Sabtu, 15 Februari 2014

Sesuatu Di dalam Kepala dan Dadaku

Ada pertanyaan-pertanyaan yang acap kali mengusik kepalaku. Bahkan nyenyak tidurku sering dibangunkan keingintahuan yang terjerembab belum bisa mengangkat dirinya untuk sampai kepadamu.

Genggam tangan, pelukan, kecup, sampai cumbuanmu di tubuhku tak melengkapkan yakin. Bahkan jika kulihat dan kurasakan semuanya teramat pas. Aku sendiri tak paham mengapa ini masih saja terjadi. Bukankah kita sudah cukup lama?

Mungkin ini hanya keraguan sebatas yakinku saja. Semoga tidak berlanjut ke mana-mana dan kita tetaplah kita. Keingintahuanku tentang perasaanmu yang sesungguhnya, mungkin rasa penasaranku karena kau juga pernah memenggenggam, memeluk, juga mencium tubuh lain sebelum aku.

Sekarang di dalam dadaku semacam ada batu besar yang jatuh dari longsor tebing. Aku ingin menyingkirkannya tapi tak mungkin aku kuat menggesernya sendiri. Aku sadar, aku bukan Samson.

Kau mencintaiku sebesar apa? Tolong jawab sejujurmu. Dan itu akan sangat membantu menyingkirkan batu besar di dadaku. Seperti palu besar yang dibawa tukang kayu memukul-mukulnya.

Salam,
Kekasihmu yang masih meragukanmu. Maaf.

(surat hari ke #15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar