Selasa, 20 November 2012

rindu, harusnya

pertanyaan terlontar. lalu siapa yang menjawab?
haruskah aku yang mencari-cari huruf, menatanya satu persatu?
supaya bisa kau baca, bisa kau beri makna
haruskah aku, bukankah harusnya kamu?

sedang kupahami,
tempias hujan yang langsung lesap ke dinding begitu tegas
debur ombak sampai karang-karang lebur
terik matahari dari tengah langit mencabik
salju paling beku di hunian langkahku

maka dapat kumengerti,
jika rindu sempat tegak berdiri mengajari kita tabah
jika rindu mampu menggerogoti apa yang dicipta tegar
jika rindu adalah kesakitan yang dipertahankan
jika rindu memungkinkan ketidak-biasaan menjadi hapalan

maka rindu,
harusnya disahabatkan dengan waktu
sesungguhnya tak dilekangkan tunggu

pahamilah dan mengerti
tidak akan ada kehilangan bila setia
bukan lagi ketakutan atas anggapan sia-sia

tidak ada lagi yang samar
sebab kita masih saling menghantarkan debar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar