Jumat, 19 April 2013

menanti lupa

Anak lelaki berpeluh penuh itu,
termangu memeluk harapannya.
Paksaan hidup membuatnya terbiasa menahan gemuruh perutnya.

Kedua lengannya mendekap lututnya.
Kedua matanya tertuju pada tong besi berkarat di sudut luar kedai.
Di dalam kepalanya berkecamuk angan,
mengenai sisa-sisa butiran nasi,
atau satu - dua potong saja sisa kue bolu.
Apa saja, ia mengiyakan.

Lalu hujan.
Di sana, jatuhlah pula satu amin.
Tak perlu lagi menunggu sisa teh manis.
Tangannya tengadah, mengumpulkan tetes demi tetes,
menghabisi kering kerongkongannya.

Ia menanggung hidupnya sendiri.
Keberadaan yang baginya tak perlu ditangisi.

Ibu, angannya; adalah pelukan di kala tidur llapnya.
Ayah, di pikirannya; siapa saja asal membuatnya kenyang.

Lalu lelaplah ia di teduh pohon seberang kedai,
sampai laparnya lalai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar