Senin, 19 Agustus 2013

pengantar pesan

Sore yang tenang. Rintik hujan masih bertandang, jendela kamar penuh tempias, satu dua tetes ada yang mengalir. Aku masih mencari-cari kertas lipat yang tadi siang kubeli di toko depan sekolah. Kalau tidak salah, tadi kuletakkan di atas meja belajar sambil membereskan buku pelajaran yang kubawa tadi ke sekolah.

"Kak Rio, kakak lihat kertas lipatku ga?"

"Kamu taruh di mana?"

"Di meja belajar, tapi ga ada."

"Cari dulu, mungkin terselip di buku-bukumu. Biasanya kamu teledor."

"Ga ada, kak. Sudah kucari sampai kubolak-balik."

"Ya sudah, beli lagi saja di warung Pak Ali. Kakak kasih uangnya."

"Ga mau. Kertas lipat di warung Pak Ali terlalu tipis. Kalau kujadikan pesawat-pesawatan ga bisa terbang tinggi dan lama. Nanti ibu ga bisa baca surat, kak."

"Cari lagi dulu, pasti ada."

Aku membongkar lagi buku-buku di meja belajarku. Kubuka satu persatu tumpukan buku itu. Satu demi satu, tetap saja tak kutemukan kertas warna-warni yang masih utuh dalam plastik itu. Ah, sore hampir habis. Matahari sudah hampir menyentuh cakrawala. Kalau aku terlambat dan petang tiba lebih dulu, apa ibu mau menunggu suratku? Ibu pernah bilang, bahwa senja adalah kebahagiaannya selain keluarga.

Setahun lalu, sejak ibu memilih bertemu Tuhan, aku tak pernah sekali pun  lupa untuk mengirim suratku kepada ibu. Aku menulis apa saja, tentang kangenku, tentang perubahan suasana rumah yng menjadi sangat sepi, tentang Kak Rio yang lebih sering diam, tentang ayah yang sibuk melebihi apa pun, tentang sekolahku, dan tentang aku sendiri yang tidak lagi dapat memeluk siapa-siapa.

"Ibu, aku masih mencari kertas lpatku. Tadi aku sudah membeli, tapi aku lupa menaruhnya. Ibu mau menunggu pesawat kertasku, juga isi pesannya? Seperti biasa, bu, pesannya bertulis aku kangen ibu."

Ah, sudah gelap di luar sana. Belum juga kutemukan. Lalu kusobek kertas dari buku tulisku, dan menulis pesan..

Ibu, pesawatku terlambat, tapi kangenku untukmu tidak akan pernah terlewat.
Kak Rio sudah mau berbaik hati mau membelikan kertas lipat di warung Pak Ali, tapi aku tidak mau.
Sekolahku hari ini biasa saja, bu, aku mengerjakan tugasku dengan baik, seperti nasehat ibu.
Ayah belum pulang sampai sekarang, masih sibuk dengan pekerjaannya, mungkin ayah juga kangen sama ibu.
Sudah, bu, aku mau mencari kertas lipatku lagi. Biar besok aku mengirim pesanku dengan pesawat kertas warna warni, seperti pelangi, eperti wajah ibu yang berseri-seri.

Salam kangen, Arin.


Pesawat kuterbangkan dari jendela kamar. Ditiup-tiup angin sampai jauh membawa kabar. Pesanku, ibu, supaya sampai kepada kekal bahagiamu. Biar aku di sini, menjaga kebahagiaan yang dulu pernah kau tinggali.

Aku kembali mencari kertas lipat, dan menunggu ayah pulang dari kesibukan yang ditinggalinya setelah kepergian separuh jiwanya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar