Sabtu, 08 Februari 2014

Lagu sepanjang perjalanan

Ada banyak lagu yang belum kita nyanyikan. Begitu banyak judul yang masih saja kita simpan sepanjang perjalanan. Terkadang aku atau kamu harus kembali mengetuk ingatan, sekadar menemukan lagu-lagu yang dulu pernah singgah dalam waktu. Entah siapa pencipta dan pemilik lagu itu. Hingga kutemukan aku dalm satu waktu bersama masa lalu, atau kamu yang diam menyembunyikan ingatanmu yang bisa kutebak belum ada aku.

Kita selalu menyebutkan beberapa judul lagu. Menyebut satu persatu lalu menyanyikannya, entah hapal dari awal atau sekadar berawal dari mana ingatan kita sanggup mengeja satu demi satu liriknya. Bahkan kita pernah hanya menggumamkan nadanya saja. Kemudian tertawa karena kepala kita tak mampu mengingat sekatapun liriknya.

Pada kepala yang coba mengingat, dan pada  bibir yang coba menerka, kita masing-masing bersimpuh kepada waktu. Ada yang bisa melaju, ada pula yang tiba-tiba berhenti di situ.

Pada sebuah lagu yang mampu kita ingat sepanjang perjalanan, kita akan terus menyanyikannya. Siapa peduli dengan suara parau atau nada yang tak sampai. Kita seperti anak kecil yang sedang gembira menyanyikan lagu bintang kecil. Menyanyikan sampai angkasa, menghiasi hari yang terkadang jemu kita lalui. Dan kita semakin kencang menyanyikannya.

Aku menyaksikan kita begitu hidup. Dalam lagu yang entah ada sangkut pautnya atau tidak dengan hidup kita sebelumnya, kitalah bahagia yang teramat bebas bersuara.

Iya sayang, pada lagu sepanjang perjalanan, aku sering mendapati kita begitu hidup bebas di sana. Mari terus bernyanyi tanpa peduli apa di balik cerita lagu itu. Pun tentang masa lalu yang pernah ikut dalam isi lirik-liriknya. Sebab kini, kitalah lagu yang bersenandung di nada waktu.

Salam,
Kekasihmu dan lagu dengan parau suaraku.

(Surat hari ke #9)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar