Jumat, 27 Februari 2015

Menulis Satu Lagi Kecemasan

Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul berapa akan terus begini.

Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri. Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai. Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.

Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau cepat sembuh dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya kau cepat sembuh, juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang menunggumu sembuh selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum manja.

Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja kalau kau sudah sembuh. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama. Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar