Minggu, 15 Februari 2015

Kepada Yang Jauh

Aku masih ingat namamu. Aku hanya tak lagi sanggup memanggilmu. Menyebut nama yang tak lagi didengar siapa-siapa, bahkan kau sendiri lebih akrab dengan sayup-sayup.

Sering kali aku membayangkan, dari tempatmu yang jauh itu kau bisa mendengar aku. Parau suara yang dielak angin dan menjadi bisu karena mimpi-mimpi telah dingin. Suaraku kerap kali tak lebih keras dari bisik daun untuk memanggilmu.

Suatu hari aku mendatangimu. Menjenguk rumahmu yang harum rumput itu, dan duduk di sisi sambil merasakan basah sebab hujan seharian. Yang menyapa cuma angin dan kau tetap diam.

Aku tak pernah sanggup berbicara banyak. Satu hal karena kau tetap membisu, satu hal lain karena kau sungguh terlalu jauh. Cuma ada sebaris doa dan setabur bunga. Demikianlah karena nisan di pusaramu juga tak mengucapkan apa-apa.

Kelak, entah kapan, saat kita pada akhirnya dipertemukan lagi, semoga kamu masih mengingat aku. Selamat menjadi kekal dan berolehlah bahagia di surga sana.

Salam untuk Tuhan, Wid.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar