Anak lelaki berpeluh penuh itu,
termangu memeluk harapannya.
Paksaan hidup membuatnya terbiasa menahan gemuruh perutnya.
Kedua lengannya mendekap lututnya.
Kedua matanya tertuju pada tong besi berkarat di sudut luar kedai.
Di dalam kepalanya berkecamuk angan,
mengenai sisa-sisa butiran nasi,
atau satu - dua potong saja sisa kue bolu.
Apa saja, ia mengiyakan.
Lalu hujan.
Di sana, jatuhlah pula satu amin.
Tak perlu lagi menunggu sisa teh manis.
Tangannya tengadah, mengumpulkan tetes demi tetes,
menghabisi kering kerongkongannya.
Ia menanggung hidupnya sendiri.
Keberadaan yang baginya tak perlu ditangisi.
Ibu, angannya; adalah pelukan di kala tidur llapnya.
Ayah, di pikirannya; siapa saja asal membuatnya kenyang.
Lalu lelaplah ia di teduh pohon seberang kedai,
sampai laparnya lalai.
Tampilkan postingan dengan label patahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patahan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 April 2013
Senin, 14 Januari 2013
catatan sebelas hari
nampak tubuh-tubuh hujan masih menggigil
kuhabiskan secangkir kopi hitam
menyela kantuk
menyisihkan mimpi yang kutuk
lalu berjalan sampai lelah
apa guna kelelahan jika asa terus juang?
kau lahir dari harapan ke harapan
kehilangan demi kehilangan
tetap bertahan
matamu yang cahaya
menyimpan detik-detik luka
derit suara tak pernah sampai
diam paling kata
di luar malam sudah mendahului perjalanan
kita tak pernah sampai
mungkin catatannya
kita harus berjabat tangan lagi
dengan kesendirian
masing-masing
kuhabiskan secangkir kopi hitam
menyela kantuk
menyisihkan mimpi yang kutuk
lalu berjalan sampai lelah
apa guna kelelahan jika asa terus juang?
kau lahir dari harapan ke harapan
kehilangan demi kehilangan
tetap bertahan
matamu yang cahaya
menyimpan detik-detik luka
derit suara tak pernah sampai
diam paling kata
di luar malam sudah mendahului perjalanan
kita tak pernah sampai
mungkin catatannya
kita harus berjabat tangan lagi
dengan kesendirian
masing-masing
Kamis, 10 Januari 2013
sebab kita menjadi pernah
bila pada saatnya ada jalan berpisah, di persimpangan ini aku memilih pergi
tawa akan selalu tetap ada, kuusahakan ada
aku masih ingat, tak sekalipun kau mengajariku luka
kita melangkah pada jalan yang telah berbeda
untuk kesekian-kalinya setelah pergi kusetujui, dadaku lebih debar
menggamit-gamit hujan supaya lebih deras
jatuh dan jatuhlah tanpa peduli pada kesepian
yang melangkah kini, sepasang kaki yang sudah-pernah mengenal kamu
pernah beradu tatap dengan seluruh rindu
pernah menyeka peluh setelah menempuh jauh
pernah sesadarnya membiarkan cinta jatuh
dan acapkali menimang-nimang senyum
tidak menjadi perkara siapa-siapa
hanya kita yang coba memaknai lagi kita
sebab kita menjadi pernah
tawa akan selalu tetap ada, kuusahakan ada
aku masih ingat, tak sekalipun kau mengajariku luka
kita melangkah pada jalan yang telah berbeda
untuk kesekian-kalinya setelah pergi kusetujui, dadaku lebih debar
menggamit-gamit hujan supaya lebih deras
jatuh dan jatuhlah tanpa peduli pada kesepian
yang melangkah kini, sepasang kaki yang sudah-pernah mengenal kamu
pernah beradu tatap dengan seluruh rindu
pernah menyeka peluh setelah menempuh jauh
pernah sesadarnya membiarkan cinta jatuh
dan acapkali menimang-nimang senyum
tidak menjadi perkara siapa-siapa
hanya kita yang coba memaknai lagi kita
sebab kita menjadi pernah
Langganan:
Postingan (Atom)