Sabtu, 01 September 2018

Berharap Lupa

Aku sampai lupa menulis
Pada september pertama yang dijatuhi hujan
Juga pada kepala-kepala yang di dalamnya bermusim kangen

Aku tampak renta
Sebegitunya waktu berlari
Menjauh dari kebahagiaan di pucuk-pucuk tunas baru
Juga di kemuning dedaunan tua
Aku tampak renta

Jika yang berakhir adalah ketiadaan
Maka di sanalah usiaku membenturkan kepalanya pada pergimu
Berharap lupa

Sabtu, 12 Mei 2018

Sebuah Ucapan

Sungguh, aku tak bermaksud lupa atas hari lahirmu
Beberapa ingatan barangkali penuh oleh kenangan yang bermusim di sana
Lalu hiruk pikuk

Sebentar aku hendak bertanya:
"Seberapa lengang harimu yang seharusnya berpesta itu ketika ingatanku tak menghadirinya?"

Maka aku berdoa:
"Tuhan, ijinkan aku menaruh satu lagi permintaan di langit supaya bisa diterbangkan kepada-Mu. Sebuah pinta supaya seseorang yang pestanya kulupakan ini bisa memangku bahagia yang diberkati oleh tangan-Mu."

Hari ini aku sedang tak punya kado.
Cuma ada beberapa ingatan yang akhirnya kuikat kuat.
Ingatan akan tawa mengenaimu, supaya tak lagi-lagi musim menenggelamkannya dan lupa menang sekali lagi.

Minggu, 18 Maret 2018

Sekiranya Aku Harus Pergi

Tidak dicintaimu, tidak membuatku menyesal.
Ada kalanya aku harus menerima sesuatu yang tidak bisa kumiliki.
Tidak semua-muanya dalam kendaliku.
Di sisi lain, aku jadi belajar bagaimana harus merelakan.
Sakit memang.

Mungkin aku harus lebih belajar untuk mencintai diriku sendiri lagi.
Tidak melulu adalah kamu.
Tidak segala-galanya mengenaimu.

Kiranya kamu sudah berbahagia dengan pilihanmu, demikian juga harusnya aku berbahagia atas pilihanku yang bukan kamu.
Harus pelan-pelan memang.
Karena yang terjadi tidak semudah seperti saat kamu berpaling.
Pertama-tama aku harus mengubah arah tujuanku, untuk tidak lagi berarah kepadamu.
Lalu memulai lagi perjalanan yang kiranya akan sungguh panjang, dengan kaki yang sepertinya sudah lelah duluan sebab mengejarmu dulu.

Aku sudah menyiapkan bekal.
Bekal kesabaran dari diammu yang aku belajar.
Juga airmata, jika nanti aku haus dan tidak menemukan lagi apa-apa.

Jumat, 16 Februari 2018

Barangkali kangen, atau apalah itu namanya. Lupa.

Kangen ini,
jalan aspal yang mulai berlubang sebab hujan.
Bagaimana deras mengikis sedikit demi sedikit.
Bagaimana cuaca tak mengakrabi kekuatan,
sampai lepas,
sampai kebas.

Lalu di bawah langit yang sama,
di mana hujan tiba pada waktu senja,
kita mengeja satu persatu huruf jadi kata;
kangen,
katamu.

Aku belajar lagi apa artinya.
Pun kau,
yang ingatannya mulai pudar.

Rabu, 20 Desember 2017

Siapakah nanti?

Pada waktu yang tak bisa ditentukan
Aku tak menyebutnya apa-apa

Bukan mengenai kepastian yang aku tunggu
Selama ini

Hanya saja bila tiba waktunya
     Aku akan menggenggam
     Sekuat angin tak melepas badai
     Sehebat debur ombak menampar-tampar pantai

Apa iya kau tega jika akhirnya bukan kita?
Melainkan cuma senyuman
     Yang diikat udara
     Di dalam balon warna hijau
     Lalu meletus
     Dan lenyap

Jika nantinya bukan kita
Siapakah yang akan ada?

Minggu, 05 November 2017

Pisah

Sekiranya aku lelah
Jalan yang kita tempuh sesungguhnya sudah terlalu jauh
Berpuluh simpangan sanggup kita bantah
Hanya saja, ada satu persimpangan lupa memberi kita waktu
Seolah detik yang ada cuma perdebatan tak berujung

Pada kata yang sungguh tak pernah tepat, kita berhenti
Bukannya menyerah atau pasrah
Kita tertegun pada masing-masing sikap
Lalu sepatu kita menuju tempat asing
Di mana tak ada lagi kamu di arahku
Dan tak ada lagi aku di arahmu

Rabu, 31 Mei 2017

Aku

Aku sejumput pasir beraroma amis laut yang tak kau cintai. Lengang saat matahari sore tak lagi jingga atau angin mulai ribut mengabarkan malam.

Aku riak ombak, menggulung di basah-basah hitam pasir. Meramaikan pesta kesedihan yang asinnya tak hanya dimiliki airmata, yang entah bagaimana bisa dipanen terus dari palung mataku.

Aku tebing curam di ujung sana. Aku kehilangan yang menyamar sebagai debur-debur ombak. Sebagai ganti detak yang bukan lagi milikmu tetapi berusaha tetap hidup.

Aku mendung langit yang mengembara di atas laut dan mencari pantai untuk dijatuhi hujan.

Aku cinta yang patah, tetapi terus menulis namamu di pasir yang tersapu ombak, yang disajikan sore sebelum petang. Dan hilang.