Senin, 02 Februari 2015

Yang Masih Tetap Ditunggu

Aku tak menyesali dermaga, meski perahumu berlabuh dengan begitu lama. Butir-butir pasir basah juga tak mengapa, meski laut cuma mengirim buih dibanding ombaknya. Kau bersenang-senanglah di sana, sementara aku di sini jadi nelayan, memanen amis ikan dan asin airmata.

Tidak ada yang keliru dengan mencintaimu. Tidak mengherankan pula jika di antara badai dan pasang-surut air laut aku tetap menunggumu. Maka, sekali saja, adakah aku di dalam kepalamu yang laut itu? Yang di banyaknya punya begitu banyak pantai untuk menepi, lalu pergi lagi.

Sayang, cinta bukanlah hal yang melulu berat. Ia bahkan sanggup mengapung bertahun-tahun di samudera atau tergantung begitu lama bersama bintang-bintang di langit sana. Tetapi dari semuanya itu, aku berharap satu hal; aku tenggelam begitu dalam di palungmu dan hidup di luas langit waktumu. Kamulah satu-satunya semesta di mana aku ingin hidup dan menghidupi.

Salam,

Seorang nelayan yang dermaganya dihidupi oleh angan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar