Selasa, 07 Mei 2013
menunggumu
Lekuk berliku-liku menanti rindu
Terkadang mendaki, undak berundak tunggu
Aku berpikir telah siap menetapkan kamu
Bahwa medan perang yang kuhadapi adalah desingan kangen, untukmu
Dan ini kesiapan untuk setia
Adakah kau punya waktu?
Adakah kau tahu seseorang menunggu?
Adakah harus kuberitahu?
(dari lagu Noah - Menunggumu)
Jumat, 03 Mei 2013
cara lain
andaikan
angin mampu menyamarkan parau suaraku
yang menyibak kangen
ke muara-muara
ditangkap jala telingamu
atau
hanya diam saja
dan kaupunguti senyap
akhirnya
tubuhmu bersuara
di tengah sibuk bingung berkecamuk
peluk
satu-satunya cara
kita menelaah rasa
Minggu, 28 April 2013
kota masa lalu
Kita dulu tinggal di sini dan saling mencintai. Membiarkan debar riuh tumbuh disemai temu tanpa pernah jauh.
Kita dilahirkan di atas tanah gembur milik ibu, kepunyaan petani-petani rindu.
Suatu kali kau kembali, dan mengulang kisah sore tentang hujan di penuh kepalaku.
Aku tertunduk di ramai jalan dan sinar lampu kota, juga gerimis yang mengetuk-ngetuk.
Ada tawa kukorek dari tatapanmu. Sesenang itu, hening danau tengah kota kepalaku kau sibak dengan dingin keberadaanmu yang lagi.
Aku berlutut. Menatap jalan pulang yang bukan lagi kita, melainkan cahaya. Saja.
Kesedihan jadi benih, penerus baru di hunian kota paling masa lalu.
Semalam, kucatat di gapura kota ini. Bahwa aku terbangun dan menemukan hatimu tercabik senyumku dulu, dan aku dikunjungi lagi musim teratai layu.
Jumat, 26 April 2013
dari sebuah cangkang
Selasa, 23 April 2013
telanjang kerapuhan
Tahukah kamu rasa sang kesepian yang berulang kali membaca seraut puisimu -- membuat kegaduhan dalam sangkar ingatan tak hendak penyangkalan. Pun pendar mesin-mesin waktu berlompatan pernah mencuri; mencari-cari tepat masa temu yang denyar.
( @_bianglala dan @dzdiazz )
-memuisikan foto karya Jamie Baldridge-
Jumat, 19 April 2013
aku sendiri
Di teras atas, ramai aku sendiri
Juga denting gelas aduan sendok
Wedang jahe masih mengepul, tegas
Hangat menyeruak, dari kesedihan ke kesepian
Ingat caranya merajuk, apel yang kukupas sudah berubah warna
Dari putih pucat ke lemas coklat
Masih ramai sendiri, kenangan pasi
Tak berkabar dari serbuk bintang
Aku barangkali,
Hening dan pergi yang kau amini
Sampai kopi enggan menyajikan diri
Dan malam selesai tanpa mampu kuakhiri
Senin, 15 April 2013
Kupikir ini rindu
Semalam aku memimpikan kamu. Lagi.
Dan pagi aku terbangun, cericit burung ramai sampai angin lembut-lembut menyapa kepalaku.
Ada yang diam mematung; cahaya matahari dan aku yang masih memangku bunga pejam semalaman, sampai lupa mandi pagi.
Satu deguban, menampar lamunku.
Terperanjat pada waktu yang menyadarkan, bahwa sudah lebih dari enam puluh delapan hari aku tak menemu tatap matamu.
Aku menghitung dengan benar sejak pergimu. Sejak harus kutata sendiri rindu-rindu yang terus merengek setiap hari.
Aku menatap tiap detik jarum jam yang terus berputar.
Membiarkan sel tubuhku menahan sesuatu untuk berseru.
Kamu hanya mengirim kata-kata dari kumpulan huruf rindu penenangmu--penghiburku.
Jawabanku; "pun juga aku kepadamu", begitu selalu.
Jumat, 12 April 2013
bertumpuk
Ada kalang kabut di sana
Entah di bagian mana, di antara ketiadaan dan harapan
Saling penuh memenuhi, dan aku sesak
Aku hanyalah keberadaan yang tak berada
Sedang kau, ingatanku dalam segala rupa
Apa hendak kuhapus, jika lemparan-lemparan ada telah begitu nyata
Seperti kanvas yang telah yang telah dikawini tinta
Siapa rela menceraikan indah lukisan?
Kau adalah bagian, di mana tanganku dengan teguh merebahkan warna-warna, hingga rupa.
Kaulah warna, tumpukan yang kujadikan rupa dari cahaya ke asa.
.jpg)
