Tampilkan postingan dengan label #DuetPuisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #DuetPuisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2016

Perihal Kosong

Di rumah ini
Kulihat ruang-ruang lengang dan lembap
Asing.

Ini tahun ke berapa kita bersama?

Aku tiba dan mengetuk pintu.
Mungkinkah kamu di sini?
Masihkah bertubuh mantra wangi cinta?

Tempat aku pulang.
Meniupkan mimpi-mimpi di dadamu.

Namun rasa kelu mengunci kata-kata.
Asin dicecap sedih.

"Siapakah kamu?" Tanyamu.

                                      ***

Tak ada yang datang.
Sebelumnya.
Kecuali hujan dan musim-musim layu lainnya.

Seperti kedatangan hujan, aku tak pernah menghitung seberapa lama.
Tak juga paham mengapa harus dihitung.

Seperti pula jatuh daun. Ia tak ke mana-mana, kecuali angin atau deras hujan yang mengalir, yang membawanya pergi.
Bukan inginnya sendiri.

Masihkah sama ini kau sebut rumah, jika kosong telah mendiaminya lama-lama?
Ataukah hanya datang dan singgah?

Belukar di depan pintu telah menyimpul tubuhnya jadi kata-kata; "Siapakah kamu? Siapalah aku."

( #duetpuisi bersama @_bianglala )

Minggu, 16 November 2014

Biar Saja Putih dan Bersih Sekali

Kau telah membangun dinding. Mengecatnya dengan cat warna putih, lebih putih dari kulit tubuhmu. Tapi juga tak putih pucat seperti wajahku, waktu kau meninggalkan aku.

Aku ragu menuliskan sesuatu di sana. Bahkan takut, walau hanya sekadar mencoret. Bagaimana jika aku ingin menancapkan paku, jika aku mau menggantung lukisan yang seminggu lalu kubeli? Aku tak ingin melukaimu.

Tak ada.
Lalu tak ada yang tertulis. Biar saja putih dan bersih sekali.

Sampai-sampai bayangan yang jatuh dari tubuhku limpung. Dan ini pertama kalinya, cahaya tabah tak membiaskan apa-apa. Biar saja putih dan bersih sekali.

Dinding itu, adalah hatimu. Berisi kesucian. Biar saja putih dan bersih sekali.

(#duetpuisi - untuk @duetpuisi)

Kamis, 13 November 2014

Hujan di Atas Kepala

Abu-abu yang membentang jauh di langit sana telah bergulung-gulung. Tinggal menunggu kau sentuh dengan jemarimu, lalu hujan.

Rambut-rambutku akan jadi atap. Akan menjadi yang pertama menangkap segala jatuh-jatuhan hujan. Dan menyimpan semua derasan di dalam kepala, menyembunyikan segala ramai atas bulir-bulir dari atas sana. Kepalaku jadi pasar malam pada hari pertama buka. Riuh sekali.

Ini bukan lagi tik-tik-tik. Bukan hanya sekadar rintik, bukan kedip matamu yang lentik. Bukan itu.

Hujan betapa deras, sungguh telah membuahi kepala. Bahwa sebentar saja akan melahirkan anak-anak ingatan sepanjang kenangan telah berjalan.

Sementara, atap yang kupasang tak lagi sanggup meredam. Meski akan memuntahkanmu lebih lambat.

(@duetpuisi - #cerau)

Senin, 10 November 2014

Bunyi-Bunyi Suaramu

Suara sehening apa pun akan mampu mencabik-cabik daun telingaku yang tertutup rambut. Atau sekadar bisikan yang membangunkan seluruh ingatan, seperti pagi.

Rupanya aku mengenal satu suara--yang hangat melebihi selimut tapi tidak pelukan. Aku pikir, suara itu adalah bebunyian pesan dari bibir yang meniupkan harmonika. Nada-nadanya lahir jadi tangisan bayi yang menggemaskan.

Aku sendiri tak mampu menirukannya.

Tapi semakin sering aku mendengarnya, menaruhnya di daun telinga, semakin pula aku asing oleh nadanya.

Tapi itulah suaramu, bunyi-bunyi dari pita suara yang ditelan gendang telingaku sepanjang hari. Dan aku tak pernah bisa membenci ketenangan yang sukar kuterjemahkan ini.

(@duetpuisi - #eufoni)

Sabtu, 08 November 2014

Musim Semi di Kepala

Kita sedang duduk sambil memantau mendung. Apakah hujan akan jatuh, sedang di kepala kita masing-masing telah bermula musim semi?

Tak ada yang bergetar dari langit. Sama sekali. Bahkan, tak ada satu nadapun gemuruh tiba.

Daun-daun tumbuh di dalam ingatan. Dan mata kita jadi taman yang banyak dikunjungi keluarga untuk bermain dengan tawa-tawa.

Tetapi langit masih saja mendung. Musim di luar dan musim di kepala kita hidup di pisah benteng.

Sungguh kita adalah tunas-tunas daun yang haus matahari. Ada begitu banyak harapan; aku yang kamu dan kamu yang aku.

Maka, kepada kepala kita masing-masing yang menyimpan musim semi, semoga tak ada musim lain yang tega menggunduli. Perihal waktu, biarkan semuanya silih berganti dan menuntun usia untuk terus memanjang dan menunggu.

(@duetpuisi -  #musim)

Kamis, 06 November 2014

Sesungguhnya engkau

Ranting-rantingnya basah mandi hujan paling bening
air dari langit, hambar bukan asin

Daun-daunnya adalah rambut
lebat seperti hutan yang sekalipun tak pernah disambangi penebang
dan sanggup menyembunyikan berbagai kalut dalam kepala

Buah-buahnya ranum
siap dipetik
bukti panen dari semua musim ketabahan

Satu dua kuntum bunga tersisa
tinggal di pucuk dengan warna sejuk

Ia tumbuh di atas tanah
pernah mengubur kesedihan
yang menjadikan akar-akarnya menyusu pada dingin dan kesendirian
sabar

Maka,
engkaulah pohon
mahir memulangkan segala tubuh yang butuh teduh

(@duetpuisi - #alam)

Sabtu, 20 Juli 2013

sisa-sisa yang terjaga

Kau mungkin saja tidak menemukan jejak di antara pasir pantai. Kau hanya akan menemukan kerontang-kerontang panci dengan sisa kerak coklat santan dan piring-piring kotor terserak bekas para nelayan melayani rengekan cacing-cacing dalam perutnya, di sudut dermaga. Sebab, ikan-ikan tangkapan melarikan diri, jauh dari jala yang ditebar. Apa kau tahu, deru ombak seringnya menggulung-gulung harapan, saja.

Dan langit menggelap. Nelayan yang setengah kenyang memasukkan sisa pisang, selain jala dan umpan ke buritan. Barangkali, di tengah gundah tengah laut, ada satu yang bisa dipegang harapannya. Seperti menggenggam satu dari senyum jejak tinggalanmu di pasir pantaiku. 

Pada saat pagi sudah kembali, dan saat panci-piring sisa santapan tak juga tercuci, aku tidak menjadi buta dan melihat seluruh kerak masih terjaga. Di antaranya teronggok tawa yang purba--saksi bahagia yang luput dari gendongan malam, juga sinar mercusuar; keberadaanmu, begitu jauh dari dermaga tempatku bersauh.

(Untuk @WE_Dewie - tema 'kolak')

Rabu, 17 Juli 2013

pada akhirnya di sebuah pantai

Pada akhir senja sekitar pukul enam lewat, saat kebanyakan nelayan mempersiapkan jala di buritan kapal, dan membiarkan keriuhan bergembira di sepanjang bibir dermaga, tak memperhitungkan nyala-nyala kesepian ikut terjaga.

Sekumpulan angan terbang dan mematuk-matuk gelombang, pun mengundang debur ombak, merekam keberadaan.
Tidakkah kekosongan itu terjawab?
Sebab pantai hanya memiliki dermaga dengan nelayan tua yang lebih setia kepada jala.

Maka pada akhirnya, kedatangan perahumu di antara bunyi jam yang jarumnya menunjuk pukul sembilan. Malam. Ini adalah waktu di mana pasir-pasir boleh lagi menembaki jejak-jejak baru dan menandai segala hal yang terpercik oleh tibanya penantian.

Ini pantai ketika aku bisa lagi tertawa.
Ini dermaga ketika tibamu menjadi selamanya.


*balasan untuk @WE_Dewie dalam #DuetPuisi*

Selasa, 16 Juli 2013

Pantai yang menunggu

Ini pantaiku
Setiap petang, angin menyala-nyala. Aku adalah penghuni yang setia menjatuhkan diri dan hati dari angan. Menunggu pelancong singgah menyandarkan kapal, mengisi hampar pasir dengan wangi jejak baru, yang akan kembali memulangkan angan ke dalam diri dan hati.

Aku berharap kamu datang dan hari menjadi lebih panjang, seperti bentangan pantai yang hanya sanggup aku pandang. Sendirian. Bahkan kata-kata yang ditulis pujangga tak mampu menjangkau ujung ke ujungnya. Dan takdir puisi hanya melingkar-lingkar di jantung debar.

Pantai ini masih penuh kekosongan. Tak ada yang menyetubuhi pasirnya selain angin yang terburu-buru.

Perjalananmu yang jauh nan lelah, semoga tiba di dermaga kecil usang. Tapi tenanglah, ujung dermaga terbuat dari kayu-kayu yang setiap waktu kuajari ketabahan menunggu. Ia tidak lapuk.

Ini pantai di mana kau bisa mengubah pasir menjadi desir.
Ini dermaga di mana kau bisa menjatuhkan jangkar dan melabuhkan debar.