Selasa, 23 Juli 2013

di atas kasur

Aku melipat selimut di atas kasur
Menumpuknya di atas bantal yang menyimpan mimpi-mimpi
Dan sekali lagi menumpuk bantal yang seringkali kujadikan guling--pemilik hangat sederhana yang tidak dimiliki dinding-dinding telanjang

Kasur ini nampak begitu luas bagi diriku sendiri
Namun teramat sempit jika kubagi bersama harapan dan keinginan untuk menempatkanmu di sini
Kemudian aku menyingkirkan angan-angan asing
Terlalu penuh, kupikir
Mengganggu aku dan (bayang) kamu

Seprainya kuganti seminggu sekali
Kuharap, walau pun sekadar mimpi, kau dapat mampir tanpa risih duduk

Di atas kasur ini, hanya mesra lampu dan langit-langit yang dapat kunikmati
Apakah di cahayanya aku ikut ditautkan?
Atau aku hanya jadi yang mereka bicarakan karena sendirian?

Sabtu, 20 Juli 2013

sisa-sisa yang terjaga

Kau mungkin saja tidak menemukan jejak di antara pasir pantai. Kau hanya akan menemukan kerontang-kerontang panci dengan sisa kerak coklat santan dan piring-piring kotor terserak bekas para nelayan melayani rengekan cacing-cacing dalam perutnya, di sudut dermaga. Sebab, ikan-ikan tangkapan melarikan diri, jauh dari jala yang ditebar. Apa kau tahu, deru ombak seringnya menggulung-gulung harapan, saja.

Dan langit menggelap. Nelayan yang setengah kenyang memasukkan sisa pisang, selain jala dan umpan ke buritan. Barangkali, di tengah gundah tengah laut, ada satu yang bisa dipegang harapannya. Seperti menggenggam satu dari senyum jejak tinggalanmu di pasir pantaiku. 

Pada saat pagi sudah kembali, dan saat panci-piring sisa santapan tak juga tercuci, aku tidak menjadi buta dan melihat seluruh kerak masih terjaga. Di antaranya teronggok tawa yang purba--saksi bahagia yang luput dari gendongan malam, juga sinar mercusuar; keberadaanmu, begitu jauh dari dermaga tempatku bersauh.

(Untuk @WE_Dewie - tema 'kolak')

Rabu, 17 Juli 2013

pada akhirnya di sebuah pantai

Pada akhir senja sekitar pukul enam lewat, saat kebanyakan nelayan mempersiapkan jala di buritan kapal, dan membiarkan keriuhan bergembira di sepanjang bibir dermaga, tak memperhitungkan nyala-nyala kesepian ikut terjaga.

Sekumpulan angan terbang dan mematuk-matuk gelombang, pun mengundang debur ombak, merekam keberadaan.
Tidakkah kekosongan itu terjawab?
Sebab pantai hanya memiliki dermaga dengan nelayan tua yang lebih setia kepada jala.

Maka pada akhirnya, kedatangan perahumu di antara bunyi jam yang jarumnya menunjuk pukul sembilan. Malam. Ini adalah waktu di mana pasir-pasir boleh lagi menembaki jejak-jejak baru dan menandai segala hal yang terpercik oleh tibanya penantian.

Ini pantai ketika aku bisa lagi tertawa.
Ini dermaga ketika tibamu menjadi selamanya.


*balasan untuk @WE_Dewie dalam #DuetPuisi*

Selasa, 16 Juli 2013

Pantai yang menunggu

Ini pantaiku
Setiap petang, angin menyala-nyala. Aku adalah penghuni yang setia menjatuhkan diri dan hati dari angan. Menunggu pelancong singgah menyandarkan kapal, mengisi hampar pasir dengan wangi jejak baru, yang akan kembali memulangkan angan ke dalam diri dan hati.

Aku berharap kamu datang dan hari menjadi lebih panjang, seperti bentangan pantai yang hanya sanggup aku pandang. Sendirian. Bahkan kata-kata yang ditulis pujangga tak mampu menjangkau ujung ke ujungnya. Dan takdir puisi hanya melingkar-lingkar di jantung debar.

Pantai ini masih penuh kekosongan. Tak ada yang menyetubuhi pasirnya selain angin yang terburu-buru.

Perjalananmu yang jauh nan lelah, semoga tiba di dermaga kecil usang. Tapi tenanglah, ujung dermaga terbuat dari kayu-kayu yang setiap waktu kuajari ketabahan menunggu. Ia tidak lapuk.

Ini pantai di mana kau bisa mengubah pasir menjadi desir.
Ini dermaga di mana kau bisa menjatuhkan jangkar dan melabuhkan debar.

Rabu, 26 Juni 2013

jejak yang mengatupkan mata

Aku tiba-tiba saja mengantuk, padahal malam baru saja membuka pintu
Jika pun lelah, ini tidak begitu
Bahkan di atas kepalaku nyala lampu masih berbinar-binar
Kau campurkan apa di kopiku?

Kusesap lagi kopi buatanmu, rasanya tak berubah, sama seperti hujan yang tak mau reda sejak pagi mebuka mata
Apalagi yang salah? Mataku menuntut pejam, pun di sesapan-sesapan berikutnya, sampai habis

Kuingat lagi tentang jejak di depan pintu
Hanya sepersekian-detik saja aku tahu, pemiliknya asing, bukan aku atau kamu
Milik entah siapa, dan mampu membuat isi kepalaku berputar-putar
Aku tidak cemburu, itu bukan milik kekasihmu dulu
Sampai di sesap terakhir, aku mengatupkan mata dan menata debar
Jejak itu, adalah cinta sebelum kamu, milikku

Jumat, 07 Juni 2013

cinta itu

Cinta itu,
rindu
repetisi tanpa berganti tujuan

Cinta itu,
air
terus mengalir

Cinta itu,
udara
irup hela tanpa sadar dan terus ada
sebagai hidup

Cinta itu,
langit
hamparan tanpa batas

Cinta itu,
apa saja asal menjadi kita
dan bahagia
akhirnya

Minggu, 02 Juni 2013

kangen siang hari hujan

suara hujan di luar, dengung musik di dalam ruangan, dan hingar suaramu dalam telingaku
kepalaku penuh, satu persatu merangsek masuk
lalu tumpah sebagai kata-kata

mungkin sedang kucari jawaban atas tumpukan pertanyaan
mungkin hanya sebatas keinginan secangkir kopi yang tak ingin sendirian dihabiskan
maka ia tumpah di atas secarik kertas, di atas keheningan yang ruah
dan kunikmati sendiri

ponsel berdering, kamu lagi
kubiarkan musik tetap menyala, dan kau kusapa
suaramu saja sanggup mengambil keseluruhanku
ambillah semua supaya tegap kita

hening libas
sepi amblas
hujan bablas

rindu
sampai puncak paling atas

suaramu
dengung musik
mengambil semuanya