Selasa, 11 Februari 2014

Putri Malu

Hai, Putri Bulan..

Senang rasanya, ternyata kita mempunyai makna dalam semesta. Aku dilahirkan di antara cahaya matahari, dan kau lahir di antara syahdu bulan purnama. Meski kenyataannya, bulan dan matahari tak pernah bertemu pada satu waktu di sebuah hari. Mungkin semesta sudah menempatkan kita pada masing-masing ruangnya. Atau karena semesta ingin mempertemukan mereka sebagai kita, kini?

Mari kita tunggu saja. Apa yang ingin semesta jadikan kepada kita.

Kau baru rupanya di sini. Semoga kau betah. Kota ini memang kecil, tapi jika kau mampu menemukan sesuatu yang membahagiakanmu, kau akan mendapatkan dunia bahkan lebih besar dari apa yang pernah kau duga. Oh ya, ayahmu tinggal di sini juga?

Kau suka ke taman putri malu itu? Aku menyebutnya demikian, sebab putri malu jadi penghuni paling banyak di sana. Aku juga kadang menikmati udaranya, sambil duduk di tepi. Mencari sesuatu yang mungkin saja bisa kutulis.

Dulu kukira kau lahir di taman itu. Di taman berpenghuni putri malu. Sifatmu yang malu-malu itu sering menyangkakannya demikian. Apalagi kalau aku melihat jingga matamu, selalu ada binarnya yang tersembunyi. Entah apa yang disimpannya.

Wah, menu baru. Sepertinya di mejaku nanti akan ada penghuni baru. Selain kopi dan pisang goreng madu yang telah sekian lama ini tak pernah absen di mejaku. Terima kasih, Sasi, aku pesan satu.

Salam,
Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar