Tampilkan postingan dengan label #heihoYo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #heihoYo. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2018

Musim hujan

Terkadang,
kaki ragu melangkah.
Maka berhentilah.

Pun jika musim hujan mulai ranum.
Basah tanah dan jalanan acapkali panen kenangan.
Petani kangen kelimpungan.

Demikian pula aku,
di basah tanah musim deras ini,
tak pernah berhenti memetik sedih.

Keberadaanmu tak sudah-sudah,
tetapi selalu habis sebelum baki dadaku penuh.
Lalu aku cuma punya kosong yang selalu tampak.

Senin, 24 September 2018

Lepas

Ada kalanya aku harus bersyukur karena mencintaimu
Aku tahu bagaimana rasanya memiliki harapan
Menanam lagi mimpi-mimpi yang dulu pernah layu
Menggenggamnya sambil berlari-lari mengejarmu
Meski tak sampai

Ada kalanya aku harus menikmati lagi rasa sakit
Menyapanya setelah berlama-lama ditimang ketidakberdayaan
Tapi aku harus tetap bersyukur
Adanya kamu dengan rasa sakit itu, mengajariku untuk melepas beban
Mengurai bodoh yang kuikat erat sendiri sebelumnya

Ada kalanya
Dan sudah waktunya
Aku menyimpanmu
Atau harus menguburmu dalam-dalam
Supaya kau mati dan dimakan cacing-cacing kenyataan
Lalu aku hidup lagi
Sebagai aku yang dulu pernah sungguh mampu dengan tidak ada kamu

Jumat, 14 September 2018

Bodoh

Ada banyak tanya jauh dari jawab
Hingga aku lepas satu persatu detik untuk menunggu
Tapi tak satupun datang melegakan dahaga keingintahuanku

Sebenarnya,
Ada pilihan untuk melepas dan meletakkan ketidakjelasan ini
Hanya saja aku memilih diam
Sampai kau merelakan sedetikmu untuk memuaskan tanya

Kepada yang lewat dan mengharap sapa ku, aku mohon maaf atas ke-tak-acuhan
Mataku masih tertutup harap tentang mimpi yang sungguh tinggi
Dan masih tak ingin kusuruh pergi

Sabtu, 21 Mei 2016

Kepada Yang Akan

Tiba-tiba saja datang seperti hujan tanpa mendung.
Hari ini dan hari-hari selanjutnya aku menamaimu harapan.
Maka aku takkan memantraimu supaya reda.
Deraslah dan tetaplah demikian.

Adalah angin dan gemericik di tiap malam-malam.
Lalu aku cuma bisa berbincang dengan kebisingan yang menyemai hiruknya di dalam kepalaku sendiri.
Maka aku menulis; memuntahkan semua yang mual di otakku.

Menginginkanmu.
Menyerahkan hidupku ke dalam pelukanmu.
Menghitung tiap waktu bersama napasmu.
Merawat bahagia dengan menggali sedalam-dalamnya tatap matamu.

Kopiku habis dan malam menyerah kepada pagi.
Kata-kataku juga lelah menahan kantuknya.
Tetapi hujan dan harapan yang kamu tak juga reda di kepalaku.
Akan kutahan segala rindu dan ampas kopi biar jadi saksi betapa hati tak menginginkan kamu jauh dari sisi.