Rabu, 26 Juni 2013

jejak yang mengatupkan mata

Aku tiba-tiba saja mengantuk, padahal malam baru saja membuka pintu
Jika pun lelah, ini tidak begitu
Bahkan di atas kepalaku nyala lampu masih berbinar-binar
Kau campurkan apa di kopiku?

Kusesap lagi kopi buatanmu, rasanya tak berubah, sama seperti hujan yang tak mau reda sejak pagi mebuka mata
Apalagi yang salah? Mataku menuntut pejam, pun di sesapan-sesapan berikutnya, sampai habis

Kuingat lagi tentang jejak di depan pintu
Hanya sepersekian-detik saja aku tahu, pemiliknya asing, bukan aku atau kamu
Milik entah siapa, dan mampu membuat isi kepalaku berputar-putar
Aku tidak cemburu, itu bukan milik kekasihmu dulu
Sampai di sesap terakhir, aku mengatupkan mata dan menata debar
Jejak itu, adalah cinta sebelum kamu, milikku

Jumat, 07 Juni 2013

cinta itu

Cinta itu,
rindu
repetisi tanpa berganti tujuan

Cinta itu,
air
terus mengalir

Cinta itu,
udara
irup hela tanpa sadar dan terus ada
sebagai hidup

Cinta itu,
langit
hamparan tanpa batas

Cinta itu,
apa saja asal menjadi kita
dan bahagia
akhirnya

Minggu, 02 Juni 2013

kangen siang hari hujan

suara hujan di luar, dengung musik di dalam ruangan, dan hingar suaramu dalam telingaku
kepalaku penuh, satu persatu merangsek masuk
lalu tumpah sebagai kata-kata

mungkin sedang kucari jawaban atas tumpukan pertanyaan
mungkin hanya sebatas keinginan secangkir kopi yang tak ingin sendirian dihabiskan
maka ia tumpah di atas secarik kertas, di atas keheningan yang ruah
dan kunikmati sendiri

ponsel berdering, kamu lagi
kubiarkan musik tetap menyala, dan kau kusapa
suaramu saja sanggup mengambil keseluruhanku
ambillah semua supaya tegap kita

hening libas
sepi amblas
hujan bablas

rindu
sampai puncak paling atas

suaramu
dengung musik
mengambil semuanya