Minggu, 23 Februari 2014

Mengenalmu

Bacalah surat ini saat kau tak bersamaku, karena kalau kau membacanya di depanku, aku jadi malu.

Sayang,
Coba kau hitung sudah berapa lama kita saling mengenal. Aku ingat waktu pertama kali menjabat tanganmu sambil menyebut nama. Kaupun demikian sembari menaruh senyum di ujung ucap namamu. Sejak saat itu aku jadi tahu rasanya menunggu. Menunggu kapan lagi kita bisa bertemu.

Maka waktu dijadikan Tuhan sebagai kabulan doa. Bahkan lebih dari temu, kau dan aku menyatu. Kau jadi matahari di pagi aku terbangun, jadi angin yang menyejukkan siangku, jadi kopi yang menyentuh tubuhku hangat waktu malam sepinya laknat.

Sejak itu pula aku hapal wangi parfummu yang jadi oksigenku. Teh tawar hangat yang kau pesan di tiap kau makan. Aku juga hapal senyum di bibirmu; senyum karena kau senang, senyum karena ingin menyenangkanku saja -- yang setelahnya aku harus memelukmu, senyum karena  kau kehabisan kata-kata   di tatapanku, atau senyum yang artinya kau bahagia tanpa tahu alasannya. Aku sudah bisa membedakannya sekarang. Juga tentang hal yang akan membuatmu marah sampai menangis.

Aku mengenalmu. Aku melakukannya karena aku mencintai kamu.

"Aku bisa mengenal siapa saja, tapi aku memilih kamu karena kukira Tuhan juga memilihkanmu untukku."

Salam,
Aku yang mencintaimu, karena mengenalmu.

(Surat ke #23)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar