Sabtu, 28 Februari 2015

Ulat Luka

Aku menyeduh secangkir lagi kopi. Di luar jendela, hujan masih saja deras sedari pagi. Kenangan menyiangi kepala dan setiap detiknya ada saja kau di sana. Masih. Sebab itu aku kemudian menulis surat ini. Tanganku tak sabar menuliskan kata-kata yang kepada diriku dan dirimu ingin ditujukan untuk dibaca.

Aku ingat, betapa luka masih menjadi ulat dan bersembunyi di antara dedaunan yang tertawa digelitik angin. Betapa luka pernah sekecil itu dan aku tak sedikit pun merasa atau melihat. Sampai pada suatu hari, luka yang ulat itu mulai lapar dan menemui daun tempatnya hidup unyuk dimakan. Aku tahu, sayang, daun itu tumbuh di pohon dadaku yang pernah begitu rajin kau sirami selagi waktu belum mengenalkan perpisahan kepada kita.

Waktu itu aku juga ingat, pohon yang kering kau tinggalkan dengan sisa daun yang hampir habis, tertinggal ranting. Betapa lagi-lagi luka yang ulat itu menghabisi aku. Sampai pada akhirnya kau melilit tubuhmu sendiri di dalam kepompong dan waktu menjadikanmu indah kupu-kupu. Kau memerlihatkan kecantikanmu pada semesta, sementara aku kering dan mulai mati di antara musim. Kau terbang mengitari aku. Menunjukkan bahwa kepak sayap indahmu sanggup meninggalkan aku. Bahkan kau lebih cantik dari bunga yang mekar di taman.

Aku, pohon kering itu berusaha tetap tumbuh dengan melihat kepergianmu. Aku memang tak sanggup terbang, tetapi aku tetap mampu tumbuh meski harus menunggu hujan di musim selanjutnya. Atau barangkali ada tangan yang tak tega dan menyiramiku sebelum aku benar-benar kering seperti gurun pasir.

Aku masih percaya akan ada matahari mengirim cahaya dan takkan pernah habis  untuk menyeka luka. Aku juga paham akan ada lagi ulat yang menyentuh tubuhku, tetapi takkan kubiarkan lagi ia menggerogoti aku seperti ulat sebelumnya. Kau, tetaplah jadi kupu-kupu yang pergi meninggalkan aku dan aku akan jadi pohon yang rela untuk disinggahi lagi ulat juga luka-luka. Selagi masih ada waktu untukku mencintaimu.

Jumat, 27 Februari 2015

Menulis Satu Lagi Kecemasan

Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul berapa akan terus begini.

Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri. Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai. Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.

Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau cepat sembuh dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya kau cepat sembuh, juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang menunggumu sembuh selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum manja.

Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja kalau kau sudah sembuh. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama. Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.

Kamis, 26 Februari 2015

(Masih) Tentang Pantai

Hai,

Dari banyak surat di #30HariMenulisSuratCinta, aku memilih suratmu. Surat yang kau tulis tanggal 21 Februari 2015 sebagai surat ke-23 yang lalu. Selain karena surat itu memang untukku, tetapi juga di dalamnya kau menulis tentang pantai. Sesuatu hal yang kau tahu benar bahwa aku tak bisa lepas dari sana.

Kata-katamu begitu hidup. Membaca suratmu saja aku sudah seperti di sana, di Pantai Glagah meski pun sekali saja aku belum pernah ke sana. Aku bahkan bisa mendengar ombak dari huruf-hurufmu. Semacam senyap yang berbisik merdu seperti lagu yang kudengar dari jauh.

Suratmu adalah surat sederhana yang di dalamnya sedang membangun pesawat. Di akhir aku selesai membacanya, aku diajak terbang, pergi merelakan semua kesedihan. Menuju ke senja di mana kamu pernah berada, di tepi pantai itu.

Lala, terima kasih sudah menulis surat dan menceritakan sebuah pantai untukku. Sementara aku sibuk dengan perihal-perihal mauku sendiri. Kali lain akan kuceritakan tentang entah apa saja yang bisa kuceritakan.

Semoga kau segera benar pulih dan terus menulis. Barangkali ada pantai yang bisa kau kunjungi, lalu menceritakannya kepadaku. Akan kucatat dan jika waktu berjodoh dengan detikku, akan kukunjungi nanti. Paru-paruku butuh angin laut, telingaku butuh debur ombak, mataku butuh senja tanpa batas, juga kakiku butuh pasir. Sungguh, seluruhku ingin di pantai sampai subuh dan penuh.

Untuk @_bianglala

Rabu, 25 Februari 2015

Pahamilah Aku

Setiap malam, waktu bintang mulai membuka cahaya, aku merasa ada bunga sengaja membuka kelopaknya di tengah taman. Lalu aku membeli vas dari penjual kaki lima yang tangannya terluka karena pecahan vas lainnya yang tak jadi aku beli. Kau bunga itu dan aku takkan menyengajakan untuk melukaimu.

Aku mengumpulkan bunga yang mekar kelopaknya setiap malam. Dan mencatat beberapa duri yang turut serta di tangkainya sebagai ingatan tentang luka sambil tersenyum. Kau mungkin bingung aku menulis apa di sini. Tetapi begitulah yang terjadi kalau aku menceritakan tentangmu kepadamu.

Kata-kataku barangkali petualang yang menemui labirin dan akhirnya hanya tersesat dan tersesat. Sementara hidup dan waktu sedang membangun pintu dan memasang kuncinya supaya nanti aku bisa keluar. Tetapi aku takkan ke mana-mana karena meninggalkanmu adalah melemahkan diriku sendiri. Mana rela aku melepas peluk paling menenangkan milik hidup?

Kepadamu, aku mohon untuk terus memahami aku. Karena tanganku akan terus menulis dengan lengan yang juga terus memelukimu. Andaikan kau tak paham, semoga waktu yang menitnya akan pecah jadi detik dapat mencerna semua perasaanku dan menjelaskannya perlahan kepadamu.

Selasa, 24 Februari 2015

Kepada Mama

Mungkin aku mencintai diriku sama seperti kau mencintai aku. Atau seperti laut yang mencintai pantai, hingga ujung-ujung pasir tak pernah dilepas asin. Mungkin seperti itu, aku tak tahu pastinya bagaimana kau sebenarnya mencintaiku.

Kepada mama, seringnya aku hanya peduli mengenaiku. Bagaimana kau harus menyediakanku sarapan dan bekal setiap pagi, memasak untuk makan siang kalau aku tiba-tiba pulang, menyajikan makan malam karena takut aku kelaparan di tengah malam. Bahkan aku seringkali hanyut pada marahku, di mana kau hanya lupa tak mengecupku ketika berangkat atau tak memelukku lebih dulu sebelum aku lelap tertidur. Aku hanya peduli aku.

Melulu aku tak memerhatikan senyummu. Terkadang kau juga pasti lelah, tetapi aku sedikit saja tak melihat bahwa keriput di pipimu mulai bertambah. Aku bisa saja membelikanmu bedak paling mahal, tetapi sekalipun aku takkan sanggup mengembalikan sedetik saja waktu. Kesibukanku berganti dari bermain, sekolah, bekerja, menjalin cinta dengan kekasihku, namun kesibukanmu hanya satu; membahagiakan suami dan anak-anakmu.

Mama, musim telah mengajariku banyak hal. Termasuk hujan yang seringkali jatuh di tubir waktu dan jadi penyesalan karena basah tak lebih tabah dari hatimu. Juga mengenai hari-hari di mana aku menjauhkan diri dan menjadi lebih peduli pada dunia yang tak pernah aku kenali.

Aku tahu, kau tak pernah jauh dariku. Doa-doamu selalu jadi embun pagi yang jatuh di kaca jendela dan membangunkan aku. Mengantar hidupku untuk tak jatuh ke dalam luka. Terkadang, waktu aku mengingatmu, aku jadi takut untuk memejam. Bagaimana nanti kalau aku tak lagi bisa membuka mata dan mendapatimu begitu jauh dari aku? Bagaimana?

Sungguh, aku perca kain yang dijahit begitu rapi oleh tanganmu. Diciptanya aku jadi baju dan menghangatkan tubuhku sendiri. Benang yang kau pakai untuk menjahit bahkan tak sedikit pun berani koyak. Tidak ada yang boleh menyakiti aku, bahkan diriku sendiri, katamu.

Senin, 23 Februari 2015

Di Akhir Jarak

Pada langit yang mulai memerah dan ombak yang semakin giat berkejaran seperti kaki-kaki kecil anak nelayan mengejar layang-layang, aku mencari kata-kata untuk menuliskanmu sebuah surat. Di sini, di tempat aku kembali mengantarmu pergi atau pulang ini, aku menyadari beberapa hal; aku tetap membiarkanmu pergi tanpa menyiapkan bekal, keramaian yang kudapati di sini sebenarnya adalah kumpulan sepi yang menyimpan gelisah dan meminjam bibir rindu untuk menyembunyikan risau, juga tentang jarak yang harus kita tempuhi lagi. Betapa akrab kita dengan ratusan kilometer peluk harus menahan diri.

Pintu pesawat telah tertutup dan aku bahkan tak bisa melihat punggungmu lagi. Langit mendung menyambutmu di atas sana. Di bawah sini, angin dingin menyergap tubuhku dan menyapu beberapa helai rambutku membuka kening  tetapi tidak lagi ada kecupan mendarat di sana.

Sebelum akhirnya aku pulang, aku menyelesaikan suratku ini supaya nanti tepat ketika kau sampai di kotamu, sudah ada sesuatu hal yang mengingatkanmu kepadaku. Surat sederhana yang isinya rindu melulu.

Aku membayangkan diriku adalah burung yang terbang dan mengetuk jendelamu di pesawat. Mendampingimu sampai tiba dengan selamat. Di bibir angin aku menyeimbangkan kepak sayap, terbang dengan susah payah dan menjadikan langit sebagai rumah. Sungguh, aku burung yang sengaja mengantarmu pulang dan membiarkan segala musim menjaga rindu untukmu.

Di akhir jarak, di mana di sanalah kamu tinggal, aku tahu senja sudah jadi petang dan bayangan membuka gulungannya menjadi lebih gelap. Waktu yang tak lagi merah juga telah memulangkan anak-anak nelayan, pun burung yang mengantarmu pulang. Semuanya kembali pada sepi dan rindu yang telah menyentuhnya sebelum malam pada akhirnya iba.

Minggu, 22 Februari 2015

Di Bawah Payung

Sungguh, pada saat akhirnya kita bertemu aku ingin memberimu detik jam. Supaya kau tahu di sana masih ada waktu yang berdetak untukmu. Setelah itu baru pelukan untuk kembali menghangatkan masing-masing dada yang sebelumnya saling menggigil oleh jarak.

Kini aku tak lagi sendiri merangkum kangen di antara deras hujan. Sayang, aku mau membuat hujan cemburu. Karena sebelum-sebelum ini hujanlah yang sering kucemburui, hujan lebih sering menyentuhmu daripada aku. Atau kau mau bermain hujan dan membuat basah paling bahagia? Aku akan menaruh payung, lalu menari di antara derasan.

Sayang, katamu, dulu kau sering bermain hujan dan tak pernah takut kedinginan. Oleh sebabnya, aku, seseorang yang akrab dengan gigil, dengan senang hati menemanimu di sini. Bahkan rela jika harus menanggung gigil yang milikmu.

Sayang, aku sering berdoa supaya payung yang kutaruh saat kita bermain hujan tidak hilang. Karena aku cuma punya satu. Aku mau payung itu jadi pelindung di saat kamu atau aku malas bermain hujan. Juga supaya dengan payung itu kita berjalan saling berengkuhan. Kita diatapi satu payung dan saling tersenyum. Bahkan jika mau menangis, masing-masing kita tak perlu malu atau menyembunyikannya dengan berhujan-hujan.

Nanti, pada saat akhirnya kita tiba di akhir usia, aku mau payung itu ikut dalam perjalanan terakhir kita. Entah lebih dulu aku atau kamu. Supaya masing-masing kita ingat bahwa di bawah payung ini kita pernah sama-sama bahagia. Lalu kita menutup payungnya, mengatup kesedihan, menyimpannya sampai kesedihan berikutnya kita atapi dengan apa yang sungguh pernah mengatapi kebahagiaan kita.