Jumat, 28 Februari 2014

Musim Kamu

Februari selesai. Maret menapakkan kakinya. Dengan semua harapan yang ada, aku masih berjalan. Di secarik surat ini, kau membawaku ke padang rumput yang hijaunya menari bersama angin juga cahaya matahari, dari matamu yang pagi.

Aku menulis surat ini, sayang, ingin mengingatkanmu tentang musim. Mengenai waktu, di mana daun akan gugur dan tanah di kepalamu menjadi subur. Barangkali kau lupa, ada satu musim di hidupmu tak berganti.

Bulan baru sudah di depan matamu. Jika kau tak merasakan apa-apa, angin yang senantiasa menemaniku akan menyadarkan ketidakacuhanmu. Mungkin hal ini pula yang akan mengenalkanmu pada musim tak berganti itu. Kunamai saja itu musim kamu, karena kau yang terus dipetiki oleh kangen di dadaku, juga yang akan dipanen oleh kepalaku sebagai ranum ingatan.

Sayang, musim kamu tak hanya di kepala dan dada. Di tanganku kini, telah tergenggam beberapa bulir hujan yang jatuh dari keranjang angan di langit sana. Ketabahanku, adalah setumpuk mimpi yang tajamnya melebihi pucuk es dari hujan yang membeku di kutub sana. Oh, bagaimana rasanya itu? Aku tak tahu, karena aku mencintaimu.

Salam,
Pengarung musim demi musim.



(Surat ke-29)

Teras Atas

Di mana lagi jika tidak di sini? Bangku panjang di teras atas. Selain tubuhku yang duduk, aku bisa meletakkan apa saja. Bahkan lelah yang kubawa seharian.

Teras atas,
Kau mungkin takkan bisa membaca, tapi kau akan selalu tahu tentang apa yang akan dituliskan penaku di kertas, yang acapkali menghabiskan senjanya di sini. Atau waktu aku hanya duduk menikmati malam dan kopi, di sinilah ketenangan mengabdikan dirinya kepadaku. Waktu aku ditikam sepi bermalam-malam panjang, di sini jugalah gigil menjadi sangat nyaman untuk berbagi peran dengan rindu.

Teras atas,
Mari sebut ini keberuntunganku menemukan tenang. Malam kadang tak punya bulan, tak disapa bintang, diguyur hujan, dibanjiri tempias, dan dibelai angin. Ada kalanya juga aku hanya membagi bisu dan menumpahkan kopi -- meluapkan apa yang pada siapapun tak bisa kuungkapkan.

Bangku panjang di teras atas. Jika kunamai ini setia, maka demikianlah tunggu benar-benar ia taruh tanpa lelah. Terima kasih sudah terus menunggu, meski tak setiap hari aku menemuimu. Malam ini, kopi lagi-lagi kubiarkan dingin di atasmu.

Salam,
Penghunimu

Mengenai Temu, Akankah?

Sasi,
Untuk pertama kalinya aku menulis puisi bukan untuk kekasihku, atau yang kau sebut nona matahari itu. Rasanya sungguh berbeda, apalagi puisi itu mengenaimu. Debar di dadaku jauh lebih bergemuruh. Aku tak tahu alasannya. Ada rasa sesal. Bukan, bukan karenamu, tapi sesal mengapa tak kutulis sejak dulu pertama aku melihatmu.

Menulismu sebagai puisi mengantarkan aku pada jalan menuju padang rumput yang hangat. Kau sinar itu. Tidak, aku tak menggombalimu. Mana bisa aku gombal, bahkan merayu kekasihku saja aku tak sanggup.

Sasi,
Aku senang kalau kau membaca puisiku berulangkali. Gemetar tanganku terbayar lunas. Terima kasih.
Oh ya, sudah berapa kali kita bertukar surat? Bukankah kita seringnya berada di tempat yang sama? Tidakkah kau mau bertemu denganku? Mungkin kita bisa bertukar cerita. Aku mau tahu kau dapat resep dari mana, sampai membuatku betah seperti ini. Tapi aku tak memaksamu. Seperti biasa, aku ada di sudut menepikan sepi. Setiap senja.

Salam,
Suvan Asvathama

(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Rabu, 26 Februari 2014

Aku Menyesal

Sayang,
Aku menyesal, tapi bahagia..

Setelah lampu kamar padam, malam itu, entah mengapa kantuk malah pergi dan tak jadi menggagahi mata kita. Aku coba diam pada debar yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Aku takut, tapi bukan pada gelap. Tiba-tiba saja aku kedinginan dan mencari tubuhmu. Kita bertemu peluk di atas bisu kasur. Di bawah langit-langit yang menutup mulut.

Kita kehilangan ucap, tapi tidak kecup. Tak ada kata-kata, hanya lenguh sesekali mengudara. Demikian kita mbuk kesenangan. Sungguh, aku mencintaimu.

Barangkali ini satu dari seribu cara yang akan terus kusampaikan kepadamu, betapa aku menyesal meski bahagia. Akan terus kurenangi rahasia milik kita, sampai nanti lampu kamar yang sengaja kita padamkan bukan lagi keringat yang menetes sesal.

Sekarang nyalakan lampu kamarnya, dan kita bicarakan bagaimana jalan ke depan akan kita tempuh, supaya tak lagi limbung oleh penyesalan.

Salam,
Kekasihmu yang sungguh menyesal meski bahagia, karena padam lampu kamar malam itu sesungguhnya belum milik kita.

(Surat ke-27)

Selasa, 25 Februari 2014

Panas Di Ujung Malam

Untukmu,
Aku ingin menceritakan sebuah malam yang kulalui, yang mungkin saja kau belum tahu.

Begini.. Di sebuah malam, aku membiarkan gelap membuatku gerah. Aku kepanasan. Padahal angin datang cukup rapat. Aku melepas bajuku, sampai dadaku bersentuhan langsung dengan dingin yang dibawa angin. Tapi aku masih kepanasan. Aku telanjang di separuh tubuhku, di bagian dada yang detaknya mengendarai ingin ke jarak tanpa peduli lagi bahwa udara sungguh sangat tak bersahabat. Panas di tubuhku, dingin di ujung waktu.

Maka tubuh inilah yang menangkap angin sebagai isyarat. Pertama kali memahami malam masih akan panjang dan pagi belum sampai di sini. Tapi dadaku yang mulai kedinginan perlahan menyadari embun satu persatu sujud di lelap daun-daun. Sampai manakah tubuh ini akan bertahan? Panas di tubuhku, dingin di ujung waktu.

Demikian sepi dan kuatnya aku bertahan, sayang. Jika kau tahu, inilah pertama kalinya aku bermain dengan seluruh kemauanku. Kau melempar dadu, dan aku menjalankan bidak ini sendirian. Berlari-lari mencari tangga menghindari ular yang akan menjauhkan tujuan. Sampai aku kepanasan dan membiarkan malam melepas bajuku. Sepertinya aku mencintaimu. Panas di tubuhku, dingin di ujung malam.

Ini ceritaku waktu malam
Demikian
Aku mencarimu

Salam,
Pencarimu

(Sebut Saja) Puisi

Sasi,
Apa yang kau takutkan? Kalau kau tak takut hantu, mengapa kau takut tentang sesuatu yang tak kembali? Kesempatan kedua memang ada, tapi akan sangat berbeda. Kau tak perlu takut. Kau punya cahaya.

Kau juga tak perlu minta maaf. Itu cuma masa laluku yang kini maknanya tak seberapa. Bukannya aku mau menyama-nyamakan, tapi ada bagian dalam diriku yang seperti lahir di atas pantai. Sampai-sampai jika aku hanya mendengar satu hal saja mengenainya, atau apapun yang termasuk di dalamnya, aku tiba-tiba melesat ke sana. Seperti ada mesin jet yang mengirimku.

Baiklah, aku memberanikan tanganku untuk menulis (sebut saja) puisi untukmu. Jika tak seperti inginmu, maafkan aku yang masih gemetaran ini.

"Kaukah itu, malu-malu di ujung malam?
Menggelitik ombak dari surut ke pasang
Membaringkan cahaya di kasur laut
Malam demi malam

Cahayamu melambai
Dari jauh letakmu kutempuh
Akukah yang tiba-tiba jatuh?

Purnama bulan
Menjatuhkan sinar
Di jantungku yang debar"

Aku pesan dua cangkir kopi untuk menenangkan dadaku setelah menulis ini. Menulis puisi untukmu, aku benar-benar berada di antara tabuh drum.

Salam,
Suvan Asvathama

(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

terima kasih

Selamat sore, Lala a.k.a @_bianglala

Entahlah apa yang harus kutulis untukmu. Bahkan seharusnya aku hanya tinggal mengambil ponselku dan mengirimkan pesan yang ingin kutulis untukmu melaluinya. Tapi terkadang, ada hal-hal yang tak bisa kukatakan lewat pesan singkat line. Oh ya, jika tulisanku di sini sedikit kacau, maklumi saja. Kepalaku masih berasap akibat meeting siang tadi. Padahal aku sudah duduk di bawah pendingin ruangan.

Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu telah menjadi pasangan menulisku dalam #duahati. Terima kasih sudah mau menjadi Sasi Kirana. Dan tak pernah kubayangkan, aku begitu senang saat menjadi Suvan karena teman menlulis suratnya, yaitu Sasi, begitu mengasyikkan. Bahkan aku terkadang lebih memilih menjadi Suvan; seseorang yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan berarti aku tak nyaman menjadi aku. Terima kasih, Sasi.

Aku butuh kopi untukmeredam asap di kepalaku, dan aku ingat satu racikan darimu, yaitu kopi kayu manis. Untung pantry di kantor ini cukup lengkap dan aku menemukan bubuk kayu manis bertengger di sudut dapur. Rasanya enak, tapi jadi wangi. Mungkin karena aku terlalu banyak menaruh bubuk kayu manis di dalam kopinya. Tapi terima kasih untuk racikannya.

Sudah, ya. Daripada apa yang kutulis semakin tak jelas. Sekali lagi terima kasih untuk menemani Suvan menulis di sudut menepikan sepi, dan terima kasih untuk kopi kayu manis.


Salam,
el diaz

(surat ke #25)

Senin, 24 Februari 2014

Pantai dan Puisi

Sasi,
Kau takkan menemukan dermaga. Tak ada yang mau membangunnya di sini, meski pantai dekat sekali dengan hidup. Seperti katamu, di sini tak ada yang menanti, tak ada pula yang ingin melepas. Yang pergi akan terus pergi dan tak mengenal kata kembali, mungkin kembali telah dihapus dari kamus kami.
Bermainlah saja di pantai bersama pasir, ombak dan angin. Kau bisa melihat bagaimana ombak akan menghapus jejak atau nama yang kau ukir dengan kakimu di pasir dengan cepat. Sekali datang, langsung menghilang.

Cerita-cerita yang kau baca itu, Sasi, telah membawamu pada satu cerita yang pernah kutulis. Itu tentang mantan kekasihku yang dulu sering mengajak ke pantai, sekadar bermain pasir. Setelah aku kehilangan karena cinta tak kami lanjutkan, aku menulis mengenainya bersama cerita pantai, ombak, dan jejak.

Kau ingin menjadi puisiku? Benarkah? Aku bahkan tak berani berangan jika suatu saat kau jadi puisiku. Mungkin aku akan menulis sambil gemetaran sampai sering typo. Juga detak jantungku akan bersuara seperti dentuman paling keras dan cepat di muka bumi ini. Tapi aku akan mengumpulkan keberanian itu untuk menulismu sebagai puisi.

Kedaimu memang tak pernah sepi, tapi ramai di sini adalah riuh yang paling nyaman kutinggali.

"Bagaimana mungkin aku menulismu sebagai puisi, sedang kau adalah ibu segala sajak yang dimiliki hati."

Salam,
Suvan Asvathama

(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Kau Tak Boleh Bersedih

Teruntukmu ,

Tak apa kau menangis. Aku takkan menertawakanmu atau menyebutmu jelek karena kau cemberut. Banyak hal memang bisa terasa berat. Sesungguhnya bila kau paham, hal itu hanyalah hebat yang menunggu berbuat. Sekencang apapun kau menangis, aku takkan menutup telinga. Aku akan tetap di sini tanpa perlu kau minta. Atau kalau kau memperkenankan, aku juga akan ikut bersedih lalu sama-sama menangisinya.

Kesedihan atau apapun namanya yang kau tangisi itu, kau tak harus menanggungnya sendiri. Kau boleh percaya boleh tidak, tapi aku sudah di sini dan siap kau bagi dengan perasaanmu. Apa saja. Jika kau tak memberikannya, aku akan mencuri kesedihanmu itu. Aku tak bermaksud apa-apa, hanya ingin memenangkanmu karena kau tak selayaknya bersedih. Kesedihan yang jatuh bersamaan dengan airmatamu itu kesia-siaan. Aku akan berusaha memenangkanmu sampai kita benar-benar bahagia.

Kalau begitu, mari simpan kesedihan di dalam kantong plastik bekas kita membeli makanan ringan sore tadi. Setelahnya kita ikat dan taruh di tempat sampah depan rumah. Besok pagi, bahkan sebelum kita terbangun tukang sampah akan mengangkut dan membawanya ke tempat yang seharusnya.

Sayang, membahagiakanmu dan mengambil kesedihanmu adalah caraku bersyukur kepada Tuhan.

Salam,
Pencuri sedihmu

(Surat ke #24)

Minggu, 23 Februari 2014

Mengenalmu

Bacalah surat ini saat kau tak bersamaku, karena kalau kau membacanya di depanku, aku jadi malu.

Sayang,
Coba kau hitung sudah berapa lama kita saling mengenal. Aku ingat waktu pertama kali menjabat tanganmu sambil menyebut nama. Kaupun demikian sembari menaruh senyum di ujung ucap namamu. Sejak saat itu aku jadi tahu rasanya menunggu. Menunggu kapan lagi kita bisa bertemu.

Maka waktu dijadikan Tuhan sebagai kabulan doa. Bahkan lebih dari temu, kau dan aku menyatu. Kau jadi matahari di pagi aku terbangun, jadi angin yang menyejukkan siangku, jadi kopi yang menyentuh tubuhku hangat waktu malam sepinya laknat.

Sejak itu pula aku hapal wangi parfummu yang jadi oksigenku. Teh tawar hangat yang kau pesan di tiap kau makan. Aku juga hapal senyum di bibirmu; senyum karena kau senang, senyum karena ingin menyenangkanku saja -- yang setelahnya aku harus memelukmu, senyum karena  kau kehabisan kata-kata   di tatapanku, atau senyum yang artinya kau bahagia tanpa tahu alasannya. Aku sudah bisa membedakannya sekarang. Juga tentang hal yang akan membuatmu marah sampai menangis.

Aku mengenalmu. Aku melakukannya karena aku mencintai kamu.

"Aku bisa mengenal siapa saja, tapi aku memilih kamu karena kukira Tuhan juga memilihkanmu untukku."

Salam,
Aku yang mencintaimu, karena mengenalmu.

(Surat ke #23)

Jumat, 21 Februari 2014

Jangan Merasa Sepi

Sasi,

Kulewatkan satu senja tanpa duduk di sudut menepikan sepi kedaimu. Tidak, aku tak pergi jauh. Pernah kukatakan padamu, aku tak pernah meninggalkan kota ini, dan kurasa aku takkan sanggup meninggalkan kota kecil ini. Aku hanya harus menemui seseorang. Mendadak memang, tapi demi pekerjaan daripada aku tak digaji, nanti bagaimana aku pesan kopi di Kayu Manis ini? Ehehehe.. Lagipula sudah menjadi tanggung jawabku. Hari ini aku kembali. Tapi aku tak melihatmu di dapur. Kau ke mana? Semesta masih mengajak kita bermain rupanya.

Aku pernah bertemu Anto di depan rumahku.  Dia sedang mencari rumah temannya. Sayang waktu itu dia tak sempat mampir. Bahkan saat kemarin dia mengantar surat ini, aku tak bertemu dengannya. Anto tak sempat mampir lagi. Anto meletakkan suratmu di depan pintu dan aku menemukannya malam waktu aku pulang.

Kau takkan pernah kesepian. Kedaimu bahkan tak pernah sekalipun kosong. Kau bisa menemukan banyak tawa hanya dengan bersembunyi di dapur dan mengintip ke luar. Taman putri malu, aku juga sudah cukup lama tak ke sana. Pekerjaanku cukup menyita waktu. Untung aku masih punya sedikit waktu luang untuk sekadar menepikan sepi  di sudut kedaimu.

Sasi,
Terima kasih untuk cup cake-mu. Bagaimana mungkin aku tak menghabiskannya. Racikan tanganmu sangat memanjakan lidahku.

"Jika tibaku tak juga sampai, kau tak perlu risau. Ada banyak senyum bisa kau rangkai, jangan jadikan sepi sebagai pisau."

Salam,
Suvan Asvathama


(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Selamat Berbahagia

Selamat siang, kamu yang bukan lagi kamuku

Selamat hari sabtu dan selamat untuk kelahiran anak pertamamu. Maaf belum sempat menengok kau dan jagoan kecilmu itu. Dan maaf karena tak datang di pernikahanmu.
Kalau boleh jujur, masih ada satu hal yang membuatku enggan untuk menemuimu. Kau tahu perihal itu. Sebaiknya aku tak membahasnya di sini, karena surat ini isinya bukan mengenai hal itu.

Dua hari yang lalu aku bertemu Agni, sahabatmu. Dia masih cerewet seperti dulu, tapi berkat kecerewetannya aku dapat kabar soal kebahagiaanmu ini. Kau punya jagoan kecil. Ia lahir tepat di hari kasih sayang yang perayaannya masih sering dijadikan bahan perdebatan. Tapi mulai sekarang kau tak perlu mendebat apapun, karena di tanggal itu kau akan merayakannya dengan suka cita besar. Selamat.

Kuharap ia punya wajah seperti kau. Biar orang tak pernah mudah untuk melupakannya. Sama sepertiku yang tak mudah melupakan kau. Jika tak keberatan, semoga ia punya mata seperti aku. Tak bermaksud apa-apa. Hanya saja kau pernah bilang bahwa mataku tak pernah bisa membohongimu. Semoga kau selalu menemukan kejujuran di dalam matanya. Ia akan membuatmu bahagia.

Selamat berbahagia. Dia malaikat yang  dikirim Tuhan untuk membahagiakanmu, karena bukan aku.

Salam,
Aku yang turut berbahagia.

(Surat ke #22)

Jika Aku Tak Lagi Mencintaimu

Selamat siang, kesayangan..

Aku masih di kantor. Ini masih jam makan siang, dan aku sudah menyelesaikan makanku. Tinggal menunggu jam istirahat ini selesai, kira-kira tiga puluh menit lagi. Dari kubikelku yang dekat dengan jendela, aku bisa melihat jelas sekali di luar hujan sangat deras. Dan seperti biasa, suasana seperti ini membuat ingatanku mengambil kamu dengan mudahnya.

Karena kamu tempias di kepalaku yang jendela.

Aku mencintaimu. Lalu di kepalaku muncul pertanyaan; apa ini akan selamanya? Bagaimana jika aku tak lagi mencintaimu? Dan aku menulis surat ini. Kalau-kalau cinta tak lagi berpihak kedapa kita.

Jika aku tak lagi mencintaimu.
Petiklah mawar dan taruhlah dalam vas berisi air. Dan bagaimanapun nanti, biarkan ia layu dengan caranya yang ke seribu. Tanpa aku.

Jika aku tak lagi mencintaimu.
Kau akan tetap melihat pelangi selepas hujan. Mejikuhibiniu yang ajaib itu akan bersinar sampai matamu dan mendadanimu. Andaipun langit abu-abu, itu takkan jadi warna hidupmu. Tanpa aku.

Jika aku tak lagi mencintaimu.
Kenakanlah pelampung dan kau takkan tenggelam. Terkadang kesedihan lebih bah ketimbang air. Kau juga bisa berenang-renang sambil menyanyikan lagu kesukaanmu. Tanpa aku.

Hmmmm..
Cukup buatku untuk membayangkan aku tak lagi mencintaimu. Menyesakkan. Seperti masuk ke dalam ruangan yang penuh asap rokok. Aku butuh oksigen.

Bacalah surat ini. Tanpa aku. Tanpa jika aku tak lagi mencintaimu.

Salam,
Kekasihmu.

(surat ke #21)

Rabu, 19 Februari 2014

Sebuah Cerita yang Kedua

Selamat siang, sayang. Sudahkah kau baca surat dongengku yang kukirim sebelum surat ini? Semoga kau paham apa yang kutulis. Dongeng yang kubuat sendiri, dongeng yang isinya tentang apa yang kualami sendiri. Dongeng tentang kau.

Sekali lagi aku mengirimimu surat. Aku ingin bercerita tentang seorang asing yang kutemui saat aku sedang lemah-lemahnya waktu itu. Kau harus tahu bagaimana dia sanggup membantuku berjalan, bahkan sekarang aku mampu berlari.

Aku bertemu orang asing itu di tepi pantai, waktu senja hampir saja tiba. Kira-kira jam lima lebih dua puluh menit. Dia mengenakan bando warna merah di kepalanya. Dia cantik, dan sungguh menenangkan jika melihat wajahnya, meski hanya sekilas. Tiba-tiba saja aku ingin jadi salah satu rambutnya. Selain bando yang menjadikannya indah, tangannya begitu lembut menyibak helaian hitam ikal itu. Seperti lidahmu saat menyentuh eskrim.

Selepas senja, aku melepas kegelisahanku bersamaan dengan melihatmu yang tetap di situ. Aku mengikuti angin dengan menujumu. Berusaha tak merusak nyamanmu, aku menyapa dengan santun. "Boleh kujadikan kau sebuah sajak bersama senja dan pantai ini, Nona?" Dia kebingungan tapi mengangguk.

Sejak anggukannya, dia selalu jadi sajak di tiap aku menulis. Di tiap aku ingin meninabobokan gelisah. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan hari yang lagi-lagi mempertemukannya denganku, meski tak di pantai dan waktu senja.

Keberanianku melebihi Bima Satria Garuda saat melawan monster-monster suruhan Rasputin untuk menumpas kejahatan. Menemuinya untuk yang kedua kali ini sungguh di luar dugaanku, dan tak kuduga juga aku seberani itu. Senjataku hanyalah secarik kertas dan sebuah pena,  ditambah kegigihanku tentang mimpi-mimpi mengenainya. Hanya sebuah ingatan dan sajak-sajak yang terus kutuliskan membuaku jatuh cinta.

"Nona, bersediakah kau jadi nama yang selalu ada dalam sajakku. Seumur hidupku?"

Dia tak menjawab, dia hany memelukku untuk pertama kali yang lama. Aku tidak tahu apa yang membuatnya jatuh cinta kepadaku. Yang aku tahu, dia begitu tulus sampai aku dengan mudahnya melepas kegelisahan yang selama ini lekat dengan dadaku.

Ini ceritaku. Sayang, setelah kau membaca surat ini, pakailah bando warna merah yang kuletakkan di laci meja rias kamarmu. Dan temui aku di pantai senja nanti.

Salam,
Aku.

(surat hari ke #20)

Selamat Menunggu

Sasi,

Sudah kucatat semua tentang apa yang ingin kau lakukan di pasar malam nanti. Tinggal menunggu saja pasar malam itu membangunkan tidurnya saat liburan sekolah tiba. Kau bisa menunggu, kan? Liburan sekolah masih cukup lama. Atau sembari kau menunggu pasar malam, kau bisa mencatat apa saja yang ingin kau lakukan. Akan kutemani kau.

Kau bisa jadi pasar malam, dengan senyummu bahagia sudah dirayakan.

Terima kasih cup cake-nya. Sebenarnya sayang jika aku harus memakannya. Sungguh cantik. Tapi aku harus merasakannya, bukan? Dan aku menghabiskannya. Rasanya mau memesan lagi, namun aku mau tidur malam ini. Ah, andai saja gula tak berpengaruh apa-apa buatku. Laib kali saja aku memesan lagi. Toh aku juga sering ke kedaimu.

Membaca suratmu aku juga jadi hangat. Kata-katamu mirip dengan kopi; menghangatkan tubuhku dari mata di kepalaku, sampai penuh di dalam dadaku.

Selamat senja, Sasi. Selamat menunggu.

Salam,
Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Selasa, 18 Februari 2014

Dongeng Bintang Jatuh

Aku ingin bercerita kepadamu. Kusampaikan saja lewat kata-kata, supaya kelak jika kau ingin mengulang ceritanya lagi, kau tinggal membuka surat ini. Kau juga bisa membacakannya kepada anak-anakmu yang bisa jadi adalah anak-anakku juga.

Suatu kali dari langit jauh di atas sana, sebuah bintang jatuh menuju rumah. Waktu itu sudah malam, tepat setelah matahari nyenyak selepas siang ia begitu keras mengeringkan jemuran ibuku. Bintang itu sampai di depan rumahku, kuajak saja ia masuk sebagai tamu.

Rupanya bintang jatuh tak memakai sandal atau sepatu, tetapi kakinya bersih dan aku lega tak harus menyapu dan mengepel lantai. Bintang jatuh ini masih mempunyai cahaya yang lekat menempel di matanya. Tiba-tiba dia tertunduk. Kukira ia lelah setelah perjalanan jauhnya dari langit hingga sampai di depan rumahku. Aku berlari ke dapur, mengambilkannya segelas air dan cepat-cepat aku menyerahkan kepadanya.

Ia tak meminumnya, tapi memasukkan beberapa tetes air ke dalam matanya. Ia menangis. Matanya yang bercahaya kini jadi anak sungai. Tidak, tidak ada ikan yang hidup di sana, dan aku tak dapat memancing apa-apa selain kesedihan. Satu lagi, yang membuatku heran adalah kecipak air yang entah dari mana datangnya, yang melahirkan cahaya lebih terang dari sebelumnya.

Di ruang tamu aku menerima bintang jatuh sebagai mata cahaya yang menangis, aku terbangun dari mimpiku dan menemukan bintang lain sedang tertunduk menutupi kesedihan karena ditinggal kekasihnya. KAU.

Semoga kau membaca surat dongeng ini tidak sambil menangis, karena kekasihmu yang nakal itu tak lagi berani menampakkan batang hidungnya. Dan bintang jatuh di dalam mimpiku sudah kuhapus airmatanya.

Salam,
Pemimpi di ruang tamu yang mendapati bintang jatuh itu sebagai kekasihnya kini.

(surat ke #19)

Janji Pasar Malam

Sasi,

Ah, maafkan aku. Kau begitu takut dengan badut. Maaf, ya. Lain kali tak akan kuceritakan lagi tentang badut, meskipun aku terpingkal. Tidak akan. Karena aku tahu bagaimana ketakutan itu sangat menyiksa. Sama seperti aku, waktu mendengar tentang cerita hantu. Bahkan kalau aku mendengarnya, aku seperti mau berubah jadi batu yang tak bertelinga. Aku tak mau mendengar apa-apa. Apalagi melihatnya. Bisa-bisa mati berdiri aku.

Pasar malam? Ada. Di musim liburan sekolah biasanya akan ada beberapa lapangan yang berubah jadi ramai. Ada bianglala, komidi putar, rumah hantu yang pasti takkan pernah aku kunjungi, tong setan, dan masih banyak lagi. Kau juga bisa berbelanja di sana nanti. Tapi kalau sekarang belum ada. Begini saja, kalau nanti pasar malam itu ada, aku janji akan mengajakmu ke sana. Kupastikan tidak akan ada badut yang akan menakutimu. Kau bisa pegang kata-kataku, karena laki-laki harus sanggup menepati janjinya.

Kau memang harus keluar dari sifat pemalumu. Jadilah bulan yang bersinar tak hanya dalam gelap malam, tapi juga di antara sinar lainnya. Karena kau akan tahu betapa indah dirimu di antara yang lain.

Sesungguhnya, dengan suratmu pun aku menyadari akan satu hal tentang diriku sendiri. Aku jadi sedikit membuka diri. Sebelumnya, mana pernah aku mau bercerita kepada orang lain. Apalagi orang asing. Aku terlalu lama dan banyak menyimpan rasaku sendiri.

Terima kasih, Sasi, kau membuka satu halaman bukuku, dan aku jadi anak kecil yang kembali berani mendongeng. Boleh buatkan aku cup cake dengan lambang Chelsea saja. Beberapa waktu lalu mereka mengalahkan Manchester City.

Ingatkan aku tentang pasar malam, ya..

Salam,
Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Jalan-Jalan

Hai, kak Chicko a.k.a @gembrit

Seturut dengan tema #30HariMenulisSuratCinta hari ini, aku mau mengajakmu kencan.. Ehm, atau mungkin bisa dibilang ajakan jalan-jalan. Nanti kalau aku mengajakmu kencan, aku diputusin pacarku lagi :(

Entah aku mau mengajakmu ke mana. Sepasang kakiku masih kuat jika harus berjalan, tapi jangan jauh-jauh, nanti ankleku kambuh. Kau masih kuat berjalan? Tidak, tidak. Kita tidak akan berjalan. Aku mau mengenalkanmu kepada teman yang akan mampu membawa kita jauh menuju. Bahkan kalau mau mengelilingi Ciayumajakuning.

Nah, gimana kalau kak Chicko ngajak aku keliling tempat itu. Eh, tapi jadinya bukan aku yang ngajakin jalan-jalan, ya. Kalau gitu kita jalan-jalan aja. Keliling Indonesia kalau perlu. Oh iya, sampai lupa kan, belum kukenalkan siapa yang akan memanjakan kaki-kaki kita saat jalan-jalan.

Namanya Agya, lengkapnya Toyota Agya. Dia cakep, ga gampang rewel, kecil dan lincah, irit lagi. Ga suka belanja-belanja juga, kok. Ga diapa-apain juga dia udah kece. Jadi kalah kita jalan sama dia, ga perlulah kita repot-repot ke salon. Eh.
Ya sudah segitu aja suratku. Ayo, kak, kita jalan-jalan #NaikAgya aja.

Salam,
el

(surat hari ke #18)

Senin, 17 Februari 2014

Semesta dan Cinta

Setiap senja, waktu cahaya sedang merah-merahnya, aku seperti kupu-kupu yang sanggup terbang tinggi. Atau apa sajalah yang dengan mudahnya bisa mengepakkan sayapnya. Kau biasanya tak ada di sini. Cahaya kurangkum sendiri, terkadang cakrawala tak tega melihatku dan cepat meninabobokan matahari. Dan malam jatuh bersamaan dengan kepak sayap kelelawar. Ramai sekali.

Aku jatuh cinta kepada cakrawala yang dengan caranya menenangkan aku. Padahal aku tak menuliskan apa-apa, tapi aku bisa membaca di tiap bentangnya. Aku tersenyum. Apa aku bermimpi?

Mencintaimu barangkali cuma kebahagiaan yang selewat. Dari ingin ke dingin. Kau begitu angin. Melewatiku terus menerus hingga jaketku bergetar karena menggigil.

Kepada semesta yang begitu mengenal aku dan berada tepat di depanku, dan juga menyaksikan bagaimana aku mencintai, kumohon tetaplah di sini dan tak meninggalkan. Akan kupecahkan pelukan demi kalian semua. Bahkan jika lengan dan tubuhku haruslah rubuh.

Salam,
Seseorang yang sedang mencintai.

(surat hari ke #17)

Minggu, 16 Februari 2014

Kepada Putri Bulan

Sasi,

Selain anak ibuku, aku adalah anak kota ini. Tangisku pertama kali pun di dengar oleh telinga sudut kota. Sekalipun aku belum pernah melangkahkan kakiku keluar. Aku belum pernah ke mana-mana. Selain buku dan imajinasiku yang jauh membawa angan-angan.

Ah, kau jangan terlalu berteman dengan putri malu, Sasi. Lihat sifatmu yang pemalu itu. Hati-hati nanti kau terkurung sendiri di sana. Eh, maaf. Aku menilaimu. Abaikan saja jika tidak berkenan.

Kau menggodaku dengan hal-hal seperti itu. Kuanggap saja lucu seperti badut-badut ulang tahun yang dulu pernah sangat menghiburku. Aku sampai tertawa terpingkal-pingkal. Kau suka jugakah?

Putri Bulan,
Terima kasih sudah memikirkanku. Hati-hati kau nanti akan diserang penyakit paling mematikan; tak bisa melupakan aku. Hahaha....

Asal kau tahu juga, jingga matamu seringkali mengisi kosong di waktu senjaku. Aku merasa bersalah akan itu. Sungguh tak ada maksud. Seperti sela jendela yang dimasuki cahaya. Ditutuppun ia akan mencari celah lain. Aku bisa apa?

Tidak usah membahas nona matahari. Ia sudah kubahas bersama Tuhan setiap hari.

Terima kasih sudah mencatat pesananku. Aku rewel, ya. Ya begitulah. Mungkin karena dari dulu ibuku selalu menuruti kemauanku, sampai sekarang masih saja kubawa-bawa itu.

Terima kasih, Putri Bulan.

Di antara malam dan keheningan, kaulah rapat samar yang memperkenalkan aku dengan cahaya.

Salam,
Suvan Asvathama

(surat balasan untuk Sasi Kirana @_bianglala)

Menu di Kencan Kita

Ini lucu sekali. Aku berusaha mengikuti kesukaanmu dan kau juga ingin mengerti apa kesukaanku. Kita sering saling diam atau bertanya tentang masing-masing kemauman. Dan kita hanya menemukan dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk di depan kita.

Mangkuk-mangkuk berdenting bertemu dengan ayunan sendok kita. Memecah sepi yang ombak dan sampai di telingaku telingamu yang pantai. Maka tangkaplah suara itu sebagai gemuruh paling tanya; apakah kau suka dengan menunya?

Uap panas dari bakso itu mengembun di kacamataku. Sampai juga di liontin di depan dadamu. Anggap saja itu cinta yang malu-malu menyatakan menu ini tak apa.

Es jeruknya menetes acap kali kau angkat gelas dari mejamu. Kita masih diam menikmati menu, meski sesungguhnya kita tersiksa atas nama menu dan bisu basi kita.

Sudahlah, sayang, yang penting kita berkencan.

Salam,
Penentu menu, kekasihmu.

(surat hari ke #16)

Sabtu, 15 Februari 2014

Sesuatu Di dalam Kepala dan Dadaku

Ada pertanyaan-pertanyaan yang acap kali mengusik kepalaku. Bahkan nyenyak tidurku sering dibangunkan keingintahuan yang terjerembab belum bisa mengangkat dirinya untuk sampai kepadamu.

Genggam tangan, pelukan, kecup, sampai cumbuanmu di tubuhku tak melengkapkan yakin. Bahkan jika kulihat dan kurasakan semuanya teramat pas. Aku sendiri tak paham mengapa ini masih saja terjadi. Bukankah kita sudah cukup lama?

Mungkin ini hanya keraguan sebatas yakinku saja. Semoga tidak berlanjut ke mana-mana dan kita tetaplah kita. Keingintahuanku tentang perasaanmu yang sesungguhnya, mungkin rasa penasaranku karena kau juga pernah memenggenggam, memeluk, juga mencium tubuh lain sebelum aku.

Sekarang di dalam dadaku semacam ada batu besar yang jatuh dari longsor tebing. Aku ingin menyingkirkannya tapi tak mungkin aku kuat menggesernya sendiri. Aku sadar, aku bukan Samson.

Kau mencintaiku sebesar apa? Tolong jawab sejujurmu. Dan itu akan sangat membantu menyingkirkan batu besar di dadaku. Seperti palu besar yang dibawa tukang kayu memukul-mukulnya.

Salam,
Kekasihmu yang masih meragukanmu. Maaf.

(surat hari ke #15)

Kamis, 13 Februari 2014

Semoga jadi kado valentine

Selamat siang, dra..

Kau mungkin masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Pagi ini, semoga kau tak lupa mengenakan masker atau apa saja yang bisa menutup hidungmu. Abu vulkanik dari Gunung Kelud tiba lebih pagi dari matahari.

Di mana-mana ada abu. Aku sudah lima kali menyapu lantai kamarku. Padahal pintu dan jendela selalu kututup rapat. Aku juga belum mandi saat menulis surat ini. Tenanglah, badanku masih wangi.

Hari ini valentine, dra. Aku ma mengajakmu ke suatu tempat. Bukan tempat romantis, bukan pula tempat yang akan membuatmu jatuh hati. Barang kali kau malah akan takut. Tapi aku sudah janji dengan seseorang untuk mengenalkanmu padanya. Eits, seseorang itu bukan kekasih baruku, bukan selingkuhanku juga. Mana berani aku menduakanmu, dan betapa bodohnya aku kalau sampai melakukannya. Kau akan mengetahuinya nanti.

dra, ada satu rahasia yang harus kau ketahui dari masa laluku. Kau tahukan aku pernah bilang bahwa aku benci sekali dengan rokok. Dan kau selalu bertanya apa alasannya. Hari ini, di hadapanmu dan di hadapannya akan kuceritakan semua. Syaratnya, asal kau mau kuajak ke tempat di mana seseorang ini berada sekarang.

Saat kau sampai rumah, kau akan menemukan surat ini dalam pesan singkat di bbmmu. Aku akan menemuimu setelah kau setuju dengan permintaanku ini.

Terima kasih sudah mau membaca surat ini, dan segera temui aku dengan maumu.

Aku mencintaimu.
Selamat hari valentine, kesayangan..

(surat hari ke #14)

Turut dalam Duniamu

Sasi,

Biarlah semesta yang bekerja. Sedang kita tetap di sini, berdetak dan ada.

Kau menyukai pagi tampaknya. Menyaksikan putri malu menutup diri dalam tangkapanmu. Bertemu dengan cahaya matahari. Padahal kau bulan, sinar paling terang setiap malam. Sedang, aku selalu nyaman dengan malam, bahkan dini hari adalah waktu paling indah untukku menikmati hari. Asalkan tidak ada cerita hantu. --"

Oh, maaf untuk ibumu. Semoga beliau bertemu ibuku di surga. Mengenai ayahmu, seperti doamu semoga beliau baik di manapun beliau berada.

Kau sudah menemukan sesuatu mengenai kota ini. Kau sudah menemukan sesuatu sebagai duniamu. Jika duniamu adalah kedai ini, maka aku juga turut dalam duniamu, Sasi. Kuharap aku tak mengacaukan hidupmu.

Menu barumu, Sasi, sangat memanjakan lidahku. Tapi memang manisnya cukup kuat, mungkin karena yang membuatnya punya senyum yang begitu gula, atau mungkin karena aku sendiri sudah teramat manis? hahaha.. Bercanda, Sasi. Lain kali kupesan dengan catatan gulanya dikurangi. Bukannya takut gemuk, aku hanya takkan bisa tidur jika terlalu banyak gula masuk ke tubuhku. Dari kecil aku begitu.

Nona matahari? Dia berada jauh denganku sekarang. Kilometernya tak kuhitung, lagi pula aku tak begitu berminat untuk menghitungnya. Aku sudah kerepotan dengan hitungan kangenku sendiri.

jarak bukan lagi perihal hitungan, doa mengantarkannya begitu cepat begitu dekat.

Salam,
Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Untuk Besok

Teruntuk salah satu penghuni surga..

Hae..
Besok hari valentine, dan tiba-tiba aku mengingatmu. Terkadang kangen memang nakal, menggoda tetang apa yang bahkan sudah lama tak tampak ada.

Apa kabarmu di surga, Wid?

Aku merindukanmu, meski aku sudah punya kekasih lagi. Tak apa, kan? Di surga sana pasti banyak yang mau jadi kekasihmu. Aku berani bertaruh untuk itu. :D

Kau pernah mengukur jarak antara surga dan bumi? Pada saat kau pergi waktu itu, kau sempat mengukur tidak? Berapa puluh, ehm... berapa juta kilometer? Tapi sudahlah, seberapapun jauhnya surga, aku masih bisa menemuimu dalam doa, juga mimpi yang acap kali menyambangi. Pun kau masih jadi penghuni di laci meja kamarku, dalam bingkai biru.

Besok aku mau ke makammu. Akan kukenalkan kau dengan kekasihku kini. Semoga kau masih suka mawar putih, kubawakan delapan tangkai besok. "Delapan saja, karena itu angka kesukaanku", katamu yang masih jelas ngiangnya di kepalaku, waktu dulu kutanya mau seberapa banyak bunga di valentinemu. Beberapa tahun lalu. Aku masih ingat, kan. Mau kubawakan cokelat juga? Tapi lebih baik cokelat itu kuberikan pada adikmu. Sudah besar dia sekarang, cantik lagi. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan ibu dan bapakmu. Terakhir kali aku bertemu mereka di minimarket dekat SMPku dulu. Katanya membeli bekal untuk mengantar adik bungsumu ke sekolah asramanya. Mereka semakin menua, tapi raut bahagia terpancar di wajah mereka.

Jam istirahat makan siangku hampir habis, Wid. Makanan pesananku masih utuh. Baiknya kusudahi surat ini dan aku menghabiskan makananku. Aku tak mau telat ke kantor, bosku lumayan galak. Daripada aku kena marah, mending kusudahi aku menulis. Lagi pula kita masih bisa bertemu di mimpi atau doa-doa. Pun besok di pusaramu kita akan bersua. Kuharap kau hadir di sana, meski sebagai angin atau dedaunan gugur saja. Aku tahu kau akan ada.

Kita rayakan valentine bersama. Kalau-kalau di surga tak ada.

Salam,
Seseorang yang pernah terpaksa menjadi mantan kekasihmu.

(surat ke #13)

Rabu, 12 Februari 2014

Pantai dan Jejak Kakimu

Siang yang hening..

Surat ini, sayang, kukirim lewat laut yang sepi. Mungkin saja ombak sedang tertidur. Musim sedang langut, angin larut di antara air yang surut. Apakah nanti surat ini akan dibaca, atau sekadar sebagai pengisi samudera.

Sayang, jika kau ingat tentang pagi dan keterjagaanku di pantai. Tentang getir yang sampai saat ini masih saja satir. Aku tak juga berani membayangkan pagiku tanpamu. Ketika waktu itu, tiba-tiba sebutir pasir masuk ke mataku, dan aku menangis. Pasir sialan itu masih saja turut jika aku membayangkan kepergiaanmu. Padahal kacamata sudah kukenakan setiap waktu.

Kakimu mencipta jejak. Menyapu sepi seluruh tepi. Laut menyibak ombak, persis saat kau menyibak rambut hitammu. Betapa cantiknya. Betapa aku tak lagi-lagi sanggup untuk membayangkan pergimu.

Apakah aku harus menambal seluruh pantai? Membangun benteng demi sisa jejakmu dan menjaga semua yang sudah ada. Aku mencintai pantai ketika kau pertama kali mengecupkan bibirmu di dadaku. Dan sebuah muara menjadi dua di ujung mataku.

Demikianlah, sayang, pantai dan jejak kakimu adalah cermin yang memantulkan surga. Jika pergimu ada, maka pecah dan lukalah bahagia.

Tetaplah bersamaku, sampai kita dan laut kehabisan waktu.

Salam,
kekasih yang takut kehilangan kamu.

( surat hari ke #12 )

Selasa, 11 Februari 2014

Putri Malu

Hai, Putri Bulan..

Senang rasanya, ternyata kita mempunyai makna dalam semesta. Aku dilahirkan di antara cahaya matahari, dan kau lahir di antara syahdu bulan purnama. Meski kenyataannya, bulan dan matahari tak pernah bertemu pada satu waktu di sebuah hari. Mungkin semesta sudah menempatkan kita pada masing-masing ruangnya. Atau karena semesta ingin mempertemukan mereka sebagai kita, kini?

Mari kita tunggu saja. Apa yang ingin semesta jadikan kepada kita.

Kau baru rupanya di sini. Semoga kau betah. Kota ini memang kecil, tapi jika kau mampu menemukan sesuatu yang membahagiakanmu, kau akan mendapatkan dunia bahkan lebih besar dari apa yang pernah kau duga. Oh ya, ayahmu tinggal di sini juga?

Kau suka ke taman putri malu itu? Aku menyebutnya demikian, sebab putri malu jadi penghuni paling banyak di sana. Aku juga kadang menikmati udaranya, sambil duduk di tepi. Mencari sesuatu yang mungkin saja bisa kutulis.

Dulu kukira kau lahir di taman itu. Di taman berpenghuni putri malu. Sifatmu yang malu-malu itu sering menyangkakannya demikian. Apalagi kalau aku melihat jingga matamu, selalu ada binarnya yang tersembunyi. Entah apa yang disimpannya.

Wah, menu baru. Sepertinya di mejaku nanti akan ada penghuni baru. Selain kopi dan pisang goreng madu yang telah sekian lama ini tak pernah absen di mejaku. Terima kasih, Sasi, aku pesan satu.

Salam,
Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Bersabarlah, Dik

Selamat siang, adik kecil..

Kau pasti sedang bosan menunggu. Kau pasti juga bertanya-tanya mengapa kau dan ibumu harus menunggu. Tenanglah, dik, ibumu sedang mengantre. Mungkin dia sedang menabung, itu pasti untukmu. Atau jika tidak, ibumu akan mengambil uang. Pasti juga itu untukmu.

Kau tak perlu menangis lagi. Antrean semakin berkurang. Aku juga masih menunggu giliran untuk bisa bertemu teller, sama seperti ibumu.

Jangan marah kepada ibumu karena harus menyertakanmu menunggu. Malah seharusnya kau berterimakasih kepada ibumu. Dik, kau telah diajari untuk tahu bersabar. Kau juga diajari untuk mau menghargai hak orang lain. Selain itu, ibumu telah mengajarimu betapa waktu seberharga dengan keberadaanmu. Kau akan paham nanti.

Dik, orang-orang yang kau pandangi itu jenuh dan tak membawamu ke mana-mana. Kau sibukkan saja dirimu dengan permen dan roti yang dibawa ibumu. Bersabarlah, karena waktu akan tiba untukmu.

Salam,
Yang sama-sama menunggu.

(surat hari ke #11 "orang asing dalam foto)

Minggu, 09 Februari 2014

Menjawab Pertanyaanmu

Puji Tuhan kau telah sembuh, Sasi.
Semesta mungkin masih ingin bemain dengan temu kita.

Tak apa. Kata ibuku, aku memang penakut bahkan sejak lahir. Aku lahir siang hari di mana matahari begitu murah memberi cahaya kepada bumi. Dan karena itu pula ibuku memberiku nama matahari; Suvan.

Kalau kukira, mungkin karena letaknya di sudut, bersebelahan dengan mejaku, oleh sebabnya jarang pengunjung memilih meja itu. Tidak seperti aku yang akrab dan mengakrabi sepi ini.

Kau bukan orang pertama yang menanyakan perihal luka di pelipis kiriku ini. Dan seperti biasa, aku akan menceritakannya. Kejadiaannya sekitar 15 tahun yang lalu. Kalau tidak salah aku masih kelas 3 SD. Waktu itu aku sedang belajar di dalam kamar, sampai aku mendengar suara ayahku yang meninggi dan isak tangis ibuku yang tertahan mungkin ibu tak mau aku mendengar ia menangis. Lalu aku keluar dan melihat tangan ayahku melayang. Aku bukan baja hitam atau power rangers, tapi aku coba untuk melindungi ibu dari tangan ayahku. Aku yang akhirnya terkena pukulan ayah. Tubuhku yang tak lebih dari 30kg waktu itu dengan mudahnya terpelanting dan pelipisku berciuman dengan sudut meja. Lukanya menganga, tapi aku tak pernah mau mengobatinya. Sejak itu, ayahku pergi dan tak pernah kembali. Aku juga tak mengharapkannya lagi.

Aku terluka, tapi ibu jauh lebih terluka. Mungkin hatinya bahkan sudah hancur. Dan kami tak pernah membicarakannya lagi sampai detik di mana ibu akhirnya menemui bahagianya.

Luka ini, jadi tanda sok jagoannya aku. Jadi tanda bahwa luka bisa terus hidup meski waktu telah menguburnya dalam dan lama.

Begitulah, Sasi..

Oh ya, jangan kasihani aku. Dari tubuh ibuku yang matahari, aku telah memperoleh kekuatan yang lebih hebat dari cahaya.

Bahkan matahari di dalam tubuhku nyaris tak bercahaya, saat ibu jantungku dipanah luka.

Jaga kesehatanmu. Kedai ini hanya akan bernama Kayu, jika manisnya tak terjaga dari senyummu itu di sini.

Salam,
Suvan Asvathama.

(Surat balasan untuk Sasi Kirana @_bianglala)

Matahari di tubuhmu

Selamat siang, ma..

Masak apa hari ini? Aku sedang menunggu nasi goreng pesananku. Mungkin kalau aku di rumah, aku bisa pesan apa saja kepadamu. Sebab tak pernah sekalipun tanganmu meracik bumbu yang salah. Tapi di luar sini, aku tak bisa begitu saja percaya dengan rasa masakannya. Makanya, nasi goreng jadi jurus utama dan terakhir yang jadi andalanku untuk memesan menu makanan.

Tenang, ma, aku memesan es jeruk untuk minumanku. Bukan kopi, karena tadi pagi setelah bangun tidur aku sudah menyeduhnya. "Secangkir kopi untuk satu hari", pesanmu. Aku tidak memesan es teh, karena es teh akan melambungkan kangen ini. Kangen yang masih harus menunggu waktu untuk bertemu. Es teh buatanmu kan nomor satu.

Siang ini udara masih terasa dingin. Mungkin karena tadi pagi kabut turun dari gunung, mencari hangat yang seperti senyumanmu, ma. Ah, kan kangenku jadi nambah kalau gini.

Entah, mungkin Tuhan menciptamu dulu bersamaan dengan ulang tahun matahari. Setiap mengingatmu, hangat yang entah dari mana datang tiba-tiba. Kau seperti matahari di pagi setiap aku bangun tidur. Karena kau tepat di sampingku dan membangunkan aku bersamaan dengan cahaya matahari dari jendela. Kadang aku berpikir, bahwa matahari berada di tubuhmu. Kau yang membawa hangat ke dalam aku dan seluruh isi rumah. Dan semua yang di dalam sana teramat betah.

Terima kasih, ma, untuk apa yang tak pernah akan mampu kubalas. Semoga apa  yang telah kulakukan untukmu selama ini, mampu menjaga hangat matahari di dalam tubuhmu. Oh ya, cucunya nanti dulu ya. Aku mencintaimu.

Salam,
Anak sulungmu.

(Surat hari ke #10)

Sabtu, 08 Februari 2014

Lagu sepanjang perjalanan

Ada banyak lagu yang belum kita nyanyikan. Begitu banyak judul yang masih saja kita simpan sepanjang perjalanan. Terkadang aku atau kamu harus kembali mengetuk ingatan, sekadar menemukan lagu-lagu yang dulu pernah singgah dalam waktu. Entah siapa pencipta dan pemilik lagu itu. Hingga kutemukan aku dalm satu waktu bersama masa lalu, atau kamu yang diam menyembunyikan ingatanmu yang bisa kutebak belum ada aku.

Kita selalu menyebutkan beberapa judul lagu. Menyebut satu persatu lalu menyanyikannya, entah hapal dari awal atau sekadar berawal dari mana ingatan kita sanggup mengeja satu demi satu liriknya. Bahkan kita pernah hanya menggumamkan nadanya saja. Kemudian tertawa karena kepala kita tak mampu mengingat sekatapun liriknya.

Pada kepala yang coba mengingat, dan pada  bibir yang coba menerka, kita masing-masing bersimpuh kepada waktu. Ada yang bisa melaju, ada pula yang tiba-tiba berhenti di situ.

Pada sebuah lagu yang mampu kita ingat sepanjang perjalanan, kita akan terus menyanyikannya. Siapa peduli dengan suara parau atau nada yang tak sampai. Kita seperti anak kecil yang sedang gembira menyanyikan lagu bintang kecil. Menyanyikan sampai angkasa, menghiasi hari yang terkadang jemu kita lalui. Dan kita semakin kencang menyanyikannya.

Aku menyaksikan kita begitu hidup. Dalam lagu yang entah ada sangkut pautnya atau tidak dengan hidup kita sebelumnya, kitalah bahagia yang teramat bebas bersuara.

Iya sayang, pada lagu sepanjang perjalanan, aku sering mendapati kita begitu hidup bebas di sana. Mari terus bernyanyi tanpa peduli apa di balik cerita lagu itu. Pun tentang masa lalu yang pernah ikut dalam isi lirik-liriknya. Sebab kini, kitalah lagu yang bersenandung di nada waktu.

Salam,
Kekasihmu dan lagu dengan parau suaraku.

(Surat hari ke #9)

Jumat, 07 Februari 2014

sedikit mengenai aku

Selamat siang, Sasi..

Hari ini aku absen dari sudut menepikan sepi. Ada yang harus kuselesaikan segera. Oleh karenanya, aku hanya mampir sejenak di kedaimu. Sekadar menitipkan surat balasan ini. Tapi aku tetap memesan pisang goreng  madu untuk kubawa pulang.

Semoga sebait puisi kemarin membantu tubuhmu sedikit hangat, selain setangkup roti madu yang kausajikan untuk dirimu sendiri. Semoga kau juga lekas pulih dan kembali.

Tak apa. Sudah tak ada kesedihan jika tentang ibuku. Lagipula, malaikat seperti dia memang harus dikenang sebagai kebahagiaan, bukan? Pun juga tentang semua ibu di ingatan anaknya.

Meja yang hampir pasti sepi itu? Aku bahkan tak terlalu menggubris jika di sana hanya ada tiga kursi saja. Maaf, Sasi, kebiasaan burukku adalah tak terlalu peka dengan sekitar. Bahkan ibuku dulu menganggapku sebagai orang yang paling sibuk dengan dunianya sendiri. Bukan. Aku bukannya egois, hanya karena aku tak suka mengganggu orang lain biar orang lain juga tak akan menggangguku. Mungkin ini sikap yang kelewatan jadi sifat. Tapi karena kau telah bercerita mengenai meja sebelah kiriku, mulai saat ini akan kuperhatikan dengan baik. Atau setidaknya aku akan menghormati entah apa yang ada di sana. Terima kasih untuk info meja sebelahnya. Meskipun aku jadi agak takut sekarang. Aku memang sedikit penakut.. hehehehe

Aku akan terus menulis, sebab di sana, apa saja yang telah tertera takkan hilang begitu saja. Kecuali kau sendiri yang menghapusnya.

Sebab puisi, adalah rumah bagi sepi. Hangat dalam dada ini, disimpan rapi oleh sunyi.

Salam,
Suvan Asvathama

(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

dari dalam selimut

Selamat pagi, kesayangan..

Langit begitu mendung pagi ini. Aku yang masih diurapi kantuk, masih juga meringkuk di bawah selimut. Sambil memeriksa ponselku untuk tahu apa kau sudah mengirim pesan untukku . Ternyata sama saja. Layar ponselku kosong dan mendung seperti langit di luar sana. Mungkin aku harus tidur lagi. Mungkin ini juga aku masih bermimpi.

Lalu aku mengambil kertas dan pensil yang semalam kujadikan teman setelah aku pulang mengantarmu. Menulis surat ini, sambil menunggu datangnya matahari. Menunggu pesanmu di ponselku yang pertama kali, hari ini.

Seingatku, tak ada mimpi mampir dalam tidurku tadi. Aku sangat lelap. Apa karena kau memelukku sebelumnya? Atau karena ciumanmu di tubuhku? Yang pasti karenamu seluruh tubuhku mendapat ketenangan yang begitu dalam. Makanya malam tak perlu bersusah-susah mengirimmu kemimpiku. Dan pagi ini terasa segar sekali, seperti aku habis meneguk es jeruk di siang hari, padahal ini mendung.

Pukul 07.22 sekarang. Tak biasanya kau belum mengirim kabar. Apa kau juga masih berselimut di atas kasurmu? Senyaman itukah juga peluk dan ciumanku semalam untukmu?

Sayang, bangunlah segera. Singkap selimutmu dan kabari aku mengenai pagimu. Sebentar lagi, akan kukirim surat ini beserta matahari. Supaya dingin tak lebih menarikmu ke dalam selimut.

Salam,
Kekasihmu dari dalam selimut.

(surat hari ke #8)

Kamis, 06 Februari 2014

Kangen

Kurasa, aku terlalu banyak minum kopi. Entah sudah lima atau enam cangkir kopi yang masuk ke tubuhku. Lalu malam tampak begitu pagi. Tidur jadi pilihan yang diabaikan. Tatapku berlari sampai kantuk tak mampu menangkap. Mungkin apa yang dicari mataku belum ketemu. Sampai-sampai ia harus lembur seperti ini.

Ini malam kesekian kali, saat kantuk lebih dulu lelah sebelum mampu sampai di ujung mataku. Mungkin ia mencari kamu. Berharap satu kedipan saja kamu ada di dalamnya. Tapi tak ada. Kopi boleh kutambah lagi?

Waktu beranjak, meninggalkan masa lalu. Kopi jadi candu, atau sesungguhnya kaulah itu. Malam tak juga pagi. Kulihat keluar jendela, bintang meredam sepi. Ramai sekali di langit. Andai saja ada yang mau menendangku ke sana, atau ke tempatmu sekalian. Aku tak perlu susah-susah mencarimu, dan menambah kopi lagi.

Jika kangen itu mudah, mungkin aku tak perlu lagi kopi seperti ini. Di dalam cangkir ini seperti banyak sekali pertanyaan yang harus segera diberi jawaban. Apa pertanyaan-pertanyaan ini tak bisa larut bersama air panas yang menjerangnya tadi?

Kamu bisa membantuku menjawab? Sebelum pertanyaan yang sama datang kembali saat pagi, saat aku tak bisa tidur lagi.

Salam,
Kangen yang bandel

(surat hari ke #7)

Sebuah cerita dan sebuah puisi

Rupanya kau belum sembuh. Pantas nyala dapur sedikit remang, mata jingga rembulan itu tak di sana. Istirahatlah sampai kau sembuh benar dan kedai ini mendapat kembali satu cahayanya.
Tenanglah, pisang goreng madu selalu tersaji di mejaku. Anto dan yang lain melayaniku dengan sangat baik. Bahkan mereka selalu mampu menyebut pesananku sebelum aku mengucap satu suku kata saja.

Ah, kau tak suka teh rupanya. Pasangkan saja madu dengan air hangat atau sepotong roti kalau begitu.

Ibuku? Ia ada di rumah menjagaku. Menjaga dengan kenangan yang tinggal di rumah ingatanku. Ibuku telah berada di surga, Sasi. Tiga tahun lalu, saat aku merayakan hari lahirku yang ke dua puluh. Ia pergi dengan senyumnya yang selalu menjagaku hangat. Tapi aku bahagia, setidaknya aku tahu ia ada di surga. Lebih nyaman daripada harus tinggal bersamaku yang tak jelas seperti ini. Sepertinya aku terlalu banyak bercerita, dan tak biasanya aku mau bercerita. Nanti kusampaikan salammu.

Oh ya, aku menggunakan sapa aku-kamu. Bukan 'saya' seperti sebelumnya. Kurasa hal itu cukup kaku untuk perbincangan seumur kita. Tak apa, kan? Aku tak bermaksud apa-apa.

Ehm.. Sepasang kekasih itu? Aku tak hapal benar, tapi aku tahu mengenai si puan. Hanya saja aku terlalu keras kepala untuk mau mencampuri urusan orang lain. Aku hanya sebentar menyaksikan mereka berdebat mengenai entah apa, waktu suara si puan lebih tinggi dari nada suara balon yang meletus karena tertusuk jarum. Kepalaku sendiri rasanya sudah penuh isinya. Untuk apa memedulikan yang akhirnya malah tambah memenuhi isi kepalaku? Si puan ini mungkin juga seperti aku, yang memilih sibuk sendiri dengan sepinya. Beberapa kali kudapati dia lindap dalam sofa depan. Mungkin kekasihnya baru sebentar memiliki waktu untuk mengenal.

Ada sebait puisi hari ini untukmu. Sebagai hadiah, semoga kau lekas pulih dari sakitmu. Semoga berkenan. :)

Kau di sini, beserta muram langit ditiupi angin. Dan musim sedang langut, kau dalam puisi ini selalu bertaut.

Salam,

Suvan Asvathama

(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Kepada perempuan yang akan dipanggil ibu

Mungkin akan kusimpan dulu surat ini. Menaruhnya di tempat rahasia, yang hanya diketahui aku dan beberapa burung gereja, sebab mereka sering mengintip dari jendela. Namun tenanglah, mereka akan menyimpan rahasia sampai kau sendiri yang membuka dan membacanya.

Ini adalah harapan-harapan yang akan kuusahakan bisa terjadi kepadamu. Aku akan ada di sisimu.
Saat nanti kau dipanggil ibu. Semoga kau tak menyusahkan anak-anakmu untuk bernapas. Jangan merokok, sayang. Ini juga untuk kesehatanmu. Semoga kau bisa merawat anak-anak sampai renta usia meringkihkan tubuhmu.

Semoga kau tak malas membaca apa saja, supaya nanti anak-anak tak harus berkutat hanya pada telpon pintar dan komputernya saja. Atau kau harus menyewa guru les yang mahal sekali harganya. Jika kau pandai, mereka akan memilih belajar bersamamu, sambil memeluk dan menciumi dadamu.

Semoga kau tetap memegang adatmu, sehingga di manapun nanti kau membesarkan anak-anak, mereka takkan lupa dari mana mereka berasal dan paham bahwa sungguh mereka adalah manusia yang kaya akan budaya.

Ajari pula anak-anak untuk menabung. Supaya mereka mempunyai simpanan untuk masa depannya. Asal bukan jadi 'simpanan'.

Aku tidak tahu harus menasehatimu apalagi. Sejak aku membayangkan aku punya anak, aku jadi ingat kau. Kau akan lebih banyak bersama mereka di rumah. Bahkan separuh hidupnya atau lebih, akan mereka habiskan di pelukanmu. Simpanlah segala perihal kebaikan. Ketika nanti datang badai, kau punya pilar untuk pegangan. Dan rumah takkan rubuh.

Ini hanya harapan-harapanku. Sampai nanti anak-anak kau miliki, dan cangkir usia menuang senjanya sendiri, kau punya rumah seluas cakrawala dan anak-anak adalah cahaya yang terus melindungimu. Sampai tiada.

Salam,
Harapan

(Surat ke #6)

Selasa, 04 Februari 2014

waktu akan membawa kita

Hai,
Terima kasih untuk berkenan membaca surat ini. Semoga kau tak merasakan gemetarnya tanganku saat menulisnya. Seperti detak jantung kekasih yang akan menemui kekasihnya untuk pertama kali. Darah di dalam tubuhku seperti di dorong naik turun dari kepala hingga telapak kakiku.

Apakah jatuh cinta sekuat ini? Dan aku merasakannya terhadapmu berulangkali. Mungkin kau tak pernah tahu, karena jarak ada di antara kita sedemikian jauh, tapi tak apa karena aku yakin kau juga.

Entahlah, aku mencintaimu dengan atau tanpamu di sini. Kita menyepakati jarak, menaruh percaya kepada waktu  yang terus berdetak. Oh, aku menuliskan ini dengan detak jantung seorang penonton sepak bola yang menyaksikan tim kesayangannya melakukan adu penalti. Antara yakin akan kemenangan dan sorak sorai setelahnya, dan kecemasan akan kekalahan yang harus mampu diterimanya.

Setibanya aku menjejak tanah kotamu, nanti, aku akan rela membiarkan tubuhku dipenuhi gemetar asal tubuhmu rela untuk kupeluki. Segera aku akan menuju kotamu. Mendamaikan kangen yang sebelumnya seperti dimusuhi waktu; tak ada ijin untuk menemuimu.

Terima kasih kau telah bersedia menunggu.
Segera aku akan menghapus jarak. Supaya kau dan aku tak pernah jauh, bahkan jika dibandingkan dengan spasi dalam tulisan ini.

Salam,
Aku dalam jarak.


(Surat ke #5)

semacam kehilangan

Selamat siang, Rahne Putri..

Sekali lagi aku memberanikan diri untuk menulis surat (cinta) dalam #30HariMenulisSuratCinta untukmu, meskipun aku bukan Zarry yang kata-katanya bisa mmbuat jatuh hati.

Rahne, aku tak menghitung benar berapa lama kata-katamu tak lagi tampak menari-nari di linimasa, tapi kurasa sudah cukup lama tak ada. Mungkin kau sibuk dengan pekerjaan dan hidupmu, yang pasti membahagiakanmu, bukan? Hanya saja ada rasa yang ingin tahu; mengapa kau tak selalu ada, mengapa kata-katamu tak lagi meramaikan linimasa. Tapi aku selalu terhibur dengan tebak-tebakanmu yang kadang harus membuatku sebentar diam untuk mencernanya menjadi tawa. Maaf. Tapi aku selalu berhasil tertawa.

Baiklah, Rahne, aku tidak tahu harus mengutarakan apalagi, sedang angin di sekitarku seperti cepat mengirimku ke kutub selatan. Aku kedinginan karena tak juga menemukan tulisanmu memeluk hangat mataku yang membaca.

Semoga kebahagiaan terus menjagamu, seperti kau yang menjaga kata-kata dalam buku bersampul merah jambu yang tak pernah bosan kubaca.

Terima kasih, Rahne. Kata-katamu seringkali menemani kesendirianku, seperti daun menaungi embun dan membiarkannya berlindung hingga hari terus bersambung.


Salam,
Rahnesia

(Surat ke #4 untuk selebtwit)

Senin, 03 Februari 2014

menu dari sudut kedaimu

Baiklah, akan saya panggil kau Sasi saja, sesuai permintaanmu. Saya hanya tidak ingin lancang terhadap orang yang belum saya kenal sebelumnya. Begitu pula, sebaiknya kau memanggil saya dengan Suvan, saja. Tanpa embel-embel tuan. Saya rasa kita tak terlalu berbeda usia.

Anto memberitahu saya perihal ketiadaanmu di kedai waktu itu. Cuaca memang sedang tak bersahabat. Hujan bertandang di atas apa dan siapa saja, bahkan tanpa tanda apa-apa. Udara dingin jadi sering menyergap tubuh. Mungkin kau harus mencoba teh madu yang biasa ibu saya seduhkan, saat flu sedang mendera saya. Cukup untuk membuat tubuhmu hangat seharian. Lekas sembuh, Sasi.

Mengenai pertanyaanmu mengenai siapa saya, saya bukanlah siapa-siapa. Jika saja kau seperti mengenal saya, mungkin kau menemukan saya sebagai seseorang yang pernah mengisi hidupmu sebelumnya. Entahlah. Saya hanya pengunjung di kedaimu yang nyaman untuk melemparkan kata-kata dan menangkapnya pada tiap goresan tinta. Yang pada akhirnya mereka akan saya sembunyikan di satu sisi cahaya matahari yang tak mampu ditangkap bulan atau benda langit lainnya.

Saya akan terus menjadi pengunjung di kedaimu. Kopi-kopi yang saya pesan di sana rasanya tak ingin saya ceraikan dari lidah saya. Juga pisang goreng madu yang sering kali menemani saya melewati senja.

Kopi istimewa? Rasa-rasanya saya harus mencobanya. Nanti saat saya berkunjung lagi, saya pesan satu untuk mengisi ruang di meja sudut menepikan sepi, juga untuk turut mencabuti kata-kata yang tertanam begitu dalam di kepala ini.

Salam,
Suvan Asvathama


(Membalas surat Sasi @_bianglala)

Minggu, 02 Februari 2014

mantan kekasih

Sejenak aku diam sambil memandangi layar ponsel yang berisi pesan singkat atas namamu. Apa yang kau mimpikan semalam, sampai-sampai siang ini -- setelah lebih dari 365 hari -- keberadaanmu bertandang di genggamanku lagi. Bukan kopi, petrichor, atau matahari, tapi dari sana kau mampu menguarkan bau khas yang begitu mudah kukenali. Kangen? Mungkin!

Kau tiba-tiba datang, seperti hujan yang akhirnya dimaki-maki ibuku karena jemurannya basah lagi. Tapi aku tidak akan memaki-makimu, meskipun nanti jika kekasihku tahu aku akan sedikit berselisih paham mengenai ini. Ya, aku sudah punya kekasih lagi. Dia menggantikanmu dari tempat kangen yang pernah kau tempati dulu. Tenang, aku takkan membicarakan kekasihku kepadamu. Kau pasti cemburu. Ya, kan?
Hahahaha..

Asal kau tahu, kisah kita dulu bukanlah kisah cinta yang sempurna. Bahkan jalan tol pun bisa macet, kan? Aku juga tidak akan memperdebatkan lagi tentang siapa yang salah, sampai akhirnya kita memilih berpisah di persimpangan. Ada baiknya kita saling memahami bahwa kita tak ditakdirkan bersama.

Selamat melanjutkan hidup tanpa aku. Tertawalah karena kau begitu menyenangkan. Aku akan mendoakan bahagiamu, supaya kau juga mendoakan kebahagiaanku. Salam untuk ibumu, dia wanita tangguh yang masakannya akan selalu aku rindukan. Jadilah seperti dia, supaya kekasihmu nanti tak mau melepasmu seperti aku, seharusnya.

Sudah, ya, aku mau menyeduh kopi untuk menghilangkan aroma khasmu yang sedari tadi memenuhi kamar ingatanku.
Terima kasih karena pernah menjadi pernahku.

Salam,
Mantan kekasihmu.



( surat hari ke #3 )

Sabtu, 01 Februari 2014

hujan musim ini

Hujan, sayang. Teras atas banjir tempias. Aku di dalam kamar mendengarkan lagu kesukaanmu dan menulis surat ini untukmu. Rupanya hujan sedang gemar bermain musim ini. Bumi tak henti diberinya basah. Dan aku flu.

Tenang. Kau tak perlu khawatir. Ini flu yang hanya akan membuat hidungku tersumbat untuk beberapa hari saja. Tidak akan mengurangi kangen dan sayangku untukmu.

Kau tahu aku tak suka obat, maka aku menyeduh segelas madu hangat dan sesekali menghirup inhaler seperti yang kau sarankan waktu flu bertamu di tubuhku semusim hujan lalu.

Aku tak mau mengeluh tentang flu yang tak seberapa ini. Sungguh tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kangen yang jatuh bertubi-tubi di dadaku, seperti hujan menghempas deras di atap rumahku yang seng. Kau paham betapa berisiknya suara itu di kepalaku dan aku harus mampu dan mau menikmatinya sampai reda.

Sayang, semoga hujan yang sedang senang bertandang tak juga menitipkan flu di tubuh lembutmu itu. Minumlah madu dan terus mengingatku. Selagi jarak belum mampu kita tempuh, semoga musim tetap menjaga kangen untuk terus bermukim.


Salam,

Kekasihmu yang sedang flu.


( Surat hari #2 )

maaf merepotkanmu

hai,

Terima kasih, nona, sudah menemukan sebagian isi kepalaku yang tak sengaja tertinggal. Saya sempat tak yakin akan kembali, terlalu ragu untuk dapat meyakini masih ada kebaikan pada waktu sekarang ini. Dan maaf, saya salah mengira. Kau baik, nona.

Kertas-kertas yang kau baca itu hanyalah kata-kata dari dalam kepalaku yang lantang dan bebal ingin keluar. Maka di sanalah mereka akan berumah. Tinggal dan diam. 

Mengenai pergi dan ketergesaanku, sampai-sampai harus merepotkanmu seperti ini, kau tak perlu tahu. Yang pasti sudah kubayar kopi yang tak habis kuteguk, yang wanginya saja masih menguar.

Nona Sasi, nama yang tertera di akhir surat kemarin, jika tak salah mengira, mungkin kau adalah perempuan di sudut dapur yang sering kulihat tanpa sengaja saat aku memesan kopiku. Matamu yang jingga rembulan selalu menarik perhatian saya, dan bahkan mungkin pengunjung Kayu Manis lainnya.

Kedaimu, nona, seperti rumah kedua bagi saya dan juga puisi-puisi yang akhirnya lahir di atas meja yang kau namai sudut menepikan sepi itu. Kau pandai memilih musik, sampai saya betah dan nyaman di kedaimu. Atau selera musik kita sama?

Saya titipkan surat ini pada salah satu pelayan. Kau tidak terlihat di sudut dapur hari ini. Terima kasih, nona. Mungkin lain kali akan saya tuliskan sebait puisi untuk nona.

Salam,

Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)