Tampilkan postingan dengan label linang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label linang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2013

bertemu sepi

Hujan baru saja reda. Aku melepas topi dan jaket tipis berwarna hitam dari tubuhku. Mengibas sisa hujan yang sejak setengah jam lalu turut di perjalananku.

Kedai ini nampak begitu sepi, padahal ini sudah pukul 19.03. Hanya ada seorang perempuan, sendirian di meja sebelah meja di mana aku duduk. Persis.

Sengaja kugeser sedikit kursiku ke kanan, supaya jelas kulihat dia. Biar aku merasa berteman, biar aku tak nampak kesepian.

Tapi, apa aku kesepian?

Di depan perempuan itu, di mejanya, hanya ada secangkir teh yang kupikir sudah dingin -- ia meneguk tanpa meniupnya -- dan juga telepon genggam yang beberapa-kali diperiksanya. Lalu raut mukanya berubah kecewa disertai decak kesal di bibir tipisnya.

Oh, mungkin dia menunggu kabar dari kekasihnya. Aku tidak.

"Aku tidak menunggu siapa-siapa," hatiku berujar pelan kepada diriku sendiri.

Kupesan secangkir kopi panas kepada pelayan yang kebetulan lewat di depan mejaku.

"Mas, pesan satu kopi panas dan satu coklat panas, ya. Tolong nanti antar coklat panasnya ke meja perempuan di sebelah saya ini," suaraku pelan untuk dapat didengar dari jarak satu meter.

Kedai masih saja sepi, pesananku datang dua kali lebih cepat dari biasanya. Coklat panas tiba di meja sebelah, setelah kopiku tiba lebih dulu. Sembari menyeruput kopi, kuperhatikan wajah perempuan itu.  Raut muka kecewa berubah menjadi raut muka bingung.

Tiga detik kemudian mata kami sudah bertemu. Ia tersenyum. Aku menyelesaikan tegukanku lalu membalasnya. Aku tersenyum.

"Kau menunggu siapa?" pertanyaanku terlalu polos untuk tiba di telinganya.

"Aku menunggu sepi, dan kau malah datang."

Perempuan itu menyambar telepon genggam di mejanya, lalu pergi. Meninggalkan cangkir teh yang sudah dingin dan cangkir coklatnya yang masih mengepul ke dalam sepi. Meninggalkan aku dan kembali mendatangkan sepi.



(#terasatas dan mendung yang tak juga berakhir hujan - 16:47)

Selasa, 15 Januari 2013

untuk pernah

Selamat senja..

Tidak perlu lagi berbasa-basi. Memang sesungguhnya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Bukan untuk menggnggumu. Sekadar bertegur sapa saja. Aku melihatmu, tadi dengan tas hijau kesayanganmu itu. Senyum yang masih sama saat aku-kamu masih bertaut pada kita.

Langkahmu ringan seperti daun terbang terbawa angin, lalu jatuh dengan jejak-jejak yang utuh. Tubuhmu yang wanginya masih menyimpan seribu kenang dalam ingatanku, masuk dan mengetuk kehilangan yang sudah lama tidur pulas. Apa kabarnya dadamu? Hangat yang ramah dengan pelukan. 

Tidak ada lagi kita, bukan berarti aku lupa yang pernah tercatat di buku rindu. Dulu. Sekali tatap, mataku dapat menangkap ribuan kenang dengan teramat dekat, teramat dekap. 

Selamat menempuh bahagiamu yang bukan lagi aku. Sudah kutempuh pula milikku, meski masih sekali waktu harus terhenti dan berpisah persimpangan. Tenang saja, ini sama dengan kehilangan demi kehilangan milik kita, dulu. 

Terima kasih untuk pernah yang megah.
Untuk pernah paling singgah.
Untuk pernah yang sudah.

dengan hati, d milikmu.

Senin, 17 Desember 2012

Tradisi Rindu

Sore seperti biasa; hujan dan segala kegigilan. Aku memangku rindu dalam lama ingatanku yang remah-remah di sisa roti. Secangkir coklat panas, adalah hangat di langit-langit mulutku sendiri. Sekumpulan awan yang hadir, menyaji ritual rindu paling meyakinkan. Apa benar masih ada kamu, sedang tidak semuanya dadaku mendetak namamu?

Desember memainkan lagunya, melankoli perasaan yang dibumbung gelisah tanpa pertemuan. Detik jam, gurauan angin, nada-nada hujan, ketukan pada aspal jalanan oleh langkah yang kemudian hilang, dan denyut nadiku.

Rambutku basah tempias, kuyup sendiri tak perlu bantuan. Ini ritual kesepian di tradisi rindu. Memohon-mohon pada temu dalam sesajen waktu. Ah, andai bisa kupungkiri setiap adatnya. Biar saja aku jadi pembantah, asal tidak kenyerian ini bergelayut minta dipuja-puja.

Semakin renta menuju senja, geletar petir membangunkan bayang dalam lelap lamun. Ngeri. Disentak kehilangan teramat dalam. Sudahlah cukupi saja. Nyalakan dupa-dupa asa yang sedetik lalu disembur dingin. Rayakan saja debar dada! Rayakan meski tak lagi ada!

Selasa, 20 November 2012

rindu, harusnya

pertanyaan terlontar. lalu siapa yang menjawab?
haruskah aku yang mencari-cari huruf, menatanya satu persatu?
supaya bisa kau baca, bisa kau beri makna
haruskah aku, bukankah harusnya kamu?

sedang kupahami,
tempias hujan yang langsung lesap ke dinding begitu tegas
debur ombak sampai karang-karang lebur
terik matahari dari tengah langit mencabik
salju paling beku di hunian langkahku

maka dapat kumengerti,
jika rindu sempat tegak berdiri mengajari kita tabah
jika rindu mampu menggerogoti apa yang dicipta tegar
jika rindu adalah kesakitan yang dipertahankan
jika rindu memungkinkan ketidak-biasaan menjadi hapalan

maka rindu,
harusnya disahabatkan dengan waktu
sesungguhnya tak dilekangkan tunggu

pahamilah dan mengerti
tidak akan ada kehilangan bila setia
bukan lagi ketakutan atas anggapan sia-sia

tidak ada lagi yang samar
sebab kita masih saling menghantarkan debar

Minggu, 21 Oktober 2012

laut usang di matamu

ombaknya masih berderai-derai
rela menabrak karang sampai pecah

ia mengenal pantai
pasir lusuh
jejak-jejak asing tertinggal

di ujung dermaga
tengah laut itu biru paling damba

aku hendak memungutnya satu demi satu tetes
hitung saja waktunya hingga habis
kukira akan sama
tiba padamu saat semua menjadi kenangan

luruh dari kelopakmu
dan benar
laut usang di matamu

Kamis, 11 Oktober 2012

tiba-tiba aku jatuh cinta

tiba-tiba aku jatuh cinta
inikah kesengajaan yang Tuhan ciptakan?
elok yang merajam dadaku

pertanyaan beruntut menunggu jawabanmu
datanglah, sayang
lengangku menanti kau buang
aku adalah kesepakatan antara rindu dan waktu
sementara kamu menjadi detak di tiap detik hidupku

tiba-tiba aku jatuh cinta
sadarkah aku menyemat gaduh tiap temu tatap matamu?
bolehkah aku menenun benang, menjadikan kain lalu kamu pakai?
aku ini sekadar hati pecinta

tepat dalam hangat dadamu aku jatuh cinta
inilah kesementaraan semesta
supaya hidup kuselesaikan kepadamu tanpa sia-sia
cinta

Minggu, 07 Oktober 2012

menyalalah selagi padam

malam menjadi teladan ketabahan
nyala lampu samarkan kehilangan
masih adakah aku? seberkas saja bayang

di sudut bagian rindu
anak-anak kunang menyanyi riang
bermain rintik sisa hujan
kenanglah, sayang
aku pengiba hangat dadamu, lekat di jantungmu

sedemikian kutapaki lajur
debur asa paling jujur
karang-karang lunak sakitku ditabur
andai acuhmu mudah ditegur
di sinilah tak mengonggok puing-puing lebur

sudahi sakitku
aku mencintaimu dengan hati
untuk hidup yang mendarah dalam tubuh rapuh ini
tibalah, sebelum padam putik-putik nyala kembang

Senin, 01 Oktober 2012

hanya mendung

langit sejenak menyerahkan mendung di atas aku menjejakkan kaki
suara-suara angin menandakan akan hujan


datanglah..datanglah..
urapi keberadaanku yang telah kerontang sendu
adalah aku tanah kosong, bahkan ilalangpun enggan

bergeming
kuhitung satu demi satu gugur angin
di atas tubuhku, ingin itu membadai
rusaklah asa sekujurnya

tak juga jatuh
tak jua luluh
tak pernah lagi membuatku mengucap aduh
cinta saja tak cukup, sebab sendiri

aku harap ada berada di satu jalur derasan
bila memungkinkan
dan kita adalah setangkup payung besar hitam
saling melindungi saling menangkap nyeri

lalu mati
oleh sebab hati


Rabu, 26 September 2012

kalau ragu jatuh cinta

tidak ada yang bisa diam saat mencintaimu
kukira akan ada begitu banyak ungkapan ketika tiba di hadapanmu
mungkin mulanya diam-diam, sungkan oleh keindahan semua yang melekat di tubuhmu
terang saja, aku tiba-tiba membatu dalam gagalnya rencanaku
aku mencintaimu dan di sanalah paku-paku tajam keelokanmu menancapkan aku
betapa ngeri harapanku beradu tatap dengan mata penuh pesona
aku jatuh, oleh cinta karena cinta di hadapanku

kau adalah semesta yang telah disetujui Tuhanku untuk kucintai
kau yang mengaduk kebahagiaan titipan Sang Maha

kini aku menggantung di jembatan yang hampir saja rubuh oleh kekagumanku
lama-lama aku berdiam di tegunku sendiri
hingga lapuk waktu menunggu ketidakpastian
apa aku bisa mencintai dalam kebisuan
apa aku bisa hidup heran dengan kebodohanku
meski engkau telah meyakinkan dengan senyuman


Jumat, 14 September 2012

kita sebenarnya

aku ingin diajarimu berlari
meninggalkan yang tak lagi ku ingini
terkadang aku bosan di sini
begah dengan semua yang terjadi

aku akan mengikutimu
entah sampai jauh dan tak lagi menemu apapun
ini aku, toples yang mendamba kerlip menjadi penghuni
isilah aku apa saja, dan aku merasa ada
kupastikan kau terjaga dengan seutuhnya

aku mencintaimu
maka tak kurelakan jauh menjadi jarak antara kita
kubilang aku akan mengikutimu

mendekatlah, sayang
kita bukan daratan yang dipisah sungai
kita bukan pula pantai yang dibentang laut
kita ini anak rindu, yang jatuh tersungkur di atas tanah yang sama
di bawah langit yang tak pernah berbeda
tanahmu liat, tanahku hitam dan kita menginjak bumi
langitmu cerah, langitku mendung dan kita mengenal awan

kita adalah asa
sebelum semesta menerimakan kita pada kata ya yang sama
untuk cinta..

Selasa, 28 Agustus 2012

Aku Tidak Merokok


Aku tidak merokok, sayang..
Aku menjaga paru-paruku yang sudah sesak, bernafas tanpa kamu.
Aku tidak mau merusaknya dengan hitam asap yang penuh racun. Paru-paruku sudah lebam dihantam embus rindu.
Kamu boleh bangga, aku tidak menghabiskan uang untuk kubakar menjadi kesenanganku sendiri,
dan harusnya kamu bangga..

Kalau boleh jujur, aku sering menghabiskan uangku untuk membeli pulsa, lalu berlama-lama berbincang di ponsel. Atau menulis pesan, berulang kali. Juga membalas pesan yang kau kirim.

Pun, aku merelakan beberapa lembar uang di SPBU, menggantinya dengan beberapa liter bensin. Memenuhi tangki motor, untuk dibawa berkendara menemuimu.

Aku tidak merokok, sayang..
Peduli setan dengan omongan teman yang menjulukiku sok alim atau apalah sebutannya, yang penting aku tidak mengganggunya dan membiarkan mereka meneruskan menghisap batang demi batang linting tembakau. Toh juga aku jadi tidak merugikan mereka dengan meminta sebatang rokok saat  rokok milikku habis, dan meminjam koreknya.

Aku tidak merokok, sayang..
Aku lebih menyukai pahit kopi menempel di bibirku daripada pahit rasa tembakau itu.
Sekali aku pernah merokok, dan lebih dari seminggu aku batuk dan dadaku sakit.
Sekali..
Setelah itu aku memilih untuk pensiun dini menjadi perokok, tidak mencobanya lagi.

Sayang, tidak merokok adalah keputusanku. Supaya saat berbagi nafas denganmu, bukan sisa asap yang kuberikan kepadamu.
Aku mencintaimu..