Senin, 24 Februari 2014

Kau Tak Boleh Bersedih

Teruntukmu ,

Tak apa kau menangis. Aku takkan menertawakanmu atau menyebutmu jelek karena kau cemberut. Banyak hal memang bisa terasa berat. Sesungguhnya bila kau paham, hal itu hanyalah hebat yang menunggu berbuat. Sekencang apapun kau menangis, aku takkan menutup telinga. Aku akan tetap di sini tanpa perlu kau minta. Atau kalau kau memperkenankan, aku juga akan ikut bersedih lalu sama-sama menangisinya.

Kesedihan atau apapun namanya yang kau tangisi itu, kau tak harus menanggungnya sendiri. Kau boleh percaya boleh tidak, tapi aku sudah di sini dan siap kau bagi dengan perasaanmu. Apa saja. Jika kau tak memberikannya, aku akan mencuri kesedihanmu itu. Aku tak bermaksud apa-apa, hanya ingin memenangkanmu karena kau tak selayaknya bersedih. Kesedihan yang jatuh bersamaan dengan airmatamu itu kesia-siaan. Aku akan berusaha memenangkanmu sampai kita benar-benar bahagia.

Kalau begitu, mari simpan kesedihan di dalam kantong plastik bekas kita membeli makanan ringan sore tadi. Setelahnya kita ikat dan taruh di tempat sampah depan rumah. Besok pagi, bahkan sebelum kita terbangun tukang sampah akan mengangkut dan membawanya ke tempat yang seharusnya.

Sayang, membahagiakanmu dan mengambil kesedihanmu adalah caraku bersyukur kepada Tuhan.

Salam,
Pencuri sedihmu

(Surat ke #24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar