Rabu, 26 Maret 2014

kau

Kau secangkir kopi panas hitam pekat di meja kerjaku. Mengepul sejak pagi sampai sore atau senja hidup dari pekat panas yang kutuang lagi.

Kau alir sungai yang dijatuhi daun-daun kuning guguran dari pohon di tepian. Meramaikan riak dan dingin batu-batu keras yang entah pada hujan ke berapa akan pecah dan terbelah.

Kau buah apel. Baru saja dipetik dari kebun ayahku. Menumpuk berton-ton dan menyembunyikan para petani dari kelelahan merawatmu. Kegembiraan dari tetesan keringat yang menjagamu. Laba.

Kau kata-kata yang pada akhirnya kutulis dari diam kepalaku. Jari-jariku menjadi penurut seperti orang-orang yang dibayar lima puluh ribu rupiah untuk ikut meramaikan kampanye di lapangan-lapangan.

Kau.

~ teras atas, 26 maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar