Senin, 17 Februari 2014

Semesta dan Cinta

Setiap senja, waktu cahaya sedang merah-merahnya, aku seperti kupu-kupu yang sanggup terbang tinggi. Atau apa sajalah yang dengan mudahnya bisa mengepakkan sayapnya. Kau biasanya tak ada di sini. Cahaya kurangkum sendiri, terkadang cakrawala tak tega melihatku dan cepat meninabobokan matahari. Dan malam jatuh bersamaan dengan kepak sayap kelelawar. Ramai sekali.

Aku jatuh cinta kepada cakrawala yang dengan caranya menenangkan aku. Padahal aku tak menuliskan apa-apa, tapi aku bisa membaca di tiap bentangnya. Aku tersenyum. Apa aku bermimpi?

Mencintaimu barangkali cuma kebahagiaan yang selewat. Dari ingin ke dingin. Kau begitu angin. Melewatiku terus menerus hingga jaketku bergetar karena menggigil.

Kepada semesta yang begitu mengenal aku dan berada tepat di depanku, dan juga menyaksikan bagaimana aku mencintai, kumohon tetaplah di sini dan tak meninggalkan. Akan kupecahkan pelukan demi kalian semua. Bahkan jika lengan dan tubuhku haruslah rubuh.

Salam,
Seseorang yang sedang mencintai.

(surat hari ke #17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar