Sabtu, 01 Februari 2014

maaf merepotkanmu

hai,

Terima kasih, nona, sudah menemukan sebagian isi kepalaku yang tak sengaja tertinggal. Saya sempat tak yakin akan kembali, terlalu ragu untuk dapat meyakini masih ada kebaikan pada waktu sekarang ini. Dan maaf, saya salah mengira. Kau baik, nona.

Kertas-kertas yang kau baca itu hanyalah kata-kata dari dalam kepalaku yang lantang dan bebal ingin keluar. Maka di sanalah mereka akan berumah. Tinggal dan diam. 

Mengenai pergi dan ketergesaanku, sampai-sampai harus merepotkanmu seperti ini, kau tak perlu tahu. Yang pasti sudah kubayar kopi yang tak habis kuteguk, yang wanginya saja masih menguar.

Nona Sasi, nama yang tertera di akhir surat kemarin, jika tak salah mengira, mungkin kau adalah perempuan di sudut dapur yang sering kulihat tanpa sengaja saat aku memesan kopiku. Matamu yang jingga rembulan selalu menarik perhatian saya, dan bahkan mungkin pengunjung Kayu Manis lainnya.

Kedaimu, nona, seperti rumah kedua bagi saya dan juga puisi-puisi yang akhirnya lahir di atas meja yang kau namai sudut menepikan sepi itu. Kau pandai memilih musik, sampai saya betah dan nyaman di kedaimu. Atau selera musik kita sama?

Saya titipkan surat ini pada salah satu pelayan. Kau tidak terlihat di sudut dapur hari ini. Terima kasih, nona. Mungkin lain kali akan saya tuliskan sebait puisi untuk nona.

Salam,

Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar