Rabu, 12 Desember 2018

Tak Akan

Takkan pernah
kamu menemukan padaku sesuatu hal
yang sempurna.

Bahkan
hati yang sepenuhnya untukmu,
telah retak sebelumnya.

Tetapi, sayang,
kamu tak perlu khawatir.
Sebab
yang luka
pernah memberiku pelajaran.
Dari luka-luka
yang pernah jatuh kepadaku,
tak akan satupun
kubiarkan
jatuh kepadamu.

Senin, 10 Desember 2018

Kamu?

Sebuah penantian,
barangkali adalah kesepakatan antara waktu dan ketabahan.
Jika pada akhirnya tak ada yang tiba,
maka sesungguhnya tabah mendapatkan setianya.
Maka luka adalah hal biasa yang menemani.
Yang sama-sama bertaruh.
Lalu,
siapa yang sampai saat ini masih jadi penantianku?
Kamu?

Musim hujan

Terkadang,
kaki ragu melangkah.
Maka berhentilah.

Pun jika musim hujan mulai ranum.
Basah tanah dan jalanan acapkali panen kenangan.
Petani kangen kelimpungan.

Demikian pula aku,
di basah tanah musim deras ini,
tak pernah berhenti memetik sedih.

Keberadaanmu tak sudah-sudah,
tetapi selalu habis sebelum baki dadaku penuh.
Lalu aku cuma punya kosong yang selalu tampak.

Minggu, 02 Desember 2018

Kita

Kita
Tak pernah tahu
Seberapa jauh
Jalan dituju
Seberapa tinggi
Langit diraih

Kita
Cuma tahu
Jalan beriringan
Tangan bergandengan

Sebab
Cinta
Bertujuan

Senin, 24 September 2018

Lepas

Ada kalanya aku harus bersyukur karena mencintaimu
Aku tahu bagaimana rasanya memiliki harapan
Menanam lagi mimpi-mimpi yang dulu pernah layu
Menggenggamnya sambil berlari-lari mengejarmu
Meski tak sampai

Ada kalanya aku harus menikmati lagi rasa sakit
Menyapanya setelah berlama-lama ditimang ketidakberdayaan
Tapi aku harus tetap bersyukur
Adanya kamu dengan rasa sakit itu, mengajariku untuk melepas beban
Mengurai bodoh yang kuikat erat sendiri sebelumnya

Ada kalanya
Dan sudah waktunya
Aku menyimpanmu
Atau harus menguburmu dalam-dalam
Supaya kau mati dan dimakan cacing-cacing kenyataan
Lalu aku hidup lagi
Sebagai aku yang dulu pernah sungguh mampu dengan tidak ada kamu

Jumat, 14 September 2018

Bodoh

Ada banyak tanya jauh dari jawab
Hingga aku lepas satu persatu detik untuk menunggu
Tapi tak satupun datang melegakan dahaga keingintahuanku

Sebenarnya,
Ada pilihan untuk melepas dan meletakkan ketidakjelasan ini
Hanya saja aku memilih diam
Sampai kau merelakan sedetikmu untuk memuaskan tanya

Kepada yang lewat dan mengharap sapa ku, aku mohon maaf atas ke-tak-acuhan
Mataku masih tertutup harap tentang mimpi yang sungguh tinggi
Dan masih tak ingin kusuruh pergi

Sabtu, 01 September 2018

Berharap Lupa

Aku sampai lupa menulis
Pada september pertama yang dijatuhi hujan
Juga pada kepala-kepala yang di dalamnya bermusim kangen

Aku tampak renta
Sebegitunya waktu berlari
Menjauh dari kebahagiaan di pucuk-pucuk tunas baru
Juga di kemuning dedaunan tua
Aku tampak renta

Jika yang berakhir adalah ketiadaan
Maka di sanalah usiaku membenturkan kepalanya pada pergimu
Berharap lupa

Sabtu, 12 Mei 2018

Sebuah Ucapan

Sungguh, aku tak bermaksud lupa atas hari lahirmu
Beberapa ingatan barangkali penuh oleh kenangan yang bermusim di sana
Lalu hiruk pikuk

Sebentar aku hendak bertanya:
"Seberapa lengang harimu yang seharusnya berpesta itu ketika ingatanku tak menghadirinya?"

Maka aku berdoa:
"Tuhan, ijinkan aku menaruh satu lagi permintaan di langit supaya bisa diterbangkan kepada-Mu. Sebuah pinta supaya seseorang yang pestanya kulupakan ini bisa memangku bahagia yang diberkati oleh tangan-Mu."

Hari ini aku sedang tak punya kado.
Cuma ada beberapa ingatan yang akhirnya kuikat kuat.
Ingatan akan tawa mengenaimu, supaya tak lagi-lagi musim menenggelamkannya dan lupa menang sekali lagi.

Minggu, 18 Maret 2018

Sekiranya Aku Harus Pergi

Tidak dicintaimu, tidak membuatku menyesal.
Ada kalanya aku harus menerima sesuatu yang tidak bisa kumiliki.
Tidak semua-muanya dalam kendaliku.
Di sisi lain, aku jadi belajar bagaimana harus merelakan.
Sakit memang.

Mungkin aku harus lebih belajar untuk mencintai diriku sendiri lagi.
Tidak melulu adalah kamu.
Tidak segala-galanya mengenaimu.

Kiranya kamu sudah berbahagia dengan pilihanmu, demikian juga harusnya aku berbahagia atas pilihanku yang bukan kamu.
Harus pelan-pelan memang.
Karena yang terjadi tidak semudah seperti saat kamu berpaling.
Pertama-tama aku harus mengubah arah tujuanku, untuk tidak lagi berarah kepadamu.
Lalu memulai lagi perjalanan yang kiranya akan sungguh panjang, dengan kaki yang sepertinya sudah lelah duluan sebab mengejarmu dulu.

Aku sudah menyiapkan bekal.
Bekal kesabaran dari diammu yang aku belajar.
Juga airmata, jika nanti aku haus dan tidak menemukan lagi apa-apa.

Jumat, 16 Februari 2018

Barangkali kangen, atau apalah itu namanya. Lupa.

Kangen ini,
jalan aspal yang mulai berlubang sebab hujan.
Bagaimana deras mengikis sedikit demi sedikit.
Bagaimana cuaca tak mengakrabi kekuatan,
sampai lepas,
sampai kebas.

Lalu di bawah langit yang sama,
di mana hujan tiba pada waktu senja,
kita mengeja satu persatu huruf jadi kata;
kangen,
katamu.

Aku belajar lagi apa artinya.
Pun kau,
yang ingatannya mulai pudar.