Minggu, 27 April 2014

perihal yang akan kau baca

ini sajak terakhir di tubuh ketiga pertemuan. sebagaimana kertas telah diadu tinta berwarna sisa, ia menyimpan rindu dan rasa sebanyak yang aku bisa. satu lagi pertemuan yang ke tiga.

lalu tentang berbagai perihal yang kau lempar -- potongan-potongan sajak sudah kujejal. kusampaikan salam kepada kau yang telah menggali tanah ini jadi laut tempat ranting-ranting tentang perihal yang kuhanyutkan berkumpul.

kau bukan belibis yang menunggu tebing-tebing batu. kau sedang membasuh waktu jadi musim panen sajak-sajak. dan aku akar kayu tua yang hampir sama dengan ranting yang hanyut ke sungai; demikian tegas menuliskan perihal hati dengan sungguh tegas.

sajak ini, kutulis dan kukirim untukmu, sebab jabat tangan belum tersampaikan jarak. bacalah dan kau akan mendengar ucap terima kasih dariku melalui angin setelah kata terakhir ini.

untuk @aa_muizz dan @acturindra atas #PuisiHore-nya

Minggu, 20 April 2014

empat elemen kesedihan

Mula-mula aku membakar daun-daun yang jatuh di kepala, supaya ada satu cahaya tiba dari kobar paling ingatan.  Kau, seseorang, yang pernah lupa karena ingkar janji atas api, yang meredam sendiri bara atas masa lalunya.
Setiap ada percik selepas pantik, di kepalaku telah hangus anak-anak rambut.

Dan kau, bisa jadi asin air yang jatuh sebagai hujan, membasahi bukit pipiku setelah selesai pembakaran. Aku sedang mengambil caping, akan kupanen garam dari kumpulan airmataku sendiri; hujan di musim kesedihan yang telah kau ciptakan. Aku jadi petani sukses dari banjir kehilangan.

Kemudian aku akan memulangkan tubuhku yang dipendam garam ini kepada tanah. Kukembalikan seluruh kesedihanku kepada apa yang dahulu telah diambilkan untuk satu hidupku. Tanah atas nama rahim ibuku. Tidak ada yang perlu menggali karena api dan hujan telah menggemburkannya.

Maka takkan kudapati udara. Takkan kumiliki lagi napas, dan sesak dadaku paripurna. Helaanmu akan mencatat semuanya dengan huruf-huruf yang telah diajari untuk kebal pada sakit hati. Sementara aku telah sembuh dan takkan lagi mencampuri paru-parumu dengan bau masa lalu.

~ teras atas, 20 april 2014

Kamis, 17 April 2014

Berkali-kali

Siapa yang membawa mata ke tubuh berjauh-jauh. Ada dua atau lebih wajah berlapis pandang kesedihan. Kau tahu akupun tak tahu. Kesedihan itu turut ke mataku dan oleh sebabnya satu demi satu ada yang tiba-tiba saja berjatuhan seperti serpih kayu. Pedih.

Dan garis-garis yang tembus di permukaan merayu sepi untuk tegas seperti garis wajahmu.

Siapa yang menyaji gambar bila kesedihan-kesedihan itu tak berkesudahan. Wajahmu sekali lagi menipu dan kehilangan sudah memburu.

Sekali lagi.

Aku mengharapkanmu tak hanya mata yang memandang berkali-kali, atau kesedihan itu takkan berhenti sama sekali.

Minggu, 13 April 2014

tercatat malam ini

dalam lampu yang telah kupadamkan, tanpa kantuk menyetubuhi malam, maka tak ada lagi kolam selain diriku sendiri yang bisa kurenangi. tak ada lain, selain bertekur menghadap langit yang langit-langit; semuanya diam, kecuali kepalaku dan beberapa penyesalan.

mengapa melulu gelap benar-benar kehilangan ucap? saat lampu suar yang tak membacakan apa-apa menampar pipiku lebih dulu daripada langkah yang jauh akan sudah. aku sampai di sini, adakah yang memiliki arti?

tapi kelahiran telah tercatat, sebagaimana akhirnya aku ada.

dari mata yang tak mampu menangkap apa-apa selain gelap di kamar ini, seribu lebih makna coba kupanen. tuhan yang maha, bagi-mu aku ada. maka pada malam ini dosa-dosa yang menjelma ular telah kumakamkan.

Minggu, 06 April 2014

BAYI

Biarkan aku merawat, seperti pengasuh yang dibayar untuk mengganti popok anak-anakmu.

Atau memandikannya, padahal tanganmu masih sanggup mengangkat gayung dan membalur tubuh lembut berbau surga. Kau juga bisa menatap matanya -- sama waktu pertama kali kau jatuh cinta. Ada begitu banyak rahasia dan kau memilikinya.

Yang akan kubedaki, meski wangi masih lekat sebasah apapun keringat. Ia takkan berbicara apa-apa, selain tangis yang ia pelajari dari ibunya; ketika bersedih karena disakiti laki-laki, atau kecewa angan-angannya lebih tinggi dari langit lalu jatuh terhempas.

Itulah tubuh yang akan kurawat. Sebab di dalamnya telah kutanam berbagai macam mimpi.



~ teras atas, 06 april 2014

Rabu, 02 April 2014

mengingat kami

Kami tak menyebut diri sebagai pahlawan. Suara kami berasal dari rengekan anak-anak yang meminta susu dan baju baru. Kami orang-orang yang nasibnya lebih sering terapung dan hanyut menabrak-nabrak pinggiran sungai kotor penuh sampah dari tangan-tangan wakil kami.

Hidup jauh dari tubuh yang darahnya sama mengalir di tubuh kami adalah ketakutan yang menjadi ketaatan. Melangkah ke luar rumah dan masuk rumah lain yang tanahnya tak segembur tanah ladang di kampung. Kalian akan menemukan kami tersebar di seluruh bumi. Hidup dihajar nasib.

Kadang kami beruntung, tapi sering juga menunggu mati di tiang gantung. Saudara-saudara kami jauh takkan sanggup menempuh. Cuma doa-doa kalian yang jadi tangan pemeluk tubuh tanpa daya hukum.

Semoga tidak lagi ada tubuh gemetar meringkuk dengan bekas tampar, atau di sudut ruang basah penjara terkapar.

Pemimpin kami yang baik budi, kami masih ada jika kau sedikit lupa. Tolong kami dari nasib dingin, jangan cuma prihatin.

Kami tak menyebut diri sebagai pahlawan.


~ teras atas, 03 april 2014 #menolaklupa #PuisiHore3