Kamis, 27 September 2012

Jatuh Sendiri

Kau matahari dan aku bumi penampung cahayamu. Detik ke detik adalah hidup dari keberadaanmu. Harapan tanpa tepi.

Ada kalanya jarak tak menjadi acuan untuk merindukanmu. Bahkan sedekat nafasku dengan detak di jantungmu--dalam pelukan--aku masih bisa menanam rindu dengan gebu. Tidak perlu jarak jika harus menabur rindu ke tanah hidupmu. 

Pelukan demi pelukan kau rebahkan tanpa syarat di dingin dadaku. Selalu saja kau mampu hunjami aku dengan ketenangan, meski seringnya tusukan-tusukan airmatamu lebih dulu membunuh aku. Seperti duri di tangkai mawar, menusuk kecil-kecil terhalau rekah merah kelopaknya. Aku adalah tangan, yang tak peduli sakitnya menggenggam.

Kita tidak saling meminta untuk apa harapan ditali-pitakan. Sebuah rasa membungkus dirinya sendiri untuk dapat saling melengkapi. 

Ini adalah kebahagiaan yang aku rasakan tanpa pernah sekalipun aku rencanakan. Sekelumit waktu atas kedatanganmu, entah melalui jalan apa dan berkelok di persimpangan mana. Tiba-tiba saja kau sudah jatuh di dadaku dan aku jatuh di matamu dengan hatiku. Keindahan yang berlalu-lalu tanpa pernah kita tau, kita ini siapa dan siapa sebenarnya kita. Iya kita..

Aku bahagia sebab kulihat kau tertawa dalam tiap pertemuan kita. Dari sana aku mulai jatuh, jatuh, lalu jatuh dan semakin jatuh. Aku adalah kesenangan, pada waktunya di tibamu. 

Kata-kata cinta kurangkum dari debar dadaku. Padu-paduan aksara kutata dari geletar nafasku. Akan kubilang kau cinta dari segala yang pernah kau cipta. Sejak hari demi hari peluk kau titip tanpa spasi. Lalu jatuhlah harapan, saat cinta yang kutawarkan kau tampik dalam senyuman. Jatuh berdebam. Blaaaarrrr..

"Apa maknanya kita berpeluk selama waktu--sebelum ini--tanpa jeda?" tanyaku berturut-turut pada nyalang matamu yang jauh dari hirau suaraku. Ini aku, seada-adanya terjerembab dari gunung harapan ke jurang kekosongan.

Bisakah kita menjadi cinta, saat nyala matamu hanyalah biasan dari kisah yang untuknya masih kau jaga?

Kutanyakan sekali lagi, benarkah pelukan di dadaku hanyalah sepi kenyataan atas harapan yang tak ingin kau restui? Bukankah telah banyak pahatan mimpi yang kita--tunggu, mungkin hanya aku--rancang sedemikian sempurna untuk hias-hiasan bahagia. Ah, ternyata memang benar. Hanya aku saja yang menikmati rekah-rekah kelopak mawar, tanpa menghirau duri yang menjadi sekat antara luka dan cinta.

Engkaulah mendung paling langit. Berharaplah aku menjadi hujan, ditampungmu dalam-dalam, sebelum derasan.

Kini aku kembali menjadi pintu; tertutup--menutup diri dari nyata yang terjadi. Membatasi harapan supaya tak lagi melayang-layang pongah. Seolah layang-layang, ia terbang ke langit paling angkasa dan tak berteman siapapun, bahkan angin enggan untuk membaca maunya diberi sela terbang. Aku jatuh, pada cinta yang jauh dari cinta. Aku ilalang, tumbuh di tanam petani di sawah harapan kosong paling lapang--kamu.

Seperti ruang lapang yang kudatangi sendiri--lengang begitu nyata, ketika cinta jatuh tanpa kau tangkapi.


♬ tak pernah kumengerti aku segila ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu
tak pernah kumengerti aku sebodoh ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu

♬ Hidup untukmu mati tanpamu - NOAH )

Rabu, 26 September 2012

kalau ragu jatuh cinta

tidak ada yang bisa diam saat mencintaimu
kukira akan ada begitu banyak ungkapan ketika tiba di hadapanmu
mungkin mulanya diam-diam, sungkan oleh keindahan semua yang melekat di tubuhmu
terang saja, aku tiba-tiba membatu dalam gagalnya rencanaku
aku mencintaimu dan di sanalah paku-paku tajam keelokanmu menancapkan aku
betapa ngeri harapanku beradu tatap dengan mata penuh pesona
aku jatuh, oleh cinta karena cinta di hadapanku

kau adalah semesta yang telah disetujui Tuhanku untuk kucintai
kau yang mengaduk kebahagiaan titipan Sang Maha

kini aku menggantung di jembatan yang hampir saja rubuh oleh kekagumanku
lama-lama aku berdiam di tegunku sendiri
hingga lapuk waktu menunggu ketidakpastian
apa aku bisa mencintai dalam kebisuan
apa aku bisa hidup heran dengan kebodohanku
meski engkau telah meyakinkan dengan senyuman


Senin, 24 September 2012

Kena deh..

Sepertinya musim kemarau masih betah. Terik matahari masih saja menguasai siang. Kapan hujan? Kapan petrichor akan sampai di nafasku? Terkadang kujumpai mendung, saja. Tidak ada hujan, belum tepatnya. Padahal ini sudah mendekati Oktober, dan biasanya sudah mulai hujan. Gerimis minimal.

Hari ini senin, seperti biasa aku harus kembali lagi pulang ke kos. Besok aku ada kuliah. Sengaja memang aku mengosongkan jadwal di hari senin, supaya lepas aku dari kata-kata "i hate monday". Bukan mau sok antimainstream, tapi memang kalau awal minggu saja sudah dimulai dengan kebencian, ya biasanya selanjutnya bakal membosankan. 

Ini baru jam 10 pagi, dan matahari sudah bertengger kuat di langit. Aku memutuskan naik bus saja untuk kembali ke kos. Sudah berpamitan dengan ibu dan bapak, sekarang aku sudah duduk menunggu bus di halte. Tidak memakan waktu lama, sekitar 10 menit bus yang akan aku tumpangi sudah  berada di depan mata.

Tidak begitu penuh untuk hari senin. Aku melihat masih ada satu bangku kosong di bagian tengah. Kuhampiri bangku itu sebelum ada orang lain meraihnya. Aku hanya mau memastikan, 2jam perjalananku nyaman dan bahkan bisa sambil tidur. Di sebelahku--yang dekat jendela--ternyata seorang bule. Sebelum duduk tadi, aku sudah menyapanya dengan tersenyum. 

Kira-kira sudah 1jam perjalanan dan kami masih saling diam. Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk sekadar berbasa-basi.

aku: "where do you come from, mister?"
bule: "London."

Singkat banget jawabnya, mister. Pakai basa-basi juga kek, atau gimana. Lalu kami diam lagi. Perawakan bule itu sepertinya tinggi. Badannya besar kalau dibanding denganku. Dia memakai kacamata hitam, tapi aku bisa tau kalau matanya menerawang keluar jendela. Entah apa yang dilihatnya, ya kan aku ga mau dibilang kepo kalau tanya-tanya. Satu yang menarik perhatian, rambutnya pirang tidak terlalu panjang dan gimbal. Satu yang kepikiran pas liat rambutnya; wedus gembel.

Tanpa sadar, aku bergumam tentang rambutnya dalam bahasa Jawa, "rambute koyo wedus gembel, tau adus ra yo?" ( rambutnya seperti wedus gembel, pernah mandi ga ya?). Aku meliriknya, dia masih diam saja dalam lamunan.

Kira-kira lima belas menit setelahnya, bule itu turun di sebuah halte. Dia harus melewati aku untuk bisa keluar dan turun dari bus. Lalu, "excuse me, wedus gembel mau lewat. Saya duluan, ya.." 

Aku melanjutkan perjalanan, dengan diam.


 berlari teriak ku kejar bus kota
di tengah terik siang yang panas
berlari teriak ku kejar bus kota
demi satu kesempatan dan cita-cita

( Bus kota - Shaggy dog)

Jumat, 21 September 2012

Penghujan ini

siapa yang datang lebih dulu antara gerimis dan kamu?
pekarangan rumahku sudah basah dan kepalaku tak lagi muat oleh kenangan selain kamu

ini musim yang nampak lebih berkompromi dengan kenangan
bulir demi bulir adalah hunjam kesegaran untuk menyapamu yang pernah hilang

adalah kamu,
melodi paling menenangkan di rerintikan
deras dentum paling meneduhkan

ada gerimis yang datang setiap pagi
menjadi manis di tiap tegukan sampai akhir ampas kopi
siang sampai malam biasanya deras
yang ada bayangmu makin tegas

di gebu-gebu rindu, penghujan adalah musimnya kamu
aku dimabukkan petrichor
dihuyungkan kamu yang menjadi peniup angin di nyala-nyala obor

sejak datang pertama kali, hujan sudah mengetuk-ngetuk pintu kenangan
seperti tamu basah kuyup mengiba kehangatan
iya, seperti kamu
asing yang berhasil menerobos sejak awal hadir di keberadaanku
dan menagih hangat dari setiap pelukan yang aku berikan

kini pergi

tinggal aku yang sibuk mengurus rindu yang menggenang musim
di sisa semua air yang masih akan tumpah
entah hanya dari awan atau dari mataku yang mengenang


 ♬  semusim tlah kulalui
tlah kulewati tanpa dirimu
tetapi bayang wajahmu
masih tersimpan di hati

 ♬ Semusim - Marcell )

Selasa, 18 September 2012

Secangkir kopi dan teh


sore ini.. 

kopi : “masih sepi, tuanku dan puanmu masihkah sibuk menukar peluk?”

teh : “ah benar, kita menunggu saja. saling menjaga supaya tetap hangat.”

kopi : “mari kita saling bercerita tentang kebiasaan tuan dan puan kita masing-masing..”

teh : “puanku, menjadikan aku teman untuk menghabiskan pagi, setiap hari.”

kopi : “tuanku, selalu mengajakku menemani sepi, saat menulis puisi.”

teh : “puanku, lebih sering menyeduhku dengan air panas, biar sampai tubuhnya tetap hangat katanya.”

kopi : “tuanku selalu, menjerang aku dengan air panas, dia tidak suka kopi dingin, hambar katanya.”

teh : “puanku, terkadang membiarkanku dingin, ia lebih kusyuk saat membaca, aku dibiarkannya.”

kopi : “tak berbeda, tuanku tak jarang membuatku sampai mengendap sempurna, tapi dingin dan kadang ia lupa menghabiskan aku.”

teh : “pernah dicampur sesuatu? puanku kadang menambahkan lemon, dia suka rasa asamnya. dia pernah bercerita, kalau asam lemon dapat membuatnya tenang, aku tak mengerti.”

kopi : “mungkin puanmu sedang ingin menerima sakit dan menikmatinya dengan cara yang berbeda. tuanku, menambahkan susu putih, jarang sih. tapi dia suka menambahkannya waktu lapar, atau menginginkan aku dengan warna lain, selain hitam, kelam, katanya.”

teh : “kau tau, saat puanku menunggu tuanmu, ia bisa menghabiskan beberapa cangkir aku. dia selalu gelisah jika tuanmu sedang di perjalanan.”

kopi : “kalau tuanku, hampir tiap malam dia bisa menghabiskan lebih dari lima cangkir kopi, karena dia mau memikirkan puanmu, bukannya memimpikannya.”

teh : “hei, puanku pernah mencobamu, satu tegukan, tapi tidak suka. katanya kamu terlalu pahit.”

kopi : “ah, sebenarnya aku tak mau bilang. tuanku tak pernah menyukaimu, apalagi panas. membuat sesak di dadanya, maaf.”

teh : “tak apa, aku sudah tau. puanku pernah bercerita. tapi tuanmu tetap mencintai pecintaku, bukan?”

kopi : “hahaha.. iya, dia sangat mencintai puanmu. sangat. aku tau semua rasa, cintanya..”

teh : “kau tau, puanku pun sudah punya racikan sendiri untuk membuatmu, dan menyajikannya kepada tuanmu. dan seperti itulah kamu saat ini.”

kopi : “iya, tuanku sangat menyukai aku yang teracik dari tangan puanmu. terima kasih ya, katakan pada puanmu itu.”

teh : “nanti pasti kusampaikan. eh, lihat mereka telah selesai menukar peluk. sebaiknya kita kembali diam dan membiarkan tuanmu dan puanku menikmati masing-masing kita.”

kopi : “baiklah, kita biarkan mereka menjadikan kita sebagai salah satu nikmatnya.”

lalu hujan..



♬ Join kopi - Blackout )

Sabtu, 15 September 2012

Darimu aku mengenal

Aku sedang memaknai cinta waktu itu. Ketika pertama kali aku dikenalkan oleh rasa yang membuat dada sesak, seperti dipenuhi udara yang mengandung banyak debu. Aku masih bisa bernafas, tapi tidak untuk mengolah oksigen dalam dadaku. Ada cekat di antara paru-paru dan bilik-bilik jantung.

Waktu, berpihak pada kebimbangan yang hidup di sela denyut nadi. Kamu datang dari arah yang kukira telah ditentukan Tuhan. Datangmu membawa berbagai kisah kutulis menjadi satu. Membuat dada berusaha menghidupkan satu detak di dalamnya. Hadirmu itu cinta, aku menentukan sendiri.

Jalan Tuhan memang tak pernah menyesatkan. Aku diterima pada cinta yang kutawarkan kepadamu. Dan mungkin kamu tau saat itu, beribu kupu-kupu keluar dari dadaku. Mencipta kelegaan yang selama ini rangsek di nafasku. Sepertinya aku mirip dengan anak kecil yang baru saja keluar dari pintu rumah hantu dan menemu tukang balon atau penjual eskrim. Buncahku tiba di pelukmu, berterimakasih atas bahagia yang kamu hantar dengan sangat luarbiasa; cinta.

Tetapi ini hidup. Pepatah tua mengatakan; roda terus berputar. Kebahagiaan tak selamanya bertahta. Pernah kubilang, luka adalah bagian yang menyatu dari cinta, yang bersembunyi dekat meski entah dimana. Aku diterimakan pada cinta yang menyenangkan, sampai pada akhirnya harus dipisahkan oleh keegoisan diri sendiri. Maklumkan saja dengan istilah puber. 

Cinta, iya pada akhirnya harus berpisah. Kita masing-masing hanya tau, bahwa yang terjadi adalah kita hanya saling menyakiti. Kebahagiaan itu purna dari semesta, dari makna kita. Aku kehilangan dan kamu pergi. Aku tidak lagi kembali dan kamu tak juga menanti. 

Ini cinta yang pertama kukenal dan yang akhirnya mengenalkanku pada sebenar-benarnya cinta adalah tidak menyakiti, apapun alasannya. Janji kita pada bintang untuk tetap menjadi terang, janji kita pada laut untuk tetap singgah di pantai, juga janji kita pada tanah untuk selalu hidup menginjak dan mati rubuh di dalamnya. Aku masih mengingat semua, terutama ketika sebuah lagu terngiang dan mengajak kenangan berdansa. Lantai dansanya pikiranku.

Aku menemukan makna cinta pertama kali di kamu, pun memungut luka pertama. Jika sampai detik ini semuanya masih jelas di ingatanku, tak berarti kau menjadi pemilik seluruh ruang panggung kehidupanku. Hanya saja, kenangan adalah mata pelajaran yang harus diterapkan gunanya di perjalanan hidup. Hidupku, juga hidupmu jika kau mau.

Terima kasih untuk cinta dan kebahagiaan yang pernah dan sampai sekarang masih kau kirim untukku, meski lewat doa seperti katamu. Semuanya sampai dan sudah menjadi bagian dari kisah yang ditulis cinta mengenaiku. Untuk luka, biarlah dadaku mengartikannya sebagai asap--sebagai pembeda mana yang tetap dibiarkan tinggal atau kembali dibuang dalam embusan.

♬ semoga saja kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu
    tapi bukan aku

♬ tapi bukan aku - kerispatih )

Jumat, 14 September 2012

kita sebenarnya

aku ingin diajarimu berlari
meninggalkan yang tak lagi ku ingini
terkadang aku bosan di sini
begah dengan semua yang terjadi

aku akan mengikutimu
entah sampai jauh dan tak lagi menemu apapun
ini aku, toples yang mendamba kerlip menjadi penghuni
isilah aku apa saja, dan aku merasa ada
kupastikan kau terjaga dengan seutuhnya

aku mencintaimu
maka tak kurelakan jauh menjadi jarak antara kita
kubilang aku akan mengikutimu

mendekatlah, sayang
kita bukan daratan yang dipisah sungai
kita bukan pula pantai yang dibentang laut
kita ini anak rindu, yang jatuh tersungkur di atas tanah yang sama
di bawah langit yang tak pernah berbeda
tanahmu liat, tanahku hitam dan kita menginjak bumi
langitmu cerah, langitku mendung dan kita mengenal awan

kita adalah asa
sebelum semesta menerimakan kita pada kata ya yang sama
untuk cinta..

Kamis, 13 September 2012

Ada aku

Ada yang menantimu di tiap ujung harapannya. Seseorang yang tak pernah sekalipun luput oleh lupa, meski masa memberinya bertumpuk-tumpuk kenangan. Kau tidak akan pernah kehilangan, dan tidak akan pernah melihat seseorang itu pergi begitu saja darimu. 

Saat langit penuh oleh mendung, dari matanya coba dipancarkan secercah cahaya. Barangkali kau butuh hangat, barangkali kau ingin diperhatikan lekat. Seseorang itu selalu ingin menjagamu.

Dalam tiap deras hujan, setangkup lengan diperintahkannya untuk mendekap tubuhmu. Memayungimu dari kuyup yang mengancam sekujurmu. Tubuhnya ingin menjelma atap untuk meneduhkanmu. Atau merupa payung dalam perjalananmu.

Seseorang itu acap kali memanggilmu cinta, berulangkali mengigau namamu sebagai rindu. 

Kau tidak sendirian. Lihat betapa ada seseorang yang tak sanggup membiarkanmu dikekang sepi. Tak pernah rela bila kau disandingkan dengan kesunyian. Ia ada untuk menyambut datangmu, menyambut segala harapan yang terus dipupuknya. 

Tak ada pagi terlewat dengan embun yang meneteskan namamu. Tidak ada siang yang asing, ketika waktu menyediakan bayangmu di ingatannya. Tidak ada senja yang menjadi jingga, jika cahayanya tak memancar senyummu. Pun tidak akan pernah ada malam yang pejamnya tak menjadi kerajaan bagimu di mimpinya.

Akan butuh berapa hitungan cinta, kau akan menyebutnya demikian? Harus ada berapa juta bintang, untuk membandingkan pendarmu dan meyakinkanmu bahwa kamulah yang paling cahaya? Baginya tidak perlu semua itu. Cukup satu hadirmu dalam tiap jaganya dan adamu dalam segala hidup nafasnya.

Seseorang itu ada, tidak pergi meski hadirnya adalah asing bagimu.
Sesekali tataplah matanya dan singgahkan selengkung senyum sederhanamu. Ia mencintaimu, ia ada untuk kamu di sini.

Seseorang itu, aku.

 cukup satu alasan indah ku ada di sini

♬ Ku ada di sini - Rio Febrian)

Minggu, 09 September 2012

Karena kita

Dinding bercat putih yang menempel di punggungku tiba-tiba merapal dingin. Seperti jeruji besi di bilik penjara. Hampir semuanya membeku, dan aku ingin menyerutnya untuk kutumpahi sirup dan aku meminumnya. Diam ini membuat kerongkonganku kering, tenggorokanku cekat oleh dentum-dentum detak jantung yang tak karuan.

Masih saja diam, sudah hampir 1 jam sejak pertanyaan terucap yang aku sendiri juga tidak tau apa jawaban sebenarnya.. 

*1 jam yang lalu*
"Kamu itu ga ngerti aku! Ga ngerti kenapa aku bisa ngelakuin ini ke kamu kan?!" 
"Kamu tuh egois. Pernah kamu tanya mau aku apa, atau tanya aku kenapa? Pernah?!"
"Mau kamu apa sekarang?"

Tidak ada suara, bahkan engah nafasku menyerupai teriakan di telingaku sendiri. Dia diam, aku lebih diam. Kita seperti hutan tanpa penghuni. Membiarkan yang mengisi adalah celoteh alam. Berjalanlah waktu sampai detik ini. Satu jam berlalu dan kita adalah asing yang tak diperkenankan dekat oleh angin. 

Sadar tidak akan selesai, sadar bahwa diam adalah keputusasaan belaka, dan sadar bahwa diam takkan membawa kemana-mana, aku meraih tangannya. Menggandeng masih tanpa suara, menyeretnya lembut ke teras samping rumah. 

"Lihat sekelilingmu."
"Apa? Pohon mangga? Bunga mawar?"
"Maaf, tapi kamu bodoh."
Plaaaaakkkk... Dia menamparku. Tangannya sampai di pipiku begitu kuat. Perihnya terasa di mataku, aku hampir saja menangis. Tapi aku ini lelaki yang menata gengsi lebih tinggi dari tinggi pagar penjara. Aku simpan sakitnya dengan menatap dia dalam-dalam. Lalu diam lagi.

*30 menit berlalu*
Aku menata lagi emosiku. Mendatarkan nada suara, berusaha tenang.

"Kamu memang bodoh." Kali ini aku hanya mendengar isak tangisnya. Tak ada kata-kata keluar dari bibirnya. "Kamu memang bodoh. Kamu cuma lihat pohon dan bunga saja?"
"Maksud kamu?"
"Sebelum aku jawab, aku mau jelasin kenapa aku nglakuin ini semua ke kamu. Kamu tau kan, banyak yang ga suka sama kita. Ga perlu dihitung seberapa banyak dan ga perlu tau juga siapa aja. Banyak. Selama ini aku minta kamu buat nahan semuanya. Biar semuanya tenang dulu, Din."
"Aku harus nahan sampai kapan? Sampai aku buta dan ga bisa lagi ngliat kamu? Aksa, aku juga punya perasaan. Aku ini kamu anggep apa sih, sampai-sampai cuma perasaan mereka aja yang kamu pikirin?! Kita putus aja, kalau kamu ga tegas kayak gini.."
"Kamu ngomong apa barusan? PUTUS?!!!"
"Iya kalau kamu ga pernah tegas kayak gini. Kamu itu bukan calon gubernur, Sa. Ga perlu ngobral janji sama aku. Aku pulang."

*2 hari setelahnya. Tanpa bicara*
"Boleh ketemu Dina, tante? Saya mau selesaikan semuanya soal yang kemarin itu."
"Tante udah tau semua. Selesaikan, berlakulah dewasa tapi miliki jiwa seperti anak kecil yang ga pernah punya dendam setelahnya."
"Iya tante, terima kasih."

"Din, kamu boleh tampar aku sekali lagi. Aku cuma mau kamu tau kenapa waktu itu aku bilang kalau kamu bodoh. Dan alasan-alasan lain kenapa aku bersikap kayak gitu."
"Aku ga akan lagi nampar kamu. Terserah sekarang mau kamu apa. Kalau emang kamu mau ngomong, aku dengerin."
"Baiklah.. Kamu bodoh, karena yang kamu lihat di sekelilingmu waktu itu cuma pohon sama bunga. Cuma pohon sama bunga, Din. Cuma itu yang kamu lihat. Bodoh, karena kamu ga ngelihat aku di sana. Kamu anggep aku ini hantu, sampai kamu ga lihat aku?" Aku mengatur nafas, supaya kata-kataku jelas di telinganya.
"Kamu ngomong apa sih? Ga usah gombal. Masalah kita ini serius, Sa."
"Aku serius, Din. Tapi kamu emang ga lihat aku kan. Nyatanya kamu cuma lihat pohon sama bunga."
"Jadi masalah kamu cuma pohon sama bunga? Dasar anak kecil."
"Bukan itu, Dina. Kenyataan di mana kamu ga bisa nganggep aku ada, bahkan untuk sesuatu hal yang cuma ada kita. Kalau selama ini aku bertindak dan mungkin nyakitin kamu, karena aku tau kamu kuat. Aku anggap kamu itu perempuan hebat. Dan aku tau, kamu mampu bertahan. Terbukti kan, sampai sekarang kamu masih di sini, sama aku."
"Kamu anggap aku.."
"Iya, kamu itu hebat. Lebih dari apapun dan aku tenang di samping kamu apapun masalahnya. Kita, di genggam tangan kita ini ada benteng yang bisa nahan masalah yang udah kayak air bah. Ada kekuatan yang melebihi superman, sampai kita selalu bisa ngalahin semuanya. Kamu sadar itu ga?"

♬ Kita mesti bertahan
kita pasti bertahan
karena memang cuma kita yang bisa pertahankan kita

(♬ Sudah jangan bertengkar - Anji)

Jumat, 07 September 2012

Beruntunglah ada doa

♬ Beruntung ada udara hingga nafas yang kuhirup nafas yang kau hela..

Salahkah, ketika kita masih memberi nafas pada segala bentuk cinta yang mendamba hidup di dada kita? Pada kesementaraan tempat yang menjauhkan dadamu-dadaku untuk sekadar berpeluk, bertemu detak. Maka ini adalah keberuntungan nafas untuk dapat menghirup dan menghela udara yang sama. Sejauh apa semesta akan memetakan ruang kita, membedanya menjadi petak-petak yang tak terengkuh. Kita adalah cinta yang masih disatukan udara.

♬ Kuingin selalu ada di dekatmu
Kuingin selalu ada untuk kau sentuh
Saat jarak terasa jauh mimpi indah membawamu kepadaku

Kita adalah manusia yang mengenalkan masing-masing hati. Mencoba mendekatkan apa yang mampu dikaitkan. Namanya asa; harapan untuk menumpang pada rumah yang disebut-sebut sebagai bahagia. Ini kita, yang memilih bersama meski pada satu masa harus tunduk pada kenyataan. Kesepakatannya adalah jarak dibentang untuk bekal masa depan. 

Di mulai dengan pergimu, rindu jatuh di atas kakiku sendiri. Kaki yang sudah terpaku pada kesepakatan. Menyesakkan. Membangun sendiri pondasi-pondasi tegar, sembari mengajari anak-anak rindu untuk tabah di lingkar peluk yang tak menyentuh rengkuh. Ini dada yang sedang kehilangan hangat tubuh kekasihnya. Menyentuhmu dengan doa, adalah cara paling tepat dan cepat supaya rindu benar-benar utuh.

♬ Selalu satu dalam berjuta hasta
Takkan ada yang bisa pisahkan kita
Simpan rasa untuk satu masa kita kan bersatu dalam cinta

Tepat di doa-doaku, kamu adalah lafal yang selalu mampu kuhafal. Bahkan, jarakmu bisa menjadi lebih dekat dari satu spasi dalam tulisan ini. Begitu aku mencoba menggapai-gapai kamu. 

♬ Beruntung ada samudera
kan kukayuh perahu rindu, agar sampai ke tempatmu
Semua jalur kulalui semua arah mata angin kukirim pesan ini

Kau tau, sayang? Doa adalah sampan sederhana untuk sampai kepadamu dengan tenang. Makanya sering aku menumpang, yang kayuhnya ada di tangan Tuhan. Jalannya seperti dimudahkan, ombak ditampik halus, karang bukan terjal halang. Dan kangen itu tiba kepadamu dengan bentuk-bentuk yang menenangkan hatimu.  

Tidak ada janji apa-apa antara kita. Cinta, bukanlah ruang untuk menumpuk janji. Di dalam cinta, kita diajari untuk mengambil satu demi satu keinginan yang kemudian dirangkai menjadi nyata-nyata sebagai bukti. Cinta itu benar adanya, pada kesetiaan yang meski dibentang jarak, tetap saja kokoh menjadi pagar atas kerinduan.

♬ Let me be close to you
close to you


♬ Satu dalam sejuta hasta - Asyharul Fityan & Artasya Sudirman )

Senin, 03 September 2012

Apa maknanya aku?



Dan langitpun sama saja
Mendukung perih yang ada
Hingga mungkin aku tak berarti
Meski temanimu setiap hari


Rasanya seperti dihantam gulungan salju. Diammu yang dingin dan heningmu paling tidak pernah aku tau, tak pernah aku mau. Seperti ada keinginan angin, mengirimku ke jalur-jalur labirin. Aku tersesat sendiri, kehilangan kamu; sang arah yang sedang tergugu pada kesedihannya yang tak boleh ikut kumiliki.

Aku seperti pelawak yang kehilangan penontonnya. Hanya bangku-bangku kosong yang menyaksikan leluconku tanpa pernah ada satu pun gelak tawa. Atau aku mungkin badut yang hanya ditakuti anak-anak kecil di tengah taman. Menjadi biang keladi atas tangis mereka. Aku ini apa, seseorang yang nyatanya tak pernah kau anggap ada.

Bagaimana mungkin kamu
Tak akan segera menangis
Sepertimulah langit kini
Tertunduk pilu dalam mendung

Sayang, mungkinkah sudah lepas percayamu kini kepadaku? Seolah langit tak lagi boleh menahan hujan. Tak boleh lagi memberi sedikit cerah kepada bumi. 

Kamulah kini mendung yang memberantas terik. Kamulah yang pertama kalinya mengenalkan aku kepada awal keberangkatan hujan yang begitu menyesakkan. Ada hawa panas yang menyelubung tubuhku, paling panas di dadaku. Entah bagaimana satu kesedihan bisa merangkaikanmu luka sebegitu dalam. Sebait duka yang tak pernah boleh ikut kusimpan dalam tanganku.

Sejak keheningan mendekapmu, dan setiba-tiba itu airmata melenggang dari bening matamu, aku sudah dihantam hujan berbadai-badai.

Kau kira aku berlebihan? Tidak. Aku mencintaimu dengan sangat. Menjadi bagian dari satu atau bahkan berkali-kali dari kesedihanmu adalah bagian dari cinta itu sendiri yang telah aku setujui. Lalu meraba-raba dadamu untuk menenangkan, itu adalah harapan untuk bisa membahagiakan. 

Want to see you smile..

Kamu adalah langit, yang menjadikan kelam mendung sebagai naung. Sedang aku tanah, yang tak kau biarkan hujan dapat kutadah.


( Mendung - The Vuje)