Selasa, 18 Februari 2014

Janji Pasar Malam

Sasi,

Ah, maafkan aku. Kau begitu takut dengan badut. Maaf, ya. Lain kali tak akan kuceritakan lagi tentang badut, meskipun aku terpingkal. Tidak akan. Karena aku tahu bagaimana ketakutan itu sangat menyiksa. Sama seperti aku, waktu mendengar tentang cerita hantu. Bahkan kalau aku mendengarnya, aku seperti mau berubah jadi batu yang tak bertelinga. Aku tak mau mendengar apa-apa. Apalagi melihatnya. Bisa-bisa mati berdiri aku.

Pasar malam? Ada. Di musim liburan sekolah biasanya akan ada beberapa lapangan yang berubah jadi ramai. Ada bianglala, komidi putar, rumah hantu yang pasti takkan pernah aku kunjungi, tong setan, dan masih banyak lagi. Kau juga bisa berbelanja di sana nanti. Tapi kalau sekarang belum ada. Begini saja, kalau nanti pasar malam itu ada, aku janji akan mengajakmu ke sana. Kupastikan tidak akan ada badut yang akan menakutimu. Kau bisa pegang kata-kataku, karena laki-laki harus sanggup menepati janjinya.

Kau memang harus keluar dari sifat pemalumu. Jadilah bulan yang bersinar tak hanya dalam gelap malam, tapi juga di antara sinar lainnya. Karena kau akan tahu betapa indah dirimu di antara yang lain.

Sesungguhnya, dengan suratmu pun aku menyadari akan satu hal tentang diriku sendiri. Aku jadi sedikit membuka diri. Sebelumnya, mana pernah aku mau bercerita kepada orang lain. Apalagi orang asing. Aku terlalu lama dan banyak menyimpan rasaku sendiri.

Terima kasih, Sasi, kau membuka satu halaman bukuku, dan aku jadi anak kecil yang kembali berani mendongeng. Boleh buatkan aku cup cake dengan lambang Chelsea saja. Beberapa waktu lalu mereka mengalahkan Manchester City.

Ingatkan aku tentang pasar malam, ya..

Salam,
Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar