Jumat, 21 Februari 2014

Jika Aku Tak Lagi Mencintaimu

Selamat siang, kesayangan..

Aku masih di kantor. Ini masih jam makan siang, dan aku sudah menyelesaikan makanku. Tinggal menunggu jam istirahat ini selesai, kira-kira tiga puluh menit lagi. Dari kubikelku yang dekat dengan jendela, aku bisa melihat jelas sekali di luar hujan sangat deras. Dan seperti biasa, suasana seperti ini membuat ingatanku mengambil kamu dengan mudahnya.

Karena kamu tempias di kepalaku yang jendela.

Aku mencintaimu. Lalu di kepalaku muncul pertanyaan; apa ini akan selamanya? Bagaimana jika aku tak lagi mencintaimu? Dan aku menulis surat ini. Kalau-kalau cinta tak lagi berpihak kedapa kita.

Jika aku tak lagi mencintaimu.
Petiklah mawar dan taruhlah dalam vas berisi air. Dan bagaimanapun nanti, biarkan ia layu dengan caranya yang ke seribu. Tanpa aku.

Jika aku tak lagi mencintaimu.
Kau akan tetap melihat pelangi selepas hujan. Mejikuhibiniu yang ajaib itu akan bersinar sampai matamu dan mendadanimu. Andaipun langit abu-abu, itu takkan jadi warna hidupmu. Tanpa aku.

Jika aku tak lagi mencintaimu.
Kenakanlah pelampung dan kau takkan tenggelam. Terkadang kesedihan lebih bah ketimbang air. Kau juga bisa berenang-renang sambil menyanyikan lagu kesukaanmu. Tanpa aku.

Hmmmm..
Cukup buatku untuk membayangkan aku tak lagi mencintaimu. Menyesakkan. Seperti masuk ke dalam ruangan yang penuh asap rokok. Aku butuh oksigen.

Bacalah surat ini. Tanpa aku. Tanpa jika aku tak lagi mencintaimu.

Salam,
Kekasihmu.

(surat ke #21)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar