Sabtu, 01 Maret 2014
Semesta Lelah Bermain
Semesta sudah lelah bermain, ia menyerah seperti angin yang tak sengaja mempertemukan dua daun gugur di tanah gembur. Juga sama dengan pagi yang tak mau kehilangan bulan meski matahari sudah bercokol dari timur.
Kita bertemu.
Kau memang putri bulan yang lahir di antara putri malu. Sudah kubilang, kan, kau harus mengurangi sifat pemalumu itu. Tapi aku juga jadi gagap oleh senyummu. Lidahku cekat, mungkin aku matahari yang sinarnya jatuh di depan bulan dan tak sampai bumi. Oh, aku gerhana. Gerhana kata-kata.
Sudut menepikan sepi, jadi saksi temu antara bulan dan matahari. Kamu dan aku. Maaf jika harus melalui Anto aku memanggilmu. Aku benar-benar cekat. Tapi terima kasih kau mau menemuiku di sudut menepikan sepi.
Sesungguhnya masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu. Kita baru berkenalan. Kau pemalu, tapi lucu. Terima kasih sudah membuatku banyak tertawa. Akan kuusahakan aku juga membuatmu tertawa. Aku kaku, ya. Ya begitulah. Matahari kadang sok bersinar paling panas, padahal sekalinya mendung ia juga tak berkutik jika harus hujan. Hahahaha
Sasi, terima kasih untuk pertemuan dan kopi gratisnya. Senja nanti, kalau kau tak keberatan datanglah ke taman putri malu, kutraktir kau jagung bakar dan permen kapas. Tentunya sambil berbincang tentang inginmu di pasar malam.
Aku senang.
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Jumat, 28 Februari 2014
Mengenai Temu, Akankah?
Untuk pertama kalinya aku menulis puisi bukan untuk kekasihku, atau yang kau sebut nona matahari itu. Rasanya sungguh berbeda, apalagi puisi itu mengenaimu. Debar di dadaku jauh lebih bergemuruh. Aku tak tahu alasannya. Ada rasa sesal. Bukan, bukan karenamu, tapi sesal mengapa tak kutulis sejak dulu pertama aku melihatmu.
Menulismu sebagai puisi mengantarkan aku pada jalan menuju padang rumput yang hangat. Kau sinar itu. Tidak, aku tak menggombalimu. Mana bisa aku gombal, bahkan merayu kekasihku saja aku tak sanggup.
Sasi,
Aku senang kalau kau membaca puisiku berulangkali. Gemetar tanganku terbayar lunas. Terima kasih.
Oh ya, sudah berapa kali kita bertukar surat? Bukankah kita seringnya berada di tempat yang sama? Tidakkah kau mau bertemu denganku? Mungkin kita bisa bertukar cerita. Aku mau tahu kau dapat resep dari mana, sampai membuatku betah seperti ini. Tapi aku tak memaksamu. Seperti biasa, aku ada di sudut menepikan sepi. Setiap senja.
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Selasa, 25 Februari 2014
(Sebut Saja) Puisi
Apa yang kau takutkan? Kalau kau tak takut hantu, mengapa kau takut tentang sesuatu yang tak kembali? Kesempatan kedua memang ada, tapi akan sangat berbeda. Kau tak perlu takut. Kau punya cahaya.
Kau juga tak perlu minta maaf. Itu cuma masa laluku yang kini maknanya tak seberapa. Bukannya aku mau menyama-nyamakan, tapi ada bagian dalam diriku yang seperti lahir di atas pantai. Sampai-sampai jika aku hanya mendengar satu hal saja mengenainya, atau apapun yang termasuk di dalamnya, aku tiba-tiba melesat ke sana. Seperti ada mesin jet yang mengirimku.
Baiklah, aku memberanikan tanganku untuk menulis (sebut saja) puisi untukmu. Jika tak seperti inginmu, maafkan aku yang masih gemetaran ini.
"Kaukah itu, malu-malu di ujung malam?
Menggelitik ombak dari surut ke pasang
Membaringkan cahaya di kasur laut
Malam demi malam
Cahayamu melambai
Dari jauh letakmu kutempuh
Akukah yang tiba-tiba jatuh?
Purnama bulan
Menjatuhkan sinar
Di jantungku yang debar"
Aku pesan dua cangkir kopi untuk menenangkan dadaku setelah menulis ini. Menulis puisi untukmu, aku benar-benar berada di antara tabuh drum.
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Senin, 24 Februari 2014
Pantai dan Puisi
Kau takkan menemukan dermaga. Tak ada yang mau membangunnya di sini, meski pantai dekat sekali dengan hidup. Seperti katamu, di sini tak ada yang menanti, tak ada pula yang ingin melepas. Yang pergi akan terus pergi dan tak mengenal kata kembali, mungkin kembali telah dihapus dari kamus kami.
Bermainlah saja di pantai bersama pasir, ombak dan angin. Kau bisa melihat bagaimana ombak akan menghapus jejak atau nama yang kau ukir dengan kakimu di pasir dengan cepat. Sekali datang, langsung menghilang.
Cerita-cerita yang kau baca itu, Sasi, telah membawamu pada satu cerita yang pernah kutulis. Itu tentang mantan kekasihku yang dulu sering mengajak ke pantai, sekadar bermain pasir. Setelah aku kehilangan karena cinta tak kami lanjutkan, aku menulis mengenainya bersama cerita pantai, ombak, dan jejak.
Kau ingin menjadi puisiku? Benarkah? Aku bahkan tak berani berangan jika suatu saat kau jadi puisiku. Mungkin aku akan menulis sambil gemetaran sampai sering typo. Juga detak jantungku akan bersuara seperti dentuman paling keras dan cepat di muka bumi ini. Tapi aku akan mengumpulkan keberanian itu untuk menulismu sebagai puisi.
Kedaimu memang tak pernah sepi, tapi ramai di sini adalah riuh yang paling nyaman kutinggali.
"Bagaimana mungkin aku menulismu sebagai puisi, sedang kau adalah ibu segala sajak yang dimiliki hati."
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Jumat, 21 Februari 2014
Jangan Merasa Sepi
Kulewatkan satu senja tanpa duduk di sudut menepikan sepi kedaimu. Tidak, aku tak pergi jauh. Pernah kukatakan padamu, aku tak pernah meninggalkan kota ini, dan kurasa aku takkan sanggup meninggalkan kota kecil ini. Aku hanya harus menemui seseorang. Mendadak memang, tapi demi pekerjaan daripada aku tak digaji, nanti bagaimana aku pesan kopi di Kayu Manis ini? Ehehehe.. Lagipula sudah menjadi tanggung jawabku. Hari ini aku kembali. Tapi aku tak melihatmu di dapur. Kau ke mana? Semesta masih mengajak kita bermain rupanya.
Aku pernah bertemu Anto di depan rumahku. Dia sedang mencari rumah temannya. Sayang waktu itu dia tak sempat mampir. Bahkan saat kemarin dia mengantar surat ini, aku tak bertemu dengannya. Anto tak sempat mampir lagi. Anto meletakkan suratmu di depan pintu dan aku menemukannya malam waktu aku pulang.
Kau takkan pernah kesepian. Kedaimu bahkan tak pernah sekalipun kosong. Kau bisa menemukan banyak tawa hanya dengan bersembunyi di dapur dan mengintip ke luar. Taman putri malu, aku juga sudah cukup lama tak ke sana. Pekerjaanku cukup menyita waktu. Untung aku masih punya sedikit waktu luang untuk sekadar menepikan sepi di sudut kedaimu.
Sasi,
Terima kasih untuk cup cake-mu. Bagaimana mungkin aku tak menghabiskannya. Racikan tanganmu sangat memanjakan lidahku.
"Jika tibaku tak juga sampai, kau tak perlu risau. Ada banyak senyum bisa kau rangkai, jangan jadikan sepi sebagai pisau."
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Rabu, 19 Februari 2014
Selamat Menunggu
Sasi,
Sudah kucatat semua tentang apa yang ingin kau lakukan di pasar malam nanti. Tinggal menunggu saja pasar malam itu membangunkan tidurnya saat liburan sekolah tiba. Kau bisa menunggu, kan? Liburan sekolah masih cukup lama. Atau sembari kau menunggu pasar malam, kau bisa mencatat apa saja yang ingin kau lakukan. Akan kutemani kau.
Kau bisa jadi pasar malam, dengan senyummu bahagia sudah dirayakan.
Terima kasih cup cake-nya. Sebenarnya sayang jika aku harus memakannya. Sungguh cantik. Tapi aku harus merasakannya, bukan? Dan aku menghabiskannya. Rasanya mau memesan lagi, namun aku mau tidur malam ini. Ah, andai saja gula tak berpengaruh apa-apa buatku. Laib kali saja aku memesan lagi. Toh aku juga sering ke kedaimu.
Membaca suratmu aku juga jadi hangat. Kata-katamu mirip dengan kopi; menghangatkan tubuhku dari mata di kepalaku, sampai penuh di dalam dadaku.
Selamat senja, Sasi. Selamat menunggu.
Salam,
Suvan Asvathama
(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Selasa, 18 Februari 2014
Janji Pasar Malam
Sasi,
Ah, maafkan aku. Kau begitu takut dengan badut. Maaf, ya. Lain kali tak akan kuceritakan lagi tentang badut, meskipun aku terpingkal. Tidak akan. Karena aku tahu bagaimana ketakutan itu sangat menyiksa. Sama seperti aku, waktu mendengar tentang cerita hantu. Bahkan kalau aku mendengarnya, aku seperti mau berubah jadi batu yang tak bertelinga. Aku tak mau mendengar apa-apa. Apalagi melihatnya. Bisa-bisa mati berdiri aku.
Pasar malam? Ada. Di musim liburan sekolah biasanya akan ada beberapa lapangan yang berubah jadi ramai. Ada bianglala, komidi putar, rumah hantu yang pasti takkan pernah aku kunjungi, tong setan, dan masih banyak lagi. Kau juga bisa berbelanja di sana nanti. Tapi kalau sekarang belum ada. Begini saja, kalau nanti pasar malam itu ada, aku janji akan mengajakmu ke sana. Kupastikan tidak akan ada badut yang akan menakutimu. Kau bisa pegang kata-kataku, karena laki-laki harus sanggup menepati janjinya.
Kau memang harus keluar dari sifat pemalumu. Jadilah bulan yang bersinar tak hanya dalam gelap malam, tapi juga di antara sinar lainnya. Karena kau akan tahu betapa indah dirimu di antara yang lain.
Sesungguhnya, dengan suratmu pun aku menyadari akan satu hal tentang diriku sendiri. Aku jadi sedikit membuka diri. Sebelumnya, mana pernah aku mau bercerita kepada orang lain. Apalagi orang asing. Aku terlalu lama dan banyak menyimpan rasaku sendiri.
Terima kasih, Sasi, kau membuka satu halaman bukuku, dan aku jadi anak kecil yang kembali berani mendongeng. Boleh buatkan aku cup cake dengan lambang Chelsea saja. Beberapa waktu lalu mereka mengalahkan Manchester City.
Ingatkan aku tentang pasar malam, ya..
Salam,
Suvan Asvathama
(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Minggu, 16 Februari 2014
Kepada Putri Bulan
Sasi,
Selain anak ibuku, aku adalah anak kota ini. Tangisku pertama kali pun di dengar oleh telinga sudut kota. Sekalipun aku belum pernah melangkahkan kakiku keluar. Aku belum pernah ke mana-mana. Selain buku dan imajinasiku yang jauh membawa angan-angan.
Ah, kau jangan terlalu berteman dengan putri malu, Sasi. Lihat sifatmu yang pemalu itu. Hati-hati nanti kau terkurung sendiri di sana. Eh, maaf. Aku menilaimu. Abaikan saja jika tidak berkenan.
Kau menggodaku dengan hal-hal seperti itu. Kuanggap saja lucu seperti badut-badut ulang tahun yang dulu pernah sangat menghiburku. Aku sampai tertawa terpingkal-pingkal. Kau suka jugakah?
Putri Bulan,
Terima kasih sudah memikirkanku. Hati-hati kau nanti akan diserang penyakit paling mematikan; tak bisa melupakan aku. Hahaha....
Asal kau tahu juga, jingga matamu seringkali mengisi kosong di waktu senjaku. Aku merasa bersalah akan itu. Sungguh tak ada maksud. Seperti sela jendela yang dimasuki cahaya. Ditutuppun ia akan mencari celah lain. Aku bisa apa?
Tidak usah membahas nona matahari. Ia sudah kubahas bersama Tuhan setiap hari.
Terima kasih sudah mencatat pesananku. Aku rewel, ya. Ya begitulah. Mungkin karena dari dulu ibuku selalu menuruti kemauanku, sampai sekarang masih saja kubawa-bawa itu.
Terima kasih, Putri Bulan.
Di antara malam dan keheningan, kaulah rapat samar yang memperkenalkan aku dengan cahaya.
Salam,
Suvan Asvathama
(surat balasan untuk Sasi Kirana @_bianglala)
Kamis, 13 Februari 2014
Turut dalam Duniamu
Sasi,
Biarlah semesta yang bekerja. Sedang kita tetap di sini, berdetak dan ada.
Kau menyukai pagi tampaknya. Menyaksikan putri malu menutup diri dalam tangkapanmu. Bertemu dengan cahaya matahari. Padahal kau bulan, sinar paling terang setiap malam. Sedang, aku selalu nyaman dengan malam, bahkan dini hari adalah waktu paling indah untukku menikmati hari. Asalkan tidak ada cerita hantu. --"
Oh, maaf untuk ibumu. Semoga beliau bertemu ibuku di surga. Mengenai ayahmu, seperti doamu semoga beliau baik di manapun beliau berada.
Kau sudah menemukan sesuatu mengenai kota ini. Kau sudah menemukan sesuatu sebagai duniamu. Jika duniamu adalah kedai ini, maka aku juga turut dalam duniamu, Sasi. Kuharap aku tak mengacaukan hidupmu.
Menu barumu, Sasi, sangat memanjakan lidahku. Tapi memang manisnya cukup kuat, mungkin karena yang membuatnya punya senyum yang begitu gula, atau mungkin karena aku sendiri sudah teramat manis? hahaha.. Bercanda, Sasi. Lain kali kupesan dengan catatan gulanya dikurangi. Bukannya takut gemuk, aku hanya takkan bisa tidur jika terlalu banyak gula masuk ke tubuhku. Dari kecil aku begitu.
Nona matahari? Dia berada jauh denganku sekarang. Kilometernya tak kuhitung, lagi pula aku tak begitu berminat untuk menghitungnya. Aku sudah kerepotan dengan hitungan kangenku sendiri.
jarak bukan lagi perihal hitungan, doa mengantarkannya begitu cepat begitu dekat.
Salam,
Suvan Asvathama
(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Selasa, 11 Februari 2014
Putri Malu
Hai, Putri Bulan..
Senang rasanya, ternyata kita mempunyai makna dalam semesta. Aku dilahirkan di antara cahaya matahari, dan kau lahir di antara syahdu bulan purnama. Meski kenyataannya, bulan dan matahari tak pernah bertemu pada satu waktu di sebuah hari. Mungkin semesta sudah menempatkan kita pada masing-masing ruangnya. Atau karena semesta ingin mempertemukan mereka sebagai kita, kini?
Mari kita tunggu saja. Apa yang ingin semesta jadikan kepada kita.
Kau baru rupanya di sini. Semoga kau betah. Kota ini memang kecil, tapi jika kau mampu menemukan sesuatu yang membahagiakanmu, kau akan mendapatkan dunia bahkan lebih besar dari apa yang pernah kau duga. Oh ya, ayahmu tinggal di sini juga?
Kau suka ke taman putri malu itu? Aku menyebutnya demikian, sebab putri malu jadi penghuni paling banyak di sana. Aku juga kadang menikmati udaranya, sambil duduk di tepi. Mencari sesuatu yang mungkin saja bisa kutulis.
Dulu kukira kau lahir di taman itu. Di taman berpenghuni putri malu. Sifatmu yang malu-malu itu sering menyangkakannya demikian. Apalagi kalau aku melihat jingga matamu, selalu ada binarnya yang tersembunyi. Entah apa yang disimpannya.
Wah, menu baru. Sepertinya di mejaku nanti akan ada penghuni baru. Selain kopi dan pisang goreng madu yang telah sekian lama ini tak pernah absen di mejaku. Terima kasih, Sasi, aku pesan satu.
Salam,
Suvan Asvathama
(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Minggu, 09 Februari 2014
Menjawab Pertanyaanmu
Puji Tuhan kau telah sembuh, Sasi.
Semesta mungkin masih ingin bemain dengan temu kita.
Tak apa. Kata ibuku, aku memang penakut bahkan sejak lahir. Aku lahir siang hari di mana matahari begitu murah memberi cahaya kepada bumi. Dan karena itu pula ibuku memberiku nama matahari; Suvan.
Kalau kukira, mungkin karena letaknya di sudut, bersebelahan dengan mejaku, oleh sebabnya jarang pengunjung memilih meja itu. Tidak seperti aku yang akrab dan mengakrabi sepi ini.
Kau bukan orang pertama yang menanyakan perihal luka di pelipis kiriku ini. Dan seperti biasa, aku akan menceritakannya. Kejadiaannya sekitar 15 tahun yang lalu. Kalau tidak salah aku masih kelas 3 SD. Waktu itu aku sedang belajar di dalam kamar, sampai aku mendengar suara ayahku yang meninggi dan isak tangis ibuku yang tertahan mungkin ibu tak mau aku mendengar ia menangis. Lalu aku keluar dan melihat tangan ayahku melayang. Aku bukan baja hitam atau power rangers, tapi aku coba untuk melindungi ibu dari tangan ayahku. Aku yang akhirnya terkena pukulan ayah. Tubuhku yang tak lebih dari 30kg waktu itu dengan mudahnya terpelanting dan pelipisku berciuman dengan sudut meja. Lukanya menganga, tapi aku tak pernah mau mengobatinya. Sejak itu, ayahku pergi dan tak pernah kembali. Aku juga tak mengharapkannya lagi.
Aku terluka, tapi ibu jauh lebih terluka. Mungkin hatinya bahkan sudah hancur. Dan kami tak pernah membicarakannya lagi sampai detik di mana ibu akhirnya menemui bahagianya.
Luka ini, jadi tanda sok jagoannya aku. Jadi tanda bahwa luka bisa terus hidup meski waktu telah menguburnya dalam dan lama.
Begitulah, Sasi..
Oh ya, jangan kasihani aku. Dari tubuh ibuku yang matahari, aku telah memperoleh kekuatan yang lebih hebat dari cahaya.
Bahkan matahari di dalam tubuhku nyaris tak bercahaya, saat ibu jantungku dipanah luka.
Jaga kesehatanmu. Kedai ini hanya akan bernama Kayu, jika manisnya tak terjaga dari senyummu itu di sini.
Salam,
Suvan Asvathama.
(Surat balasan untuk Sasi Kirana @_bianglala)
Jumat, 07 Februari 2014
sedikit mengenai aku
Selamat siang, Sasi..
Hari ini aku absen dari sudut menepikan sepi. Ada yang harus kuselesaikan segera. Oleh karenanya, aku hanya mampir sejenak di kedaimu. Sekadar menitipkan surat balasan ini. Tapi aku tetap memesan pisang goreng madu untuk kubawa pulang.
Semoga sebait puisi kemarin membantu tubuhmu sedikit hangat, selain setangkup roti madu yang kausajikan untuk dirimu sendiri. Semoga kau juga lekas pulih dan kembali.
Tak apa. Sudah tak ada kesedihan jika tentang ibuku. Lagipula, malaikat seperti dia memang harus dikenang sebagai kebahagiaan, bukan? Pun juga tentang semua ibu di ingatan anaknya.
Meja yang hampir pasti sepi itu? Aku bahkan tak terlalu menggubris jika di sana hanya ada tiga kursi saja. Maaf, Sasi, kebiasaan burukku adalah tak terlalu peka dengan sekitar. Bahkan ibuku dulu menganggapku sebagai orang yang paling sibuk dengan dunianya sendiri. Bukan. Aku bukannya egois, hanya karena aku tak suka mengganggu orang lain biar orang lain juga tak akan menggangguku. Mungkin ini sikap yang kelewatan jadi sifat. Tapi karena kau telah bercerita mengenai meja sebelah kiriku, mulai saat ini akan kuperhatikan dengan baik. Atau setidaknya aku akan menghormati entah apa yang ada di sana. Terima kasih untuk info meja sebelahnya. Meskipun aku jadi agak takut sekarang. Aku memang sedikit penakut.. hehehehe
Aku akan terus menulis, sebab di sana, apa saja yang telah tertera takkan hilang begitu saja. Kecuali kau sendiri yang menghapusnya.
Sebab puisi, adalah rumah bagi sepi. Hangat dalam dada ini, disimpan rapi oleh sunyi.
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Kamis, 06 Februari 2014
Sebuah cerita dan sebuah puisi
Rupanya kau belum sembuh. Pantas nyala dapur sedikit remang, mata jingga rembulan itu tak di sana. Istirahatlah sampai kau sembuh benar dan kedai ini mendapat kembali satu cahayanya.
Tenanglah, pisang goreng madu selalu tersaji di mejaku. Anto dan yang lain melayaniku dengan sangat baik. Bahkan mereka selalu mampu menyebut pesananku sebelum aku mengucap satu suku kata saja.
Ah, kau tak suka teh rupanya. Pasangkan saja madu dengan air hangat atau sepotong roti kalau begitu.
Ibuku? Ia ada di rumah menjagaku. Menjaga dengan kenangan yang tinggal di rumah ingatanku. Ibuku telah berada di surga, Sasi. Tiga tahun lalu, saat aku merayakan hari lahirku yang ke dua puluh. Ia pergi dengan senyumnya yang selalu menjagaku hangat. Tapi aku bahagia, setidaknya aku tahu ia ada di surga. Lebih nyaman daripada harus tinggal bersamaku yang tak jelas seperti ini. Sepertinya aku terlalu banyak bercerita, dan tak biasanya aku mau bercerita. Nanti kusampaikan salammu.
Oh ya, aku menggunakan sapa aku-kamu. Bukan 'saya' seperti sebelumnya. Kurasa hal itu cukup kaku untuk perbincangan seumur kita. Tak apa, kan? Aku tak bermaksud apa-apa.
Ehm.. Sepasang kekasih itu? Aku tak hapal benar, tapi aku tahu mengenai si puan. Hanya saja aku terlalu keras kepala untuk mau mencampuri urusan orang lain. Aku hanya sebentar menyaksikan mereka berdebat mengenai entah apa, waktu suara si puan lebih tinggi dari nada suara balon yang meletus karena tertusuk jarum. Kepalaku sendiri rasanya sudah penuh isinya. Untuk apa memedulikan yang akhirnya malah tambah memenuhi isi kepalaku? Si puan ini mungkin juga seperti aku, yang memilih sibuk sendiri dengan sepinya. Beberapa kali kudapati dia lindap dalam sofa depan. Mungkin kekasihnya baru sebentar memiliki waktu untuk mengenal.
Ada sebait puisi hari ini untukmu. Sebagai hadiah, semoga kau lekas pulih dari sakitmu. Semoga berkenan. :)
Kau di sini, beserta muram langit ditiupi angin. Dan musim sedang langut, kau dalam puisi ini selalu bertaut.
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)
Senin, 03 Februari 2014
menu dari sudut kedaimu
Anto memberitahu saya perihal ketiadaanmu di kedai waktu itu. Cuaca memang sedang tak bersahabat. Hujan bertandang di atas apa dan siapa saja, bahkan tanpa tanda apa-apa. Udara dingin jadi sering menyergap tubuh. Mungkin kau harus mencoba teh madu yang biasa ibu saya seduhkan, saat flu sedang mendera saya. Cukup untuk membuat tubuhmu hangat seharian. Lekas sembuh, Sasi.
Mengenai pertanyaanmu mengenai siapa saya, saya bukanlah siapa-siapa. Jika saja kau seperti mengenal saya, mungkin kau menemukan saya sebagai seseorang yang pernah mengisi hidupmu sebelumnya. Entahlah. Saya hanya pengunjung di kedaimu yang nyaman untuk melemparkan kata-kata dan menangkapnya pada tiap goresan tinta. Yang pada akhirnya mereka akan saya sembunyikan di satu sisi cahaya matahari yang tak mampu ditangkap bulan atau benda langit lainnya.
Saya akan terus menjadi pengunjung di kedaimu. Kopi-kopi yang saya pesan di sana rasanya tak ingin saya ceraikan dari lidah saya. Juga pisang goreng madu yang sering kali menemani saya melewati senja.
Kopi istimewa? Rasa-rasanya saya harus mencobanya. Nanti saat saya berkunjung lagi, saya pesan satu untuk mengisi ruang di meja sudut menepikan sepi, juga untuk turut mencabuti kata-kata yang tertanam begitu dalam di kepala ini.
Salam,
Suvan Asvathama
(Membalas surat Sasi
Sabtu, 01 Februari 2014
maaf merepotkanmu
Terima kasih, nona, sudah menemukan sebagian isi kepalaku yang tak sengaja tertinggal. Saya sempat tak yakin akan kembali, terlalu ragu untuk dapat meyakini masih ada kebaikan pada waktu sekarang ini. Dan maaf, saya salah mengira. Kau baik, nona.
Kertas-kertas yang kau baca itu hanyalah kata-kata dari dalam kepalaku yang lantang dan bebal ingin keluar. Maka di sanalah mereka akan berumah. Tinggal dan diam.
Mengenai pergi dan ketergesaanku, sampai-sampai harus merepotkanmu seperti ini, kau tak perlu tahu. Yang pasti sudah kubayar kopi yang tak habis kuteguk, yang wanginya saja masih menguar.
Nona Sasi, nama yang tertera di akhir surat kemarin, jika tak salah mengira, mungkin kau adalah perempuan di sudut dapur yang sering kulihat tanpa sengaja saat aku memesan kopiku. Matamu yang jingga rembulan selalu menarik perhatian saya, dan bahkan mungkin pengunjung Kayu Manis lainnya.
Kedaimu, nona, seperti rumah kedua bagi saya dan juga puisi-puisi yang akhirnya lahir di atas meja yang kau namai sudut menepikan sepi itu. Kau pandai memilih musik, sampai saya betah dan nyaman di kedaimu. Atau selera musik kita sama?
Saya titipkan surat ini pada salah satu pelayan. Kau tidak terlihat di sudut dapur hari ini. Terima kasih, nona. Mungkin lain kali akan saya tuliskan sebait puisi untuk nona.
Salam,
Suvan Asvathama
(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)