Selasa, 20 November 2012

rindu, harusnya

pertanyaan terlontar. lalu siapa yang menjawab?
haruskah aku yang mencari-cari huruf, menatanya satu persatu?
supaya bisa kau baca, bisa kau beri makna
haruskah aku, bukankah harusnya kamu?

sedang kupahami,
tempias hujan yang langsung lesap ke dinding begitu tegas
debur ombak sampai karang-karang lebur
terik matahari dari tengah langit mencabik
salju paling beku di hunian langkahku

maka dapat kumengerti,
jika rindu sempat tegak berdiri mengajari kita tabah
jika rindu mampu menggerogoti apa yang dicipta tegar
jika rindu adalah kesakitan yang dipertahankan
jika rindu memungkinkan ketidak-biasaan menjadi hapalan

maka rindu,
harusnya disahabatkan dengan waktu
sesungguhnya tak dilekangkan tunggu

pahamilah dan mengerti
tidak akan ada kehilangan bila setia
bukan lagi ketakutan atas anggapan sia-sia

tidak ada lagi yang samar
sebab kita masih saling menghantarkan debar

Minggu, 21 Oktober 2012

laut usang di matamu

ombaknya masih berderai-derai
rela menabrak karang sampai pecah

ia mengenal pantai
pasir lusuh
jejak-jejak asing tertinggal

di ujung dermaga
tengah laut itu biru paling damba

aku hendak memungutnya satu demi satu tetes
hitung saja waktunya hingga habis
kukira akan sama
tiba padamu saat semua menjadi kenangan

luruh dari kelopakmu
dan benar
laut usang di matamu

Kamis, 11 Oktober 2012

tiba-tiba aku jatuh cinta

tiba-tiba aku jatuh cinta
inikah kesengajaan yang Tuhan ciptakan?
elok yang merajam dadaku

pertanyaan beruntut menunggu jawabanmu
datanglah, sayang
lengangku menanti kau buang
aku adalah kesepakatan antara rindu dan waktu
sementara kamu menjadi detak di tiap detik hidupku

tiba-tiba aku jatuh cinta
sadarkah aku menyemat gaduh tiap temu tatap matamu?
bolehkah aku menenun benang, menjadikan kain lalu kamu pakai?
aku ini sekadar hati pecinta

tepat dalam hangat dadamu aku jatuh cinta
inilah kesementaraan semesta
supaya hidup kuselesaikan kepadamu tanpa sia-sia
cinta

Minggu, 07 Oktober 2012

menyalalah selagi padam

malam menjadi teladan ketabahan
nyala lampu samarkan kehilangan
masih adakah aku? seberkas saja bayang

di sudut bagian rindu
anak-anak kunang menyanyi riang
bermain rintik sisa hujan
kenanglah, sayang
aku pengiba hangat dadamu, lekat di jantungmu

sedemikian kutapaki lajur
debur asa paling jujur
karang-karang lunak sakitku ditabur
andai acuhmu mudah ditegur
di sinilah tak mengonggok puing-puing lebur

sudahi sakitku
aku mencintaimu dengan hati
untuk hidup yang mendarah dalam tubuh rapuh ini
tibalah, sebelum padam putik-putik nyala kembang

Senin, 01 Oktober 2012

hanya mendung

langit sejenak menyerahkan mendung di atas aku menjejakkan kaki
suara-suara angin menandakan akan hujan


datanglah..datanglah..
urapi keberadaanku yang telah kerontang sendu
adalah aku tanah kosong, bahkan ilalangpun enggan

bergeming
kuhitung satu demi satu gugur angin
di atas tubuhku, ingin itu membadai
rusaklah asa sekujurnya

tak juga jatuh
tak jua luluh
tak pernah lagi membuatku mengucap aduh
cinta saja tak cukup, sebab sendiri

aku harap ada berada di satu jalur derasan
bila memungkinkan
dan kita adalah setangkup payung besar hitam
saling melindungi saling menangkap nyeri

lalu mati
oleh sebab hati


Kamis, 27 September 2012

Jatuh Sendiri

Kau matahari dan aku bumi penampung cahayamu. Detik ke detik adalah hidup dari keberadaanmu. Harapan tanpa tepi.

Ada kalanya jarak tak menjadi acuan untuk merindukanmu. Bahkan sedekat nafasku dengan detak di jantungmu--dalam pelukan--aku masih bisa menanam rindu dengan gebu. Tidak perlu jarak jika harus menabur rindu ke tanah hidupmu. 

Pelukan demi pelukan kau rebahkan tanpa syarat di dingin dadaku. Selalu saja kau mampu hunjami aku dengan ketenangan, meski seringnya tusukan-tusukan airmatamu lebih dulu membunuh aku. Seperti duri di tangkai mawar, menusuk kecil-kecil terhalau rekah merah kelopaknya. Aku adalah tangan, yang tak peduli sakitnya menggenggam.

Kita tidak saling meminta untuk apa harapan ditali-pitakan. Sebuah rasa membungkus dirinya sendiri untuk dapat saling melengkapi. 

Ini adalah kebahagiaan yang aku rasakan tanpa pernah sekalipun aku rencanakan. Sekelumit waktu atas kedatanganmu, entah melalui jalan apa dan berkelok di persimpangan mana. Tiba-tiba saja kau sudah jatuh di dadaku dan aku jatuh di matamu dengan hatiku. Keindahan yang berlalu-lalu tanpa pernah kita tau, kita ini siapa dan siapa sebenarnya kita. Iya kita..

Aku bahagia sebab kulihat kau tertawa dalam tiap pertemuan kita. Dari sana aku mulai jatuh, jatuh, lalu jatuh dan semakin jatuh. Aku adalah kesenangan, pada waktunya di tibamu. 

Kata-kata cinta kurangkum dari debar dadaku. Padu-paduan aksara kutata dari geletar nafasku. Akan kubilang kau cinta dari segala yang pernah kau cipta. Sejak hari demi hari peluk kau titip tanpa spasi. Lalu jatuhlah harapan, saat cinta yang kutawarkan kau tampik dalam senyuman. Jatuh berdebam. Blaaaarrrr..

"Apa maknanya kita berpeluk selama waktu--sebelum ini--tanpa jeda?" tanyaku berturut-turut pada nyalang matamu yang jauh dari hirau suaraku. Ini aku, seada-adanya terjerembab dari gunung harapan ke jurang kekosongan.

Bisakah kita menjadi cinta, saat nyala matamu hanyalah biasan dari kisah yang untuknya masih kau jaga?

Kutanyakan sekali lagi, benarkah pelukan di dadaku hanyalah sepi kenyataan atas harapan yang tak ingin kau restui? Bukankah telah banyak pahatan mimpi yang kita--tunggu, mungkin hanya aku--rancang sedemikian sempurna untuk hias-hiasan bahagia. Ah, ternyata memang benar. Hanya aku saja yang menikmati rekah-rekah kelopak mawar, tanpa menghirau duri yang menjadi sekat antara luka dan cinta.

Engkaulah mendung paling langit. Berharaplah aku menjadi hujan, ditampungmu dalam-dalam, sebelum derasan.

Kini aku kembali menjadi pintu; tertutup--menutup diri dari nyata yang terjadi. Membatasi harapan supaya tak lagi melayang-layang pongah. Seolah layang-layang, ia terbang ke langit paling angkasa dan tak berteman siapapun, bahkan angin enggan untuk membaca maunya diberi sela terbang. Aku jatuh, pada cinta yang jauh dari cinta. Aku ilalang, tumbuh di tanam petani di sawah harapan kosong paling lapang--kamu.

Seperti ruang lapang yang kudatangi sendiri--lengang begitu nyata, ketika cinta jatuh tanpa kau tangkapi.


♬ tak pernah kumengerti aku segila ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu
tak pernah kumengerti aku sebodoh ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu

( ♬ Hidup untukmu mati tanpamu - NOAH )

Rabu, 26 September 2012

kalau ragu jatuh cinta

tidak ada yang bisa diam saat mencintaimu
kukira akan ada begitu banyak ungkapan ketika tiba di hadapanmu
mungkin mulanya diam-diam, sungkan oleh keindahan semua yang melekat di tubuhmu
terang saja, aku tiba-tiba membatu dalam gagalnya rencanaku
aku mencintaimu dan di sanalah paku-paku tajam keelokanmu menancapkan aku
betapa ngeri harapanku beradu tatap dengan mata penuh pesona
aku jatuh, oleh cinta karena cinta di hadapanku

kau adalah semesta yang telah disetujui Tuhanku untuk kucintai
kau yang mengaduk kebahagiaan titipan Sang Maha

kini aku menggantung di jembatan yang hampir saja rubuh oleh kekagumanku
lama-lama aku berdiam di tegunku sendiri
hingga lapuk waktu menunggu ketidakpastian
apa aku bisa mencintai dalam kebisuan
apa aku bisa hidup heran dengan kebodohanku
meski engkau telah meyakinkan dengan senyuman