Jumat, 28 Februari 2014

Musim Kamu

Februari selesai. Maret menapakkan kakinya. Dengan semua harapan yang ada, aku masih berjalan. Di secarik surat ini, kau membawaku ke padang rumput yang hijaunya menari bersama angin juga cahaya matahari, dari matamu yang pagi.

Aku menulis surat ini, sayang, ingin mengingatkanmu tentang musim. Mengenai waktu, di mana daun akan gugur dan tanah di kepalamu menjadi subur. Barangkali kau lupa, ada satu musim di hidupmu tak berganti.

Bulan baru sudah di depan matamu. Jika kau tak merasakan apa-apa, angin yang senantiasa menemaniku akan menyadarkan ketidakacuhanmu. Mungkin hal ini pula yang akan mengenalkanmu pada musim tak berganti itu. Kunamai saja itu musim kamu, karena kau yang terus dipetiki oleh kangen di dadaku, juga yang akan dipanen oleh kepalaku sebagai ranum ingatan.

Sayang, musim kamu tak hanya di kepala dan dada. Di tanganku kini, telah tergenggam beberapa bulir hujan yang jatuh dari keranjang angan di langit sana. Ketabahanku, adalah setumpuk mimpi yang tajamnya melebihi pucuk es dari hujan yang membeku di kutub sana. Oh, bagaimana rasanya itu? Aku tak tahu, karena aku mencintaimu.

Salam,
Pengarung musim demi musim.



(Surat ke-29)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar