelukanmu saja.

Ingin aku terbang ke kotamu, tapi aku sadar tak semudah itu. Andai aku Nobita yang bisa minta Doraemon untuk meminjamkan 'pintu ke mana saja'-nya. Tapi aku tak mau jadi Nobita, karena aku sukanya kamu bukan Shizuka. :*

Ya sudahlah, mungkin kita (khususnya aku) memang harus bersabar. Menunggu temu dengan penuh debar.

Rabu, 04 Februari 2015

Menangguhkan Mimpi

Paling sedih itu waktu melepasmu dari mataku. Kamu seolah-olah meneriakkan jangan tepat di telingaku. Menanam harapan yang kamu tahu akhirnya tetaplah kosong.

Di dalam matamu sedih terperangkap sampai tak bisa menangis, lalu memaksa bibir mungilmu untuk tersenyum. Tapi sungguh, lengkung senyummu itu jauh lebih tajam dari belati. Aku tertusuk tapi tak mati. Aku dilukai mimpi-mimpi yang terkepal di tanganmu.

Pada pertemuan itu, aku sadar bahwa malaikat bisa jadi siapa saja. Termasuk kamu, malaikat kecil tak bersayap yang tinggal di langit-langit mimpi. Dan kamu mengenalkan kepadaku tentang mimpi paling sederhana, tentang bahagia paling lengkap itu apa.

"Aku mau punya papa dan mama atau kalau tidak bisa, kakak berkunjung saja ke sini setiap minggu. Kita misa sama-sama di gereja. Nanti kukenalkan kakak pada Tuhan." katamu sambil memelukku sebelum aku pamit.

Mungkin kamu adalah mimpiku yang tersesat dan aku menemukanmu di sini, di tempat mimpi-mimpi sebelumnya dititipkan atau dibuang.

Kutinggalkan kau di sana bukan karena aku tak mau menyambut mimpimu, tetapi waktu belum menempatkan kita pada detik-detik yang sama. Aku meninggalkan senyummu dan pamit dengan senyuman tanpa kata-kata. Kelak aku akan mewujudkan mimpimu dan melihatmu tersenyum dengan gagah sambil mengepalkan tangan. Kau akan hidup dengan bahagia.

Di dalam tiap mimpimu, akan selalu ada amin dariku.

(Surat ini untuk Peter Himawan yang sampai sekarang masih tinggal di panti asuhan. Nanti kalau kakak pulang, kakak ke sana lagi.)

Selasa, 03 Februari 2015

Jatuh Cinta

Aku membiarkan tubuhku mengudara. Menari bersama daun di sambaran angin. Melayang menyentuh awan yang permen.

Ini rasa yang manis dan meringankan tubuhku. Dibawanya aku terbang, berkeliling mengenali dunia baru yang entah, yang sebelumnya tak pernah aku tahu. Aku ringan, aku terbang.

Sebut saja aku kanak yang amat bersemangat. Melonjak-lonjak kegirangan sampai harus ditegur untuk diam. Tapi aku senang, aku terbang. Aku bisa menjangkau langit dengan tumpuan.

Sayang, kau harus tahu bahwa jatuh cinta bisa segila ini.

Senin, 02 Februari 2015

Yang Masih Tetap Ditunggu

Aku tak menyesali dermaga, meski perahumu berlabuh dengan begitu lama. Butir-butir pasir basah juga tak mengapa, meski laut cuma mengirim buih dibanding ombaknya. Kau bersenang-senanglah di sana, sementara aku di sini jadi nelayan, memanen amis ikan dan asin airmata.

Tidak ada yang keliru dengan mencintaimu. Tidak mengherankan pula jika di antara badai dan pasang-surut air laut aku tetap menunggumu. Maka, sekali saja, adakah aku di dalam kepalamu yang laut itu? Yang di banyaknya punya begitu banyak pantai untuk menepi, lalu pergi lagi.

Sayang, cinta bukanlah hal yang melulu berat. Ia bahkan sanggup mengapung bertahun-tahun di samudera atau tergantung begitu lama bersama bintang-bintang di langit sana. Tetapi dari semuanya itu, aku berharap satu hal; aku tenggelam begitu dalam di palungmu dan hidup di luas langit waktumu. Kamulah satu-satunya semesta di mana aku ingin hidup dan menghidupi.

Salam,

Seorang nelayan yang dermaganya dihidupi oleh angan saja.

Minggu, 01 Februari 2015

Yang Perlu Kau Ketahui

Kita percaya cinta ada, oleh sebabnya kita bersama. Sama-sama mau menanggung bahagia juga luka yang kadang memukul kita masing-masing. Sama-sama rela meminta maaf dan memaafkan tanpa gengsi juga tak repot-repot menanam dendam. Sama-sama menghargai waktu, tenaga, pikiran, harapan, dan jarak yang membentang. Sama-sama menguatkan kalau satu di antara kita atau malah kita berdua terantuk batu dan jatuh. Senyum, peluk, dan doa kita jadikan senjata.

Aku berusaha untuk terus membuatmu tersenyum. Aku memainkan peran sebagai tokoh yang membahagiakanmu. Kiranya aku pernah menjadi antagonis yang menyebalkan untukmu, sesungguhnya kuakui bahwa di dalam diriku juga punya ego, dan aku minta maaf. Tetapi tidak semata-mata aku jahat. Kau juga perlu mengenal aku sebagai sosok lain, supaya kau paham bagaimana memperlakukan aku untuk tidak menjadi si jahat. Tapi sejahat-jahatnya aku, paling aku hanya memarahimu kalau kamu telat makan dan kebanyakan belanja. Aku tidak tega sampai membuatmu menangis.

Dengan jujur aku selalu mengatakan aku mencintaimu dan memang benar adanya. Entah dari mana aku bisa merasa demikian. Dengan yakin aku mempertahankamu dan menjadikanmu kebutuhanku, dan menahan keinginan-keinginanku yang lain. Apa kau sadar, kau telah menjadi penghuni satu-satunya dadaku yang sering sesak karena rindu? Kau tinggal di sana dan menjaganya dengan begitu tulus. Maka dada mana yang tidak akan betah jika detaknya menjadi lebih tenang dari sebelumnya?

Aku percaya kau adalah salah satu kebaikan Tuhan yang dikirim kepadaku. Satu dari segala hal yang sungguh sangat patut aku syukuri. Dengan matamu aku bercermin dan melihat diriku hidup sebagai diriku sendiri tanpa menyembunyikan sesuatu, bahkan jika aku jelek dan jahat. Dengan ketulusanmu, kamu menggandeng tanganku untuk berjalan menuju arah yang jauh lebih baik dibanding saat aku berjalan sendiri dulu.

Salam,

Aku menyebut diriku yang mencintaimu.