Kita
Tak pernah tahu
Seberapa jauh
Jalan dituju
Seberapa tinggi
Langit diraih
Kita
Cuma tahu
Jalan beriringan
Tangan bergandengan
Sebab
Cinta
Bertujuan
Kita
Tak pernah tahu
Seberapa jauh
Jalan dituju
Seberapa tinggi
Langit diraih
Kita
Cuma tahu
Jalan beriringan
Tangan bergandengan
Sebab
Cinta
Bertujuan
Ada kalanya aku harus bersyukur karena mencintaimu
Aku tahu bagaimana rasanya memiliki harapan
Menanam lagi mimpi-mimpi yang dulu pernah layu
Menggenggamnya sambil berlari-lari mengejarmu
Meski tak sampai
Ada kalanya aku harus menikmati lagi rasa sakit
Menyapanya setelah berlama-lama ditimang ketidakberdayaan
Tapi aku harus tetap bersyukur
Adanya kamu dengan rasa sakit itu, mengajariku untuk melepas beban
Mengurai bodoh yang kuikat erat sendiri sebelumnya
Ada kalanya
Dan sudah waktunya
Aku menyimpanmu
Atau harus menguburmu dalam-dalam
Supaya kau mati dan dimakan cacing-cacing kenyataan
Lalu aku hidup lagi
Sebagai aku yang dulu pernah sungguh mampu dengan tidak ada kamu
Ada banyak tanya jauh dari jawab
Hingga aku lepas satu persatu detik untuk menunggu
Tapi tak satupun datang melegakan dahaga keingintahuanku
Sebenarnya,
Ada pilihan untuk melepas dan meletakkan ketidakjelasan ini
Hanya saja aku memilih diam
Sampai kau merelakan sedetikmu untuk memuaskan tanya
Kepada yang lewat dan mengharap sapa ku, aku mohon maaf atas ke-tak-acuhan
Mataku masih tertutup harap tentang mimpi yang sungguh tinggi
Dan masih tak ingin kusuruh pergi
Aku sampai lupa menulis
Pada september pertama yang dijatuhi hujan
Juga pada kepala-kepala yang di dalamnya bermusim kangen
Aku tampak renta
Sebegitunya waktu berlari
Menjauh dari kebahagiaan di pucuk-pucuk tunas baru
Juga di kemuning dedaunan tua
Aku tampak renta
Jika yang berakhir adalah ketiadaan
Maka di sanalah usiaku membenturkan kepalanya pada pergimu
Berharap lupa
Sungguh, aku tak bermaksud lupa atas hari lahirmu
Beberapa ingatan barangkali penuh oleh kenangan yang bermusim di sana
Lalu hiruk pikuk
Sebentar aku hendak bertanya:
"Seberapa lengang harimu yang seharusnya berpesta itu ketika ingatanku tak menghadirinya?"
Maka aku berdoa:
"Tuhan, ijinkan aku menaruh satu lagi permintaan di langit supaya bisa diterbangkan kepada-Mu. Sebuah pinta supaya seseorang yang pestanya kulupakan ini bisa memangku bahagia yang diberkati oleh tangan-Mu."
Hari ini aku sedang tak punya kado.
Cuma ada beberapa ingatan yang akhirnya kuikat kuat.
Ingatan akan tawa mengenaimu, supaya tak lagi-lagi musim menenggelamkannya dan lupa menang sekali lagi.
Tidak dicintaimu, tidak membuatku menyesal.
Ada kalanya aku harus menerima sesuatu yang tidak bisa kumiliki.
Tidak semua-muanya dalam kendaliku.
Di sisi lain, aku jadi belajar bagaimana harus merelakan.
Sakit memang.
Mungkin aku harus lebih belajar untuk mencintai diriku sendiri lagi.
Tidak melulu adalah kamu.
Tidak segala-galanya mengenaimu.
Kiranya kamu sudah berbahagia dengan pilihanmu, demikian juga harusnya aku berbahagia atas pilihanku yang bukan kamu.
Harus pelan-pelan memang.
Karena yang terjadi tidak semudah seperti saat kamu berpaling.
Pertama-tama aku harus mengubah arah tujuanku, untuk tidak lagi berarah kepadamu.
Lalu memulai lagi perjalanan yang kiranya akan sungguh panjang, dengan kaki yang sepertinya sudah lelah duluan sebab mengejarmu dulu.
Aku sudah menyiapkan bekal.
Bekal kesabaran dari diammu yang aku belajar.
Juga airmata, jika nanti aku haus dan tidak menemukan lagi apa-apa.
Kangen ini,
jalan aspal yang mulai berlubang sebab hujan.
Bagaimana deras mengikis sedikit demi sedikit.
Bagaimana cuaca tak mengakrabi kekuatan,
sampai lepas,
sampai kebas.
Lalu di bawah langit yang sama,
di mana hujan tiba pada waktu senja,
kita mengeja satu persatu huruf jadi kata;
kangen,
katamu.
Aku belajar lagi apa artinya.
Pun kau,
yang ingatannya mulai pudar.