Tampilkan postingan dengan label kepadaR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepadaR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

untuk kekasih pagi

Selamat hujan, kekasih pagi..

Ini hari-hari yang menyenangkan, sejak kata-katamu bersandar lagi di mataku. Aku rindu, sajak-sajak pagi yang dari tanganmu. Jemari menangkap embun, dan menuliskannya di kertas matamu. Seperti itu pagi kugambarkan dengan angan-angan. Dulu.

Sekarang kamu datang lagi, seperti meletakkan jejak kaki untuk kuikuti lagi. Bagaimana aku tidak menjatuhkan cinta dengan sengaja? Iya, aku jatuh cinta lagi. Senyummu masih sama dengan waktu itu. Aku masih boleh jatuh cinta, kan?

Aku menyebutmu kekasih pagi, sebab di dalam pagi, bersamamu, aku selalu jatuh cinta seperti kekasih-kekasih lain yang menyandang asmara. Ah, kata-kataku berantakan. Sama dengan debar jantungku yang tak lagi beraturan tiap mengingat namamu, tiap otakku juga menggambar rupamu dalam anganku. Aku jatuh cinta lagi. Sekali lagi dengan berkali-kali. 

Semoga, pagi tetap jadi kekasihku memulakan hari. Tidak luput juga dari senyummu yang matahari.

Salam

Minggu, 13 Januari 2013

yang tersisa dari pagi

Selamat bertemu sapa denganku, kediaman..

Apa kabarmu? Setelah lama nampakmu hanya angan yang hidup di ingatan-ingatan. Pernah berpikir mengenaiku? Tidak perlu sungkan untuk menjawab tidak, sayang. Aku menghitung, ketiadaanmu sudah lebih dari 365 hari. Tidak ada lagi pagimu mencatat embun dari jemariku. Aku rindu pagi yang kau jaga dengan senyum paling cahaya. 

Untuk mengingatmu, baju merah sering kukenakan. Pun malam ini saat kata-kata meminta dituliskan. Kepadamu. Aku masih baik-baik saja, dan akan selalu baik untukmu. Tak peduli telah berapa panjang jalan kulewati tanpa jejak kakimu di samping jejak kakiku. Seberapa lelah? Entahlah, selalu kubantah.  Sudah berlalu sejak ketiadaanmu.

Aku masih ingat tentang malam yang kita lewati dengan berbalas rindu. Kamu untukku dan aku untukmu. Semalaman sampai habis karena matahari menunjukkan diri. Dan kamu harus bertugas untuk pagimu.

Rindu..
Rindu..
Masih ada sisa pagimu yang ingin kau habiskan denganku? Menyantap setangkup roti dan sebait saja puisi, misalnya. Itu cukup. 

Apa kabarmu? Sekali lagi pada angin aku bertanya. Juga pada tinta yang tak juga sanggup menulis nama cantikmu. Di mana? Tersenyumlah, dan semoga bintang menunjukkan arah untuk aku menemuimu. Kehilangan begitu menyesakkan. Apalagi pergimu.

Kamu sanggup tanpa aku? Bantu aku jika begitu. Mungkin dengan mencoret namamu dari embun pagi yang tak lagi pernah bening seperti tatapmu. Kukira kita memang akan baik. Lalu perjalanan panjang ini tak lagi melelahkan tanpa kita. Hanya saja cinta masih mencari gara-gara. Datang pergi sesukanya, seolah dadaku ini  ruang kosong tak berpintu.

365 hari lebih aku masih tetap menghitung. Dan aku masih mencintaimu sama seperti saat kutemukan pagi di indah senyummu. Kini aku berpesan, supaya malamku menjaga kamu.
Juga untuk diriku yang harusnya lelah mencari ketiadaanmu.

Selamat menghampiri kediamanku bila sampai.