Senin, 16 Februari 2015

Tenangku

Waktuku kembali berjalan maju, ketika detik-detik mulai mencair dari hangat pelukmu yang jatuh ke dadaku. Sungguh, tidak ada lagi yang menenangkan selain kita yang bersatu.

Aku harap kamu juga merasa, bahwa napasmu dan napasku sudah terangkai jadi melodi yang kita dengar setiap waktu. Semoga telingamu dan telingaku bukanlah pembosan.

Aku lupa mencatat sudah berapa lama dan sudah berapa jauh kita berjalan. Kamu juga tak pernah menanyakan karena kurasa kamu bukanlah penghitung handal. Tetapi kita percaya, bahwa di buku  Tuhan kita ada.

Sayang, aku tak pernah merasa setenang ini berada di sisi seseorang. Tenangku benar-benar dimanja seperti bayi dalam gendongan. Gelisah yang lahir dihapus dengan halus oleh senyummu. Kamu membawa langit untukku terbang dan menyediakan bandara untukku kembali pulang.

Di hari esok dan jutaan hari lagi yang akan datang, aku mohon kepadamu, mohon dengan sangat, untuk tak selangkah pun meninggalkan aku. Maka ijinkan aku untuk memberimu tenang dengan segala mampuku. Sebab di setiap tabah yang aku pijak, di sanalah aku dengan sesungguhnya bersama waktu yang aku punya untuk terus mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar