Senin, 22 April 2013
menanggung asa
Masa lalu tinggal, tetap pada umur terjadinya
Pada cinta pertamanya, pada mula luka-lukanya
Tidak berubah dan terus menetap
Siapa menyangka, ia tetap hidup sehat untuk ingatannya?
Tidak sakit, apalagi mati
Oleh karenanya, benteng senyum kubangun tinggi-tinggi.
Kokoh
Di masa depanku, supaya tabah kamu
Tidak mengenal sedihku
Kubiarkan mabuk anganku dengan keberadaanmu
Dan masa depan jadi kitab bacaan
Untuk doa sebelum lagi dihadiahi luka
Kita, yang dinikahkan cinta.
Sabtu, 20 April 2013
hujan sedari siang
Nyaring tetes hujan di atapmu
Gelisah
Sejak tetesan ke satu
Sampai ke sekian puluh ribu
Tak berhenti
Memandu luka
Mengabdikan diri
Rindu
Perlahan-lahan
Pasti
Sampai
Lebih dulu
Sebelum henti hujan
Sedari siang
Jumat, 19 April 2013
aku sendiri
Di teras atas, ramai aku sendiri
Juga denting gelas aduan sendok
Wedang jahe masih mengepul, tegas
Hangat menyeruak, dari kesedihan ke kesepian
Ingat caranya merajuk, apel yang kukupas sudah berubah warna
Dari putih pucat ke lemas coklat
Masih ramai sendiri, kenangan pasi
Tak berkabar dari serbuk bintang
Aku barangkali,
Hening dan pergi yang kau amini
Sampai kopi enggan menyajikan diri
Dan malam selesai tanpa mampu kuakhiri
menanti lupa
termangu memeluk harapannya.
Paksaan hidup membuatnya terbiasa menahan gemuruh perutnya.
Kedua lengannya mendekap lututnya.
Kedua matanya tertuju pada tong besi berkarat di sudut luar kedai.
Di dalam kepalanya berkecamuk angan,
mengenai sisa-sisa butiran nasi,
atau satu - dua potong saja sisa kue bolu.
Apa saja, ia mengiyakan.
Lalu hujan.
Di sana, jatuhlah pula satu amin.
Tak perlu lagi menunggu sisa teh manis.
Tangannya tengadah, mengumpulkan tetes demi tetes,
menghabisi kering kerongkongannya.
Ia menanggung hidupnya sendiri.
Keberadaan yang baginya tak perlu ditangisi.
Ibu, angannya; adalah pelukan di kala tidur llapnya.
Ayah, di pikirannya; siapa saja asal membuatnya kenyang.
Lalu lelaplah ia di teduh pohon seberang kedai,
sampai laparnya lalai.
Senin, 15 April 2013
Kupikir ini rindu
Semalam aku memimpikan kamu. Lagi.
Dan pagi aku terbangun, cericit burung ramai sampai angin lembut-lembut menyapa kepalaku.
Ada yang diam mematung; cahaya matahari dan aku yang masih memangku bunga pejam semalaman, sampai lupa mandi pagi.
Satu deguban, menampar lamunku.
Terperanjat pada waktu yang menyadarkan, bahwa sudah lebih dari enam puluh delapan hari aku tak menemu tatap matamu.
Aku menghitung dengan benar sejak pergimu. Sejak harus kutata sendiri rindu-rindu yang terus merengek setiap hari.
Aku menatap tiap detik jarum jam yang terus berputar.
Membiarkan sel tubuhku menahan sesuatu untuk berseru.
Kamu hanya mengirim kata-kata dari kumpulan huruf rindu penenangmu--penghiburku.
Jawabanku; "pun juga aku kepadamu", begitu selalu.
Jumat, 12 April 2013
bertumpuk
Ada kalang kabut di sana
Entah di bagian mana, di antara ketiadaan dan harapan
Saling penuh memenuhi, dan aku sesak
Aku hanyalah keberadaan yang tak berada
Sedang kau, ingatanku dalam segala rupa
Apa hendak kuhapus, jika lemparan-lemparan ada telah begitu nyata
Seperti kanvas yang telah yang telah dikawini tinta
Siapa rela menceraikan indah lukisan?
Kau adalah bagian, di mana tanganku dengan teguh merebahkan warna-warna, hingga rupa.
Kaulah warna, tumpukan yang kujadikan rupa dari cahaya ke asa.
Senin, 08 April 2013
menulis itu menumbuhkan
Tepat, seperti menanam biji ide-ide yang berjatuhan dari buah pikiran. Ke dalam tanah kata-kata semuanya disuburkan. Ada banyak hal yang pada akhirnya bisa tumbuh menjadi sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya. Bisa saja, apa yang ide yang kau tanam dengan sederhana, menumbuhkan ide lain yang berjalan dengan sangat luar biasa.
Menulis itu menumbuhkan,
Terkadang, buah pikiran yang didiamkan akan menjadi basi dan jadi onggokan-onggokan lupa tak berguna. Lalu, ada tangan lain yang menjadikannya karya dengan gagasan yang hampir sama, pada akhirnya kita hanya jatuh pada penyesalan. Menulislah, apa pun yang mampu kautulis. Dari kata-kata bisa kautumbuhkan ingatan-ingatan dan menjaga kepunyaan dari bidikan kehilangan.
Menulis itu menumbuhkan,
Jika tidak menumbuhkan apa pun di mata orang lain, setidaknya dengan menulis catatanmu sendiri, dapat menumbuhkan keberadaanmu. Seperti sebelumnya, menulis mampu menumbuhkan ingatan-ingatan mengenai apa yang pernah kau lakukan. bahkan tentang harapan-harapan yang kau inginkan, yang sama sekali belum terjamah laku. Lewat tulisan, apa yang sudah terlewati bisa jadi catatan yang sangat berharga. Masa lalu yang pernah hidup, tumbuh di sana meski tak terjaga. Pun mengeai masa depan yang ingin digapai. Tulis, dan beri catatan kemauan. Langkah menggapainya akan lebih mudah dan teratur.