Selasa, 07 Agustus 2012

Jarak

Aku akan membicarakan jarak sekarang..

Sejauh apa, pernah menghitung jarak dari tengah pulau Jawa hingga pinggir timur pulau Kalimantan? sejauh itu kira-kira. Pastinya aku tidak tau, aku juga tidak pernah menghitung dan tidak berkeinginan untuk menghitung secara detail. Untuk apa kalau cuma menyusahkan, bukan?

Ya, sejauh itu jarak yang pernah membentang antara aku dan kekasihku (sebut saja demikian, sebab dia memang kekasihku). Jaraknya sangat jauh kalau menurutku. Aku tidak mampu sampai di sana saat dia memilih tanah itu untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan tidak setia, atau tidak benar-benar mencintainya. Tapi memang keadaan yang membuat kita harus bertaruh rindu dan kepercayaan.

Lalu apa yang terjadi? Tidak ada yang istimewa kecuali cinta yang masih tetap terjaga dengan baik, bahkan sampai ia kembali pulang dalam pelukan. Sampai sekarang. Aku percaya dia di sana. Dia percaya aku di sini. Tidak ada yang menaruh cemburu terlalu dalam, cemburu itu bukan sumur kawan. Cukup yang dangkal saja, karena ada cinta yang kentara pada keinginan untuk tak rela kekasihnya berada di tangan yang lebih dekat sedang kita berada tanpa bisa menatap lekat.

Percaya, itu kuncinya. Kalau sudah ada cinta, yakinlah setia itu ada di genggaman. Bahkan ketika ada sosok lain yang mendekatinya. Kesepakatan awal yang dibuat harus dijalani. Kesepakatan sebelum jarak itu benar-benar ditempuh. Itu kesepakatan berdua, bukan?

Aku menganggap jarak itu sederhana. Berdasar cinta yang dijadikan pondasi, jalan rindu itu mulus seperti jalan lingkar kota yang baru saja dibangun. Dan cinta, juga memang seharusnya sesuatu yang sederhana tetapi menjadikan dua yang bersatu sebagai istimewa.

Sudah, jarak itu bukan masalah kalau cinta benar-benar hidup pada dua hati yang dibentang dan dijembatani rindu..

Biar saja jarak, melenggang sejauh bentang. Apa yang kita takutkan, jika cinta mampu merupa-rupa perahu menyeberangkan rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar