Jumat, 04 Oktober 2013

cahaya dan suara

Samar cahaya senja mulai menangkapi debu-debu yang garing di penghujung musim kering. Anginpun meniup ringkih, membawa puisi rahasia tentangmu, yang bermata malam.

Sudah lama aku mimpikanmu, ingin menemui dalam matamu. Lalu kutempuhi terowongan waktu -- satu masa tanpa penghuni cahaya, hingga setitik sinar dari dasar puisiku, menjemput kembali pada dadaku yang pagi.

Mimpiku luput lagi memelukimu.

Sejak itu kita yang terbagi, oleh cahaya yang tak sama lagi.

Maka, ketika petang mulai menyala, aku memohon kepada dentang lonceng di ujung menara, supaya suara yang secepat cahaya menjatuhkanmu lagi ke dalam mimpi. Lalu di tiap tidurku yang begitu sunyi lelap, aku menjadi dinding-dinding pendengar paling hebat. Memungutimu yang pecah sebagai bisik-bisik.

Barangkali, mimpi cuma dongeng-dongeng yang penulisnya tak pernah kuketahui, yang ceritanya adalah perjalanan meniti harapan. Atas aku sendiri menuju kamu dalam ketidaktahuanku, hngga suara-suara yang pada akhirnya tiba melewatkan aku ke dalam mimpi atas nama pelukku sendiri.

Sampai akhirnya, cahaya dan suara itu pecah bersamaan di dalam kepalaku yang malam, dan mimpi berhamburan menuju kamu. Mendekat, lelap demi senyap.


(@dzdiazz dan @_bianglala)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar