Minggu, 20 Januari 2013

untuk kekasih pagi

Selamat hujan, kekasih pagi..

Ini hari-hari yang menyenangkan, sejak kata-katamu bersandar lagi di mataku. Aku rindu, sajak-sajak pagi yang dari tanganmu. Jemari menangkap embun, dan menuliskannya di kertas matamu. Seperti itu pagi kugambarkan dengan angan-angan. Dulu.

Sekarang kamu datang lagi, seperti meletakkan jejak kaki untuk kuikuti lagi. Bagaimana aku tidak menjatuhkan cinta dengan sengaja? Iya, aku jatuh cinta lagi. Senyummu masih sama dengan waktu itu. Aku masih boleh jatuh cinta, kan?

Aku menyebutmu kekasih pagi, sebab di dalam pagi, bersamamu, aku selalu jatuh cinta seperti kekasih-kekasih lain yang menyandang asmara. Ah, kata-kataku berantakan. Sama dengan debar jantungku yang tak lagi beraturan tiap mengingat namamu, tiap otakku juga menggambar rupamu dalam anganku. Aku jatuh cinta lagi. Sekali lagi dengan berkali-kali. 

Semoga, pagi tetap jadi kekasihku memulakan hari. Tidak luput juga dari senyummu yang matahari.

Salam

maaf jika bukan inginmu

Sugeng sonten, Mbah Kung..

Aku kangen mbah kung..
Sudah sejak sebelum aku lulus SD sampai aku hampir lulus kuliah, mbah kung tidak lagi di sini. Rumah kulon sepi sekarang, tapi masih berdiri kokoh sama seperti mbah kung yang gagah dengan seragam cokelat di foto. Catnya masih sama, garasinya juga masih ada. Masih bisa kutemui mbah kung yang duduk di teras rumah, sama mbah putri seperti dulu waktu aku pertama kali belajar naik sepeda.

Aku kangen mbah kung..
Dulu waktu mbah kung masih 'sugeng', aku mau jadi seperti mbah kung. Dengan seragam cokelat gagah, jadi penegak hukum, jadi polisi. Aku mau jadi polisi. Dulu. Sampai akhirnya mbah kung nyusul mbah putri, kondur ing daleme Gusti.

Bukannya ingkar janji, tapi aku menemukan kenyamananku. Mbah kung pasti tahu kenapa sekarang aku ga mau lagi jadi polisi. Aku suka kebebasan, mbah. Jadi polisi harus berseragam, patuh dengan peraturan-peraturan di akademi. Sekarang aku memang tambah bandel, susah nurut kalau dibilangin. Tapi ya aku sudah nemu apa kemauanku. Mbah kung boleh bangga, nilaiku selalu di atas rata-rata, katanya aku harus jadi anak pinter. Sudah aku turuti. Tapi aku tetap ga mau jadi polisi. hehehe..

Doakan saja dari surga, mbah, biar semua yang aku jalani sekarang bisa jadi kebanggaan anak ragilmu. Doakan saja, mbah. Terima kasih untuk disiplin dan tegas yang pernah mbah kung ajarkan. Mbah kung itu salah satu polisi kebanggaanku. Salam hormat, Kapten. Salam juga untuk mbah putri, aku kangen jadah gorengnya..

Berkah Dalem

Sabtu, 19 Januari 2013

menderaslah saja

Salam deras, hujan..

Aku senang dengan keberadaanmu. Berulangkali aku jatuh cinta, dan selalu jatuh cinta untuk datangmu. Menjadi tenang dan kelegaan bagi kerontang. Rerumput tak lagi kering, dan daun rimbun subur karena pohon cukup minum. 

Beberapa hari ini, kau datang bertubi-tubi menyebar deras. Dari pelosok desa sampai tanah ibukota. Dari desaku, aku menyambutmu dengan tawa. Mengaminkan berkah yang turun sebanyak-banyaknya. Aku bersyukur tanahku masih sanggup menyimpan berjuta tetes kamu. Masih mampu menampung jejatuhanmu. Aku bersyukur hujan masih menjadi deras saja, mungkin karena masih banyak merah tanah yang bertelanjang dada, menerimamu tanpa sulit resapnya.

Hujan, kau lihat di ibukota sana? Jatuhmu yang cukup lama menimpakan sukar bagi penghuninya. Sebentar, apa kau marah karena tanah, kekasihmu, tak lagi diberi ruang? Tak lagi dibiarkan bernafas bersama rumput dengan bebasnya? Lapang dadanya ditutup beton-beton kuat, merah rupanya jadi hitam aspal. Kau marah? Sampai-sampai hujan kau jadikan bah? Cukuplah kali ini saja, hujan. Cukup. Sudah ada banyak tangis tumpah, sudah pula kehilangan demi kehilangan jadi ramah. Cukup.

Hujanlah saja untuk berkah. Maaf jika kekasihmu, yang tanah itu, tak lagi kami biarkan bebas. Dan terima kasih untuk peringatanmu. Semoga kami, yang pelupa dan tak juga puas ini menaruh sadar untuk kekasihmu, tanah, tempat kami hidup dan melanjutkan degup.

Selamat menderas. Selamat menyiram dengan puas. 

Salam, penjejak tanah, kekasihmu.

Rabu, 16 Januari 2013

dari bumi kepada langit

Selamat seluruh masa, Wid..

Entah sedang pagi, siang, sore, atau malam di surga sekarang. Sebab kukira, di sana adanya seluruh masa. Apa kabarmu? Yang dibilang banyak orang, surga itu indah, maka kukira lagi kabarmu akan sangat baik. Sudah dekat dengan Tuhan, kan. Bahagia itu pasti. 

Lelah dan sakitmu purna. Bumi menidurkanmu selamanya dengan memberimu tempat paling sendiri untuk raga dan langit menerimamu yang jiwa. Tidak ada lagi tangis karena sakitmu. Tidak ada lagi obat yang harus kupaksakan minum padamu. Tidak pula larangan untuk menikmati senja yang dingin. Nikmati semuanya, semaumu dari tempatmu sekarang. Dari surga yang sudah kau angan-angankan dulu. Pun juga lelah yang kau bisikkan di telingaku. Bermainlah sepuasnya sekarang. Berlari sampai habis inginmu sendiri.

Kupikir, kau pun sekarang mampu terbang. Cita-cita dulu, waktu kita iseng menyobek kertas dan membuat pesawat kertas. "Aku mau terbang setinggi awan" katamu sambil menerbangkan lipatan kertasmu. Sudah kau jalani kini. Mimpimu terbang berhasil kau gapai, meski tak lagi kudampingi. Kau cukup dewasa untuk melakukannya.

Mengingatmu, sungguh, aku harus membangun pilar demi pilar mampu. Lima tahun lalu, Wid. Aku masih ingat pesan di ponselku yang tak kubalas. Lewat pelukan terakhir, aku mengatakan iya untuk tetap mencintaimu. Lima tahun lalu kehilangan melibas tawaku.

Tidak perlu sedih, sekarang. Aku sudah bisa tersenyum. Bumi tempatku berpijak, mengenalkanku kepada bahagia yang tak pernah kuduga darimana datangnya. Pun langit yang senantiasa iba, menjatuhkan hujan untuk menenangkan resahku hingga tiada. Tenanglah, Wid, doamu sampai ke aku dengan sungguh selamat. Hingga menyelamatkan aku dari luka-luka.  (Pernah) mencintaimu adalah sebaik-baiknya waktuku saat itu, sampai sekarang. Terima kasih pula untuk waktu yang berharga dulu. Kepingan kenangannya lelap dalam dadaku. Ia tidak akan pernah pergi.

Semoga kau bisa membaca surat ini. Jikapun tidak, nanti akan kubacakan pada doaku. Semoga kamu, bahagia di jalan surgamu. Pun aku, bahagia di jalanku yang masih di bumi. Sampaikan pada langit tempat jiwamu tinggal, terima kasih untuk hujan yang teramat meneduhkan. Selamat berbahagia di langit surgamu.

Sampai bertemu nanti, Wid..

Aku, pengingatmu di bumi.

Selasa, 15 Januari 2013

untuk pernah

Selamat senja..

Tidak perlu lagi berbasa-basi. Memang sesungguhnya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Bukan untuk menggnggumu. Sekadar bertegur sapa saja. Aku melihatmu, tadi dengan tas hijau kesayanganmu itu. Senyum yang masih sama saat aku-kamu masih bertaut pada kita.

Langkahmu ringan seperti daun terbang terbawa angin, lalu jatuh dengan jejak-jejak yang utuh. Tubuhmu yang wanginya masih menyimpan seribu kenang dalam ingatanku, masuk dan mengetuk kehilangan yang sudah lama tidur pulas. Apa kabarnya dadamu? Hangat yang ramah dengan pelukan. 

Tidak ada lagi kita, bukan berarti aku lupa yang pernah tercatat di buku rindu. Dulu. Sekali tatap, mataku dapat menangkap ribuan kenang dengan teramat dekat, teramat dekap. 

Selamat menempuh bahagiamu yang bukan lagi aku. Sudah kutempuh pula milikku, meski masih sekali waktu harus terhenti dan berpisah persimpangan. Tenang saja, ini sama dengan kehilangan demi kehilangan milik kita, dulu. 

Terima kasih untuk pernah yang megah.
Untuk pernah paling singgah.
Untuk pernah yang sudah.

dengan hati, d milikmu.

catatan bersampul merah jambu

Kadang tanda tanya dari seberang situ membuat titik dua tutup kurung buat sini - sadgenic

Selamat sore, Rahne Putri..

Aku masih suka terperangah jika membaca catatanmu di buku bersampul merah jambu itu. Salah satunya yang tertulis di atas. Tak pernah mampu kuduga. Berulang kali aku membaca tulisanmu dan jenuhku seperti terperangkap di mana aku tidak tahu, bahkan jadi tidak ada.

Rahne, apa yang sedang kau lihat saat menulis? Sehingga jantungku bisa berdebar-debar saat membaca tulisanmu. Akupun jadi suka menulis, puisi salah satunya. Sesekali, sering bahkan, puisimu kubaca berulang untuk aku mendapatkan satu puisi untuk diriku sendiri.

Kau memaparkan dengan indah perasaanmu. Aku jadi seperti daun; jatuh ikut mengalir di arus aksara-aksaramu.

Sekali waktu, bukumu jadi peredam bosan hari-hariku yang sibuk memikirkan rindu. Menemui kata-katamu, aku seperti menyentuh tanganmu. Diajari menuliskan indah atas waktu yang berjalan untukku.

Terima kasih juga untuk catatan bersampul merah jambumu itu. Aku tak pernah bosan menyelesaikan huruf demi hurufnya. Teruslah menulis, Rahne.


Senin, 14 Januari 2013

catatan sebelas hari

nampak tubuh-tubuh hujan masih menggigil
kuhabiskan secangkir kopi hitam
menyela kantuk
menyisihkan mimpi yang kutuk
lalu berjalan sampai lelah

apa guna kelelahan jika asa terus juang?
kau lahir dari harapan ke harapan
kehilangan demi kehilangan
tetap bertahan

matamu yang cahaya
menyimpan detik-detik luka
derit suara tak pernah sampai
diam paling kata

di luar malam sudah mendahului perjalanan
kita tak pernah sampai

mungkin catatannya
kita harus berjabat tangan lagi
dengan kesendirian
masing-masing