Jumat, 11 November 2016

Kamu dalam Waktu

Kamu
Ada melebihi detik
Hidup selayak detak

Sejak datangmu
Di masaku ini
Sampai nanti
Waktu lupa diri

Bagian mana lagi yang harus kumohonkan
Jika keberadaanmu saja menyudahi rajam
Perih demi perih
Pun bagaimana luka menyayat
Aku lupa

Tak ada
Yang lebih jujur dari waktu
Sedih dulu
Tawa kini
Aku memilikinya
Sebab waktu
Memberikanmu
Kepadaku.

Selasa, 18 Oktober 2016

Kamu barangkali

Kamu barangkali, yang mengatup lengan ke tubuhku. Merengkuh semua lelah untuk kau satukan dengan detakmu, sampai aku cuma tahu bahwa hidup adalah tenang tiap detik.

Kamu barangkali, yang akan melemahkan keangkuhanku. Menendang semua omong kosong tersebab kekosongan dan mengisinya dengan senyum-senyummu.

Kamu barangkali, yang merelakan waktu untuk berkelana. Bahkan jika hanya untuk berputar-putar dalam kekacauanku, di mana semalam suntuk kau hanya akan mendengar bising suaraku.

Kamu barangkali, yang akan berat hati menaruh kesedihan di mataku. Pun demikian, akan teramat susah payah untuk menepis aku di kepalamu.

Kamu barangkali, yang akan menjadi kepulanganku.

Minggu, 28 Agustus 2016

Hujan, dra

Hujan, dra..
Aku mengurung beberapa hangat di kepalaku supaya tak pergi.
Hangat yang aku ambil dari senyummu kemarin lalu.
Betapa ingatanku sungguh tak mau kehilangan tenang paling dalam.

Hujan, dra..
Di katup matamu, aku menyempatkan diri untuk mencuri dunia kecil yang jadi rumahku.
Sesekali aku pernah melihat gerimis di sana, tetapi musim semi jadi musim paling lama yang menghuninya.

Hujan, dra..
Aku punya payung maka tak kuyup kehujanan.
Barang kali kamu lupa sampai-sampai tidurmu cukup lama.
Atau kamu dipeluk erat mimpi, seperti pelukanku biasanya?

Hujan, dra..
Dan aku kangen bau tubuhmu yang menguar bertabrakan dengan petrichor..

Sabtu, 21 Mei 2016

Kepada Yang Akan

Tiba-tiba saja datang seperti hujan tanpa mendung.
Hari ini dan hari-hari selanjutnya aku menamaimu harapan.
Maka aku takkan memantraimu supaya reda.
Deraslah dan tetaplah demikian.

Adalah angin dan gemericik di tiap malam-malam.
Lalu aku cuma bisa berbincang dengan kebisingan yang menyemai hiruknya di dalam kepalaku sendiri.
Maka aku menulis; memuntahkan semua yang mual di otakku.

Menginginkanmu.
Menyerahkan hidupku ke dalam pelukanmu.
Menghitung tiap waktu bersama napasmu.
Merawat bahagia dengan menggali sedalam-dalamnya tatap matamu.

Kopiku habis dan malam menyerah kepada pagi.
Kata-kataku juga lelah menahan kantuknya.
Tetapi hujan dan harapan yang kamu tak juga reda di kepalaku.
Akan kutahan segala rindu dan ampas kopi biar jadi saksi betapa hati tak menginginkan kamu jauh dari sisi.

Senin, 18 April 2016

Perihal Kosong

Di rumah ini
Kulihat ruang-ruang lengang dan lembap
Asing.

Ini tahun ke berapa kita bersama?

Aku tiba dan mengetuk pintu.
Mungkinkah kamu di sini?
Masihkah bertubuh mantra wangi cinta?

Tempat aku pulang.
Meniupkan mimpi-mimpi di dadamu.

Namun rasa kelu mengunci kata-kata.
Asin dicecap sedih.

"Siapakah kamu?" Tanyamu.

                                      ***

Tak ada yang datang.
Sebelumnya.
Kecuali hujan dan musim-musim layu lainnya.

Seperti kedatangan hujan, aku tak pernah menghitung seberapa lama.
Tak juga paham mengapa harus dihitung.

Seperti pula jatuh daun. Ia tak ke mana-mana, kecuali angin atau deras hujan yang mengalir, yang membawanya pergi.
Bukan inginnya sendiri.

Masihkah sama ini kau sebut rumah, jika kosong telah mendiaminya lama-lama?
Ataukah hanya datang dan singgah?

Belukar di depan pintu telah menyimpul tubuhnya jadi kata-kata; "Siapakah kamu? Siapalah aku."

( #duetpuisi bersama @_bianglala )

Rabu, 29 April 2015

Bagian Lain

Aku bagian lain dari hujan yang membasahi jalanan. Kau, barangkali akan melewati jalanan itu dan bisa mengenaliku dari sisa-sisa yang telah hilang. Kau bisa juga adalah pantulan cahaya--isyarat pertemuan yang mungkin dijatuhkan langit.

Jangan menyebutnya kesedihan, karena aku telah bersusah-payah merawatnya. Sungguh, aku tak mau ada lagi yang basah kecuali tubuhku. Saja. Dan jadilah kelak hujan adalah awal panen raya.

Selanjutnya, bagian lain dari aku akan menjadi doa dan aku berharap yang tengadah di sisi jendela itu adalah tanganmu. Maka seluruh yang tertulis di sini tidak lagi hanya kata-kata.

Sabtu, 28 Februari 2015

Ulat Luka

Aku menyeduh secangkir lagi kopi. Di luar jendela, hujan masih saja deras sedari pagi. Kenangan menyiangi kepala dan setiap detiknya ada saja kau di sana. Masih. Sebab itu aku kemudian menulis surat ini. Tanganku tak sabar menuliskan kata-kata yang kepada diriku dan dirimu ingin ditujukan untuk dibaca.

Aku ingat, betapa luka masih menjadi ulat dan bersembunyi di antara dedaunan yang tertawa digelitik angin. Betapa luka pernah sekecil itu dan aku tak sedikit pun merasa atau melihat. Sampai pada suatu hari, luka yang ulat itu mulai lapar dan menemui daun tempatnya hidup unyuk dimakan. Aku tahu, sayang, daun itu tumbuh di pohon dadaku yang pernah begitu rajin kau sirami selagi waktu belum mengenalkan perpisahan kepada kita.

Waktu itu aku juga ingat, pohon yang kering kau tinggalkan dengan sisa daun yang hampir habis, tertinggal ranting. Betapa lagi-lagi luka yang ulat itu menghabisi aku. Sampai pada akhirnya kau melilit tubuhmu sendiri di dalam kepompong dan waktu menjadikanmu indah kupu-kupu. Kau memerlihatkan kecantikanmu pada semesta, sementara aku kering dan mulai mati di antara musim. Kau terbang mengitari aku. Menunjukkan bahwa kepak sayap indahmu sanggup meninggalkan aku. Bahkan kau lebih cantik dari bunga yang mekar di taman.

Aku, pohon kering itu berusaha tetap tumbuh dengan melihat kepergianmu. Aku memang tak sanggup terbang, tetapi aku tetap mampu tumbuh meski harus menunggu hujan di musim selanjutnya. Atau barangkali ada tangan yang tak tega dan menyiramiku sebelum aku benar-benar kering seperti gurun pasir.

Aku masih percaya akan ada matahari mengirim cahaya dan takkan pernah habis  untuk menyeka luka. Aku juga paham akan ada lagi ulat yang menyentuh tubuhku, tetapi takkan kubiarkan lagi ia menggerogoti aku seperti ulat sebelumnya. Kau, tetaplah jadi kupu-kupu yang pergi meninggalkan aku dan aku akan jadi pohon yang rela untuk disinggahi lagi ulat juga luka-luka. Selagi masih ada waktu untukku mencintaimu.