Selasa, 20 Agustus 2013

potret ibunda

"Ayah, ibu di mana? Boleh aku tahu bagaimana wajahnya?"

Ayah tetap saja menggeleng, ia diam dalam lamunan. Matanya jauh memandang angan-angan. Tidak bisa kugapai, sekalipun kugunakan tongkat paling panjang yang ada di dunia ini.

"Ayah, ibu di mana? Apa dia pergi seperti ibunya Salma? Ibu pergi ke Hongkong?"

Lelaki berkulit gelap di sampingku bergeming. Tubuhnya tak lagi tegap, tapi masih kutemukan keperkasaan yang paling dari urat-urat yang menonjol dari tangannya. Terus saja ia geming, dan di ruang kecil ini tinggallah hening.

Aku mulai menangis, dan tanganku masih terus menggenggam tangan lelaki berkulit gelap di sebelahku. Aku dalam isakku, dan lelaki yang kusebut ayah ini dalam gemuruh di dadanya.

***

Gadis kecil di sebelahku masih saja merengek-rengek. Menggenggam erat tanganku, seolah-olah dari sana dapat kutemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini diajukan kepadaku. Geming setia di dalam aku. Tak ada yang bisa kujawab. Aku memilih membenamkan diri dalam lamunan, seperti matahari yang pasrah terus luruh ke dalam cakrawala. Terus diam, terus tenggelam. Bungkam.

Gadis kecil yang malang. Terlalu malang untuk seorang gadis tak berdosa seperti dia. Wajahnya ayu dengan binar mata yang menyejukkan. Rambutnya hitam bergelombang, seperti ombak yang menggulung-gulung di laut, yang tak pernah sekalipun kuseberangi. Jemari tangannya lentik, kulitnya halus meski sabun murah setiap hari menyapu seluruh kulitnya. Ia malaikat kecil yang dikirim Tuhan kepadaku, sepertinya.

Tuhan, bisakah aku mengubur semua ingatan yang kupunya, dan membiarkan gadis kecil ini hidup dalam bahagianya tanpa secuil pun luka atas hadirnya? Gadis kecil ini hanya tak perlu tahu sakit yang pernah aku rasakan. Tapi dia punya hak untuk tahu dari mana asal usulnya.

"Dila, jangan menangis lagi. Ayah akan beritahu siapa dan bagaimana wajah ibumu."

Aku menelan ludah, dan memberanikan diri menatap matanya yang sejuk. Menampung segala yakin yang sedari dulu hanya berkeliaran di sekitar. Bisakah kukatakan semuanya? Dan kukeluarkan selembar foto hitam putih yang hampir koyak, gambarnya sudah hampir pudar. Foto yang sudah kusimpan lebih dari tujuh tahun itu, foto yang menyimpan lebih dari sejuta ingatan, foto yang seharusnya tak pernah ada.

"Ini foto ibumu, La. Maaf ayah baru bisa memberikan padamu sekarang."

Dila mengusap airmatanya, matanya tak lagi sayu, masih merah bekas tangisannya, tapi menyorotkan cahaya yang belum pernah sekalipun kulihat sebelum ini. Ia seperti anak kecil yang menemukan ribuan permen dan cokelat di atas tempat tidurnya. Bahagia nampak sekali di raut mukanya.

Dadaku berdegup kencang, melebihi suara gemuruh pesawat terbang. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain kembali diam, diam, dan diam. Aku meliriknya, dan masih saja kebahagiaan gadis kecil itu singgah di sorot matanya.

Semoga, ia bahagia oleh karena foto perempuan itu.
Semoga, bahagianya menutupi ketakutanku.
Semoga, ia tak mengenalinya sebagai aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar