Jumat, 28 Februari 2014

Teras Atas

Di mana lagi jika tidak di sini? Bangku panjang di teras atas. Selain tubuhku yang duduk, aku bisa meletakkan apa saja. Bahkan lelah yang kubawa seharian.

Teras atas,
Kau mungkin takkan bisa membaca, tapi kau akan selalu tahu tentang apa yang akan dituliskan penaku di kertas, yang acapkali menghabiskan senjanya di sini. Atau waktu aku hanya duduk menikmati malam dan kopi, di sinilah ketenangan mengabdikan dirinya kepadaku. Waktu aku ditikam sepi bermalam-malam panjang, di sini jugalah gigil menjadi sangat nyaman untuk berbagi peran dengan rindu.

Teras atas,
Mari sebut ini keberuntunganku menemukan tenang. Malam kadang tak punya bulan, tak disapa bintang, diguyur hujan, dibanjiri tempias, dan dibelai angin. Ada kalanya juga aku hanya membagi bisu dan menumpahkan kopi -- meluapkan apa yang pada siapapun tak bisa kuungkapkan.

Bangku panjang di teras atas. Jika kunamai ini setia, maka demikianlah tunggu benar-benar ia taruh tanpa lelah. Terima kasih sudah terus menunggu, meski tak setiap hari aku menemuimu. Malam ini, kopi lagi-lagi kubiarkan dingin di atasmu.

Salam,
Penghunimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar