Selasa, 04 Februari 2014

waktu akan membawa kita

Hai,
Terima kasih untuk berkenan membaca surat ini. Semoga kau tak merasakan gemetarnya tanganku saat menulisnya. Seperti detak jantung kekasih yang akan menemui kekasihnya untuk pertama kali. Darah di dalam tubuhku seperti di dorong naik turun dari kepala hingga telapak kakiku.

Apakah jatuh cinta sekuat ini? Dan aku merasakannya terhadapmu berulangkali. Mungkin kau tak pernah tahu, karena jarak ada di antara kita sedemikian jauh, tapi tak apa karena aku yakin kau juga.

Entahlah, aku mencintaimu dengan atau tanpamu di sini. Kita menyepakati jarak, menaruh percaya kepada waktu  yang terus berdetak. Oh, aku menuliskan ini dengan detak jantung seorang penonton sepak bola yang menyaksikan tim kesayangannya melakukan adu penalti. Antara yakin akan kemenangan dan sorak sorai setelahnya, dan kecemasan akan kekalahan yang harus mampu diterimanya.

Setibanya aku menjejak tanah kotamu, nanti, aku akan rela membiarkan tubuhku dipenuhi gemetar asal tubuhmu rela untuk kupeluki. Segera aku akan menuju kotamu. Mendamaikan kangen yang sebelumnya seperti dimusuhi waktu; tak ada ijin untuk menemuimu.

Terima kasih kau telah bersedia menunggu.
Segera aku akan menghapus jarak. Supaya kau dan aku tak pernah jauh, bahkan jika dibandingkan dengan spasi dalam tulisan ini.

Salam,
Aku dalam jarak.


(Surat ke #5)

semacam kehilangan

Selamat siang, Rahne Putri..

Sekali lagi aku memberanikan diri untuk menulis surat (cinta) dalam #30HariMenulisSuratCinta untukmu, meskipun aku bukan Zarry yang kata-katanya bisa mmbuat jatuh hati.

Rahne, aku tak menghitung benar berapa lama kata-katamu tak lagi tampak menari-nari di linimasa, tapi kurasa sudah cukup lama tak ada. Mungkin kau sibuk dengan pekerjaan dan hidupmu, yang pasti membahagiakanmu, bukan? Hanya saja ada rasa yang ingin tahu; mengapa kau tak selalu ada, mengapa kata-katamu tak lagi meramaikan linimasa. Tapi aku selalu terhibur dengan tebak-tebakanmu yang kadang harus membuatku sebentar diam untuk mencernanya menjadi tawa. Maaf. Tapi aku selalu berhasil tertawa.

Baiklah, Rahne, aku tidak tahu harus mengutarakan apalagi, sedang angin di sekitarku seperti cepat mengirimku ke kutub selatan. Aku kedinginan karena tak juga menemukan tulisanmu memeluk hangat mataku yang membaca.

Semoga kebahagiaan terus menjagamu, seperti kau yang menjaga kata-kata dalam buku bersampul merah jambu yang tak pernah bosan kubaca.

Terima kasih, Rahne. Kata-katamu seringkali menemani kesendirianku, seperti daun menaungi embun dan membiarkannya berlindung hingga hari terus bersambung.


Salam,
Rahnesia

(Surat ke #4 untuk selebtwit)

Senin, 03 Februari 2014

menu dari sudut kedaimu

Baiklah, akan saya panggil kau Sasi saja, sesuai permintaanmu. Saya hanya tidak ingin lancang terhadap orang yang belum saya kenal sebelumnya. Begitu pula, sebaiknya kau memanggil saya dengan Suvan, saja. Tanpa embel-embel tuan. Saya rasa kita tak terlalu berbeda usia.

Anto memberitahu saya perihal ketiadaanmu di kedai waktu itu. Cuaca memang sedang tak bersahabat. Hujan bertandang di atas apa dan siapa saja, bahkan tanpa tanda apa-apa. Udara dingin jadi sering menyergap tubuh. Mungkin kau harus mencoba teh madu yang biasa ibu saya seduhkan, saat flu sedang mendera saya. Cukup untuk membuat tubuhmu hangat seharian. Lekas sembuh, Sasi.

Mengenai pertanyaanmu mengenai siapa saya, saya bukanlah siapa-siapa. Jika saja kau seperti mengenal saya, mungkin kau menemukan saya sebagai seseorang yang pernah mengisi hidupmu sebelumnya. Entahlah. Saya hanya pengunjung di kedaimu yang nyaman untuk melemparkan kata-kata dan menangkapnya pada tiap goresan tinta. Yang pada akhirnya mereka akan saya sembunyikan di satu sisi cahaya matahari yang tak mampu ditangkap bulan atau benda langit lainnya.

Saya akan terus menjadi pengunjung di kedaimu. Kopi-kopi yang saya pesan di sana rasanya tak ingin saya ceraikan dari lidah saya. Juga pisang goreng madu yang sering kali menemani saya melewati senja.

Kopi istimewa? Rasa-rasanya saya harus mencobanya. Nanti saat saya berkunjung lagi, saya pesan satu untuk mengisi ruang di meja sudut menepikan sepi, juga untuk turut mencabuti kata-kata yang tertanam begitu dalam di kepala ini.

Salam,
Suvan Asvathama


(Membalas surat Sasi @_bianglala)

Minggu, 02 Februari 2014

mantan kekasih

Sejenak aku diam sambil memandangi layar ponsel yang berisi pesan singkat atas namamu. Apa yang kau mimpikan semalam, sampai-sampai siang ini -- setelah lebih dari 365 hari -- keberadaanmu bertandang di genggamanku lagi. Bukan kopi, petrichor, atau matahari, tapi dari sana kau mampu menguarkan bau khas yang begitu mudah kukenali. Kangen? Mungkin!

Kau tiba-tiba datang, seperti hujan yang akhirnya dimaki-maki ibuku karena jemurannya basah lagi. Tapi aku tidak akan memaki-makimu, meskipun nanti jika kekasihku tahu aku akan sedikit berselisih paham mengenai ini. Ya, aku sudah punya kekasih lagi. Dia menggantikanmu dari tempat kangen yang pernah kau tempati dulu. Tenang, aku takkan membicarakan kekasihku kepadamu. Kau pasti cemburu. Ya, kan?
Hahahaha..

Asal kau tahu, kisah kita dulu bukanlah kisah cinta yang sempurna. Bahkan jalan tol pun bisa macet, kan? Aku juga tidak akan memperdebatkan lagi tentang siapa yang salah, sampai akhirnya kita memilih berpisah di persimpangan. Ada baiknya kita saling memahami bahwa kita tak ditakdirkan bersama.

Selamat melanjutkan hidup tanpa aku. Tertawalah karena kau begitu menyenangkan. Aku akan mendoakan bahagiamu, supaya kau juga mendoakan kebahagiaanku. Salam untuk ibumu, dia wanita tangguh yang masakannya akan selalu aku rindukan. Jadilah seperti dia, supaya kekasihmu nanti tak mau melepasmu seperti aku, seharusnya.

Sudah, ya, aku mau menyeduh kopi untuk menghilangkan aroma khasmu yang sedari tadi memenuhi kamar ingatanku.
Terima kasih karena pernah menjadi pernahku.

Salam,
Mantan kekasihmu.



( surat hari ke #3 )

Sabtu, 01 Februari 2014

hujan musim ini

Hujan, sayang. Teras atas banjir tempias. Aku di dalam kamar mendengarkan lagu kesukaanmu dan menulis surat ini untukmu. Rupanya hujan sedang gemar bermain musim ini. Bumi tak henti diberinya basah. Dan aku flu.

Tenang. Kau tak perlu khawatir. Ini flu yang hanya akan membuat hidungku tersumbat untuk beberapa hari saja. Tidak akan mengurangi kangen dan sayangku untukmu.

Kau tahu aku tak suka obat, maka aku menyeduh segelas madu hangat dan sesekali menghirup inhaler seperti yang kau sarankan waktu flu bertamu di tubuhku semusim hujan lalu.

Aku tak mau mengeluh tentang flu yang tak seberapa ini. Sungguh tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kangen yang jatuh bertubi-tubi di dadaku, seperti hujan menghempas deras di atap rumahku yang seng. Kau paham betapa berisiknya suara itu di kepalaku dan aku harus mampu dan mau menikmatinya sampai reda.

Sayang, semoga hujan yang sedang senang bertandang tak juga menitipkan flu di tubuh lembutmu itu. Minumlah madu dan terus mengingatku. Selagi jarak belum mampu kita tempuh, semoga musim tetap menjaga kangen untuk terus bermukim.


Salam,

Kekasihmu yang sedang flu.


( Surat hari #2 )

maaf merepotkanmu

hai,

Terima kasih, nona, sudah menemukan sebagian isi kepalaku yang tak sengaja tertinggal. Saya sempat tak yakin akan kembali, terlalu ragu untuk dapat meyakini masih ada kebaikan pada waktu sekarang ini. Dan maaf, saya salah mengira. Kau baik, nona.

Kertas-kertas yang kau baca itu hanyalah kata-kata dari dalam kepalaku yang lantang dan bebal ingin keluar. Maka di sanalah mereka akan berumah. Tinggal dan diam. 

Mengenai pergi dan ketergesaanku, sampai-sampai harus merepotkanmu seperti ini, kau tak perlu tahu. Yang pasti sudah kubayar kopi yang tak habis kuteguk, yang wanginya saja masih menguar.

Nona Sasi, nama yang tertera di akhir surat kemarin, jika tak salah mengira, mungkin kau adalah perempuan di sudut dapur yang sering kulihat tanpa sengaja saat aku memesan kopiku. Matamu yang jingga rembulan selalu menarik perhatian saya, dan bahkan mungkin pengunjung Kayu Manis lainnya.

Kedaimu, nona, seperti rumah kedua bagi saya dan juga puisi-puisi yang akhirnya lahir di atas meja yang kau namai sudut menepikan sepi itu. Kau pandai memilih musik, sampai saya betah dan nyaman di kedaimu. Atau selera musik kita sama?

Saya titipkan surat ini pada salah satu pelayan. Kau tidak terlihat di sudut dapur hari ini. Terima kasih, nona. Mungkin lain kali akan saya tuliskan sebait puisi untuk nona.

Salam,

Suvan Asvathama

(membalas surat Sasi Kirana @_bianglala)

Jumat, 31 Januari 2014

lelakimu

Aku berada di teras atas, di tempat di mana aku biasa menghabiskan sore jika aku sedang berada di rumah. Dari sini aku bisa melihat pohon-pohon dan memastikan mereka tetap lebih tinggi dari atap-atap rumah milik tetanggaku. Tidak ada hujan sore ini, oleh sebabnya hanya angin yang mampir untuk menyapaku dan tak sengaja membuat dingin kopi yang baru lima menit lalu kuseduh.

Mungkin, jika kau di sini, aku takkan kesal dengan angin yang keterlaluan membuat kopiku begitu cepat dingin. Namun tak apa, kau masih ada dalam ingatanku dan membuatmu hangat meski sebentar.

Aku sedang tak membawa kalender, maka tak hapal benar sudah berapa lama kita jauh dari sua. Teras atas ini mampu  menenangkan kangen yang dengan ajaib tiba-tiba bisa menghadirkanmu dalam bentuk apapun. Desau angin sore ini, misalnya.

Sayang, lelakimu ini bukan seorang pemberani. Lelakimu, aku, lebih memilih tinggal dan bersua dengan dingin angin di teras atas, daripada menemui hangat peluk perempuan lain. Lelakimu ini sungguh ciut nyalinya untuk meninggalkan janji.

Sayang, dari langit utara sepertinya hujan akan datang, dan petang kian menepati malam. Aku tak mau surat ini basah sebab tempias. Kau harus membaca apa yang kutulis, karena di dalamnya ada kangen yang begitu kamu.


Salam kangen,

Lelakimu.


(#30HariMenulisSuratCinta #1)