Kamis, 06 Februari 2014

Kepada perempuan yang akan dipanggil ibu

Mungkin akan kusimpan dulu surat ini. Menaruhnya di tempat rahasia, yang hanya diketahui aku dan beberapa burung gereja, sebab mereka sering mengintip dari jendela. Namun tenanglah, mereka akan menyimpan rahasia sampai kau sendiri yang membuka dan membacanya.

Ini adalah harapan-harapan yang akan kuusahakan bisa terjadi kepadamu. Aku akan ada di sisimu.
Saat nanti kau dipanggil ibu. Semoga kau tak menyusahkan anak-anakmu untuk bernapas. Jangan merokok, sayang. Ini juga untuk kesehatanmu. Semoga kau bisa merawat anak-anak sampai renta usia meringkihkan tubuhmu.

Semoga kau tak malas membaca apa saja, supaya nanti anak-anak tak harus berkutat hanya pada telpon pintar dan komputernya saja. Atau kau harus menyewa guru les yang mahal sekali harganya. Jika kau pandai, mereka akan memilih belajar bersamamu, sambil memeluk dan menciumi dadamu.

Semoga kau tetap memegang adatmu, sehingga di manapun nanti kau membesarkan anak-anak, mereka takkan lupa dari mana mereka berasal dan paham bahwa sungguh mereka adalah manusia yang kaya akan budaya.

Ajari pula anak-anak untuk menabung. Supaya mereka mempunyai simpanan untuk masa depannya. Asal bukan jadi 'simpanan'.

Aku tidak tahu harus menasehatimu apalagi. Sejak aku membayangkan aku punya anak, aku jadi ingat kau. Kau akan lebih banyak bersama mereka di rumah. Bahkan separuh hidupnya atau lebih, akan mereka habiskan di pelukanmu. Simpanlah segala perihal kebaikan. Ketika nanti datang badai, kau punya pilar untuk pegangan. Dan rumah takkan rubuh.

Ini hanya harapan-harapanku. Sampai nanti anak-anak kau miliki, dan cangkir usia menuang senjanya sendiri, kau punya rumah seluas cakrawala dan anak-anak adalah cahaya yang terus melindungimu. Sampai tiada.

Salam,
Harapan

(Surat ke #6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar