Minggu, 20 April 2014

empat elemen kesedihan

Mula-mula aku membakar daun-daun yang jatuh di kepala, supaya ada satu cahaya tiba dari kobar paling ingatan.  Kau, seseorang, yang pernah lupa karena ingkar janji atas api, yang meredam sendiri bara atas masa lalunya.
Setiap ada percik selepas pantik, di kepalaku telah hangus anak-anak rambut.

Dan kau, bisa jadi asin air yang jatuh sebagai hujan, membasahi bukit pipiku setelah selesai pembakaran. Aku sedang mengambil caping, akan kupanen garam dari kumpulan airmataku sendiri; hujan di musim kesedihan yang telah kau ciptakan. Aku jadi petani sukses dari banjir kehilangan.

Kemudian aku akan memulangkan tubuhku yang dipendam garam ini kepada tanah. Kukembalikan seluruh kesedihanku kepada apa yang dahulu telah diambilkan untuk satu hidupku. Tanah atas nama rahim ibuku. Tidak ada yang perlu menggali karena api dan hujan telah menggemburkannya.

Maka takkan kudapati udara. Takkan kumiliki lagi napas, dan sesak dadaku paripurna. Helaanmu akan mencatat semuanya dengan huruf-huruf yang telah diajari untuk kebal pada sakit hati. Sementara aku telah sembuh dan takkan lagi mencampuri paru-parumu dengan bau masa lalu.

~ teras atas, 20 april 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar