Rabu, 12 Maret 2014

Penampung Bias Cahaya

Siapa yang menampung malam, saat di matamu telah penuh seribu bias cahaya bulan?

Rindu yang telah kita tahbiskan itu, kerap menggelar pesta di teras atas. Mengundang ribuan angin dan empat helai gugur daun.
Puan, pada bunyi tik-tik di arloji tangan kirimu semuanya diam.
Juga pada kenyataan yang menyebutkan kau tak lagi milikku, puisi menyimpan luka di bait-baitnya.

Kita masing-masing menunggu dalam spasi di tiap tulisan; jeda antara perbincangan yang kian enggan diteruskan.
Kita entah siapa kita.

Bulan yang bias cahayanya kau tampung di matamu, telah mengakali waktu dan mengasingkan kesedihanku.
Kesedihan-kesedihan yang perlahan mengubah dirinya menjadi pilar. Terpancang kuat di dadaku - dadamu, sebagai jembatan penghubung masa lalu.

Oh, puisi ini takkan terbaca.
Kau mata yang hanya menampung bias cahaya.
dan aku buta.


~ teras atas, 13 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar