Senin, 23 Februari 2015

Di Akhir Jarak

Pada langit yang mulai memerah dan ombak yang semakin giat berkejaran seperti kaki-kaki kecil anak nelayan mengejar layang-layang, aku mencari kata-kata untuk menuliskanmu sebuah surat. Di sini, di tempat aku kembali mengantarmu pergi atau pulang ini, aku menyadari beberapa hal; aku tetap membiarkanmu pergi tanpa menyiapkan bekal, keramaian yang kudapati di sini sebenarnya adalah kumpulan sepi yang menyimpan gelisah dan meminjam bibir rindu untuk menyembunyikan risau, juga tentang jarak yang harus kita tempuhi lagi. Betapa akrab kita dengan ratusan kilometer peluk harus menahan diri.

Pintu pesawat telah tertutup dan aku bahkan tak bisa melihat punggungmu lagi. Langit mendung menyambutmu di atas sana. Di bawah sini, angin dingin menyergap tubuhku dan menyapu beberapa helai rambutku membuka kening  tetapi tidak lagi ada kecupan mendarat di sana.

Sebelum akhirnya aku pulang, aku menyelesaikan suratku ini supaya nanti tepat ketika kau sampai di kotamu, sudah ada sesuatu hal yang mengingatkanmu kepadaku. Surat sederhana yang isinya rindu melulu.

Aku membayangkan diriku adalah burung yang terbang dan mengetuk jendelamu di pesawat. Mendampingimu sampai tiba dengan selamat. Di bibir angin aku menyeimbangkan kepak sayap, terbang dengan susah payah dan menjadikan langit sebagai rumah. Sungguh, aku burung yang sengaja mengantarmu pulang dan membiarkan segala musim menjaga rindu untukmu.

Di akhir jarak, di mana di sanalah kamu tinggal, aku tahu senja sudah jadi petang dan bayangan membuka gulungannya menjadi lebih gelap. Waktu yang tak lagi merah juga telah memulangkan anak-anak nelayan, pun burung yang mengantarmu pulang. Semuanya kembali pada sepi dan rindu yang telah menyentuhnya sebelum malam pada akhirnya iba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar